홈 / Urban / SANG PENANTANG WURAKE / Wangi Bunga Melati

공유

Wangi Bunga Melati

작가: Thato Kent
last update 게시일: 2026-09-18 20:19:44

Tergesa kutinggalkan titik berlangsungnya ritual, mengambil jalan pintas dalam semak-semak, cepat menuju hutan di ujung desa.

Kakiku mungkin sudah tertusuk duri. Tapi siapa yang peduli itu? Telur dan nasi ritual barusan pun sudah tidak kuhiraukan.

Jantungku pula, masih saja seperti tidak berada pada tempat semetinya. Padahal, aku sudah coba menanamkan keyakinan bahwa barusan itu hanyalah halusinasi semata.

Tiba di jalan raya tak jauh dari rumah Yulianti, aku gandakan kecepatan, berlari kencang
이 작품을 무료로 읽으실 수 있습니다
QR 코드를 스캔하여 앱을 다운로드하세요
잠긴 챕터

최신 챕터

  • SANG PENANTANG WURAKE   Bertemu Seorang Ratu

    "Siapa, Ma?" terdengar suara seseorang dari arah belakang kios."Bukan siapa-siapa," jawab wanita berhati mulia ini.Tapi setelah itu, dia tiba-tiba mengibas-kibaskan punggung tangan, bibir bergerak-gerak, dagu dia lempar-lempar ke arah jalan raya sana.Itu sebuah syarat!Memikul keranjang dengan kelam kabut, melangkah pergi pun dengan jauh lebih kelam kabut lagi."Jualan apa anak itu?" Itu masih suara lelaki yang datang dari belakang kios barusan."Jual anu, langsat, tapi sudah habis," sahut si wanita dermawan. Sangat jelas kalau dia sedang coba 'menyelamatkan' kami. Setelahnya, mereka masih bertukar tanya dan jawab, tapi aku tidak bisa lagi memastikan mereka membicarakan apa. Kami sudah semakin menjauh.Kira-kira satu kilometeran membelakangi kiosnya, barulah aku terpikir akan susu pemberiannya tadi. Kuletakkan keranjangnya ke tanah, lalu memastikan."Yah maaf adik-adik, sepertinya memang hanya yang tiga ribu rupiah ini rejeki kita.""Kalian jangan sedih ya. Mudah-mudahan besok re

  • SANG PENANTANG WURAKE   Bertemu Orang Baik

    "Astaghfirullah! Ya Allah.., kenapa aku selalu panikan seperti ini?"Barusan itu sudah kuarahkan wajah ke sana-sini, mencari dengan panik uang tiga ribu rupiah yang coba direbut oleh Pak Mandor tadi. Tapi ternyata, uangnya justru berada di telapak kakiku sendiri. Aku bahkan menginjak uang ini.Cepat kujumput lalu beringsut ke keranjang Karma dan Norma. Dan, aku langsung tahan nafas.Anak-anak Zarima di siang ini.Satu lagi bukti Kemahabesaran Tuhan yang Dia perlihatkan padaku, seorang hamba yang maha lemah ini.Kudapati adik-adikku yang malang ini dalam keadaan terjaga. Apalagi Karma. Tangan dan kakinya bergerak-gerak, naik turun sebagaimana biasa. Selain itu, entah ini hanya peluh atau memang air mata, tapi ada bulir-bulir bening menghiasi wajah damainya.Tidak sedikitpun Karma memperdengarkan suara. Bahkan, anak ini seperti sedang menyuguhi aku seutas senyum simpul. "Terima kasih Tuhan, Kak Rima memang benar, Kau memang Maha Romantis," bisikku haru, rasa nyeri pada ragawi pun rasa-

  • SANG PENANTANG WURAKE   Uangnya di Mana?

    "Berani-beraninya kau lukai Pak Mandor ya?" Setelah kata-kata dinginnya itu jatuh sekali lagi, orang ini masih berkata-kata dengan sangat banyak;"Anak setan, mau tunjuk jago ya kau di sini?""Kenapa bukan aku yang kau lawan?""Lawan aku Baryno, lawan aku..."Naas! Pada bagian terakhir itu, dia sambil menendangi aku setelah lebih dulu menghentakkan tapak kakinya dengan keras ke sisi wajahku. Setelahnya, entah karena merasa aku sudah benar-benar terjebak, tak berkutik menghadapi tinju sepaknya, atau mungkin juga merasa kesal, orang ini menghantamku secara sporadis lagi membabi buta! Wajah dan dadaku sepertinya yang jadi incarannya.Sementara itu, meskipun tak ada niat membalas atau setidaknya membebaskan diri, sedaya upaya aku coba melindungi diri supaya tidak menjadi matras hidup bagi tinju sepaknya. Kedua tangan aku gunakan untuk melindungi wajah dan sedikit dada, lutut aku tarik naik untuk turut melindungi. Bentuk badan mirip udang meringkuk dalam posisi menyamping.Bagian terba

  • SANG PENANTANG WURAKE   Cakar Elang Batu

    Ketika mereka tahu di mana tempat tinggal kami saja, orang-orang langsung bisa menebak, mengungkit fitnah yang melibatkan aku kepada Zarima. Lalu, bagaimana dengan seseorang yang ternyata bisa mengeja namaku dengan fasih? Aku masih trauma, aku cemas kejadian yang sudah-sudah akan terulang lagi. Ditambah lagi dengan sorot mata orang ini yang sudah tidak ubahnya hewan buas pada mangsa, sungguh telah membuatku abai akan selainnya kecuali rasa gugup semakin menjadi.Sekujur tubuh ini gemetar tak karuan. Uang dalam genggaman pun sampai lepas begitu saja hingga jatuh ke tanah tanpa sadar."Pak, mohon...""Jangan banyak bicara! Bayar atau akun kucekik lehernu!" Dia serius mencengkram leher bajuku dengan sedikit lebih kuat lagi. Aku sampai sempat kesulitan bernapas dibuatnya."Bukan tidak mau bayar, Pak, tapi uang kami hanya tiga ribu ini adanya. Tolong beri sedikit kelonggaran. Demi Tuhan, ini untuk beli susu adik-adikku."Aku sungguh-sungguh memohon. Andai dia meminta untuk melakukan sesu

  • SANG PENANTANG WURAKE   Jawaban dari Doa-Doa?

    ....memang adalah seseorang yang sangat kukenal. Maryati Tompa namanya. Andai bernasib baik, seharusnya aku juga sedang mengenakan seragam putih biru seperti yang melekat di badannya saat ini."Ini anaknya siapa, Bary? Maksudku, anaknya Zarima, bukan?"Dia tiba-tiba berpindah topik. Ada kesan ambigu dalam nada bicaranya. Tapi aku mengangguk meskipun hanya sekadarnya."Iya." Menyahut pun nyaris tak terdengar oleh telingaku sendiri."Zahira kok tidak cerita ya, kalau anaknya Zarima ada dua? Ini kembar, 'kan?"Ternyata itu masalahnya. Langsung aku iyakan, tapi suaraku benar-benar payah di ketika ini.Maryati ini memang sahabatan dengan Zahira. Pada aku pun sebenarnya dia selalu ramah. Lalu itu, bisa berteman dengannya, rasanya itu seperti sebuah keberuntungan tersendiri. Pasalnya, selain cucu mantan bupati, ayah Maryati adalah seorang camat aktif di kecamatan kami.Tapi itu dulu, ketika impian mengubah debu jadi permadani masih membara pada setiap derap langkah. Sedangkan sekarang?"Maa

  • SANG PENANTANG WURAKE   Langit Seolah Berpaling

    "Kamu jangan tersinggung seperti itu Bary, aku ini hanya coba ngasih solusi, lho!"Yulianti masih menyempatkan diri berkata-kata. Nada bicaranya sudah hampir normal seperti biasanya.Sementara itu, aku yang sudah siap melanjutkan langkah sambi memikul keranjang, mau tidak mau menunda niat."Tidak Mbak. Tidak ada yang tersinggung. Aku hanya merasa berat saja."Yulianti ini selalu tulus pada kami, jadi bagaimana mungkin aku berani mengabaikan dia begitu saja."Berat, maksudnya?" Dia mengkerutkan dahi.Aku terdiam. Memperinci ini, sepertinya hanya akan memperpanjang cerita.Di sisi lain, mungkin mulai paham dengan maksud dari perkataanku, Yulianti melanjutkan, "Begini Bary. Aku tidak ada maksud misahin kamu dari anak-anaknya Zarima ini. Aku juga tau, kamu pasti sangat menyayangi mereka.""Tapi Bary, taukah kamu seperti apa sulitnya ngerawat bayi seperti mereka? Berat Bary! Satu saja beratnya nauzubillah, apalagi dua!"Kali ini dia sepenuhnya benar. Baru beberapa hari merawat, aku sudah h

더보기
좋은 소설을 무료로 찾아 읽어보세요
GoodNovel 앱에서 수많은 인기 소설을 무료로 즐기세요! 마음에 드는 작품을 다운로드하고, 언제 어디서나 편하게 읽을 수 있습니다
앱에서 작품을 무료로 읽어보세요
앱에서 읽으려면 QR 코드를 스캔하세요.
DMCA.com Protection Status