LOGINDering ponsel begitu nyaring terdengar, mengganggu Shanum yang baru saja terlelap setelah beberapa kali pelepasan, karena Prana tak melepaskannya walaupun pria itu sudah mendapat dua kali pelepasan.“Siapa yang menelepon malam-malam gini?” gumam Shanum pelan. Kelopak matanya mengerjapkan mata beberapa kali sebelum akhirnya sadar suara itu bukan mimpi.Jam dinding digital di atas nakas menunjukkan pukul dua pagi. Di sampingnya, Prana masih tertidur sangat pulas. Kelelahan setelah bekerja di siang hari ditambah aktivitas panjang mereka malam ini membuat Prana tak terusik sedikit pun.Dering itu sempat terhenti beberapa detik, tetapi kemudian kembali berbunyi dengan tingkat kegigihan yang sama.Shanum menghela napas pelan. Meski sekujur tubuhnya terasa lemas dan enggan bergerak, ia akhirnya menyibak selimut yang menutupi tubuh polosnya. Kakinya menapak lantai, memungut kemeja Prana yang teronggok di lantai, memakainya secara kilat.Shanum mengedarkan pandangan ke seluruh penjuru kamar, m
“Mas...!” teriak Shanum spontan, pekikan kecilnya langsung teredam oleh tawa rendah Prana saat pria itu menyusupkan kedua lengannya ke bawah lutut dan punggungnya. Dalam satu gerakan Prana langsung mengangkat tubuh Shanum ke dalam gendongannya.“Kita pindah sekarang, Sayang. Menikmatinya tanpa gangguan apa pun,” bisik Prana di dekat pelipis Shanum.Refleks, Shanum melingkarkan kedua lengannya ke leher Prana agar tak jatuh. “Mas! Aku bisa jalan sendiri!”“Aku tahu,” sahut Prana santai sambil melangkah keluar dari ruang tengah. “Tapi biar kamu gak capek, soalnya aku sebentar lagi bikin kamu capek.”Mendengar kalimat blak-blakan itu, wajah Shanum seketika memerah padam. Ia memukul pelan bahu Prana, menyembunyikan senyumnya di ceruk leher pria itu.“Mesum!” umpatnya pelan, meski sudut bibirnya mulai terangkat menahan malu.“Beneran lho, kalau di kamar kan aku bisa lebih maksimal. Gak kayak tadi yang gagal gara-gara remote,” kekeh Prana.“Makanya kalau simpan barang tuh yang rapi.” Shanum
“Apanya yang sakit, Sayang? Bagian mana?” tanya Prana bertubi-tubi.Prana mematikan seluruh insting gairahnya dalam sekejap. Rasa khawatir langsung mengambil alih begitu mendapati dahi Shanum berkerut dalam dengan bibir yang melengkung menahan nyeri.Ia menjauhkan wajahnya sedikit, memandangi Shanum dengan tatapan menyelidik, memeriksa kalau-kalau ada luka dalam yang luput dari perhatiannya selama ini.“Apanya yang sakit, Sayang? Bagian mana? Rusukmu? Atau punggung?” cecar Prana bertubi-tubi. Kedua telapak tangannya membingkai pinggang Shanum, menahan posisi tubuh wanita itu agar tak bergeser secara agresif.Shanum tak langsung menjawab. Ketegangan sensual yang beberapa detik lalu membakar dada mereka mendadak buyar, digantikan oleh rasa nyeri yang aneh masih terasa menusuk tepat di bagian bokong dan pinggang kirinya.“Itu… ada yang menusuk di bawah, Mas,” cicit Shanum sambil menggigit bibir. Ia mencoba sedikit mengangkat pinggulnya.“Menyengat? Atau tajam?” Prana semakin panik. Pikir
“Lebih baik kita menikmati waktu bersama malam ini. Tanpa membahas Fadil, atau beresin kardus,” bisik Prana.Jarak yang tersisa di antara mereka menguap begitu saja. Tatapan Prana mengunci sepasang netra Shanum, menghipnotisnya hingga wanita itu lupa bagaimana caranya bersuara. Embusan napas Prana mengantarkan sengatan halus yang membuat bulu kuduk Shanum meremang.“Mas…” Suara Shanum keluar dalam bisikan tipis, tertahan di tenggorokan. Kedua tangannya yang semula berada di sisi tubuh kini terangkat, bertumpu ragu pada dada bidang Prana yang berbalut kemeja kasual.Prana tak menjawab dengan kata-kata. Pria itu justru mengulas senyum tipis, jenis senyuman miring yang selalu sukses membuat pertahanan Shanum runtuh dalam sekejap. Perlahan, Prana memiringkan kepalanya, membawa wajahnya semakin dekat hingga ujung hidung mereka saling bersentuhan.“Kamu tahu seberapa keras aku menahan diri sejak tadi, Shanum?” bisik Prana dengan nada rendah yang berat. Gendang telinga Shanum menangkap getar
“Mas,” panggil Shanum. Ia tak bisa lagi menahan rasa penasaran yang sedari tadi menggelitik benaknya. “Jujur sama aku, apa yang sebenarnya terjadi kemarin? Kenapa Mas Fadil bisa tiba-tiba mengusir Mas dari lantai dua?”“Eitsss… bukan diusir, ya,” potong Prana cepat tanpa beralih dari kemudinya. “Aku pindah atas keinginanku sendiri.”Shanum mencoba mencerna kalimat yang baru saja dilontarkan Prana. Ia membetulkan posisi duduknya, menghadap penuh demi menatap sisi wajah Prana yang tampak fokus pada jalanan di depan.“Mas Fadil bilang Mas gak tahu terima kasih. Sebenarnya ada apa sih?” tanya Shanum menuntut penjelasan.Prana melirik Shanum sekilas melalui sudut matanya, dan kembali menatap lurus ke depan. Sebuah senyum tipis terukir di bibirnya.“Nanti aku ceritakan semuanya pas kita sudah sampai,” jawab Prana santai.“Kenapa gak sekarang saja? Perjalanan ke apartemen Mas kan masih lumayan,” desak Shanum, sama sekali tak puas dengan penundaan itu.“Menceritakan kelakuan manusia satu itu
“Mbak, cepat masuk!” bisik Tiara mendesak yang tak kalah tegang.Tanpa menunggu aba-aba lagi, Tiara langsung membuka pintu mobil dan mendorong paksa Shanum masuk ke jok belakang. Gerakannya begitu cepat dan bertenaga, membuat Shanum sempat terhuyung sebelum akhirnya mendarat di atas kursi kulit sedan hitam tersebut.Belum sempat Shanum menegakkan tubuh, pintu belakang sudah ditutup dengan dentuman keras dari luar. Detik berikutnya, Tiara berlari memutari moncong mobil, membuka pintu depan, dan langsung mendudukkan dirinya di kursi depan samping Prana.“Mas, jalan! Buruan!” perintah Tiara penuh penekanan. Pandangan matanya mengarah lurus ke depan, kaku, tanpa berani sedikit pun menengok ke arah spion samping.Menyadari situasi darurat ini, Prana tidak banyak bertanya. Dengan gerakan cekatan yang terlatih, jemari tangannya memindahkan tuas transmisi dan langsung menginjak pedal gas. Ia membawa sedan hitam itu meluncur mulus, merayap melewati mobil Fadil yang masih terparkir di ujung jal
Prana tidak membuang waktu, ia menyingkirkan rintangan terakhir yang memisahkan kulit mereka. Mata sayu Shanum menatap Prana dengan napas yang masih terengah-engah yang kini berdiri tegak di antara kedua kakinya.Sosok Prana tampak begitu dominan di bawah cahaya lampu pemeriksaan yang terang, diata
“Kalau begitu, biarkan aku menunjukkan padamu apa artinya dimiliki sepenuhnya,” bisik Prana parau.Detik berikutnya, Prana meraup bibir Shanum dalam sebuah ciuman yang dalam. Kasar, menuntut, dan penuh dengan kerinduan yang telah terpendam selama lima tahun.“Mas... mmm...” bisik Shanum di sela ciu
Shanum segera mengunci pintu kamar dari dalam. Fadil sendiri hanya mengantar sampai pagar rumah, dan langsung melesat kembali ke kantornya.“Kenapa aku bisa selalai itu? Gimana kalau aku sampai hamil?” batinnya menyesal.Tangan Shanum gemetar hebat saat menyentuh perut ratanya. Disana ada jejak pana
Prana tengah memakai jas putih dokternya, sambil memperhatikan Shanum sedang membaca pesan di ponselnya.Mata Prana menyipit, menyadari perubahan raut wajah Shanum. Ia mendekat, mengambil ponsel dari tangan Shanum yang dingin. Dibacanya pesan itu sekilas, lalu meletakkannya kembali ke meja seolah p







