Share

Bab 3

Penulis: Lalala
Sepertinya, Bima salah menangkap maksud reaksiku.

Dia mengangkat tangannya, memberi sebuah isyarat, dan seketika ribuan titik cahaya menyala terang di luar jendela.

Puluhan ribu pesawat tanpa awak terbang ke angkasa, membentuk siluet sepasang pria dan wanita yang sedang berpelukan di langit malam. Di tengah riuh kekaguman dan rasa iri orang-orang di sekitar kami, Bima menarikku ke dalam pelukannya.

Saat cahaya di langit berubah membentuk tulisan [R, aku mencintaimu], embusan napasnya terasa di telingaku, membisikkan pengakuan cinta yang begitu dalam, "Rhea, aku akan selamanya mencintaimu."

Aku menengadah menatap langit. Huruf R yang saling bertautan itu perlahan memudar, seolah meleleh menjadi huruf S yang samar sebelum akhirnya lenyap ditelan kegelapan malam. Aku tersenyum sinis.

Begitu aku menoleh, mataku langsung beradu dengan tatapan Bima.

Pandangannya tertuju pada sesosok bayangan di sudut restoran. Itu Sherly. Di atas mejanya berdiri dua botol minuman kosong. Dia tampak sangat merana, seperti bunga bakung yang layu dihantam hujan, begitu kesepian dan malang hingga siapapun akan merasa iba melihatnya.

Genggaman tangan Bima di tanganku tiba-tiba mengencang. Baru setelah aku merintih kesakitan, dia tersentak sadar dan berkali-kali meminta maaf. "Maaf, Rhea. Ada urusan mendadak di kantor. Aku minta sopir buat antar kamu pulang, ya?"

Aku menatap hidangan makan malam di atas meja yang bahkan belum tersentuh, lalu menyunggingkan senyum sarkastis.

...

Di tikungan jalan, aku menyuruh sopir berhenti dan menyuruhnya pergi. Aku pun mengambil alih kemudi, memutar balik mobil, dan kembali ke sana. Dari kejauhan, aku melihat Bima menggendong tubuh Sherly yang sudah lunglai, berlari tergesa-gesa masuk ke dalam ambulans.

Aku mengikuti mobil itu sampai ke rumah sakit. Dengan mata kepalaku sendiri, aku melihat Bima berlari kesetanan sambil menggendong wanita itu, berteriak sekuat tenaga, "Dokter! Istriku alergi alkohol! Tolong selamatkan istriku!"

Saat perawat mendorong Sherly ke ruang IGD, Bima jatuh berlutut, seolah seluruh tenaganya telah habis.

Adegan itu membuat hatiku berdenyut nyeri. Persis seperti saat aku berhasil keluar dari kediaman Keluarga Nawasena dulu. Dia juga tampak begitu panik dan kalut, mencengkeram tangan dokter sambil memohon, "Selamatkan Rhea, dia itu separuh nyawaku."

Adegan yang serupa, tetapi orang di pelukannya dan nama yang dia sebut sudah berubah.

Segala sumpah cinta selamanya itu tak lebih dari gelembung sabun yang pecah tanpa bekas.

Begitu Sherly didorong keluar dari IGD, Bima langsung menyambar tangannya dengan wajah pucat pasi. "Sayang, apa pun yang kamu mau bakal aku turutin, tolong jangan buat aku takut lagi."

Sherly memalingkan wajahnya dengan lemas. "Pergilah temani dia, aku ini 'kan cuma orang asing. Katanya kamu cinta dia? Nggak usah pedulikan aku hidup atau mati."

Bima buru-buru membungkam bibir Sherly, sorot mata Bima memancarkan kecemasan yang tak pernah dia tunjukkan kepadaku. "Sayang, di antara kita berdua, dialah orang asingnya. Janji sama aku, jangan sakiti dirimu lagi."

Aku berdiri tepat di belakangnya. Hatiku rasanya seperti disayat-sayat pisau tumpul secara perlahan, sakitnya begitu menyesakkan sampai aku hampir tidak bisa bernapas.

Tiba-tiba aku teringat saat di aula keluarga Bima dulu. Ketika kakeknya hendak menghukumku, Bima pasang badan dan melindungiku habis-habisan di bawah dekapannya. Dengan mata merah, dia berteriak lantang, "Rhea itu nyawaku! Dibandingkan dia, Kakek pun nggak ada apa-apanya! Kalian itu cuma orang luar, berani-beraninya kalian menyentuh dia? Kalau mau pukul, pukul aku saja!"

Betapa lucunya. Belum lama berlalu, sekarang justru aku yang menjadi orang luar di mulutnya.

Rasanya seperti ada palu besar yang menghantam jantungku. Aku mematung di tempat, tak mampu bergerak sedikit pun.

Tepat saat itu, terjadi keributan di ujung lorong. Nampan yang dibawa seorang perawat jatuh ke lantai dengan suara dentuman keras.

Dengan sigap, Bima menendang nampan itu menjauh agar tidak mengenai Sherly sedikit pun. Namun, botol kaca berisi obat di atas nampan itu justru melayang dan menghantam betis kaki kiriku.

Aku jatuh tersungkur. Serpihan kaca menusuk telapak tanganku dan seketika darah mulai mengalir membentuk garis di lantai.

Kerumunan orang spontan berteriak kaget. Bima menoleh sekilas, tetapi keningnya bahkan tidak berkerut sama sekali. Dia hanya mengeluarkan selembar cek dari dompetnya, melemparkannya tepat di depan kakiku, lalu kembali melindungi Sherly dan berbalik pergi begitu saja.

Air mata yang sejak tadi kutahan, akhirnya luruh juga.

Semua itu terjadi dalam sekejap mata. Perawat kecil tadi baru tersadar dari syoknya, lalu buru-buru membantuku berdiri untuk mengobati luka.

Di dalam ruang perawatan, percakapan para perawat sayup-sayup masuk ke telingaku.

"Istrinya Pak Bima beruntung banget, ya? Sudah tampan, setia pula."

"Kalian nggak tahu, ya? Dia itu sebenarnya nggak alergi. Begitu masuk IGD, dia bilang ke kami kalau dia cuma sengaja mau mengetes suaminya. Nggak nyangka suaminya bakal ketakutan setengah mati kayak gitu."

Salah satu perawat menatap tangan kiriku yang kini dibalut perban tebal dengan penuh simpati.

"Aduh, kamu ini benar-benar kena sial. Untung saja mukamu nggak kena. Ya mau bagaimana lagi, nasibmu nggak seberuntung dia yang punya suami sebaik itu. Nasib orang memang beda-beda."

Aku mendengarkannya dengan perasaan hampa. Sekujur tubuhku terasa membeku, sementara rasa perih di telapak tanganku menusuk hingga ke jantung.

Diam-diam kupungut cek itu dan kusimpan. Mataku tertuju pada nampan di sampingku, sebuah gelang tasbih yang kini berlumuran darah tergeletak di sana.

Itu adalah gelang yang dulu didapatkan Bima setelah berlutut mendaki ribuan anak tangga. Dia bahkan menyalin sendiri kitab suci, mempersembahkan doa dan membacakan mantra selama 49 hari di depan altar, sebelum akhirnya memakaikan gelang itu di pergelangan tanganku dengan penuh kesungguhan.

Saat itu dia berkata, "Rhea, selama cintaku masih ada, gelang ini akan selalu melindungimu."

Kata-katanya masih terngiang jelas di telingaku, tetapi hatinya sudah berubah sejak lama. Kini, bahkan gelang ini pun tidak sudi lagi melindungiku sedikit pun.

Jika memang begitu, lebih baik aku tidak menginginkan semuanya lagi.

Baru saja aku meninggalkan ruang perawatan, Bima datang mencari perawat untuk mengganti obat Sherly.

Sudut matanya menangkap siluet gelang di atas nampan itu dan seketika pupil matanya mengecil.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Saat Janji Manismu Tak Lagi Berarti   Bab 23

    Dalam upacara kelulusan kali ini, aku naik ke atas panggung untuk memberikan pidato sebagai lulusan terbaik.Bintang yang dulunya redup ini akhirnya berhasil menanggalkan abunya, kini bersinar terang di panggung miliknya sendiri.Di bawah panggung, Arka tampak sedang menggendong Reno yang kini sudah berusia dua tahun. Di sampingnya, berdiri Rafael yang terlihat makin dewasa dan tampan.Begitu pidato berakhir, Rafael naik ke panggung dan memberikan sebuket bunga matahari yang cerah kepadaku.Akan tetapi, jauh di sudut ruangan yang tersembunyi, ada seorang pria lain yang sedang menatapku dengan penuh kerinduan, seolah ingin merekam setiap lekuk wajahku dalam ingatannya.Selama tiga tahun ini, Bima telah datang ke Negara Atharwa sebanyak 160 kali. Dia tidak pernah melewatkan satu pun pertunjukanku.Bahkan pada hari aku melahirkan, dia pergi ke kuil dan berlutut menaiki seribu anak tangga hanya untuk memohon untaian gelang tasbih baru demi keselamatanku.Akan tetapi, aku tidak pernah menem

  • Saat Janji Manismu Tak Lagi Berarti   Bab 22

    Mimpi indah itu buyar seketika oleh suara perawat.Bima membuka matanya dengan linglung, yang pertama kali dia lihat adalah wajah asistennya yang tampak lesu.Melihat Bima sudah sadar, asistennya segera melapor, "Pak Bima, identitas Anda bermasalah. Pihak kedutaan sedang melakukan penyelidikan. Sebaiknya, kita segera pulang ke tanah air."Bima mencabut jarum infus di tangannya, lalu duduk tegak. "Siapkan mobil. Kita ke rumah Keluarga Abian."Sementara itu, aku sedang menikmati ceri yang dicuci sendiri oleh Rafael, sambil berjemur di bawah sinar matahari di atas kursi malas."Rafael, soal ucapanku tempo hari, aku hanya menjadikanmu tameng karena keadaan sedang mendesak. Jangan salah paham, ya."Arka menatap Rafael yang sangat perhatian itu dengan raut wajah penuh kejengkelan.Rafael mengeluarkan sehelai selimut tipis, meletakkannya tepat di samping tanganku, memastikan aku bisa meraihnya dengan mudah jika membutuhkannya."Iya, aku nggak salah paham," jawab Rafael santai.Arka menatap wa

  • Saat Janji Manismu Tak Lagi Berarti   Bab 21

    Keesokan harinya, saat aku hendak keluar rumah, aku baru menyadari Bima ternyata belum pergi.Dia bersandar di pintu mobilnya dengan penampilan yang tampak kacau dan lesu. Begitu melihatku, matanya yang semula redup seketika kembali bercahaya."Rhea, kamu mau pergi ke mana? Biar aku antar."Aku tidak menghiraukannya dan langsung masuk ke mobilku sendiri.Bima pun mengemudikan mobilnya, mengikutiku dari belakang dengan raut wajah yang tampak layu.Dia tidak percaya, bagaimana mungkin hanya dalam waktu dua bulan, aku bisa jatuh cinta pada orang lain.Terlebih lagi, dalam pikiran Bima, hubungan kami retak hanyalah karena sebuah kesalahpahaman belaka. Dia yakin begitu amarahku sudah reda, aku pasti akan kembali ke pelukannya.Ketika dia tersadar dari lamunannya, dia baru menyadari bahwa tempat yang kudatangi adalah rumah sakit.Apa aku sakit? Untuk apa aku ke rumah sakit?Di satu sisi dia menyesali dirinya yang tidak menyelidiki kondisiku dengan teliti, tetapi di sisi lain dia sangat mence

  • Saat Janji Manismu Tak Lagi Berarti   Bab 20

    Aku sedang mengurus prosedur cuti kuliah, jadi beberapa hari terakhir ini aku sering bolak-balik antara rumah dan kampus.Tepat di belokan jalan menuju kampus, aku tidak sengaja menabrak seseorang.Aku segera memantapkan posisi berdiriku dan menunduk untuk meminta maaf. "Maaf."Akan tetapi, orang itu justru memelukku erat-erat. Suaranya terdengar tersedat karena tangis. "Rhea, akhirnya aku menemukanmu."Suara itu membuat seluruh tubuhku bergetar hebat. Aku sekuat tenaga mendorongnya menjauh. "Bima? Bagaimana bisa kamu ada di sini?"Ekspresi Bima tampak sangat terluka. "Rhea, ada banyak kesalahpahaman di antara kita. Apa bisa kamu dengar penjelasanku?"Mahasiswa yang lalu lalang menatap kami dengan rasa ingin tahu. Aku terpaksa membawanya ke kafe di sebelah kampus.Di sana, Bima menjelaskan segalanya dengan air mata yang terus mengalir.Setelah selesai bicara, dia mencoba meraih tanganku dengan nada bicara yang sangat mendesak. "Rhea, hubunganku dengan Sherly cuma sebatas kontrak. Akta

  • Saat Janji Manismu Tak Lagi Berarti   Bab 19

    Arka mengangguk dengan perasaan agak malu, lalu segera mengalihkan pembicaraan."Rhea, sekarang kamu sudah kembali, aku ingin kamu mulai melihat-lihat aset dan bisnis keluarga kita. Kalau kamu tertarik, kamu bisa ikut mengelolanya sendiri."Aku tidak membongkar niat kecilnya itu.Baginya, kembali memegang kuas lukis adalah sebuah kemajuan besar. Itu berarti tidak lama lagi dia akan benar-benar bangkit dan melangkah maju.Lagi pula, aku tidak ingin dia terus-menerus terkurung dalam rasa bersalahnya.Sepiring steak yang sudah dipotong rapi disodorkan ke hadapanku. Rafael mengedipkan matanya padaku. Melihat interaksi kami, Arka menggertakkan gigi karena kesal."Rafael, adikku nggak akan menikah. Kami cuma menerima menantu yang mau tinggal di sini dan kamu nggak memenuhi syarat.""Perjodohan masa lalu itu 'kan cuma lelucon orang tua, nggak perlu dianggap serius," balas Rafael sambil menyendokkan semangkuk sup hidangan laut untukku.Akan tetapi, entah mengapa, tiba-tiba perutku terasa berge

  • Saat Janji Manismu Tak Lagi Berarti   Bab 18

    Aswin membanting tongkatnya ke arah kaki Bima. "Kurang ajar! Kamu sudah berani membangkang?!"Bima menatapnya dengan pandangan dingin. "Kakek, Kakeklah yang memaksaku melakukan ini. Aku cuma menyesal kenapa nggak mengambil keputusan ini lebih awal, malah setuju dengan syarat konyolmu itu."Dia menatap kakeknya yang tampak jauh lebih tua, lalu menghela napas panjang."Kakek sebenarnya sudah tahu Rhea akan meninggalkanku, 'kan? Makanya Kakek mengajukan syarat itu. Cuma aku saja yang bodoh, percaya bahwa setelah semua drama ini berakhir, aku bisa hidup bahagia lagi dengan Rhea."Dia terdiam sejenak, seolah memantapkan tekadnya."Kakek, kalau sampai terjadi sesuatu pada Rhea, maka hubungan kakek dan cucu di antara kita pun berakhir sampai di sini."Setelah berkata demikian, dia memerintahkan orang-orangnya untuk membawa Aswin pergi.Lalu, dia segera menghubungi sebuah nomor. "Siapkan identitas baru untukku. Aku harus pergi ke Negara Atharwa.""Harus menunggu tiga bulan lagi."Bima mengerny

  • Saat Janji Manismu Tak Lagi Berarti   Bab 8

    Panggilan pertama, hanya ada nada sibuk yang monoton.Panggilan kedua, ketiga ... hingga yang kesembilan, tetap tidak ada jawaban dari seberang sana.Yuda berdiri di samping sambil bersedekap, sudut bibirnya menyunggingkan senyum kemenangan.Hatiku perlahan tenggelam ke dasar jurang.Pada percobaan

  • Saat Janji Manismu Tak Lagi Berarti   Bab 7

    "Bukan aku." Aku mengeluarkan ponselku untuk membuktikan diri. "Aku sama sekali nggak pernah menghubunginya."Bima tiba-tiba tersenyum, lalu mengulurkan tangan dan mendekapku erat dalam pelukannya. "Rhea, apa yang kamu takutkan? Mana mungkin aku nggak memercayaimu cuma karena orang asing."Aku menat

  • Saat Janji Manismu Tak Lagi Berarti   Bab 6

    Aku mendongak dengan tatapan tenang. "Aku pinjam dari pihak kampus. Karena aku nggak pernah kuliah, aku cuma ingin tahu rasanya seperti apa."Aku menggoyang-goyangkan tiket pesawat dan dokumen di tanganku dengan nada datar. "Kalau ini, aku menemukannya di jalan. Baru mau aku antar ke pos satpam."Me

  • Saat Janji Manismu Tak Lagi Berarti   Bab 5

    Di antara sadar dan tidak, aku mendengar suara percakapan dari balik pintu."Pak Bima, pihak pacuan kuda sudah memeriksanya. Ternyata ada seseorang yang menukar tali kekangnya dengan yang sudah usang. Hari itu, cuma Nona Sherly yang sempat menyentuh kuda yang biasa ditunggangi Nona Rhea."Setelah he

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status