Share

Bab 11

last update publish date: 2026-05-09 23:57:01

Satrio memarkirkan sedan hitam itu di halaman luas kediaman mewah orang tua Pak Aizar. Begitu turun, ia disambut hangat oleh Cempaka, ibu dari Pak Aizar, yang kebetulan sedang menyiram tanaman bunga kesayangannya di taman depan.

"Eh, Nak Satrio. Apa kabar? Masih magang di tempat Aizar ya?" sapa Cempaka dengan senyum ramahnya. Ia sudah mengenal Satrio sejak pemuda itu beberapa kali datang ke rumah menemani Aizar dan juga mengantar dokumen untuk Aizar.

"Kabar baik, Bu. Iya, Pak Aizar minta saya
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Satrio Sang Penguasa Wanita   Bab 159

    "Syarat pertama yang ingin aku berikan... biarkan aku menunaikannya sekarang, Rio. Aku tidak ingin kamu berubah pikiran besok pagi," bisik Sisilia dengan suara parau yang teramat seksi dan menggoda.Wanita sosialita itu perlahan membuka pintu depan, lalu merangkak pindah menuju kursi penumpang bagian belakang yang berukuran sangat luas dan dilapisi kulit yang empuk. Di bawah pencahayaan basemen yang temaram, Sisilia perlahan melepas mantelnya, membiarkan tubuh putihnya yang masih sangat terawat berbalut gaun tipis terpampang nyata di hadapan Satrio.Satrio menyandarkan tubuhnya pada sandaran kursi penumpang yang empuk. Sepasang matanya yang tajam menatap ke bawah dari posisinya yang dominan. Ia membiarkan Sisilia bergerak dengan penuh kepatuhan di dalam kesunyian kabin mobil mewah yang kedap suara itu.Dengan jemari yang gemetar halus karena perpaduan rasa takut dan gairah mistis yang mengunci akal sehatnya, Sisilia perlahan membuka ikat pinggang dan ritsleting celana panjang yang di

  • Satrio Sang Penguasa Wanita   Bab 158 

    Satrio baru saja hendak memejamkan mata setelah melewati hari yang melelahkan ketika ponsel di atas nakas bergetar panjang. Sebuah pesan singkat masuk dari nomor yang sangat ia kenal: Sisilia.“Satrio, aku tahu besok jam delapan pagi kamu mengagendakan rapat darurat dewan direksi. Kamu ingin menghancurkan Nikko, bukan? Tolong, jangan lakukan itu sebelum mendengar penjelasanku. Aku harus bertemu denganmu malam ini juga. Ini masalah hidup dan mati putraku.”Satrio menyipitkan mata, membaca baris demi baris kalimat penuh kepanikan itu. Seringai dingin terukir di wajah tampannya. Rupanya, rencana eksekusi rahasia yang ia susun bersama Adirah dan Dewan Komisaris telah bocor dan sampai ke telinga sang Wakil Direktur Pabrik Utama. Satrio mendengus pelan, berniat mengabaikan pesan tersebut. Baginya, nasib Nikko sudah berada di ujung tanduk dan tidak ada ruang untuk negosiasi lagi.Ditambah ia melirik jarum jam dinding di kamar rumah mewah barunya itu telah melewati angka dua belas malam. Su

  • Satrio Sang Penguasa Wanita   Bab 157

    Malika menarik napas dalam-dalam, lalu menghembuskannya perlahan seiring dengan hilangnya sisa-sisa ketegangan dalam dirinya. "Aku mengerti sekarang, Rio. Maaf kalau tadi sempat salah paham. Kejadian di kampus dulu dengan Ayunda... jujur saja, itu membuatku agak trauma dan terlalu cepat menarik kesimpulan saat Pak Nikko bicara seperti itu."Satrio menggeleng pelan, sorot matanya melembut. "Kamu tidak salah, Malika. Justru aku yang harus meminta maaf karena lingkungan di sekitarku sering kali menyeretmu ke dalam masalah."Malika tersenyum kecil, binar matanya kembali bersih dan hangat seperti saat mereka masih sering menghabiskan waktu di perpustakaan kampus. "Sudahlah, yang penting semuanya sudah jelas. Hari sudah mulai malam, aku harus segera pulang sebelum jalanan semakin macet.""Mari kuantar sampai ke depan lobi," ajak Satrio, melangkah di samping Malika dengan jarak yang sangat sopan.Sepanjang perjalanan menuju lantai bawah, suasana di antara mereka terasa begitu tenang. Ketiada

  • Satrio Sang Penguasa Wanita   Bab 156

    Satrio tidak segera bersuara. Ia melangkah tenang menuju dispenser, membiarkan bunyi aliran air yang mengisi gelas kacanya menjadi satu-satunya suara yang memecah keheningan mencekam di dalam pantry. Di balik kemeja abu-abu gelapnya, liontin giok pemikat berdenyut stabil, memancarkan gelombang yang perlahan menyerap hawa panas yang menguar di antara keempat wanita itu.Setelah meneguk airnya hingga setengah gelas, Satrio membalikkan tubuhnya. Sepasang matanya menyapu wajah mereka satu per satu dengan tatapan datar, namun sarat akan intimidasi yang mendalam."Jika agenda utama kalian berkumpul di sini adalah untuk membicarakan kejadian di lantai lima, aku sarankan kalian segera kembali ke meja kerja masing-masing," ucap Satrio dengan suaranya yang rendah, berat, dan penuh penekanan.Kata-kata Satrio yang begitu dingin dan menusuk seketika meruntuhkan keberanian Adirah dan Selina. Adirah menundukkan kepalanya dalam-dalam, meremas cangkir tehnya dengan wajah yang kembali memucat karena

  • Satrio Sang Penguasa Wanita   Bab 155

    Keributan hebat di lorong lantai lima antara Satrio dan Nikko siang itu tidak butuh waktu lama untuk menyebar. Isu mengenai dua pria petinggi sementara yang seolah-olah sedang memperebutkan Malika, si anak baru yang polos, langsung meledak menjadi buah bibir terhangat. Kabar angin itu berembus kencang, terutama di kalangan wanita-wanita berpengaruh di kantor pusat Shine Group yang selama ini selalu menaruh perhatian lebih pada setiap jengkal langkah kaki Satrio.Menjelang sore hari, suasana di dalam pantry utama lantai delapan tampak begitu tegang. Adirah, Selina, dan Maya sengaja berkumpul di sana. Mereka berdiri melingkari meja konter dapur dengan cangkir kopi dan teh di tangan masing-masing, menggunjingkan kejadian heboh yang baru saja mengguncang lantai lima.Adirah mengaduk teh hangatnya dengan gerakan yang sedikit lebih cepat dari biasanya. Ada binar kepuasan yang samar di sepasang matanya yang sempat meredup kemarin. "Kalau menurutku, baguslah kalau Pak Nikko mulai melirik M

  • Satrio Sang Penguasa Wanita   Bab 154

    Persaingan di lantai eksekutif Shine Group kini bergeser ke arah yang lebih sunyi namun jauh lebih mematikan. Nikko Prambudi bukan orang bodoh. Melalui jaringan desa-desus staf kantor dan pengamatannya sendiri, ia mulai mencium aroma kedekatan yang tidak biasa antara Satrio dan Malika, staf baru di divisi HRD. Bagi Nikko, Malika adalah umpan sekaligus titik lemah baru Satrio yang bisa ia manfaatkan. Nikko sudah bertekad bulat untuk menyingkirkan Satrio dari perusahaan, namun ia tahu diri setelah mendapat peringatan keras dari ibunya, Sisilia. Kali ini, ia harus bergerak dengan cara yang sangat halus, rapi, dan tidak terang-terangan.Strategi baru pun disusun. Nikko mulai ikut berpura-pura mendekati Malika di sela-sela jam kantor. Tentu saja, tindakan itu ia lakukan bukan karena ia menyukai gadis itu. Malika yang selalu tampil anggun, bersahaja, dan berpakaian tertutup sama sekali bukan tipe wanita kesukaan Nikko. Selera Nikko sejak dulu adalah wanita yang berpakaian seksi, berani,

  • Satrio Sang Penguasa Wanita   Bab 1

    Debu jalanan desa yang kering menempel di kulit Satrio saat ia membantu ayahnya mengangkut hasil tani yang tak seberapa ke pinggir jalan. Di bawah terik matahari yang menyengat, pemuda itu hanya mengenakan kaos lusuh yang sudah tipis warnanya. Meski tubuhnya terlihat lelah, matanya tetap jernih, me

  • Satrio Sang Penguasa Wanita   Bab 5

    Satrio mematung. Napasnya memburu, namun bukan karena gairah, melainkan karena syok. Miliknya yang tadi menegang hebat kini terasa ngilu karena interupsi yang mendadak. Ia menatap pintu dengan ngeri, seolah-olah Tante Inet bisa melihat apa yang baru saja ia lakukan melalui serat-serat kayu pintu ka

  • Satrio Sang Penguasa Wanita   Bab 4

    Satrio turun dari mobil dengan langkah ragu. Namun, saat ia melangkah mendekati teras, sesuatu yang aneh terjadi. Liontin giok di balik kemejanya mulai terasa hangat, seolah bereaksi terhadap kehadiran lawan jenis. Hawa panas itu menjalar, memberikan rasa percaya diri yang tiba-tiba meluap di dada

  • Satrio Sang Penguasa Wanita   Bab 3

    Satrio terduduk di tepi ranjang dengan napas yang mulai tidak beraturan. Kamar itu terasa semakin panas, seolah oksigen di dalamnya telah habis terbakar oleh aura mistis yang memancar dari liontin di lehernya. Selina berlutut di depannya dengan gerakan yang sangat berani dan terlatih.Perlahan, jem

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status