Share

104- Fakta Baru

Penulis: Sora Carita
last update Tanggal publikasi: 2026-07-21 19:28:18

Begitu hidangan tersaji di atas meja, Geza langsung membuka kotak makan tanpa banyak bicara. Suapan pertamanya bahkan belum benar-benar habis ketika ia mengambil suapan berikutnya.

"Masakan kamu enak." Ujarnya tiba-tiba.

Tala berkedip. "Makasih... tumben amat muji langsung. Nggak pake sarkas."

Geza mengusap sudut bibirnya dengan tisu. ”Gak boleh?”

"Boleh."

"Kalau gitu..." Geza menyandarkan punggungnya ke kursi. "Bisa masakin saya tiap hari?"

Tala menyuap makanannya dengan santai. "Nggak bisa."

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci
Komen (4)
goodnovel comment avatar
evi erfika
Thor up dong
goodnovel comment avatar
jumenah rahma
makanya za ngomong, komunikasi semuanya. jadi tuh kayak 22nya ragu maju, geza takut maju karna mikir masa lalu atau hal yg dia simpen bakal bikin dia jauh dari tala. Tala takut maju karna mikir kinan masih ada di bayang²an geza. perlunya peran kompor amika & bastian buat dorong mereka
goodnovel comment avatar
evi erfika
Geza sudah tertala tala skrg, dan aku yakin dia tdk akan nyakitin tala, klw soal kinan mungkn geza hanyaa merasa tdk enak hati smaa pak wardoyo secara dia yg ngebimbing geza, lanjut thor
LIHAT SEMUA KOMENTAR

Bab terbaru

  • Sebelum Tiga Tahun   105- Gadai Logika

    Mengakhiri kesepakatan FWB ini ternyata tak semudah yang ia ucapkan pada Amika kemarin sore. Saat Geza menatapnya, mendekatinya, lalu menyentuhnya dengan lembut, Tala selalu kehilangan akal. Kesepakatan itu sebenarnya belum berubah. Yang berubah adalah dirinya.Seperti malam ini.Tala bahkan tidak ingat sejak kapan ia membalas ciuman Geza di depan wastafel. Padahal beberapa menit sebelumnya ia hanya berniat membereskan piring bekas makan malam, lalu membuat secangkir cokelat panas. Setelah itu ia masih harus meninjau rekomendasi akhir dari tim konsultan sebelum proyek revitalisasi memasuki tahap redesign.Tidak ada dalam rencananya menghabiskan beberapa menit terjebak di antara tubuh Geza dan meja dapur.Bibir Geza terangkat tipis ketika ia menjauh sesaat. "I like this taste," gumamnya pelan di sela napas mereka.Tala mengerjap, masih mencoba mengatur napas. "Cokelat oleh-oleh dari Hanum.""Boleh saya coba lebih banyak?"Tala bahkan belum sempat menjawab.Geza kembali mendekat, mengec

  • Sebelum Tiga Tahun   104- Fakta Baru

    Begitu hidangan tersaji di atas meja, Geza langsung membuka kotak makan tanpa banyak bicara. Suapan pertamanya bahkan belum benar-benar habis ketika ia mengambil suapan berikutnya."Masakan kamu enak." Ujarnya tiba-tiba.Tala berkedip. "Makasih... tumben amat muji langsung. Nggak pake sarkas."Geza mengusap sudut bibirnya dengan tisu. ”Gak boleh?”"Boleh.""Kalau gitu..." Geza menyandarkan punggungnya ke kursi. "Bisa masakin saya tiap hari?"Tala menyuap makanannya dengan santai. "Nggak bisa.""Kenapa?""Nggak ada di kontrak."Geza mendengkus pelan. "Kontrak lagi.”Tala hanya terkekeh kecil.Setelah itu, obrolan mereka mengalir ringan. Dari menu makan siang, pekerjaan Tala di Janitra, sampai Sansa yang belakangan mulai hobi menggambar tembok rumah dengan krayon.Tanpa terasa, kotak-kotak makan di hadapan mereka pun kosong. Tala segera merapikan kotak makan beserta peralatan makannya. Ia berniat menitipkannya kepada Rena sebelum berangkat meeting.Hari ini ia tak boleh berlama-lama di

  • Sebelum Tiga Tahun   103- Kunjungan Kedua

    Entah dapat ilham dari mana, hari itu Tala memasak sendiri menu kesukaan Geza. Lalu, tanpa diminta, ia rela mengantarkannya ke Bhuwana. Kebetulan selepas makan siang ia memang ada agenda meeting di kawasan sekitar kantor Geza.Tapi... harusnya ia tidak se-effort ini, bukan?Pagi-pagi sekali Tala sudah mengabari Geza bahwa ia akan mampir membawa makan siang. Balasan pria itu datang singkat.Oke.Tak lama kemudian muncul pesan baru.Kesini jam berapa? Jangan terlalu siang.I need energy.Beberapa detik setelah terkirim, pesan terakhir itu dihapus kembali oleh Geza. Tala tak kuasa menahan tawa kecil.Setelahnya, Geza kembali menghilang. Mungkin sibuk dengan rapatnya. Menjelang tengah hari, barulah ponselnya kembali bergetar.Kalau udah berangkat kabarin saya.Tala baru saja menyalakan mesin mobil ketika pesan berikutnya masuk.Udah jalan?Disusul satu lagi.Hati-hati.Sekitar dua puluh menit kemudian...Sampai mana?Tala tak kuasa menahan tawa. Baru kali ini Geza terdengar setidak sabara

  • Sebelum Tiga Tahun   102- Pengaruh Besar

    Geza menunjukkan layar ponselnya ke arah Tala. "Mau yang ini?"Tala hanya melirik sekilas sebelum menggeleng. "Bosen. Sansa keseringan makan itu.""Dia yang suka.""Suka bukan berarti tiap minggu harus ke situ kan Za?" Tala kembali fokus memperhatikan Sansa yang baru saja masuk ke dalam kolam."Fine. Kamu aja yang cari lah." Geza menyimpan ponselnya. Pandangannya kemudian jatuh pada baju renang Sansa yang dipenuhi ruffle kecil di bagian bahu."Ta.""Hm?""Bisa nggak sih lain kali baju renang Sansa jangan yang ribet-ribet begitu?"Tala menoleh sekilas. "Lucu, tahu.""Lucunya lima menit. Makenya dua puluh menit." Geza menunjuk pelampung di pinggir kolam. "Coachnya juga tadi nungguin kamu beresin pita itu."Les renang Sansa dijadwalkan setiap Rabu sore dan Sabtu pagi. Jika pekerjaan di Janitra sedang tidak terlalu padat, Tala akan mengantarnya sendiri di hari kerja. Sementara setiap akhir pekan, Geza hampir selalu ikut menemani.Tala terkekeh pelan."Terus kenapa sih hobi banget beliin d

  • Sebelum Tiga Tahun   101- Kesambet Tala

    "Pak... saya udah ajuin cuti buat awal bulan nanti. Di-ACC nggak, Pak?" tanya Rena hati-hati.Geza masih menunduk menelaah berkas yang baru saja disodorkan Rena. Setelah membubuhkan tanda tangan di halaman terakhir, ia membuka laptop dan mengetik beberapa hal tanpa mengangkat kepala.Rena melirik Bastian sebentar, lalu kembali mencoba."Kalau nggak bisa empat hari... satu hari juga nggak apa-apa, Pak."Tetap tidak ada jawaban.Bastian yang sedang bersandar di sofa sambil menyeruput kopi akhirnya ikut menimpali, "Emang lo ngajuin berapa hari, Ren?""Empat."Bastian langsung mendengus. "Anjir, ngimpi. Sengaja ngepasin libur nasional, kan? Biar total seminggu."Rena nyengir tanpa rasa bersalah. "Nah."Baru setelah itu Geza menutup laptopnya, menyerahkan map yang sudah selesai ditinjau, lalu mengangkat pandangan ke arah Rena."Udah saya approve. Kamu bisa cuti," ujar Geza santai.Bastian nyaris menyemburkan kopi yang baru saja diteguknya.Rena pun terpaku beberapa detik. Matanya membulat

  • Sebelum Tiga Tahun   100- Mikir Apa Sih?

    Jam dinding telah melewati pukul satu dini hari ketika riak itu akhirnya benar-benar reda, menyisakan keheningan yang begitu damai.Mereka masih terjaga.Berbalut selimut tebal yang menyelimuti tubuh keduanya, Geza menarik Tala semakin dekat ke dalam peluknya. Dagu pria itu bertumpu ringan di atas kepala Tala, sementara kedua lengannya melingkar erat di pinggang perempuan itu, enggan memberi ruang sekecil apa pun.Tala membiarkan dirinya bersandar sepenuhnya pada dada bidang Geza. Detak jantung pria itu berdetak pelan dan teratur di bawah telinganya, menghadirkan rasa yang tak pernah ia bayangkan bisa ditemukan pada pria itu. Tenang.Di hadapan mereka, jendela besar membingkai Jakarta yang masih terjaga. Cahaya gedung-gedung tinggi berpendar di kejauhan, berkilau seperti taburan bintang yang turun ke bumi. Tirai tipis bergoyang perlahan diterpa embusan pendingin ruangan, sementara apartemen itu tenggelam dalam sunyi yang untuk pertama kalinya tidak lagi terasa hampa."Kamu selalu sewan

  • Sebelum Tiga Tahun   2- Warisan Rumit

    Tala tak sanggup mencerna kalimat itu. Menikah dengan adik kakak iparnya? Sebutannya memang masih keluarga, tapi mereka hanya dua orang asing yang kebetulan terhubung karena sebuah pernikahan kedua kakaknya.“Kamu gila?” Tala mendengus, tawa hambar keluar dari bibirnya yang pucat. “Akal sehat kamu k

  • Sebelum Tiga Tahun   1- Kehilangan yang Tak Terduga

    Tala berdiri memandangi gundukan tanah merah yang masih basah. Rasa sakitnya sama. Sama seperti saat ia kehilangan ibu, lalu nenek, dan terakhir ayahnya. Kehilangan sudah terlalu akrab dalam hidup Tala. Namun kali ini, ia berusaha berdiri lebih tegak—meski sekujur tubuhnya masih gemetar dan kepalan

  • Sebelum Tiga Tahun   11- Celah di Sofa Abu

    Jam sudah menunjukkan pukul satu dini hari saat Tala akhirnya memutuskan turun ke lantai bawah. Dia benar-benar tidak bisa tidur. Bukan karena ini adalah malam pertamanya dengan status sebagai istri Geza.Bukan.Tidak akan ada yang berbeda karena mereka bukan pasangan nyata. Alarm tubuhnya saja yang

  • Sebelum Tiga Tahun   10- Rahasia Besar Lain

    Geza tidak terkejut saat Tala menuntut penjelasan dengan tatapan menghunus. Pria itu memutar tubuh untuk menghadap Tala sepenuhnya."Kita enggak sedang membohongi anak kecil, Tala." jawab Geza rendah, terlampau tenang. "Keluarga saya, kolega bisnis saya dan Arka, sampai pengadilan—ada terlalu banyak

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status