تسجيل الدخولYuna menatap pria di hadapannya dalam diam. Suara Kai beberapa menit lalu masih bergema di kepalanya.“Sekarang saya hanya ingin jawabanmu.”Jawaban.Ironis sekali.Padahal dulu yang ia pikirkan setiap hari hanyalah bagaimana bertahan hidup hingga kontrak itu berakhir. Namun kini, ketika akhir itu benar-benar tinggal hitungan jam, ia justru tak sanggup melangkah pergi.Pikirannya tanpa sadar kembali pada malam ketika semuanya dimulai. Basement itu menjadi titik balik hidupnya. Dari sana, Kai menawarkan kontrak satu bulan yang terpaksa ia terima demi menyelamatkan ibunya. Lalu hotel mewah itu ... dan satu malam yang mengubah seluruh hidupnya hingga tak pernah kembali seperti semula.Awalnya, ia sangat membenci Kai.Pria arogan yang mengendalikan hidupnya sesuka hati. Yang membuat aturan, memaksanya tinggal di penthouse, bahkan sampai harus tidur bersama di satu ranjang.Namun perlahan, bayangan-bayangan lain mulai muncul. Lebih lembut, bahkan lebih dalam.Kai yang menepati janjinya un
Dunia Yuna terasa berhenti berputar. Jantungnya berdegup kencang, hampir menyakitkan. Pria itu baru saja mengatakan sesuatu yang tidak pernah Yuna bayangkan akan keluar dari mulutnya. "Karena saya tidak ingin kamu pergi." “Terimalah saya, Yuna. Dan tinggal lah di sini bersama saya.” Kalimat-kalimat itu terus terngiang di kepalanya, tak mau hilang. Yang paling membuat Yuna gelisah adalah kenyataan bahwa kali ini ia tidak merasakan jebakan apa pun di balik ucapan Kai. Tidak ada kontrak yang mengikat, tidak ada ancaman tersembunyi, dan tidak ada syarat yang memaksanya untuk mengangguk. Hanya ada ketulusan yang mentah dan hampir rapuh. Seolah Kai sedang memohon untuk pertama kalinya sejak bertemu, meski dengan cara yang masih penuh dominasi. Yuna memalingkan wajah. Pipinya terasa membara karena tak sanggup menatap mata Kai lebih lama. “Kai … saya … butuh waktu untuk berpikir,” suaranya pelan dan hampir bergetar. “Kali ini … Anda nggak akan paksa saya, kan?” Kai terdiam lama. Mata
Dunia Yuna langsung berhenti berputar. Jantungnya kini berdegup tidak karuan.Yang benar saja … Kai yang biasanya selalu mengontrol segalanya dengan dingin dan perhitungan, kali ini justru mengatakan hal yang sama sekali tidak masuk akal. Tangannya masih menggenggam pergelangan Yuna dengan kuat.Yuna berusaha melepaskan tangannya sambil mendorong dada Kai yang bidang dengan sekuat tenaga agar bisa berdiri. Tapi pria itu tak kunjung melepaskannya.Yuna terengah panik.“Kai ... Anda bercanda ya? Lepasin nggak?”Kai tetap menahan tubuh Yuna di pangkuannya. Yuna mulai meronta lebih keras. Tubuhnya bergoyang-goyang mencoba lepas, hingga suara Yuna mulai naik.“Kai, Anda ini mau mengikat dan mengurung saya atau apa? Tolong … jangan begini.”Kai masih di posisi tenang dan mengakuinya begitu blak-blakan.“Ya. Saya mau mengikat kamu.”Yuna tercengang. Matanya membelalak lebar.“Anda sudah gila ya?!”Kai tersenyum tipis sejenak. Lalu dengan satu gerakan kuat, Kai mendorong Yuna hingga punggung
Perjalanan pulang menuju penthouse berlangsung dalam keheningan. Yuna menyetir sambil berusaha memusatkan perhatian pada jalanan malam yang diterangi lampu-lampu kota. Namun pikirannya masih dipenuhi terlalu banyak hal yang terjadi dalam satu malam, membuat kepalanya terasa berat sejak tadi. Mulai dari kedatangan Firas yang tiba-tiba, pengakuan Kai di koridor lantai VIP, reaksi Kendrik yang terlihat jauh lebih tegang saat pamit, kontrak yang tinggal delapan hari lagi. Hingga pengakuan Kai yang sampai sekarang masih membuat jantungnya berdebar tidak wajar setiap kali mengingatnya. Mobil akhirnya memasuki area basement pribadi gedung apartemen. Dan beberapa menit kemudian, Yuna dan Kai sudah tiba di penthouse. Begitu pintu terbuka, Kai langsung melepas jasnya dan berjalan masuk lebih dulu. Yuna yang masih memperhatikan luka di sudut bibir pria itu langsung mengikuti. "Duduk." Kai menoleh. "Apa?" "Duduk dulu." Kai mengangkat alis tipis. "Saya baik-baik saja." "Tolong, Anda
“Firas?” suara Yuna terdengar kaku dan terkejut. “K-kenapa kamu di sini?” Pertemuan ini benar-benar datang di waktu yang salah. Firas berjalan mendekat dengan napas masih sedikit tidak beraturan seolah ia memang datang terburu-buru. “Tadi kamu menutup telepon terlalu cepat,” jawabnya. “Saya jadi khawatir.” Yuna langsung merasa bersalah. “Ah, maaf, Firas. Tadi ada sesuatu yang buat saya harus putusin panggilannya lebih dulu.” Firas terdiam sebelum matanya bergeser ke Kai di samping Yuna. Saat tatapannya langsung jatuh ke sudut bibir Kai yang masih berdarah, ekspresinya berubah. Firas memicingkan mata dan terkekeh pelan—suara tawa yang sarkastik dan tajam, sangat berbeda dari nada lembutnya yang biasa. “Bekas pukulan itu …” gumamnya sambil menatap Kai. “Saya nggak nyangka ternyata Anda malah terlibat masalah lagi di rumah sakit ini.” Yuna menegang keras di tempat dengan perasaan gelisah. “Firas, tolong … jangan bilang seperti itu,” ucap Yuna pelan. Firas menoleh ke Y
Jantung Yuna terasa diremas pelan. Untuk sesaat, ia hanya bisa menatap pria itu tanpa kata-kata. Karena Kai Verazo bukan tipe orang yang mudah meminta maaf, bahkan mungkin terlalu jarang. Namun kali ini, tidak ada kesombongan dan tidak ada pembelaan diri. Hanya penyesalan yang sederhana dan jujur. Yuna menatapnya cukup lama sebelum akhirnya mengangguk kecil. Ia berbalik dan berjalan meninggalkan pria itu. Langkah kaki Yuna terasa jauh lebih berat dibanding saat ia keluar dari kamar rawat inap tadi. Pikirannya berputar tanpa henti tentang Kai, kontrak yang tersisa delapan hari dan tentang dirinya sendiri, bahkan juga Firas yang mau menunggunya sampai kontrak selesai. Awalnya semua terasa sederhana. Ia tinggal menjalani kontrak tersebut, bertahan di roller coaster kehidupan yang tak ada habisnya. Asal bisa menyelamatkan ibunya dan dirinya sendiri, maka semuanya akan berakhir begitu saja. Tapi sekarang, semakin lama, semakin banyak hal yang bergerak keluar dari jalur cerita yang pe
Kai mengangkat alis seolah memastikan ia tidak salah dengar, sebelum sudut bibirnya terangkat membentuk senyum dingin yang tipis. “Sudah saya duga, kamu akan pilih itu.” Yuna menunduk dan merasakan jantungnya berdegup kencang sambil memejamkan mata. Rasa bersalah pada Yuvita terus menekan dadanya
Yuna merasa jantungnya hampir copot. Ia menarik napas cepat, berusaha menenangkan diri sambil memasang senyum ringan yang dipaksakan.“Oh … itu teman kampus saya, Pak,” jawabnya dengan nada biasa, seolah tidak ada yang aneh. “Dia kebetulan lewat dan mampir sebentar. Mau ngajak makan sian
Yuna menarik napas tajam. Emosinya sudah berada di ujung tanduk. “Tidak, Darren. Saya masih banyak kerjaan. Kalau ada yang penting, bilang saja lewat telepon.” Darren terdiam sebentar, lalu tiba-tiba suaranya sedikit naik. “Kalau begitu saya naik ke lantai kamu sekarang.” Yuna langsung panik
Yuna langsung merasa dadanya sesak. Tawaran itu seharusnya melegakan, tapi justru membuatnya panik. Bayangan ancaman Kai semalam langsung muncul—lisensi Firas yang bisa hilang dalam sekejap hanya karena terseret ke dalam hidupnya. “Tidak usah, Firas,” jawab Yuna cepat, nada suaranya sedikit terla







