공유

Cerita Bi Inah

작가: Puti sunshine
last update 게시일: 2026-10-30 14:18:26

Malam harinya, ketika Arlando pulang dari kantor dan mereka duduk berdua di meja makan dalam keheningan yang canggung, Hazel memberanikan diri membuka pembicaraan.

"Aku sudah dengar soal aturan-aturan yang kamu buat, mas," ucap Hazel, mencoba menjaga suaranya tetap tenang meski hatinya dipenuhi kekesalan yang tertahan.

Arlando tidak mengangkat wajahnya dari piring makanannya, tetap fokus menyantap hidangan dengan gerakan yang begitu terkendali. "Itu demi kebaikan kita berdua, Hazel. Menja
이 작품을 무료로 읽으실 수 있습니다
QR 코드를 스캔하여 앱을 다운로드하세요
잠긴 챕터

최신 챕터

  • Sangkar Emas Nyonya Arlando   Hari Pertama di Gedung Wijaya

    Lobi gedung Wijaya Group lebih megah dari yang Hazel bayangkan. Lantai marmer putih memantulkan cahaya dari lampu gantung kristal, dan resepsionis berseragam abu-abu berdiri serentak ketika ia melangkah masuk bersama Denis."Selamat pagi, Nyonya Wijaya."Hazel mengangguk kaku. Ia belum terbiasa dipanggil begitu di depan orang lain, apalagi oleh puluhan pasang mata yang diam-diam menilainya dari kepala sampai kaki. Ia mengenakan blus krem dan rok panjang sederhana, pakaian yang ia pilih sendiri dari lemarinya yang lama, bukan dari deretan gaun yang disiapkan Bi Inah."Mereka akan terbiasa," bisik Denis di dekat lift. "Dan Nyonya juga.""Aku bukan Nyonya di sini," balas Hazel pelan. "Panggil saja Hazel. Aku karyawan baru."Denis menatapnya sebentar, lalu tersenyum tipis, senyum pertama yang tampak tulus darinya. "Saya akan coba. Tapi di depan Pak Arlando, mungkin saya tetap memanggil Nyonya."Lift membawa mereka ke lantai dua puluh dua. Pintu terbuka ke lorong dengan karpet abu-abu tua

  • Sangkar Emas Nyonya Arlando   Izin untuk Bekerja

    Makan malam itu berlangsung tanpa suara selain denting sendok di atas porselen, seperti malam-malam sebelumnya. Hazel sudah hafal iramanya: lima menit pertama untuk sup, lima menit berikutnya untuk hidangan utama, dan sesudah itu Arlando akan mengeluarkan ponselnya, membalas pesan, lalu berdiri tanpa berkata apa-apa.Malam ini ia tidak mengeluarkan ponsel."Hazel."Hazel mengangkat wajah. Jari-jarinya otomatis mengetuk paha di bawah meja, kebiasaan yang tidak bisa ia hentikan sejak menikah. "Ya?""Besok kamu ke gedung Wijaya Group. Jam sembilan. Denis akan menjemputmu."Ia tidak mengerti. "Untuk apa?""Kamu akan bekerja di divisi CSR." Arlando meraih gelasnya dengan sikap datar, seolah sedang mengumumkan jadwal rapat. "Program beasiswa dan pendidikan anak-anak. Kamu lulusan pendidikan, kan? Posisi itu kosong, dan aku butuh orang yang mengerti dunia itu."Garpu di tangan Hazel berhenti di udara. Selama beberapa detik ia hanya menatap pria di seberang meja itu, mencari sesuatu di wajahn

  • Sangkar Emas Nyonya Arlando   Kekecewaan Arlando

    Dua minggu berlalu sejak malam terakhir di kamar utama, dan Arlando akhirnya mengerti satu hal yang tidak ada dalam laporan keuangan mana pun: kepatuhan tidak sama dengan kehangatan.Hazel patuh. Ia turun ke ruang makan tepat waktu setiap pagi. Ia menyapa dengan suara sopan, mengucapkan terima kasih ketika Bi Inah menuangkan teh, bertanya apakah Arlando ingin tambahan nasi. Ia tidak lagi menaruh buku di antara mereka, tidak lagi bersembunyi di balik pintu terkunci. Semua yang diminta darinya, ia lakukan dengan rapi.Dan justru itu yang membuat Arlando semakin gelisah.Pagi itu, ia meletakkan sendoknya sebelum sarapan habis. "Hazel.""Ya?" Hazel mengangkat wajah, dan senyum kecil yang tersedia di bibirnya muncul seperti tombol yang ditekan."Kamu tidak perlu menunggu aku selesai makan.""Tidak apa-apa. Aku memang belum selesai."Piring Hazel masih penuh. Tangannya yang memegang garpu bergerak pelan, mengaduk makanan tanpa benar-benar menyuapkannya. Arlando memperhatikan jemari itu, kur

  • Sangkar Emas Nyonya Arlando   Kamar Utama yang Tak Terhindarkan

    (POV Hazel)Setelah selesai mandi, aku mencari gaun tidur di kamarku. Aku terkejut menyadari bahwa gaun tidur yang diberikan Arlando hampir tidak terasa seperti pakaian yang layak untuk tidur. Bukan gaun yang tebal atau nyaman, melainkan kain tipis yang sangat minim, berwarna krem pucat, yang seolah dibuat hanya untuk memamerkan tubuhku kepadanya. Aku tidak pernah memilihnya. Sepertinya ia menyuruh pelayan meletakkannya di kamarku saat aku mandi tadi. Aku menatapnya dengan rasa malu yang mendalam, tangan gemetar saat harus mengenakannya. Aku merasa seolah ia sudah merencanakan semuanya: bukan hanya memintaku ke kamar utama, tetapi juga membuatku tampak seolah aku memang sudah menjadi miliknya sepenuhnya.Aku berdiri di depan cermin. Aku terasa seperti boneka yang diatur sepenuhnya olehnya. Tidak ada kehendakku sendiri. Tidak ada kebebasan. Aku memeluk diriku sendiri dengan lengan, mencoba menutupi tubuh yang terasa telanjang meski sudah mengenakan kain itu. Lalu aku melangkah keluar m

  • Sangkar Emas Nyonya Arlando   Perhatian atau ingin memastikan?

    Mereka menghabiskan satu jam berikutnya berbicara tentang hal-hal kecil yang aman: pekerjaan baru Melati di perusahaan konsultan, teman-teman kuliah yang kini mulai sibuk dengan hidup masing-masing, rencana liburan yang sempat mereka impikan sebelum semuanya berubah. Sesekali mereka tertawa, dan tawa itu terasa seperti air hangat di tubuh yang membeku. Untuk beberapa saat, Hazel hampir lupa bahwa ia punya sebuah rumah besar yang menunggunya.Ketika jam hampir menunjukkan pukul empat, ponsel Hazel bergetar. Pesan dari Denis: "Waktunya, Nyonya."Melati memeluknya sekali lagi di depan kafe, lama sekali, dan berbisik di dekat telinganya, "Lo nggak sendirian. Ingat itu.""Aku ingat."Hazel berjalan menuju mobil hitam yang menunggu di tepi jalan. Ketika ia menoleh, Melati masih berdiri di bawah hujan gerimis, melambai dengan mata basah. Hazel melambai balik, lalu masuk ke mobil. Ponsel kecil itu ia selipkan di balik lapisan dalam tasnya, di antara dompet dan buku catatan, di tempat yang pal

  • Sangkar Emas Nyonya Arlando   Melati Khawatir

    Siang itu, Hazel mencoba mengisi waktu dengan menjelajahi taman belakang yang begitu luas dan indah, dikelilingi berbagai jenis bunga yang tertata rapi oleh tukang kebun yang bekerja setiap hari merawatnya. Ia duduk di bangku taman di bawah pohon rindang, menikmati semilir angin yang menerbangkan aroma bunga-bunga di sekitarnya. Ponselnya bergetar, sebuah pesan dari Melati. Melati: "Hazel, gue kangen banget! Kapan kita bisa ketemu? Gue punya kabar seru soal kerjaan baru gue nih!" Hazel tersenyum membaca pesan itu, namun senyumnya segera memudar mengingat aturan ketat yang membatasi setiap pertemuannya dengan dunia luar. Ia mengetikkan balasan dengan perasaan berat. Hazel: "Gue kangen lo juga, Mel. Gue dah suntuk di rumah terus. Tapi... gue harus minta izin dulu ke Arlando buat ketemu siapapun di luar rumah. Gue akan coba bicarain malam ini." Melati: "Serius?? Sampai segitunya? Gila banget sih itu suami lo." Hazel: "Gue tau. Tapi gue akan coba, Mel. Doain aja." Malam itu,

더보기
좋은 소설을 무료로 찾아 읽어보세요
GoodNovel 앱에서 수많은 인기 소설을 무료로 즐기세요! 마음에 드는 작품을 다운로드하고, 언제 어디서나 편하게 읽을 수 있습니다
앱에서 작품을 무료로 읽어보세요
앱에서 읽으려면 QR 코드를 스캔하세요.
DMCA.com Protection Status