Se connecterMalam Pesta Dansa di Istana akhirnya tiba. Musik orkestra sayup-sayup terdengar hingga ke halaman depan, menyambut para tamu kehormatan yang datang dari seluruh penjuru negeri.
Di dalam kabin kereta kuda Duchy Lorraine yang berhenti tepat di depan karpet merah istana, keheningan terasa begitu mencekam bagi Sienna.
"Apa kau ingin turun sekarang?"
![]()
Sore itu Sienna duduk dalam keheningan, mencoba menenangkan saraf-sarafnya yang tegang. Jemarinya bergerak telaten, merajut benang emas membentuk lambang kebanggaan Duchy Lorraine di atas sehelai sapu tangan sutra putih. Sapu tangan itu rencananya akan menjadi hadiah kecil untuk Lucian, sebuah pengingat bahwa pria itu tidak sendirian.Namun, gerak rajutannya terhenti saat pintu ganda ruangan itu didorong terbuka dengan kasar.Lucian melangkah masuk dengan langkah lebar dan rahang mengeras. Pria itu langsung menghampirinya, bayangan tubuhnya yang menjulang menutupi cahaya dari jendela."Aku akan mempercepat pernikahan kita."Kalimat itu meluncur tanpa basa-basi. Jarum di tangan Sienna seketika terhenti di udara. Ia mendongak, menatap pria itu dengan kening berkerut bingung."Apa?""Kita akan menikah dalam satu minggu." ucap Lucian, nada suaranya berat dan tak menyisakan ruang untuk bantahan. "Aku sudah memerintahkan Damien untuk mengurus semua persiapan dan dokumennya mulai hari ini."
Sinar matahari pagi yang pucat baru saja menyusup melalui celah tirai jendela kediaman Borgia, ketika pintu kamar Sienna tiba-tiba terbuka.Sosok Lucian berdiri di ambang pintu. Pria itu tampak berantakan. Jubah hitamnya kusut, rambutnya tidak tertata, dan yang paling mengerikan... mata merah Lucian yang biasanya menyorot tajam penuh intimidasi itu kini tampak kosong. Pria itu terlihat hampa, seolah nyawanya baru saja direnggut paksa dari tubuhnya.Semalaman suntuk Lucian terjebak dalam neraka pikirannya sendiri di ruang bawah tanah. Fakta bahwa ayahnya dikhianati dan dijadikan tumbal oleh Kaisar, pria yang selama ini Lucian hormati atas nama ayahnya, telah menghancurkan seluruh fondasi kepercayaan Lucian. Untuk pertama kalinya sejak Lucian melihat kepala ayahnya sendiri yang terbungkus rapi di kotak kayu, tangan sang Duke utara itu gemetar. Pedangnya terasa terlalu berat untuk diayunkan. Ia tidak mampu mengeksekusi Alfred dan Roderick malam itu juga, membiarkan Damien mengambil a
Suasana malam di kediaman Borgia terasa begitu hening. Hanya terdengar suara gemeretak kayu bakar dari perapian di sudut kamar.Sienna duduk bersandar pada kepala ranjang, menarik selimut tebalnya hingga sebatas dada. Matanya menerawang jauh, sama sekali tidak menunjukkan tanda-tanda mengantuk meski tubuhnya terasa sangat lelah.Suara decitan pintu yang dibuka pelan membuyarkan lamunannya. Marie melangkah masuk dengan hati-hati membawa sebuah teko berisi air hangat."Nona, kenapa Anda belum tidur?" tanya Marie lembut saat ia menyadari majikannya masih terjaga. Wanita paruh baya itu berjalan mendekat, menuangkan air ke dalam gelas di atas meja kecil di samping tempat tidur.Sienna menghela napas panjang, sebelah tangannya secara naluriah mengusap perutnya dengan gerakan pelan dan protektif."Tidak, Marie... aku hanya... sedang memikirkan Tuan Duke," jawab Sienna dengan suara lirih. "Ia pasti sangat kebingungan dan terpukul dengan situasi di kediamannya sendiri saat ini. Orang-orang yan
Setelah mengantarkan Sienna dan memastikan gadis itu berada di dalam kediaman Borgia yang lebih aman, Lucian tidak membuang waktu sedetik pun. Tanpa beristirahat, sang Duke memacu kudanya menembus pekatnya malam, kembali ke Mansion Lorraine dengan aura yang gelap.Pria itu langsung menuju penjara bawah tanah. Lorong batu yang lembab dan berbau anyir darah itu terasa semakin mencekam saat langkah kaki Lucian menggema. Di dalam sel interogasi yang hanya diterangi obor, dua sosok pria tua yang dulunya sangat dihormati di mansion ini kini terikat pada rantai besi di dinding.Alfred sang Kepala Pelayan dan Sir Roderick sang Kepala Keamanan tak lagi terlihat berwibawa. Wajah mereka babak belur, pakaian mereka robek dan bersimbah darah akibat 'interogasi pendahuluan' yang dilakukan Damien sebelum Lucian tiba.Meski napas mereka tersengal dan tubuh mereka hancur, tidak ada setitik pun raut penyesalan di wajah kedua pria tua itu.Saat Lucian melangkah masuk, Alfred bahkan sempat meludahkan
Di dalam kemegahan kamar pribadi Putra Mahkota di Istana Kekaisaran, suasana remang diterangi oleh cahaya lilin yang temaram.Arthur tengah menyudutkan seorang pelayan muda berwajah merona ke dinding. Jari-jarinya menyusuri rahang pelayan itu, mengangkat dagunya dengan lembut."Mata coklatmu itu... selalu berhasil membuatku melupakan tumpukan dokumen yang membosankan di atas mejaku." bisik Arthur dengan suara rendah yang memabukkan.Pelayan itu tersipu hebat, napasnya memburu. "Y-yang Mulia... ini terlalu berisiko. Jika ada yang melihat...""Sstt..." Arthur merendahkan wajahnya, menipiskan jarak di antara bibir mereka. "Siapa yang berani mengganggu Putra Mahkota di kamarnya sen…""Yang Mulia!"Sebuah suara tajam dan sarat akan rasa frustrasi memecah suasana menggairahkan tersebut.Pelayan muda itu tersentak kaget seolah baru saja tersambar petir. Wajah meronanya seketika berubah pucat pasi. Dari sudut ruangan yang tersembunyi oleh bayang-bayang lemari besar, sesosok wanita melangkah
Angin malam berhembus dingin, menyapu pelataran pintu samping mansion yang sengaja dijaga sangat ketat oleh ksatria Lucian. Lucian menggenggam erat jemari Sienna yang terasa dingin. Dengan gerakan protektif dan penuh kelembutan, pria itu memandu calon istrinya menaiki undakan dan masuk ke dalam kabin kereta yang aman.Namun, sebelum Lucian menyusulnya masuk, langkah pria itu terhenti di ambang pintu kereta.Mata Lucian yang setajam pedang perlahan melirik ke belakang. Tatapannya menembus kegelapan, mengunci siluet mansion megah Duchy Lorraine yang menjulang tinggi di bawah cahaya bulan. Tempat yang seharusnya menjadi benteng perlindungan terkuatnya, kini tak lebih dari sarang ular berbisa.Rahang Lucian mengeras. Beberapa menit sebelum mereka keluar dari kamar, seorang ksatria bayangan telah muncul dari balik bayang-bayang dan membisikkan laporan singkat.Damien telah menemukan jejak darah Tabib dan kini tengah menyudutkan Sir Roderick.Alfred dan Sir Roderick. Dua nama itu menggema







