LOGINDi lorong istana yang temaram, alunan musik dari aula dansa hanya terdengar seperti dengungan samar. Lady Lesley, yang baru saja berniat kembali ke kamarnya setelah turun sebentar ke pesta untuk mencari udara segar, tiba-tiba menghentikan langkahnya.Matanya membelalak melihat dua sosok yang berlari tergesa-gesa dari arah tangga pelayan. Itu adalah Marta, pelayan pribadi Permaisuri, yang berlari nyaris kehabisan napas mengikuti langkah lebar Tabib Kepala istana di depannya."Marta! Tuan Tabib!" seru Lesley, buru-buru mengangkat gaunnya dan berlari menghampiri mereka. Wajah kikuknya seketika berubah tegang. "A-ada apa ini? Mengapa kalian terburu-buru sekali?"Marta menghentikan langkahnya sejenak. Wajah pelayan muda itu pucat pasi dan dipenuhi kepanikan. "Lady Lesley... Yang Mulia Permaisuri. Beliau tiba-tiba terserang demam yang sangat tinggi. Tubuhnya menggigil parah.""Demam tinggi? Tapi tadi di aula beliau hanya mengeluh sakit kepala!" Lesley tersentak mundur, tangannya refleks m
Di dalam kamar utama kekaisaran yang temaram, keheningan dipecahkan oleh suara batuk yang tertahan."Uhuk!"Sienna terbatuk kecil, memegangi dadanya yang mendadak terasa luar biasa sesak. Ia memejamkan mata rapat-rapat, merasakan gelombang panas yang aneh mulai merayap naik dari leher hingga ke wajahnya. Keringat dingin sebesar biji jagung bermunculan di pelipisnya. Kenapa tubuhnya tiba-tiba terasa begitu lemah? Rasa sakit di kepalanya kini berubah menjadi demam yang membakar kewarasannya. Darimana sebenarnya semua rasa sakit ini berasal?Melihat wanita yang ia layani meringkuk kesakitan, Marta yang sedang merapikan perapian segera berlari menghampiri sisi ranjang."Yang Mulia? Apa Anda tidak apa-apa?" tanya Marta dengan suara bergetar panik.Wanita paruh baya itu buru-buru menempelkan punggung tangannya ke dahi sang Permaisuri. Begitu kulit mereka bersentuhan, mata Marta membelalak lebar. Suhu tubuh Sienna terasa seperti bara api."Astaga! Tubuh anda panas sekali, Yang Mulia!" ser
Setelah langkah-langkah tergesa menyusuri lorong istana yang dingin, Sienna akhirnya tiba di kamar utama kekaisaran. Pintu kamar utama istana itu ditutup rapat, mengisolasi kebisingan pesta dansa dari pendengarannya.Dengan napas yang masih tersengal dan peluh dingin membasahi pelipisnya, sang Permaisuri membiarkan tubuhnya ambruk ke atas kasur berlapis kain sutra yang empuk. Rasa sakit di kepalanya seolah membelah tengkoraknya menjadi dua."Apa Anda tidak apa-apa, Yang Mulia?" tanya Lady Elizabeth dengan raut cemas, berdiri tak jauh dari sisi ranjang sambil meremas tangannya sendiri."Ya." jawab Sienna lirih, matanya terpejam rapat. Ia memijat pangkal hidungnya dengan tangan yang gemetar.Sienna tidak tahu kenapa, tapi kepalanya berdenyut semakin keras seiring berjalannya waktu. Padahal, sebelum turun ke aula dansa tadi, ia merasa sangat baik-baik saja. Tidak ada tanda-tanda kelelahan ekstrim atau gejala sakit apa pun. Denyutan nyeri ini datang begitu tiba-tiba dan menyerang denga
Di sudut aula dansa yang tidak terlalu tersorot lampu kristal utama, ketiga dayang Sienna berdiri berdampingan. Mereka memperhatikan pasangan penguasa kekaisaran itu dari kejauhan.Elizabeth adalah yang pertama menarik pandangannya dari pemandangan intim tersebut. Jemarinya meremas pelan kipas sutra di tangannya.Tidak ada gunanya, batin putri Duke itu, menelan rasa frustasi yang pahit. Melihat betapa rapat dan protektifnya rengkuhan sang Kaisar pada Permaisuri malam ini, rasanya tidak akan ada celah sekecil apa pun untuk masuk di antara mereka. Dinding yang dibangun Lucian terlalu kokoh.Lagi pula, jika ia bertindak terburu-buru demi memenuhi ambisi ayahnya, ada risiko besar yang menanti. Alice dan Lesley ada di sekitarnya setiap saat. Jika Elizabeth salah langkah dan bertindak terlalu mencurigakan, kedua wanita itu bisa saja melapor pada Permaisuri.Elizabeth terdiam sejenak. Dari sudut matanya, ia melirik ke arah dua rekan dayangnya tersebut. Wajah mereka tampak begitu fokus men
"Lucian..." Sienna akhirnya memecah keheningan, suaranya sedikit ragu. "Aku pikir kau akan langsung menuju ruang dansa."Lucian melangkah perlahan mendekati istrinya. Rahangnya terlihat kaku, raut wajahnya merupakan perpaduan antara rasa frustasi dan ego yang menolak untuk dikalahkan oleh perang dingin mereka."Kau pikir aku akan membiarkanmu berjalan memasuki aula dansa sebesar itu sendirian, Sienna?" balas Lucian, nadanya kaku namun sarat akan kepemilikan. "Malam ini adalah pertama kalinya para serigala bangsawan itu berkumpul di bawah atapku atas nama Pesta Dansa. Aku tidak akan membiarkan mereka melihat sedikit pun keretakan di antara kita."Pria itu berhenti tepat di hadapan Sienna. Meski matanya masih memancarkan luka akibat penghindaran istrinya selama beberapa hari terakhir, Lucian perlahan mengangkat tangan kanannya yang terbalut sarung tangan putih, mengulurkannya ke arah Sienna."Aku masih berstatus sebagai suamimu." ucap Lucian pelan, suaranya sedikit melunak di ujung kal
Pagi itu, istana kekaisaran jauh lebih sibuk dari biasanya. Suara langkah kaki para pelayan yang berlarian membawa gulungan kain sutra, bunga-bunga segar, dan perabotan menggema di setiap lorong.Malam ini bukanlah malam biasa. Istana akan menggelar pesta dansa untuk acara amal, sebuah perayaan besar yang sekaligus menjadi pesta dansa pertama sejak Lucian merebut takhta dari pamannya melalui pertumpahan darah. Bagi para bangsawan, ini adalah panggung politik. Bagi Sienna, ini adalah medan perang baru yang harus ia hadapi dengan sisa-sisa tenaga yang ia miliki.Di dalam kamar utama kekaisaran, udara terasa kaku. Sienna duduk diam di depan cermin rias raksasanya, membiarkan ketiga dayangnya membantu bersiap-siap di sekelilingnya."Apakah Yang Mulia lebih memilih set kalung safir atau mutiara untuk malam ini?" tanya Lady Elizabeth, memecah keheningan sambil mengangkat dua kotak beludru dengan hati-hati."Safir." jawab Sienna datar, suaranya terdengar lelah. “Semoga itu tidak membuat waj
Sienna memekik tertahan saat kakinya tiba-tiba menjauh dari tanah. Dalam satu gerakan cepat, Lucian telah mengangkatnya ke dalam gendongan, seolah berat badan Sienna tidak berarti apa-apa."T… Tuan Duke! Apa yang Anda..." Sienna yang panik, melingkarkan tangannya ke leher Lucian secara refleks.Waj
Jantung Sienna seolah berhenti berdetak. Darah di wajahnya surut seketika."Tu... tunangan?" suaranya hanya terdengar seperti bisikan."Ya, tunangan," ulang Anna. Nada bicaranya begitu manis. Pelayan itu kembali menatap cermin, mempertemukan pandangannya dengan Sienna. "Mereka adalah pasangan yang
Di luar sana, suasana hening kembali tercipta, namun kali ini aroma darah memenuhi udara.Para bandit itu... mereka benar-benar telah membuat kesalahan terakhir dalam hidup mereka. Mereka mengira kereta mewah yang melintas tanpa iring-iringan bendera besar itu adalah milik pedagang kaya yang lemah.
Napas Sienna tercekat di tenggorokan saat merasakan hawa panas tubuh Lucian semakin merapat, menghilangkan jarak di antara mereka.Tangan besar pria itu, yang tadi sibuk dengan tali-tali rumit, kini tidak langsung menjauh. Telapak tangannya yang kasar dan hangat justru mendarat di bahu telanjang Si







