Share

BAB 148

Penulis: Rainina
last update Tanggal publikasi: 2026-02-28 10:57:05

Cahaya bulan purnama menyusup masuk melalui celah gorden, memberikan penerangan temaram di dalam kamar utama yang kini terasa hangat dan damai.

Di atas ranjang besar yang berantakan, Lucian menatap lekat wajah istrinya. Sienna tertidur pulas dengan napas yang teratur, rona merah tipis masih menghiasi pipinya akibat kelelahan setelah percintaan panjang mereka.

Wajah gadis itu terlihat begitu polos, sangat kontras dengan dunia gelap yang selama ini Lucian diami.

Lucian mengusap pelan helaian ram
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Satu Malam Bersama Duke   BAB 407

    Klek. Suara putaran anak kunci besi yang berat memecah keheningan yang memenuhi ruangan.Pintu kayu ek berukir tebal yang dikunci rapat dari luar itu perlahan berderit terbuka. Alexander melangkah masuk ke dalam kamar tidur sang Ratu yang luas dan megah, namun terasa seperti sebuah penjara.Di ujung ruangan, seorang wanita berdiri menghadap jendela yang bahkan dihalangi oleh kayu, hanya menyisakan sedikit ruang untuknya melihat keluar. Sang Ratu keraajaan Eldoria, Raatu Charlotte.Ia mengenakan gaun sutra tipis yang jatuh menjuntai ke lantai, menonjolkan perutnya yang kini sudah membuncit besar karena kehamilan yang kian menua.Tidak ada reaksi sekecil apa pun dari wanita itu saat Alexander mendekat. Wajahnya begitu datar, pucat, dan nyaris tidak memiliki sisa-sisa kehidupan di matanya yang dulu selalu bersinar cerah."Lottie," panggil Alexander lembut, suaranya dipenuhi oleh puja dan obsesi yang pekat.Pria itu berjongkok dengan satu lutut tepat di hadapan istrinya. Alexander meraih

  • Satu Malam Bersama Duke   BAB 406

    Di dalam kamar utama Paviliun Tamu Istana yang megah, perabotan mewah berserakan di lantai. Meja kayu ek yang kokoh telah terbelah dua, vas-vas porselen hancur berkeping-keping, dan karpet beludru merah ternoda oleh anggur yang tumpah.Raja Alexander berdiri di tengah kekacauan itu dengan dada naik turun dan napas memburu. Matanya yang gelap menyalang liar, memancarkan kegilaan dan amarah yang nyaris meledak.Di salah satu sudut ruangan, Baron Borgia meringkuk ketakutan, menekan punggungnya ke dinding batu yang dingin. Wajah keriput pria tua itu pucat pasi, tubuhnya gemetar hebat melihat raja muda dari selatan itu mengamuk layaknya iblis yang terlepas dari rantai."Tidak becus!" raung Alexander, suaranya menggelegar ke seluruh penjuru ruangan. "Aku memberimu satu tugas yang sangat sederhana, Borgia! Alihkan perhatian wanita itu agar ia sendiri yang berjalan padaku! Tapi apa yang kau lakukan?! Kau bersembunyi di balik dinding seperti tikus pengecut!"Alexander melangkah maju dengan

  • Satu Malam Bersama Duke   BAB 405

    Di tengah lautan manusia yang masih bersorak-sorai mengikuti irama parade penari bertopeng, Lucian awalnya memaksakan dirinya untuk tetap tenang.Saat gelombang penari yang liar itu memisahkan genggaman tangannya dari Sienna, insting pertama Lucian adalah untuk membelah kerumunan dengan kekerasan. Namun, akal sehatnya dengan cepat mengambil alih. Lucian tahu betul bahwa ia telah menempatkan puluhan Ksatria Bayangan elit di setiap sudut alun-alun. Mereka menyamar, berbaur, dan mata mereka dilatih untuk tidak pernah kehilangan target. Seharus selalu ada ksatria yang bersiaga untuk istrinya.Oleh karena itu, Lucian mengira perpisahan ini hanya akan berlangsung selama beberapa menit. Ksatria-ksatrianya pasti sudah mengamankan Sienna, melindunginya dari desakan kerumunan, dan sedang membawanya kembali ke titik kumpul yang aman di pinggir jalan.Namun, keyakinan rasional itu menguap tak berbekas saat sepasang mata merah darahnya menyapu ke arah pinggiran alun-alun yang sedikit lebih sepi

  • Satu Malam Bersama Duke   BAB 404

    Suara teriakan Alice yang melengking formal itu menggema dan memantul di dinding-dinding batu alun-alun, menghancurkan rencana gelap yang sudah disusun sedemikian rapi oleh Alexander.Raja Eldoria itu membeku, sebelum perlahan menoleh ke arah Alice. Sepasang matanya yang gelap kini memancarkan aura membunuh yang sangat pekat. Jika tatapan bisa mencabik-cabik seseorang, Alice pasti sudah hancur tak bersisa di tempatnya berdiri."Kau..." desis Alexander dengan rahang mengeras kaku. Urat-urat halus menonjol di pelipis dan lehernya.Didorong oleh kemarahan yang membutakan akal sehatnya, Alexander melepaskan cengkeramannya dari lengan Sienna. Pria itu mengambil satu langkah lebar dengan tangan terulur, berniat mencengkeram leher dayang kecil yang berani menghalangi jalannya itu.Namun, sebelum jemari Alexander berhasil menyentuh Alice, suara gemuruh puluhan langkah kaki yang tergesa-gesa langsung membanjiri lorong temaram tersebut.Teriakan Alice rupanya bekerja jauh lebih efektif dari y

  • Satu Malam Bersama Duke   BAB 403

    Saat rentetan kembang api pertama meledak di udara, ​di sudut jalan yang tidak terlalu padat, Alice mendongak dengan bibir sedikit terbuka, menatap takjub pada bunga-bunga cahaya yang mekar di atas sana. Di tangan kanannya, ia memegang setusuk manisan apel karamel yang baru saja ia beli dari seorang pedagang tua yang ramah. Rasa manis karamel yang lumer di lidahnya berpadu sempurna dengan udara malam musim semi yang sejuk.​Meskipun beberapa saat yang lalu Permaisuri Sienna telah memberikan perintah langsung padanya untuk pergi menikmati festival dengan bebas, Alice memilih untuk tidak mematuhi perintah itu sepenuhnya.​Dari kejauhan, Alice bisa melihat siluet Permaisuri Sienna yang berdiri berdampingan dengan sosok menjulang tinggi sang Kaisar.​Sebuah senyum tulus mengembang di balik topeng Alice saat ia melihat Lucian memeluk Sienna dari belakang untuk melindungi wanita itu dari dorongan kerumunan. Alice bisa melihat dengan jelas bagaimana Sienna tertawa bahagia, membalas peluk

  • Satu Malam Bersama Duke   BAB 402

    Sepasang mata merah Lucian menyipit tajam, memindai kerumunan dengan insting mematikan. Ia mencoba mencari arah pandang istrinya, mencari tahu bajingan mana yang berani membuat Permaisurinya terlihat menegang di tengah kerumunan..Sienna menelan ludah dengan susah payah. Pikirannya berkecamuk hebat. Di satu sisi, ia sangat ingin menghampiri pria tua itu. Ia ingin menarik kerah jubah ayahnya ke tempat sepi, menuntut apa yang sebenarnya pria itu inginkan, dan memperingatkannya untuk enyah dari sekitar sini sebelum Lucian memenggal kepalanya. Sienna butuh kepastian bahwa bayang-bayang masa lalunya itu tidak akan mengganggu hidup barunya.Namun di sisi lain, tangan Lucian yang menggenggamnya terasa begitu protektif. Sienna tahu betul jika ia jujur dan mengatakan bahwa ayahnya berani menampakkan diri, Lucian tidak akan memberinya kesempatan untuk berbicara. Sienna tidak ingin malam indahnya hancur karena pria benalu itu."Tidak ada siapa-siapa, Lucian," dusta Sienna pelan, memaksakan se

  • Satu Malam Bersama Duke   BAB 149

    Cahaya keemasan matahari melalui celah tirai tebal di kamar utama kediaman Borgia.Sienna mengerjap pelan, menyesuaikan matanya dengan cahaya. Ia menggeliat di balik selimut tebal yang hangat, meraih sisi ranjang di sebelahnya. Tempat itu kosong dan terasa dingin. Lucian pasti sudah bangun lebih a

    last updateTerakhir Diperbarui : 2026-03-31
  • Satu Malam Bersama Duke   BAB 36

    "Benar-benar memalukan, Nona Alexandria," lapor Anna dengan napas memburu. "Tuan Duke membanting pintu tepat di depan wajah Nyonya Duchess demi melindungi wanita itu! Beliau bahkan tidak berpakaian pantas!"Beatrice, yang duduk di sofa beludru, memijat pelipisnya yang berdenyut hebat. Wanita itu ta

    last updateTerakhir Diperbarui : 2026-03-19
  • Satu Malam Bersama Duke   BAB 13

    Begitu suara Marie terdengar, Eleanor kembali menarik tangan Sienna dan mencengkramnya dengan kuat.“Aku tidak tahu bagaimana caranya.” ucap wanita itu pelan. “Tapi lakukan sesuatu, minta uang pada Dukemu itu, atau mencurilah darinya. Tapi kau harus memberikan sesuatu untukku.”Wanita itu melepaska

    last updateTerakhir Diperbarui : 2026-03-17
  • Satu Malam Bersama Duke   BAB 16

    Jantung Sienna seolah berhenti berdetak. Darah di wajahnya surut seketika."Tu... tunangan?" suaranya hanya terdengar seperti bisikan."Ya, tunangan," ulang Anna. Nada bicaranya begitu manis. Pelayan itu kembali menatap cermin, mempertemukan pandangannya dengan Sienna. "Mereka adalah pasangan yang

    last updateTerakhir Diperbarui : 2026-03-17
Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status