로그인"Tenanglah, Sari. Kau akan baik-baik saja. Aku tidak akan menyakitimu,” ucap Cakra berusaha menenangkan Sari.Wanita itu masih terdiam sembari menundukkan kepalanya dalam-dalam. Lalu Cakra pun mulai melihat luka di tubuh Sari.Punggung wanita itu penuh garis. Ada yang sudah mengering menghitam, ada yang berupa bekas putih memanjang. Tapi dua di antaranya, tepat di bawah tulang belikat kiri, tampak merah bengkak dan basah. Kulit di sekelilingnya panas dan mengkilap, dan dari tengahnya merembes nanah kekuningan yang berbau tajam."Astaga! Apa ini?” Kepala Cakra tiba-tiba saja berdenyut.Ia merasa sedang berada di bawah hujan yang sangat deras. Ada suara pintu dibanting dan tawa pria yang sedang mabuk. Ada juga sosok perempuan meringkuk di sudut kamar, dan sabuk kulit tebal yang diayunkan berkali-kali. Bunyi cambukan itu beradu dengan suara isak tangis yang tertahan."Ampun, Kanda, ampun."Cakra menggeram. Ia melihat ketika Cakrabuana sedang menyiksa Sari Kembang habis-habisan.Lalu sek
Cakra buru-buru menarik kain sarungnya ke depan, menutupi tonjolan kerasnya yang belum mau turun.Sialan!Gara-gara Anjani, tombak pusakanya masih setengah tegang. Dan sekarang ada Putri Andini yang berdiri lima langkah di depannya."Kau sudah lama di situ, Andini?""Baru saja, Kanda." Andini menunduk. Tapi telinganya merah, dan matanya sempat melirik ke pinggang Cakra sebelum cepat-cepat naik lagi.“Baru saja? Bohong.” Dalam hati, Cakra bisa menebak dari warna pipi wanita itu.“Apa yang kau bawa itu?” tanya Cakra."Ini ramuan kiriman dari keputren, Kanda." Andini menyodorkan mangkuk tanah liat itu dengan kedua tangan. "Ibu Suri yang menyuruh. Katanya untuk memulihkan kekuatan Kanda."Cakra mengerjap. Untuk memulihkan kekuatan?Itu artinya gosip lemah syahwat itu sudah sampai ke keputren. Padahal baru kemarin pagi Ratih mengumumkannya."Gosip di sini lebih cepat dari ambulans," gumamnya."Apa, Kanda?"“Tidak. Bukan apa-apa." Cakra menggeleng cepat.Ia menerima mangkuk itu. Uapnya sud
Cakra tersentak seraya menegakkan punggung, wajahnya merah sampai ke telinga."Jangan geer dulu, Anjani! Aku … aku cuma kaget!" bentaknya, tapi napasnya makin pendek. Ujung pedang kayu di leher Cakra bergetar pelan.Cakra menelan ludah. Mulut gadis itu masih galak, tapi tubuhnya jelas bicara lain. Dadanya naik turun cepat, matanya basah, dan paha yang mengapit pinggang Cakra gemetar halus.Namun Cakra tak punya waktu untuk menikmati itu. Matanya menangkap sesuatu di tangan Anjani, tangan kanan yang menggenggam pedang kayu.Pergelangan tangan itu bengkak. Sedikit melengkung ke luar, kulitnya kebiruan, dan jari-jarinya bergetar menahan sakit.Naluri perawat Cakra langsung bangkit, mengalahkan semua hal lain."Anjani, tanganmu.""Apa?""Pergelangan tanganmu. Sejak kapan seperti itu?""Bukan urusanmu." Anjani menarik tangannya, tapi Cakra lebih cepat. Ia bangkit setengah duduk dan menangkap pergelangan itu dengan lembut tapi pasti. Anjani terpaksa melorot dari atas perutnya dan terduduk d
Cakra membuka mulut, tapi tak ada satu pun jawaban masuk akal yang bisa ia ucapkan."Yang mana yang bohong? Tentu saja tidak ada yang bohong," batinnya.Pagi kemarin ia keluar kurang dari semenit karena ia perjaka yang baru dikasih tubuh pangeran. Semalam ia bertahan sampai ayam berkokok karena ia curang, pakai teknik napas dan remasan pangkal dari buku keperawatan, bukan kitab para raja."Aku ...." Ia menggaruk tengkuk. "Mungkin pagi kemarin aku sedang tidak enak badan.""Dan semalam?""Semalam sudah agak enakan.""Benarkah?" Anjani menyipitkan mata, menatapnya lama.Lalu tanpa peringatan, ia meraih pergelangan tangan Cakra dan menyeretnya menuruni anak tangga selasar."Anjani! Pelan-pelan! Aku belum pakai alas kaki!""Pangeran Wanapura tidak butuh alas kaki untuk berbohong."Cakra terpaksa mengikuti dengan langkah terseok-seok. Genggaman Anjani kuat sekali, membuat pergelangan tangan Cakra rasanya perih karena kuku wanita itu menusuk kulitnya. Mereka melewati dua gerbang kecil dan
Sementara itu di celah gebyok, Anjani akhirnya melepaskan diri dari dinding tepat saat Ratih menjerit memanggil nama Cakra untuk terakhir kali.Wanita itu pun lalu pergi dengan napas berat dan kaki yang belum sanggup berdiri tegak.Di dalam kamar, Cakra masih terlentang, dadanya naik turun, dengan Ratih yang meringkuk di sisinya.Wanita itu belum juga tidur. Kepalanya bersandar di dada Cakra, satu kakinya melintang di atas perut suaminya, dan paha hangat yang masih licin itu menempel tepat di dekat tombak pusaka yang akhirnya lemas. Kedua dadanya tertekan ke rusuk Cakra, dan tiap kali Ratih bernapas, puncaknya yang masih mengeras menggesek kulitnya pelan.Cakra menelan ludah. Tubuhnya lelah, tapi bagian bawahnya sempat berkedut sekali, seperti masih belum mau menyerah. Ia menarik napas dalam-dalam.Empat hitungan, dan akhirnya perasaan itu pun reda.Jar
Cakra mencengkeram pinggul Ratih, jari-jarinya menekan kulit yang licin oleh keringat. Rasa panas menumpuk di bawah perutnya, makin tinggi, makin menekan. Pemandangan itu, suara basah di tiap hentakan, dan remasan di dalam sana, semuanya bersekongkol.“Napas. Napas, sialan,” gerutu Cakra dalam hati.Satu. Ia menarik udara dalam-dalam lewat hidung.Dua. Ia menahannya.Tiga. Ia memusatkan pikiran.Empat. Ia menghembuskan napas pelan-pelan.Gelombang itu surut sedikit, tapi tak lama. Ratih mempercepat gerakannya, tubuhnya memantul, tepukan kulit bertemu kulit menggema di kamar yang sunyi. Cakra memejamkan mata, rahangnya mengeras, otot perutnya menegang.Satu. Dua. Tiga. Empat.Satu lagi. Dua. Ia tak yakin masih bisa menghitung."Ratih ... pelan sedikit ...""Tidak ma







