FAZER LOGINGarda seperti baru tersadar dari lamunannya. Ia segera mengangguk hormat. “Tuan Mahendra, terima kasih atas bantuan Anda malam ini.”Namun setelah mengucapkannya, tatapannya kembali mengunci wajah Arka. Alisnya perlahan berkerut. Setelah ragu beberapa detik, ia akhirnya membuka suara lagi dengan nada penuh ketidakpastian.“Maaf kalau saya lancang… tapi rasanya kita pernah bertemu sebelumnya.”Tatapannya bergerak menelusuri wajah Arka dengan lebih saksama. Garis wajah tegas itu, sorot mata yang tenang namun tajam, serta aura dingin yang samar-samar tetap terasa meski sengaja ditekan, semuanya terasa terlalu familiar baginya. Semakin lama ia melihat, semakin kuat rasa tidak percaya yang muncul di dalam kepalanya.Arka membalas tatapannya dengan tenang. Lalu ia berkata santai, “Dulu mentalmu bagus, tapi cara bertempurmu masih terlalu kasar. Prajurit yang hanya mengandalkan keberanian biasanya mati paling cepat di medan perang.”Tubuh Garda langsung membeku. Matanya membelalak lebar. Napa
Kaivan Adhiraja, pria yang lebih dikenal di dunia operasi bayangan dengan julukan Rajawali Senyap, merupakan salah satu kapten lapangan paling mematikan yang pernah dimiliki unit khusus itu.Ia tidak langsung menjawab, tangannya terangkat memberi isyarat agar seluruh anggota menghentikan pencarian dan meningkatkan kewaspadaan. Dalam sekejap, moncong senapan kembali mengarah ke berbagai sisi hutan yang gelap, sementara suasana di sekitar mereka berubah semakin tegang.Beberapa detik kemudian, Kaivan kembali mengalihkan pandangannya ke kedalaman hutan di depan sana. Meski wajahnya tertutup lapisan cat kamuflase, perubahan emosi di matanya tetap terlihat jelas.Ada tekanan dan kekhawatiran yang sulit disembunyikan, tetapi jauh di balik itu tersimpan secercah antusiasme yang perlahan muncul, seolah dia akhirnya menemukan jejak seseorang yang selama ini mereka cari tanpa hasil.***Cahaya pagi perlahan menembus kabut tipis di pegunungan, menyingkap sisa kehancuran setelah pertempuran semal
Saat tim Arka menuruni gunung, sementara Keluarga Mahesa masih sibuk merawat korban luka, mengumpulkan jenazah, dan menghitung hasil rampasan pertempuran, beberapa kilometer di belakang rumah utama mereka terbentang sebuah area hutan yang hancur total akibat pertempuran sengit beberapa jam sebelumnya.Tempat itu merupakan lokasi penyergapan yang dilakukan pasukan Arka terhadap Darmajaya dan kekuatan utama Sindikat Taring Ular menggunakan bombardir artileri serta serangan penembak jitu jarak jauh.Kini area itu jatuh dalam kesunyian yang menyesakkan.Kawah hitam bekas ledakan tersebar di berbagai sisi tanah, sementara pohon-pohon besar tumbang dengan batang patah yang masih mengeluarkan asap tipis. Selongsong peluru berserakan di antara lumpur dan dedaunan basah, bercampur dengan serpihan senjata rusak serta noda darah menghitam yang mulai membeku di permukaan tanah.Beberapa mayat tergeletak dalam posisi mengenaskan di antara reruntuhan hutan, dan udara dipenuhi aroma logam darah, tan
Arka melanjutkan dengan raut wajah tenang. “Dulu… dalam rapat militer tingkat tinggi, Mahesa Wiradarma pernah menunjuk wilayah tenggara di peta dan berkata—”Langkahnya berhenti sesaat.Angin pegunungan bertiup melewati mereka, membawa aroma tanah basah bercampur sisa mesiu perang.Tatapan Arka perlahan menyipit. “Lebih baik memakai peluru artileri daripada terus berunding dengan bajingan-bajingan itu, hancurkan sampai tuntas! Taklukkan sepenuhnya!”“Kalau begitu perbatasan akan tenang dengan sendirinya.”Suasana langsung hening.Bahkan Arga tanpa sadar menahan napas.Namun Arka kembali melanjutkan dengan nada lebih pelan. “Tapi itu belum bagian paling gila, tepat sebelum rapat selesai, Jenderal tua itu memandangi peta cukup lama.”Sorot mata Arka sedikit berubah, ada kesan rumit di sana. Antara kagum dan sesuatu yang sulit dijelaskan. “Lalu dia berkata—”Arka menoleh ke arah dua rekannya, kata demi kata keluar perlahan. “Benar atau salah soal perluasan wilayah… biarkan generasi berik
Tak lama kemudian, suara tembakan mulai mereda sedikit demi sedikit.Hingga akhirnya keheningan menyelimti hutan itu.Kabut asap bercampur aroma darah memenuhi seluruh hutan di bawah cahaya fajar pertama. Lereng pegunungan itu kini berubah menjadi neraka. Kawah ledakan, bekas hangus, pohon-pohon yang tumbang, senjata berserakan. Dan mayat-mayat yang hancur memenuhi tanah berlumpur.Beberapa anggota Keluarga Mahesa yang selamat langsung terduduk lemas. Ada yang menangis, ada yang tertawa putus asa, ada pula yang hanya memeluk anggota keluarga mereka tanpa suara. Mereka selamat, tetapi harga yang dibayar terlalu mahal.Didampingi Gavira, Adhyaksa berjalan perlahan menuju Garda.Begitu kedua pria itu saling berhadapan, Garda langsung menundukkan kepala tipis. “Kakak.”Adhyaksa terdiam beberapa detik.“HAHAHA!” Pria itu tiba-tiba tertawa keras meski matanya mulai memerah. “Bagus… Bagus sekali!”Tangannya langsung menepuk bahu Garda dengan kuat. “Kau datang tepat waktu!” Ia menghela napas
Renald langsung memotong dingin. “Lakukan!”Tatapannya berubah setajam pisau. “Kalau kita terlambat mundur, semua orang di sini akan mati.”Ia melirik kembali ke arah pasukan markas Mahesa yang terus bergerak maju seperti mesin perang. “Sekarang klan inti mereka sudah turun tangan, dan mereka pasti bukan hanya mengirim satu gelombang pasukan.”Sorot matanya menyipit tipis. “Bala bantuan berikutnya mungkin sudah bergerak sekarang.”Suasana langsung hening beberapa detik.“Baik, Tuan Muda!”Kapten pengawal itu akhirnya menggertakkan gigi sebelum segera berbalik menyampaikan seluruh perintah penarikan.Setelah perintah Renald dikeluarkan, seluruh pasukan Keluarga Mahardika di medan perang langsung terpecah menjadi dua arus berbeda. Sebagian orang maju, sebagian lagi mundur. Dan mereka yang maju, jelas sudah bersiap mati.“SERANG—!”Beberapa prajurit Mahardika langsung meraung sambil menerobos keluar dari perlindungan. Granat dilempar tanpa henti, rentetan tembakan dilepaskan membabi buta
Arka meliriknya sekilas. “Besok aku akan memerintahkan asistenku memulai pembentukan departemen keamanan. Garuda Hitam akan menjadi pemimpin, dia yang bertanggung jawab penuh.”Arka sedikit terkejut. Ia tidak menyangka Keira langsung menyetujuinya tanpa pertanyaan maupun penyelidikan. Saat ia menol
“Sekarang…” Arka berdiri di depannya, tatapan matanya dingin. “Siapa yang tidak bisa keluar hidup-hidup?”Tubuh Bima gemetar, tidak ada lagi kesombongan yang tersisa di wajahnya.Tiba-tiba—KRING~Ponsel Arka berdering, ia melirik layar.Nomor terenkripsi.[Taring Bayangan.]Arka sedikit mengernyit
Melihat itu, Bima meraung. “Habisi mereka!”Puluhan preman langsung menyerbu. Parang berkilat terjadi di bawah lampu arena. Tongkat besi terangkat tinggi.Namun detik berikutnya, Arka dan Garuda Hitam sudah bergerak.BUGH!Seorang preman yang paling depan bahkan belum sempat mengayunkan parang keti
Sudut bibir Arka bergerak hampir tak terlihat.Namun sebelum ia menjawab, suara wanita terdengar dari samping. “Jelas salah.”Mireya muncul tanpa suara. Hari ini ia mengenakan pakaian kulit hitam ketat yang menonjolkan bentuk tubuhnya. Ia berdiri di sisi Arka dengan santai.Lalu tersenyum pada Garu







