LOGINHanya berbekal ijazah SMA, Aisa nekad merantau ke Jakarta untuk mencari pekerjaan. Dia berharap bisa mendapatkan pekerjaan agar dirinya bisa membantu perekonomian keluarga. Namun, siapa sangka di tengah kesulitan, sebuah tawaran pernikahan kontrak dengan Konglomerat Tampan yang jijik dengan wanita, ditawarkan padanya? Akankah Aisa menerimanya?
View MoreBagi Hores, rasa sakit dan kehancuran Avanthe adalah segalanya.
***“Aku akan membalaskan kematian ayahku, Ava.”Nada bicara Hores bergetar dikuasai dendam. Semula dia memiliki perasaan yang mendambakan, kemudian semua itu berbalik menjadi sebuah perasaan benci yang mengalir kental.Avanthe bisa memilih tidak merenggut nyawa Raja Vanderox, tetapi wanita itu melakukannya. Ntah atas dasar memerdekakan Aceli atau Pandora, Hores tidak begitu peduli. Dia pastikan Avanthe akan membayar kehilangan ini dengan mahal.Tidak apa – apa jika Avanthe memiliki pengetahuan yang hijau. Namun, wanita itu tahu, sangat tahu bagaimana Hores tidak bisa memihak salah satunya. Sekarang Hores tak punya alasan terus terngambang di antara dua pilihan.Cengkeramannya luar biasa kasar di tulang rahang Avanthe. Hanya perlu satu tindakan menyakitkan, maka kematian Avanthe segaris dengan batas kehidupan wanita itu.Hores menyeringai sinis. Ketakutan di mata Avanthe menjadi siraman asing dan menyenangkan. Dia mendapati dirinya puas melihat bagaimana bibir yang pernah menjadi kepunyaannya terlihat keluh.Avanthe yang terbata – bata menjadi satu kekuatan baru. Senang, Hores senang sekali melihat wanita di bawah cengkeraman tangannya seperti ini. Berpikir, mungkin dia-lah yang terlalu baik. Tetapi darah ayahnya—sikap kejam, dan bengis—adalah sesuatu yang merekat di bawah alam sadar—Hores hanya terlalu sering mengabaikan.“Kau ingin aku melakukan apa, Ava?”Hores berbisik di samping wajah Avanthe. Saat wanita itu semakin bergetar. Itulah keajaiban yang sesungguhnya.“Bunuh aku jika itu bisa membuatmu puas,” ucap Avanthe berani. Pria di hadapannya benar – benar bukan Hores yang pernah dia kenal. Semua berubah dalam sekejap. Kejernihan warna pria itu seperti telah dilimpahi hal yang tidak Avanthe tahu akan membludak secara beringas.“Jika aku membunuhmu, bukankah itu terlalu mudah? Bagaimana dengan anak kita?”Jantung Avanthe mencelus. Dia akan sangat memohon. Berharap kepada Hores; tolong, tidak dengan anak mereka.“Jangan lakukan apa pun kepadanya.”Avanthe mendengar suara sendiri begitu lirih. Dia melihat Hores diliputi percikan gembira. Sialnya pria itu tidak peduli. Sama sekali tidak peduli, selain membiarkan Avanthe jatuh terempas di atas medan peperangan.Hores melangkah terlalu cepat. Nyaris tak berjeda sampai pria itu berhasil menghentikan satu harta berharga lainnya bagi Avanthe. Terlalu mudah pria itu menjadikan ayah Avanthe sebagai tumbal, alih – alih menyelesaikan Avanthe sekarang. Tangan Hores begitu tak tertandingi, seolah ingin merenggut jantung yang berpotensi terampas di sana.“Perang ini akan berhenti, Ava. Jika kau ingin ayahmu kembali dengan keadaan utuh, segera temui aku. Hanya kau saja. Mengerti?”Hores mengingatkan dan langsung menghilang. Seperti yang pria itu katakan. Perang segera berhenti, tetapi perang baru, perang saling menyakiti baru saja dimulai. Tubuh Avanthe luruh mengamati pertumpahan yang luar biasa. Dia sungguh telah mengubah pria yang telah berada di ambang kejahatan, menjadi kejahatan sesungguhnya.***Sesuai permintaan Hores. Avanthe sudah berada di perbatasan yang menjembatani Kerajaan Ossoron dan Kerajaan bawah tanah. Akan tetapi dia tidak sendiri. Beberapa prajurit kerajaan bawah tanah datang menjemput. Rantai – rantai besar di tangan mereka; telah diputuskan untuk menjerat tubuh Avanthe seperti seorang tawanan.Tidak banyak yang bisa Avanthe katakan. Dia menelan ludah kasar mengikuti setiap langkah mengerikan; seperti menjemput kematian.Gerbang besar, condong dengan kesuraman berada di depan mata. Avanthe mengerti ini adalah waktu paling menyakitkan. Tubuhnya didorong kasar; dipaksa melangkah memasuki istana megah.Mata keunguan Avanthe berpendar, berusaha mencari – cari celah penting, barangkali dia bisa menemukan jalan keluar setelah ini. Sayangnya, apa pun yang coba dilakukan. Itu akan membuat Avanthe mendapat perlakuan buruk. Pukulan keras memaksa Avanthe menatap lurus – lurus ke depan.“Perhatikan langkahmu!”Salah satu prajurit istana bicara. Mereka kemudian melewati jalan berkelok. Avanthe merasakan kegugupan brutal menghadapi lorong yang dengan gelap-nya seolah sudah mengintai satu nyawa.Dia bahkan tak pernah menyadari kalau – kalau lorong itu merupakan arah menuju singgasana megah.Satu dorongan solid membuat tubuh Avanthe tersungkur ke depan. Jantungnya berdebar keras ketika jatuh dengan posisi nyaris terlihat akan mencium kaki dalam balutan sepatu, milik seseorang.Avanthe segera menengadah. Dia terpaku mendapati satu kenyataan serius.Hores masih sama tampannya, menjulang tinggi diliputi wajah menunduk tanpa ekspresi. Benar – benar berbeda dari yang terakhir Avanthe lihat di medan perang.Sekarang Hores telah menjadi raja. Penampilannya sangat mencolok, sehingga Avanthe merasa dia mungkin ... mungkin akan segera beringsut mundur.“Kau membuatku menunggu lama.”Suara berat dan dalam terdengar cenderung sedang mencemooh. Avanthe tiba – tiba merasa telah disergap oleh kebodohan. Rantai – rantai melilit di tubuhnya kerasan membuat dia dihantui ketakutan.“Kau membuat kesalahan, Ava. Aku tidak suka menunggu terlalu lama.” Bibir Hores mendesis sinis. Dengan keras menarik tulang rahang Avanthe untuk dicengkeram.Avanthe menatap pria itu dengan sisa harapan; berharap Hores kembali menjadi pria masa lalunya yang sempurna. Bukan seperti ini; tanpa ampun, tangan kasar Hores menjambak pangkal rambut Avanthe hingga seutuhnya wajah memesona itu terangkat tinggi menatap Hores yang dipenuhi sisi bengis.“Kau tahu aku datang kemari supaya kau membebaskan ayahku, Hores.”Lewat tekad paling berani. Avanthe akhirnya mengucapkan kata – kata di ujung dengan gamblang. Tidak bisakah Hores memberinya pengampunan? Avanthe sungguh tak ingin melihat seringai keji yang mendadak mengubah seluruh kebutuhannya. Ini bukan lagi cinta di antara mereka, tetapi bagaimana Hores telah menyingkirkan hal paling indah tersebut di kehidupan pria itu.“Kau ingin bertemu ayahmu?”Setiap detil dari suara yang berbisik seakan memberitahu bahwa Avanthe akan bertemu langsung terhadap rasa sakit.Avanthe mengangguk ragu. Jelas dia ingin bertemu ayahnya, adipati Kerajaan Ossoron, setelah Hores menggunakan cara keji untuk mengancam. Ini bukan perihal kisah cinta dan pertemuan. Benak Avanthe sungguh tidak meninggalkan hasrat terhadap simpatisan-nya tentang kehilangan pria itu.Telah begitu banyak kekacauan. Raja Vanderox pantas lenyap oleh senjata dwisula milik raja itu sendiri. Avanthe hanya menjalankan tugas. Perang memang memakan korban; bagaimana mungkin Hores berpikir terlalu dangkal! Pria itu marah atas sesuatu yang sudah menjadi konsekuensi di kehidupan mereka.“Aku tidak ingin kau melakukan sesuatu yang buruk kepada ayahku, Hores.”“Aku yang membunuh Raja Vanderox. Jika kau ingin membalaskan dendam, lakukan itu kepadaku. Jangan melibatkan yang lain.”Bibir Avanthe bergetar sekadar menyelesaikan setiap pernyataan barusan. Dia menatap ke dalam – dalam seringai Hores yang mematikan. Sungguh. Hores tidak memiliki belas kasih.“Kau tidak punya hak mengatakan perintah kepadaku.”Kilatan kebencian nyata – nyata menggulung Avanthe ke dasar jurang. Dia tak pernah ingin bertemu Hores yang penuh dengan kebencian terhadapnya.“Ayahmu akan selalu bersamaku. Jika kau ingin dia selamat, ada harga yang harus kau bayar.”Avante mendeteksi wajah Hores segera mendekat di samping pendengarannya. “Apa yang bisa kubayar?” Dia bertanya spontan, secara tidak langsung membuat pria itu berdecih sinis.“Menjadi selirku yang malang!”Hores melempar wajah Avanthe keras dan kasar. Cengkeraman mantap meninggalkan jejak dan rasa panas. Pria itu menatap para prajurit dengan tajam.“Bawa dia ke penjara bawah!”Terdengar suara tangis bayi dari dalam ruang operasi. Alan dan seluruh keluarganya mengucap syukur, karena anak pertamanya kini sudah lahir di dunia.“Bu, Yah. Anak Alan sudah lahir. Akhirnya Alan menjadi seorang ayah,” ucap Alan bahagia.Merlin memeluk putra tunggalnya. “Selamat ya, Sayang. Terima kasih, kamu sudah memberi Ibu dan Ayah seorang cucu.”Ferdi pun memeluk Alan, dan mengucapkan selamat, karena sekarang anaknya sudah menjadi seorang ayah. Anak yang dulu terlihat begitu manja, kini sudah dewasa dan sudah memiliki keluarga kecilnya.“Lan, Ayah bangga sama kamu. Setelah apa yang kamu lalui selama ini, akhirnya kamu menemukan kembali kebahagiaan kamu. Ayah hanya berharap, semua kamu bisa segera lepas dari trauma masa lalu dan kembali menjadi Alan yang dulu lagi,” ucap Ferdi setelah melepaskan pelukannya.Alan mengangguk. Sejak hidup bersama dengan Aisa, dirinya sudah mulai bisa sedikit demi sedikit membuka diri dan mulai berinteraksi dengan lawan jenis. Bahkan dirinya juga sud
Aisa dan Alan kini sudah berada di rumah Aisa. Kedua orang tua Alan sudah kembali ke Jakarta lebih dulu. Tapi Alan dan Aisa memutuskan untuk tetap berada di kampung halaman Aisa selama beberapa hari.Aisa ingin membujuk ayahnya untuk mau melakukan terapi agar ayahnya bisa berjalan kembali seperti dulu lagi.“Yah, Aisa mohon. Ayah mau melakukan terapi ya? Aisa ingin melihat Ayah bisa kembali berjalan seperti dulu,” pinta Aisa sambil menggenggam tangan ayahnya.Arya menepuk pelan punggung tangan Aisa. “Sa, Ayah tidak mau merepotkan kamu dan Alan. Ayah sudah menerima takdir Ayah. Kalau Ayah memang harus selamanya duduk di kursi roda ini, Ayah tidak apa-apa.”Alan memang orang kaya, bahkan dia bisa dengan mudah membiayai pengobatannya. Tapi Arya tidak mau dianggap sebagai mertua yang hanya ingin memanfaatkan kekayaan menantunya untuk kepentingannya sendiri.Arya sudah cukup bahagia dengan melihat Aisa hidup bahagia dengan pria yang mencintainya. Dia sudah tidak ada beban lagi, karena seka
Aisa menatap kamar pengantin dengan Alan. Kamar yang sangat luas dan indah. Bahkan di atas ranjang terdapat kelopak bunga mawar yang dibentuk dengan bentuk love di tengah-tengah kasur.Setelah acara pernikahan selesai, Alan membawa Aisa ke hotel yang sudah disediakan oleh kedua orang tuanya untuk mereka melewati malam pertama mereka, meskipun itu sudah tidak bisa disebut sebagai malam pertama lagi.Kamar hotel bintang lima dengan segala fasilitas mewah sengaja Merlin siapkan untuk Alan dan Aisa, karena dia ingin baik Alan dan Aisa bisa menikmati malam pertama mereka dengan indah dan nyaman tanpa gangguan dari siapapun.Alan melihat Aisa yang sedang menelisip kamar yang akan mereka pakai untuk menginap malam ini. Dia berjalan mendekati istrinya, memeluknya dari belakang, menopangkan dagunya di bahu Aisa.“Mandi dulu, Sayang, biar fresh. Kamu pasti capek setelah acara tadi,” ucap Alan dengan lembut.Aisa memutar tubuhnya, menghadap suaminya, lalu mendongakkan wajahnya. “Kamu duluan saja
Setelah kepulangan Alan dari rumah sakit. Alan tinggal di rumah yang sengaja disewa oleh Merlin untuk tempat tinggal mereka selama berada di Semarang. Merlin tidak mungkin membiarkan Alan tinggal di rumah Aisa, karena Alan masih dalam masa pemulihan.Rumah yang Merlin sewa terdiri dari dua lantai. Ada empat kamar di rumah itu. Alan sebenarnya ingin Aisa ikut tinggal bersamanya, tapi kedua orang tua Aisa melarang Aisa untuk tinggal bersamanya.Tapi Aisa tetap menemani Alan sampai di rumah. Dia akan kembali ke rumah malam harinya.“Lan, Sa, Ibu tinggal dulu ya? Ibu sama Ayah harus mengurus sesuatu,” ucap Merlin.“Baik, Bu,” ucap Aisa.“Kalau begitu Ibu titip Alan, karena Rendy akan ikut Ayah sama Ibu,” ucap Merlin dan mendapat anggukkan kepala dari Aisa.Merlin lalu keluar dari kamar yang ditempati oleh putranya itu.“Lan, kamu mau makan apa? biar aku masakin.” Perut Aisa juga sudah lapar sejak tadi.“Terserah kamu saja. Apapun yang kamu masak, aku akan memakannya,” ucap Alan dengan men






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.