LOGINBab. Tante Felicia kembali duduk dengan tenang. Kecepatan mobil sudah berangsur normal. Sehan hanya bisa mengalah agar Tante Felicia tidak marah kepadanya. "Kenz, kita jadi makan malam dahulu?" tanya Tante Felicia menoleh ke arah Sehan. Sehan tidak langsung menjawab, dalam pikirannya ada dua jawaban. Yang pertama dia tidak ingin makan malam karena ingin segera menemukan Chellia. Yang kedua ia ingin makan malam karena perutnya sudah kelaparan. Bercinta dengan Nasya membuat Sehan lapar. "Kenz, kamu dengar tante tidak? Kamu tadi katanya lapar jadi tante tanya kita mau makan malam dahulu atau langsung ke tempat konser?" tanya Tante Felicia sekali lagi. Kali ini dengan nada penuh penekanan karena Sehan tidak juga menjawab pertanyaannya. "Eh, Mmm ... Kita makan malam di dekat konser aja ya, Tan. Rehan yakin di sana banyak warung yang buka. Kita ke sana untuk makan malam sekalian mencari tempat parkir aku yakin di sana pastilah banyak yang jualan." "Baiklah kalau
j Chellia melengos tanpa mau mendengarkan peringatan Sehan. Dengan angkuhnya wanita berjalan keluar dari hotel. Ia tidak berpamitan pada ketua rombongan. Sehan kepikiran tentang Cheliia. Ia tahu pasti wanita itu juga akan pergi ke konser. Sehan pun bergegas ke kamar tante Felicia. "Tante, apa tante sudah siap?" tanya Sehan masuk tanpa permisi dahulu. "Sudah, Sehan. Hey, kenapa kamu terlihat buru-buru begitu?" tanya tante Felicia sembari memakai sepatunya. "Tidak apa-apa, Tante. Biar tidak macet di jalan saja," jawab Sehan tidak mengatakan apa yang sesungguhnya ia pikirkan. "Oh begitu, baiklah. Ayo kita berangkat, aku sudah siap. Tidak sabar rasanya melihat idolaku pentas!" sahut tante Felicia. Sehan dan tante Felicia pun bergegas berangkat. Mereka menggunakan mobil rental untuk berkeliling selama di pulau itu. Setengah berlari Sehan berjalan menuju lobi, berharap Chelia masih ada di sana. Kalau Chellia masih di sana maka Sehan akan mengajaknya berangkat bersama. Sesampain
bab. 131 Matahari semakin jauh tenggelam. Senyum mengembang di bibir Tante Felicia. "Kenz, akhirnya kamu datang juga. Aku sempat khawatir, takut terjadi apa-apa dengan mu," ucap tante Felicia memeluk Sehan. Ia menenggelamkan wajahnya ke dada bidang lelaki itu. "Aku sudah janji pada Tante, jadi manalah mungkin aku akan mengingkari nya. Bagi seorang lelaki janji sama saja harga dirinya. Dan aku bukan tipe lelaki yang suka ingkar janji," jawab Sehan mengusap surai hitam rambut Tante Felicia dengan lembut. "Terima kasih, Kenz. Oh ya kamu sudah makan belum?" Tante Felicia mendongakkan kepalanya menatap Sehan. Sehan menggelengkan kepalanya. "Belum, Tante," jawab Sehan jujur. Sepulang dari rumah Nasya ia tidak mampir ke manapun. Pikirannya berkelana jauh memikirkan tentang bodyguard untuknya. "Baiklah, bagaimana jika sebelum kita ke konser, kita makan dulu. Waktunya masih ada tuh, palingan molor juga konsernya. Yang penting kan sudah ada tiket VIP." Tante Felicia men
Bab. Sehan menuruti perintah Nasya karena Nasya sudah membayarnya melalui Tante Zola. Meskipun Sehan ingin menolak, namun teringat akan balas dendamnya maka ia menuruti perintah Nasya. Sehan menggendong Nasya ala bridal style menuju ke kamarnya. Semua itu Sehan lakukan agar secepatnya bisa terlepas dari Nasya. Semakin cepat selesai pekerjaannya semakin dia cepat pulang. "Ssh ... Sehan!" Nasya mengerang penuh kenikmatan, ia tidak tahu jika apa yang terjadi padanya sudah direkam oleh Sehan. Dengan video rekaman itu, Sehan akan menghancurkan Nasya. "Teruslah mengerang penuh kenikmatan, semua akan menjadi senjata untuk menghancurkan dirimu sendiri. Nikmatilah, sebelum kau tidak bisa menikmatinya lagi," gumam Sehan di dalam hati. Ia mengeluarkan semua kemampuannya. Nasya merasakan tubuhnya lemas karena berulang kali bisa mencapai puncak. Sedangkan Sehan baru menggunakan jari dan mulutnya saja. "Cukup, Sehan. Aku sudah tidak kuat lagi!" rintih Nasya, ia sudah tida
Sehan tidak menyangka jika putri dari ibu tirinya lah yang mengundang dia datang. Tatapan tajam dan penuh kebencian Sehan tidak membuat Nasya takut. Diri Nasya sudah sangat senang saat anak buahnya berhasil membawa Sehan ke rumahnya. Rumah pemberian Alinda, dimana dengan tega dan kejamnya menghabisi nyawa ibu kandung Sehan. Setelah bisa membuat berita lah baru Alinda memiliki kendali penuh pada keluarga Argantara. "Katakan apa maksud semua ini?" Tanya Sehan tanpa basa basi lagi. Sehan tidak habis pikir kenapa ada wanita senekat Nasya. Usianya hanya terpaut tiga tahun lebih muda Nasya daripada Sehan. "Hahaha, maaf, Kenz ... Eh, Sehan! Aku sengaja mengatakan semua ini agar aku bisa mendapatkan dirimu tanpa harus membayar pada wanita sialan itu!" ucap Nasya Putri kandung dari Alinda. Menurut sehan wanita itu adalah gadis sana ya tidak tahu aturan dan juga sopan santun. Entah bagaimana ibunya itu mendidik dirinya sehingga menjadi wanita yang tidak benar bahkan terke
Lelaki berseragam itu mengangguk lalu berkata," Silakan ikut saya, Tuan. Nyonya Zola sudah lama menunggu kita." Tanpa ada rasa curiga, Sehan mengikuti lelaki itu. "Kita akan kemana, Pak?" tanya Sehan. Sudah beberapa menit yang lalu di dlam mobil akan tetapi tidak sampai juga. "Tidak lama lagi, Tuan. Kita sudah dekat. Anda tenang saja, nanti jika sudah sampai akan saya beri tahu!" Supir itu menjawab dengan nadda sedikir emosi. Sehan mengerutkan kedua alisnya, seharusnya sebagai seorang supir tidak begitu jawabannya. Jelas yang diucapkan supir itu tidaklah sopan. "Kenapa anda menjawab begitu, Pak? Saya adalah tamu yang harus anda hormati. Saya bisa saja turun dan memesan taksi online lalu kembali ke hotel. hal yang sangat mudah bagi saya!" Suara dengusan terdengar dari napas si supir, menunjukkan kalau supir itu tidak suka dengan sehan yang banyak bicara. Namun, supir itu tidak membalas, ia hnya diam saja karen atidak ingin membuat masalah dengan tamu dari majikannya.






