LOGINTurun ke dasar jurang perbatasan itu rasanya sama seperti turun ke dalam rahang kematian. Kabut tebal menghalangi pandangan, bebatuan tajam siap merobek kulit, dan suara deru sungai di bawah sana terdengar seperti auman monster yang lapar.Namun, saat Caesar akhirnya mencapai dasar tebing yang berbatu dan lembab, ia menemukan sesuatu yang membuat napasnya tercekat.Rowan ada di sana. Pria keras kepala itu masih hidup.Jatuh dari ketinggian yang mengerikan itu seharusnya sudah cukup untuk menghancurkan setiap tulang di tubuh manusia normal, namun daya tahan mantan ksatria utara ini benar-benar di luar nalar. Rowan tergeletak di antara celah bebatuan besar di dekat bibir sungai. Kakinya patah dengan sudut yang sangat tidak wajar, dan luka robek di kepalanya tampak mengerikan.Namun, yang membuat Caesar tanpa sadar menahan napas adalah bukti dari tekad pria itu untuk menolak mati. Rowan tidak menyerah begitu saja. Pria itu telah merobek kemejanya sendiri, menggunakannya untuk membalut
Caesar memacu kuda hitamnya dengan beringas, membelah kabut pagi yang masih menggantung rendah di pinggiran ibu kota. Di belakangnya, dua ksatria keluarga Mountford yang paling ia percayai mengikutinya dengan raut wajah tegang.Tujuan mereka adalah perbatasan paling ujung dari ibu kota, sebuah wilayah terisolasi di mana tidak ada rumah penduduk atau pos penjagaan.Itu adalah sebuah jurang dalam yang menjadi pembatas alamiah antara wilayah ibu kota dan hutan belantara gelap yang mengarah ke wilayah-wilayah lain di kekaisaran. Tempat itu sangat terkenal dengan reputasinya yang mematikan.Nyaris tidak ada siapapun yang mau melewati jalur di dekatnya karena tempat itu luar biasa sepi, curam, dan hutan di seberangnya merupakan sarang bagi sekawanan besar hewan buas pe
Satu hari sebelum Pesta Dansa Perayaan Kemenangan diadakan, ibu kota dipenuhi oleh hiruk-pikuk perayaan dan persiapan.Kereta-kereta kuda berlambang bangsawan tinggi dari berbagai wilayah terus berdatangan, memenuhi jalanan utama dengan kemewahan yang menyilaukan mata.Namun, di balik pintu tebal istana kekaisaran, atmosfernya terasa begitu mencekik.Jejak Rowan masih belum ditemukan. Ksatria bayangan istana telah menyisir ibu kota siang dan malam, membongkar setiap sudut gelap dan menginterogasi setiap orang di jalanan, namun ksatria itu seolah menguap begitu saja.Di sisi lain, Elizabeth masih sama sekali tidak tahu apa-apa.Gadis itu menghabi
Di ruang duduk pribadi Permaisuri yang biasanya dipenuhi oleh tawa ringan dan obrolan santai, udara kini terasa luar biasa menyesakkan bagi Sienna.Sang Permaisuri duduk di atas sofa beludru utamanya dengan punggung tegak. Di seberangnya, Alice dan Elizabeth tengah sibuk memeriksa daftar perhiasan dan mempersiapkan pernak-pernik untuk perayaan besar mendatang.Kedua dayang Sienna itu duduk berdampingan, tampak antusias memilih pita sutra untuk gaun malam mereka.Sienna menyesap teh chamomilenya dalam diam. Ia mencoba keras menyembunyikan badai di kepalanya, tapi di balik raut wajahnya yang dipoles setenang mungkin, Sienna sebenarnya begitu tegang.Jemarinya mencengkram gagang cangkir teh itu terlampau er
Cahaya matahari pagi yang cerah telah sepenuhnya menerangi kamar tidur utama kekaisaran.Di depan cermin berukuran besar yang berada di ruangan itu, sepasang penguasa benua utara itu telah berdiri dengan penampilan yang sempurna.Sienna tampak luar biasa anggun dalam balutan gaun sutra formal berwarna biru safir dengan sulaman benang emas, sementara rambut pirangnya telah ditata rapi ke atas oleh para pelayan.Di belakangnya, Lucian berdiri menjulang, mengenakan seragam kebesaran Kaisar berwarna hitam legam yang dihiasi medali militer dan jubah merah marun yang menjuntai gagah.Mereka berdua sudah rapi, siap untuk melangkah keluar dari kamar dan melaksanakan tugas kenegaraan mereka masing-m
Melihat noda darah itu, keheningan yang luar biasa menyesakkan tiba-tiba turun menyelimuti mereka berdua. Udara di dalam foyer itu terasa seolah membeku.Sebagai seorang prajurit yang telah menghabiskan bertahun-tahun hidupnya di medan pertempuran, Caesar tahu persis bahwa darah yang berada di celana adiknya itu masih segar hanya dari aromanya.Dan di tengah situasi politik yang sedang mencekik keluarganya saat ini, otak Caesar yang brilian dengan cepat merangkai semua teka-teki itu.Ia dapat langsung menebak dari mana adiknya baru saja pulang, dan Caesar tahu persis darah siapa yang kini menodai celana yang dikenakan adiknya tersebut.Urat-urat di leher Caesar seketika menonjol keluar. Rahangnya m
"Benar-benar memalukan, Nona Alexandria," lapor Anna dengan napas memburu. "Tuan Duke membanting pintu tepat di depan wajah Nyonya Duchess demi melindungi wanita itu! Beliau bahkan tidak berpakaian pantas!"Beatrice, yang duduk di sofa beludru, memijat pelipisnya yang berdenyut hebat. Wanita itu ta
Begitu suara Marie terdengar, Eleanor kembali menarik tangan Sienna dan mencengkramnya dengan kuat.“Aku tidak tahu bagaimana caranya.” ucap wanita itu pelan. “Tapi lakukan sesuatu, minta uang pada Dukemu itu, atau mencurilah darinya. Tapi kau harus memberikan sesuatu untukku.”Wanita itu melepaska
Jantung Sienna seolah berhenti berdetak. Darah di wajahnya surut seketika."Tu... tunangan?" suaranya hanya terdengar seperti bisikan."Ya, tunangan," ulang Anna. Nada bicaranya begitu manis. Pelayan itu kembali menatap cermin, mempertemukan pandangannya dengan Sienna. "Mereka adalah pasangan yang
Ruang pertemuan rahasia di kediaman utama fraksi Utara malam itu terasa sesak oleh ketegangan dan antisipasi. Lampu kristal yang berpendar keemasan menyinari wajah-wajah para bangsawan tinggi yang saling berbisik tak sabar. Asap cerutu berbaur dengan aroma anggur merah yang menguar di udara.Keheb







