ANMELDENSansaya Manisha Rajendra—nama itu tak pernah berhenti disebut sepanjang siang hingga malam ini. Di hari spesialnya, energi bocah itu masih saja penuh. Dengan dress princess yang lebih sederhana, Sansa berlari ke sana kemari, menyapa setiap tamu dengan senyum manisnya."Tala pintar banget ngurus Sansa.""Tala hebat. Padahal gadis, tapi tahu caranya ngurus toddler.""Nggak nyangka Sansa bisa pulih secepat ini. Kalian emang cocok banget. Makasih, ya, Tala dan Geza, udah jagain ponakan kami."Begitulah pujian yang terus Tala terima dari keluarga besar, terutama dari pihak keluarga ibu Geza. Anehnya, berada di tengah mereka justru membuat Tala merasa nyaman dan senang. Membuat energi sosialnya tak cepat redup. Bukan karena pujian yang terus mengalir, melainkan karena pembawaan keluarga itu sendiri—hangat, terbuka, dan apa adanya.Kalau mengingat masa-masa awal mengurus Sansa, rasanya Tala hampir gila.Ia benar-benar clueless soal pengasuhan anak. Semua dipelajarinya sedikit demi sedikit—mu
Acara sore tadi cukup menguras energi sosial Tala. Kini ia sudah berganti gaun yang lebih sederhana, tetapi tetap elegan. Gaun hitam panjang dengan potongan bersih dan detail satin di bagian pinggang membuatnya terlihat anggun tanpa terasa semeriah kostum Queen sebelumnya. Pilihan siapa lagi kalau bukan Geza.Pria itu sendiri sudah berganti tuxedo hitam dengan kemeja putih dan dasi kupu-kupu. Potongannya pas di tubuh, membuat sosoknya terlihat semakin rapi dan menawan.Ini memang hanya ulang tahun anak empat tahun. Namun bagi Tala, semuanya terasa terlalu berlebihan. Dua sesi acara—sore untuk Sansa dan teman-temannya, malam untuk keluarga serta kolega. Dan di keduanya, selain Sansa, sudah pasti Geza dan Tala ikut menjadi pusat perhatian.Tala mengembuskan napas, menatap Geza yang masih berdiri di depan cermin, sibuk merapikan tuxedo hitamnya."Geza, aku rasa ini tuh lebih nurutin maunya kamu deh daripada ngerayain ulang tahun Sansa."Geza hanya meliriknya lewat cermin."Kamu suka bang
Dari balik jendela suite yang Geza sewa, Tala mengintip sejenak ke arah taman di bawah.Di sana, hamparan rumput hijau dipenuhi rangkaian mawar putih, peony merah muda, dan hydrangea yang membingkai setiap sudut. Sebuah kastel berwarna gading berdiri megah di tengah taman sebagai latar panggung, sementara lampu-lampu gantung kristal berkilau lembut di antara pepohonan yang mulai diterpa angin sore."...Ini ulang tahun anak empat tahun atau resepsi kerajaan?" gumamnya.Ia menunduk melihat gaun panjang berwarna champagne yang dikenakannya. Roknya mengembang anggun dengan detail bordir bunga, sementara mahkota mungil bertengger di atas sanggul sederhana. Tak jauh berbeda, Geza berdiri beberapa langkah di belakangnya mengenakan setelan putih gading lengkap dengan bow tie hitam. Tidak benar-benar berdandan seperti raja, tetapi cukup membuat siapa pun langsung memahami tema yang mereka usung hari itu.Sementara itu, pusat perhatian sesungguhnya sedang sibuk bercermin."Wah..."Sansa memutar
Berbeda dengan keluarga besar dari pihak Dharma yang mayoritas menetap di Jabodetabek, keluarga mendiang ibu Geza tersebar di berbagai daerah, mulai dari Yogyakarta hingga beberapa kota lain, bahkan ada yang menetap di luar negeri. Karena itu, perayaan ulang tahun Sansa menjadi salah satu momen langka yang mempertemukan mereka kembali di Jakarta.Salah satunya Bude Sinta, yang siang itu baru tiba dari Jepang. Tala sengaja menjemputnya langsung ke bandara sesuai permintaan Geza. Sudah hampir setahun mereka tidak bertemu. Selama itu pula, mereka hanya sesekali bertukar kabar atau melakukan panggilan video setiap kali Bude Sinta ingin melihat Sansa."Talaa..." Bude Shinta langsung merengkuhnya dalam pelukan hangat. "Aduh, Bude kangen banget."Tala tertawa pelan, balas memeluk wanita paruh baya itu."Gimana setahun ini?" Bude Sinta mengamatinya dari ujung kepala hingga kaki. "Geza nggak nakal kan? Nggak bikin kamu sedih kan? Kok Bude belum pernah denger kamu ngadu ke Bude?"Tala hanya ters
Jam tidur Sansa selalu tepat pukul sembilan malam. Sebelum tidur, ada satu ritual yang tak pernah boleh terlewat: membaca buku.Siapa pun boleh membacakannya, tetapi favoritnya tetap Om Eja. Padahal, menurut Tala, cara Geza membaca cerita cenderung kaku dan datar. Tala bahkan sempat mengikuti kelas read aloud, tetapi belum juga berhasil merebut posisi favorit itu.Beberapa hari terakhir Geza lebih sering pulang larut karena pekerjaan. Alhasil, ritual itu hampir selalu diambil alih Tala atau Sus Lia. Malam ini pun Sansa sempat menunggu karena Geza sudah berjanji akan membacakan buku, tetapi menjelang jam tidur pria itu mengabari bahwa ia akan pulang terlambat.Setelah cukup lama berceloteh tentang pesta ulang tahunnya yang tinggal empat hari lagi, Sansa akhirnya terlelap.Berselang kemudian, Geza membuka pintu kamar Sansa dengan langkah tergesa. Begitu melihat Tala mengangkat telunjuk ke bibir, pria itu langsung paham."Sorry. Tadi ada trouble di kantor."Ia menjatuhkan diri duduk di sa
Hari itu Adrian datang ke Janitra untuk final review laporan forensik proyek revitalisasi yang hampir setahun terakhir mereka kerjakan. Rapat berlangsung tak terlalu lama. Begitu seluruh catatan akhir disepakati dan berkas resmi ditandatangani, Tala mengajak Adrian ke ruangannya. Ia membuka laci meja, lalu mengeluarkan dua amplop berwarna krem dengan emboss logo Janitra."Oh iya, Kak Adrian." Tala menyodorkannya sambil tersenyum. "Sabtu nanti Sansa ulang tahun. Dateng, ya. Yang satu lagi buat Kak Jia."Adrian menerima kedua amplop itu. Sudut bibirnya terangkat."Wah... akhirnya empat tahun juga."Tala mengangguk kecil."Iya. Cepet banget rasanya.""Nanti aku dateng," jawab Adrian sambil menyelipkan kedua undangan itu ke dalam map yang dibawanya.Tala tersenyum. "Kakak langsung balik ke kantor?"Adrian menggeleng pelan. "Belum tentu. Kenapa? Masih ada yang mau dibahas?""Bukan.""Aku mau ngajak makan siang. Sekalian ngobrol."Adrian mengangguk tanpa banyak berpikir. "Boleh. Di mana?""
Menjaga Sansaya setiap hari ternyata sanggup menguras seluruh kewarasan Tala. Begitu dia terbangun, wajah kuyu dengan lingkaran hitam yang menghias bawah mata langsung menyambutnya.Tala melangkah gontai menuju ruang makan, mengambil segelas air putih, lalu duduk tepat di hadapan Geza. Pria itu suda
Tala tak sanggup mencerna kalimat itu. Menikah dengan adik kakak iparnya? Sebutannya memang masih keluarga, tapi mereka hanya dua orang asing yang kebetulan terhubung karena sebuah pernikahan kedua kakaknya.“Kamu gila?” Tala mendengus, tawa hambar keluar dari bibirnya yang pucat. “Akal sehat kamu k
Tala berdiri memandangi gundukan tanah merah yang masih basah. Rasa sakitnya sama. Sama seperti saat ia kehilangan ibu, lalu nenek, dan terakhir ayahnya. Kehilangan sudah terlalu akrab dalam hidup Tala. Namun kali ini, ia berusaha berdiri lebih tegak—meski sekujur tubuhnya masih gemetar dan kepalan
Jam sudah menunjukkan pukul satu dini hari saat Tala akhirnya memutuskan turun ke lantai bawah. Dia benar-benar tidak bisa tidur. Bukan karena ini adalah malam pertamanya dengan status sebagai istri Geza.Bukan.Tidak akan ada yang berbeda karena mereka bukan pasangan nyata. Alarm tubuhnya saja yang







