LOGINAngin dingin yang berhembus di luar jendela kediaman utama klan Mountford di ibu kota terasa selaras dengan atmosfer beku di dalam ruang kerja sang Duke.
Di balik meja kerjanya yang besar, Duke Mountford meletakkan pena bulunya. Ia baru saja meneteskan lilin merah menyala dan menekan cincin stempel keluarganya di atas sebuah perkamen perjanjian.
Mendengar jawaban Sienna, Alexander justru memasang senyum getir yang dipenuhi dengan ironi."Tentu saja kau 'tidak tahu'," balas Alexander perlahan, nada suaranya menebal oleh kepahitan dan penolakan untuk percaya."Membangun kehidupan baru di tempat asing pasti menuntut seseorang untuk mengubur banyak hal.“Memilih untuk menjadi orang baru... menutup mata dari rasa sakit yang ditinggalkan di belakang. Sungguh... dedikasi yang sangat luar biasa untuk sebuah sandiwara yang sempurna."Sienna merasa napasnya tertahan. Pria ini berbicara seolah ia menyimpan sebuah rahasia besar tentang dirinya.Tuduhan-tuduhan terselubung itu, tatapan o
Matahari pagi musim semi bersinar hangat di atas langit Kekaisaran. Di salah satu jalur berbatu putih yang membelah taman tersebut, Permaisuri Sienna berjalan perlahan menikmati udara pagi.Ia mengenakan gaun sutra berwarna pastel yang berpotongan longgar, didesain khusus oleh penjahit istana untuk memberikan kenyamanan ekstra mengingat perutnya yang kini sudah mulai terlihat membuncit.Di sisi kiri dan kanannya, Alice dan Elizabeth berjalan mengiringi dengan langkah yang disesuaikan, menjaga sang Permaisuri dengan penuh perhatian.Meski cuaca musim semi sangat menyenangkan, Sienna tidak bisa menyembunyikan raut kelelahan yang sesekali melintas di wajah cantiknya.Kehamilannya belakangan ini membua
Di dalam kamar utama Paviliun istana yang hanya diterangi oleh nyala api dari perapian, udara terasa luar biasa sesak dan mencekam.Raja Alexander mondar-mandir tak tentu arah di atas karpet kamar tamunya. Jubah beludrunya yang megah telah ia lempar sembarangan ke atas sofa, menyisakan kemeja putihnya yang kusut dan kerahnya yang terbuka berantakan."Lottie..." gumam Alexander untuk yang kesekian kalinya. Suaranya terdengar kosong, bergetar, dan dipenuhi oleh keputusasaan yang berangsur-angsur berubah menjadi kegilaan. "Lottie... dia Lottie..."Di sudut ruangan, Philippe, ajudan sekaligus ksatria kepercayaan sang Raja berdiri mematung dengan wajah pucat pasi. Keringat dingin menetes pelan dari pelipisnya.Phil
Angin dingin yang berhembus di luar jendela kediaman utama klan Mountford di ibu kota terasa selaras dengan atmosfer beku di dalam ruang kerja sang Duke.Di balik meja kerjanya yang besar, Duke Mountford meletakkan pena bulunya. Ia baru saja meneteskan lilin merah menyala dan menekan cincin stempel keluarganya di atas sebuah perkamen perjanjian.Matanya yang tajam dan dipenuhi perhitungan menatap dua anak lelakinya yang berdiri di seberang meja.Kegagalan pertunangan Elizabeth beberapa minggu yang lalu telah memberikan pukulan telak bagi Duchy Mountford.Keputusan sepihak Kaisar yang menikahkan Elizabeth dengan Rowan, mantan ksatria mereka sendiri, tidak hanya mempermalukan sang Duke, tetapi juga memicu
Langkah kaki Caesar menggema pelan menyusuri lorong Istana Kekaisaran setelah ia keluar dari ruang kerja sang Kaisar.Pikirannya masih berputar, mencerna deklarasi dukungan dari Kaisar Lucian yang baru saja ia terima. Dukungan itu adalah senjata politik yang tak ternilai, namun bagi Caesar, intrik politik selalu terasa melelahkan.Ia membutuhkan udara segar. Alih-alih mengambil jalur utama menuju gerbang depan, Caesar memutuskan untuk mengambil jalan memutar melewati rumah kaca yang terhubung dengan taman dalam istana, sebuah area yang biasanya sunyi dan jarang dilalui oleh para menteri.Namun, saat ia melangkah masuk ke dalam area rumah kaca yang dipenuhi oleh berbagai macam flora musim semi itu, Caesar menyadari bahwa tempat itu tidak sepenuhnya kosong.
Setelah kesibukannya dengan para tamu agung berakhir, Lucian akhirnya melakukan hal yang terus ia tunda. Menemui Caesar yang membawa Rowan di malam pesta dansa.Pria itu kini berdiri di tengah ruang kerja pribadi sang Kaisar. Suasana di dalam ruangan itu terasa berat oleh dominasi dua pria paling mengerikan di medan perang.Kaisar Lucian duduk bersandar di kursi kebesarannya. Matanya yang semerah darah menatap lurus ke arah Caesar yang berdiri tegak dengan postur ksatria yang sempurna. Jari-jari Lucian mengetuk pelan sandaran kursi, memecah keheningan yang menguasai ruangan."Aku sudah menanyakan penyebab luka-luka itu pada Rowan sebelumnya." ucap Lucian, suaranya tenang namun tajam. "Dan ia memberitahuku sebuah cerita yang sangat menarik. Ia bilang... ia terjatuh ke dalam j
"....Apa?"Air mata Sienna berhenti sepenuhnya, kesedihannya menguap begitu saja digantikan oleh kebingungan atas perkataan Lucian.Lucian tidak menjawab dengan kata-kata manis. Ia menarik tubuh mungil Sienna ke dalam pelukan erat. Ia membenamkan wajahnya di ceruk leher gadis itu, menghirup aroma
Napas Lucian tersengal. Panas di tubuhnya semakin menjadi-jadi akibat sentuhan Alexandria. Obat itu berteriak padanya untuk menyerah, untuk memeluk tubuh wanita di hadapannya dan menuntaskan hasrat yang membakar dirinya dari dalam.Tapi wajah kecewa Sienna saat melihatnya tadi memenuhi kepala Lucia
"Apa yang kau lakukan?"Suara bariton yang berat itu mengejutkan Sienna, membuatnya nyaris menjatuhkan pipet kaca di tangannya.Sienna menoleh cepat. Di ambang pintu yang menghubungkan kamar tidur utama dengan kamar Sienna, Lucian berdiri dengan tangan terlipat di dada. Pria itu menatapnya dengan a
Lorong Sayap Barat dijaga ketat. Dua ksatria berarmor hitam dengan lambang Duchy Lorraine berdiri mematung di depan pintu kamar Alexandria, tangan mereka bersiaga di tombak panjang.Langkah kaki Arthur menjadi satu-satunya suara yang memecah kesunyian koridor.Arthur berdiri dengan santai di depan







