Masuk“Kamu dan Yudha pacaran? Sejak kapan? Kenapa saya nggak tahu masalah ini?” tanya Pak Jeremy begitu pintu mobil sedan mewah itu tertutup rapat, meredam seluruh bising jalanan malam di luar kantor polisi. Pak Supri sudah duduk di balik kemudi depan, melajukan kendaraan membelah jalanan kota yang makin lengang.Suasana di dalam mobil mendadak menjadi drop. Aku mau narik napas pun terasa tersangkut di tenggorokan.Pak Jeremy duduk bersandar di sisiku. Meskipun ada jarak selapis jok di antara kami, aura dominan dan dingin dari pria itu sanggup membuat udara di sekitar kami mendadak terasa makin tipis. Ia merengkuh keheningan itu beberapa saat, sebelum akhirnya memutar tubuhnya sedikit ke arahku.“Tidak ada penjelasan?,” suara Pak Jeremy meluncur rendah, hampir berupa bisikan tipis, namun sarat ancaman yang membuat bulu kudukku berdiri. Ia jelas tahu diri ada Pak Supri di depan, sehingga intonasinya begitu terkontrol.Aku meremas tali tas di pangkuanku, tidak berani mengangkat kepala terla
“Maksud saya, apakah usia menjadi penentu seseorang cocok atau nggak dalam sebuah hubungan?” jawabku cepat, sengaja memutar arah untuk menutupi kegugupan.“Hubungan?” ulang Pak Jeremy.“Iya, hubungan… seperti yang Bapak bilang tadi. Usia saya dan Chloe tidak terpaut jauh,” jelasku. Padahal, bukan itu maksudku tadinya. Namun, karena dia tidak peka sama sekali, ya sudah… biarkan saja jadi salah paham.“Ooh… itu. Tentu saja masalah. Kesenjangan usia pasti membawa perbedaan mencolok dalam hal pengalaman, cara berpikir, dan yang paling kentara, cara komunikasi,” jawabnya serius.Aku mengangguk kaku lalu tersenyum tipis. “Saya mengerti, Pak.”“Hm…” Ia mengangguk. “Kamu tidak sedang punya fantasi tentang kita, bukan?”Aku terkekeh kaku. “Tentu tidak. Bapak terus-menerus mengingatkan batasannya, jadi saya tahu diri, kok…”Pak Jeremy menaikkan sebelah alisnya. Ia menatapku dengan sorot aneh yang memilih diabaikan saja.Di tengah keheningan canggung itu, ponsel di atas meja bergetar. Pak Jeremy
“Kalau Pak Jeremy bersikap kadang hangat, kadang dingin, itu artinya dia sudah mulai nyaman sama kamu,” cetus Yudha santai sebelum melangkah masuk ke dalam ruang kerjanya.Aku mengelus dada. Oh, aku baru tahu ternyata indikator 'rasa nyaman' seorang bos besar ditunjukkan lewat sikap yang plin-plan.Aku menghembuskan napas berat, mengamati bayanganku di pantulan kaca pintu. Kebetulan tadi pagi aku berdandan seadanya karena panik mencari keberadaan Chloe. Baru sekarang aku sadar—ada beberapa bercak kemerahan yang tercetak samar di area leherku.Gawat!Pantas saja tadi Yudha menatapku sambil tersenyum-senyum ga jelas, ternyata dia melihat ini.Dengan sigap aku menarik helaian rambut panjangku ke depan, berusaha menutupi bekas gigitan dan gigitan kecil yang tertinggal di sana.Belum sempat aku menarik kursi untuk duduk, suara denting lift khusus direksi di ujung lorong berbunyi. Pintu logam itu terbuka, menampilkan sosok Pak Jeremy yang baru saja tiba.Kemejanya tidak serapi tadi pagi. Le
“Chloe?” bisik Pak Jeremy. Suaranya serak.Aku menyentuh lengan Pak Jeremy perlahan. “Biar saya yang turun dan bicara padanya. Bapak tunggu di sini.”Pak Jeremy tidak menjawab, hanya mengangguk pelan. Dia mematikan mesin mobil, sementara aku melangkah keluar dan berjalan mendekat. Namun, makin rapat jarak kami, langkahku makin melambat.Chloe duduk diam, menatap lurus ke depan dengan air mata yang mengalir deras tanpa suara. Dia cuma menangis dalam hening, tenggelam dalam pikirannya sendiri—bahkan tidak sadar aku sudah berdiri di dekatnya.Aku berdiri membeku menatapnya. Kenapa melihat Chloe menangis rasanya persis seperti melihat diriku sendiri? Terasing di tengah hiruk-pikuk dunia, seolah tidak punya tempat untuk berbagi.“Chloe…” panggilku pelan.Aku melangkah mendekat, merapikan rokku, lalu duduk di sampingnya. Chloe menoleh dengan mata sembab yang memerah.“Kak Sien…” cicitnya lirih.Aku mengangguk, lalu merangkul bahunya dan menariknya ke dalam pelukan. Meskipun pelukan tidak bi
Pagi itu aku bangun lebih dulu.Cahaya matahari menyelinap tipis dari sela tirai. Pak Jeremy masih terlelap di sebelahku, wajahnya menghadap ke arah lain dengan napas teratur. Aku sedang berdiri di tepi ranjang, melihat punggung Pak Jeremy yang masih tidur, waktu HP di atas nakas mendadak bergetar. Aku buru-buru memutar badan terus nyambar HP itu sebelum suaranya membuat Pak Jeremy bangun.Nomor asing tanpa nama.Sambil menahan napas, aku keluar kamar berjingkat, menutup pintu serapat mungkin lalu menggeser ikon hijau.“Halo?” bisikku pelan.“Selamat pagi, betul ini dengan Bu Siena?” Suara wanita di seberang sana terdengar formal. ‘Bu Siena?’ kau mengulang dari dalam hati.Aku mengerutkan kening. “Iya, benar. Saya Siena. Ini dengan siapa?”“Saya dari bagian kesiswaan SMA International Green Valley, Mbak. Mohon maaf mengganggu pagi-pagi. Kami menghubungi nomor ini karena tercatat sebagai salah satu kontak darurat atas nama Chloe Ayudya Putri Wiratama.”Ujung jemariku yang memegang pon
“Memalukan? Kenapa memalukan? Siapa yang memalukan?” mendengar suara Pak Jeremy kepalaku langsung mendongak, mataku berkedip cepat dan aku menggigit bibir “Kenapa Bapak selalu bikin kaget?”“Gak mau pulang?”“Pulang?” ulangku heran, bukannya tadi dia bilang harus sampai selesai, kenapa sekarang jadi pulang? Oooh…memang boss memang bebas plin plan.“Kenapa? Tidak suka? Kamu tadi terlihat sekali ingin pulang?”Aku tidak menjawab, langsung mengemasi barang-barangku. Mematikan laptop dan berniat memasukkannya ke dalam tas.“Jangan biasa membawa pekerjaan pulang!” ucapnya singkat. Aku menatap Pak Jeremy agak lama, sepertinya dia tahu apa yang ada dipikiranku “Di sini aku boss-nya jadi aku bebas mengubah aturan yang ada” “Oooh…” hanya itu yang keluar dari bibirku.“Saya tahu apa yang kami pikirkan, pasti kamu mikir kalau saya ini reseh” akunya.Aku tersenyum “Memang benar, reseh dan plin plan” aku mengamini tapi hanya dalam hati, menatap Pak Jeremy yang sudah memutar langkahnya menuju lo







