LOGIN"Ini... kami hanya sedang meninjau ulang laporan keuangan ekspor yang sempat ada kesalahan input data tadi sore, Pak. Karena besok pagi harus dikirim, jadi terpaksa kami diskusikan malam ini di luar jam kantor," jelas Adirah beralasan.Pak Aizar terkekeh pelan, melambaikan tangannya dengan santai sembari menarik kursi untuk mendudukkan Bu Furi di dekat sana. "Kalian berdua ini benar-benar gila kerja ya, bahkan di luar kantor pun masih memikirkan berkas perusahaan. Tapi, kebetulan sekali kita bertemu di sini, Satrio. Ada hal penting yang ingin kusampaikan kepadamu terkait operasional Shine Group."Satrio menegakkan posisi duduknya, menatap langsung ke dalam manik mata Pak Aizar dengan sikap hormat yang patuh. "Ada instruksi apa, Pak Aizar?"Pak Aizar memajukan tubuhnya sedikit, meremas pundak Satrio dengan penuh kebanggaan atas pencapaian luar biasa anak didiknya itu selama ia tinggal. "Aku sengaja mempercepat kepulanganku ke Jakarta karena ingin memastikan urusan administrasi perusa
Mobil mewah milik Satrio melaju tenang membelah keheningan malam kota yang kian sunyi. Di kursi penumpang, Adirah duduk bersandar sembari sesekali mencuri pandang ke arah profil samping wajah Satrio. Kelegaan yang luar biasa besar membuncah di dalam dada sekretaris utama itu, karena berhasil membawa Satrio keluar dari rumahnya di malam-malam begini.Satrio mengarahkan kemudinya memasuki pelataran parkir sebuah kafe berkonsep semi-terbuka yang sangat indah di sudut kota. Kafe romantis ini dipenuhi oleh pendaran lampu gantung kekuningan yang temaram dan rimbunnya tanaman hias yang tertata rapi. Tempat ini memiliki nilai historis tersendiri, karena dulu Pak Aizar selalu mengajaknya ke sana untuk menemaninya sekadar ngopi, atau berpacaran dengan Bu Furi semasa mereka belum menikah.Mereka berdua memilih sebuah meja bundar di sudut ruangan yang cukup privat dan sepi dari jangkauan pengunjung lain. Angin malam berembus lembut, meniup tirai-tirai tipis di sekitar meja mereka, menciptakan s
Satrio mengemudikan mobil sportnya membelah jalanan kota dengan kecepatan sedang. Pikirannya benar-benar sedang diliputi oleh awan mendung yang kelam. Kehilangan fasilitas apartemen mewah secara mendadak, setelah malam sebelumnya ia melayani keinginan sang janda kaya itu, membuat egonya sebagai pria berkuasa merasa terusik.Sesampainya di halaman rumah, Satrio memarkirkan kendaraan dengan sembarangan. Ia melangkah masuk melewati pintu utama depan dengan sisa-sisa ketegangan yang masih tercetak jelas di wajahnya. Langkah kakinya yang berat terdengar bergaung di sepanjang koridor ruang tengah yang sunyi.Ningrum yang sejak sore tadi sibuk merapikan ruang tengah, langsung menghentikan kegiatannya begitu mendengar suara langkah kaki. Gadis desa itu bergegas berjalan mendekat, menyambut kedatangan Satrio dengan seulas senyuman manis yang tulus di bibirnya. "Rio…, kamu baru pulang dari kantor? Mau aku buatkan teh hangat dulu seperti biasanya, Rio?" sapa Ningrum dengan suara yang lembut.Sa
Tepat pukul delapan pagi, Adirah sudah berdiri dengan anggun di depan meja kerjanya di lantai dua puluh satu kantor Shine Group. Wajahnya tampak sangat segar dan profesional, seolah-olah kejadian memalukan di apartemen tadi malam tidak pernah terjadi. Tidak ada sedikit pun gurat kepanikan atau dendam yang ia perlihatkan di hadapan karyawan lain.Beberapa menit kemudian, pintu lift terbuka dan memperlihatkan sosok Satrio yang berjalan tegap dengan aura maskulin yang kuat. Satrio sempat melirik ke arah meja Adirah dengan tatapan penuh selidik, mencoba membaca situasi psikologis sekretarisnya. Namun, Adirah justru menyambutnya dengan senyuman manis dan membungkuk hormat layaknya bawahan yang setia."Selamat pagi, Pak Rio. Ini dokumen anggaran yang Anda minta tadi malam, sudah saya pelajari dan rapikan," ucap Adirah dengan suara yang sangat tenang.Satrio menerima berkas itu dengan alis yang sedikit bertaut, merasa heran dengan perubahan sikap Adirah yang begitu cepat. "Bagus, Mbak Adirah.
Taksi yang membawa Adirah akhirnya berhenti di depan pagar rumahnya yang sepi. Setelah membayar ongkos dengan tangan gemetar, ia melangkah masuk ke dalam rumah tanpa memedulikan rasa lelah yang mendera fisiknya. Jam di dinding menunjukkan pukul satu dini hari, namun mata Adirah sama sekali tidak bisa terpejam.Adirah langsung menuju meja riasnya, menatap pantulan dirinya yang kacau dengan sisa air mata yang mengering. Rasa cemburu yang membakar ulu hatinya kini telah bermutasi menjadi sebuah rencana busuk yang teramat matang. Sepanjang malam yang sunyi itu, jemarinya menari dengan cepat di atas layar ponsel, mengumpulkan strategi untuk menyingkirkan Tante Inet.Ia sadar betul bahwa ia tidak boleh gegabah dan tidak boleh mengotori tangannya sendiri dalam rencana ini. Satrio tidak boleh mengetahui sedikit pun bahwa dirinyalah otak di balik teror yang akan menimpa janda kaya itu. Adirah harus tetap terlihat sebagai sekretaris yang patuh dan polos di depan sang Presdir muda.Otak Adira
Setelah pintu apartemen tertutup rapat dan terkunci secara otomatis, Satrio menarik napas panjang. Ia menyandarkan punggungnya sejenak pada daun pintu kayu yang dingin itu. Rasa tegang yang sempat memuncak di dadanya perlahan mulai mengurai menjadi sebuah kelegaan yang semu.Di ruang tengah, Tante Inet masih berdiri tegak dengan melipat kedua tangannya di bawah dada. Tatapan matanya yang dilapisi riasan tebal tampak begitu dingin dan menusuk ke arah Satrio. Wadah berisi kue bolu pandan yang dibawanya tadi kini tergeletak begitu saja di atas meja dapur.Satrio membalikkan badan lalu melangkah perlahan mendekati wanita pemilik kos yang telah menyokong fasilitas hidupnya itu. Ia mencoba memasang senyuman terbaiknya yang paling menawan untuk mencairkan sisa-sisa ketegangan. Namun, Tante Inet justru membuang muka dan mendengus pelan, memperlihatkan rasa cemburu yang teramat kentara."Urusan darurat, katakan begitu?" sindir Tante Inet dengan nada suara yang meninggi dan sarat akan penekana
Satrio turun dari mobil dengan langkah ragu. Namun, saat ia melangkah mendekati teras, sesuatu yang aneh terjadi. Liontin giok di balik kemejanya mulai terasa hangat, seolah bereaksi terhadap kehadiran lawan jenis. Hawa panas itu menjalar, memberikan rasa percaya diri yang tiba-tiba meluap di dada
Satrio terduduk di tepi ranjang dengan napas yang mulai tidak beraturan. Kamar itu terasa semakin panas, seolah oksigen di dalamnya telah habis terbakar oleh aura mistis yang memancar dari liontin di lehernya. Selina berlutut di depannya dengan gerakan yang sangat berani dan terlatih.Perlahan, jem
Sinar matahari sore menembus kaca jendela besar di lantai 9 gedung perkantoran elit itu, menyinari sosok Aizar Surya Prambudi yang berdiri membelakangi meja kerjanya. Sebagai Presdir yang baru saja dilantik, ia memiliki segalanya: kekuasaan, kekayaan, dan pesona yang sulit ditolak. Namun, di balik
Debu jalanan desa yang kering menempel di kulit Satrio saat ia membantu ayahnya mengangkut hasil tani yang tak seberapa ke pinggir jalan. Di bawah terik matahari yang menyengat, pemuda itu hanya mengenakan kaos lusuh yang sudah tipis warnanya. Meski tubuhnya terlihat lelah, matanya tetap jernih, me







