Mag-log inKalau soal Adrian, Om Eja ini gak mau banget kalah. Egonya langsung naik Jadii kemana Tata?
Hari kedua, Geza tampaknya masih belum berniat pulang.Sore kemarin, Tala sudah memintanya kembali ke Jakarta. Rumah itu tidak terlalu besar dan hanya memiliki tiga kamar tidur. Tala sendiri menempati kamar Dion yang hanya diisi kasur single bed—sementara anak itu tidur bersama kakeknya.Jelas tak ada tempat lagi untuk Geza. Alhasil, semalam Geza tidur beralaskan tikar di ruang keluarga. Tala bahkan sudah menyarankannya menginap di hotel di pusat kota, tetapi pria itu tetap bersikeras menolak.Pagi ini, suaminya malah sudah duduk santai di teras sambil minum teh dan berbincang dengan Pakde Hanto. Tak hanya itu, Geza juga ikut membantu memotong ayam kampung yang kemarin dibicarakan Mira.Di luar dugaan, ternyata pria itu bisa mengurus hal-hal semacam itu.Terlepas dari masalah rumah tangga mereka, Mira dan Pakde Hanto menilai Geza secara objektif. Keduanya menerima kehadiran pria itu dengan tangan terbuka. Terlebih, Pakde Hanto hanya menduga Tala dan Geza sedang bertengkar, masalah kla
Hening menyelimuti teras setelah Ainun beranjak masuk.Geza duduk lesehan dengan kaki terjulur ke undakan teras, kedua tangannya bertumpu di belakang tubuh untuk menyangga berat badannya. Di sebelahnya, Tala duduk bersila dengan tangan terlipat di atas lutut. Keduanya sama-sama memandangi hamparan pegunungan hijau di hadapan mereka.Sejak kedatangan Geza tadi, mereka belum benar-benar mengobrol. Mira lebih banyak mengambil alih percakapan, berusaha mencairkan kecanggungan di antara keduanya.Sampai akhirnya, Tala memutuskan untuk membuka suara.“Kamu tahu dari mana aku di sini?”Geza menoleh sekilas sebelum menjawab, “Dari akses panggilan kemarin. Saya minta orang melacak posisinya, sekalian mencari tahu pemiliknya.”Tala sontak menoleh.Dia menyewa hacker?“Harus segitunya?” tanya Tala, sedikit ketus.“Harus. Saya belum minta maaf soal omongan saya malam itu. Saya salah, Ta. Sangat salah. Maafkan saya.""Hmmm." hanya itu respon yang bisa Tala beri."Dan saya juga pengen ketemu kalian
Melihat wajah pria itu yang begitu lelah akibat perjalanan, Mira menawarkan kamar yang selama ini ditempati Tala dan Sansa agar Geza bisa beristirahat. Kini, pria itu tertidur bersama Sansa di kamar tersebut.Sementara itu, Mira sedang mengantar pesanan kue bersama putranya, Dion, ke pusat kota. Hanto—ayah Mira sendiri sudah kembali ke kebun. Siang tadi ia hanya mengantarkan Geza ke rumah. Itu pun tak sengaja katanya bertemu dengan Geza di warung saat pria itu sedang menanyakan alamat.Tala duduk lesehan di teras, menemani Ainun mengerjakan PR.“Tante Tala, kenapa Tante jadi arsitek?” tanya Ainun.“Karena Tante suka gambar,” jawab Tala sambil tersenyum tipis.“Aku nggak suka gambar, tapi pengin jadi arsitek. Bisa nggak, Tante?”Tala terdiam sejenak, menatap anak itu.Dulu, ia justru tak pernah ingin mengambil jurusan arsitektur. Jani-lah yang meyakinkannya bahwa jurusan itu menjanjikan dan bisa menjadi tempat bagi bakat Tala untuk berkembang. Kakaknya itu bahkan bertaruh mati-matian ag
Tepat tiga minggu kemudian, akhirnya ponsel Tala kembali aktif. Bahkan, kali ini Tala yang lebih dulu menghubunginya. Percakapan itu dimulai dengan Sansa yang langsung bercerita panjang lebar tentang segala hal yang ia lakukan selama bersama Tatanya, tak lupa mengungkapkan betapa rindunya ia kepada Om Eja. Tala tak mau bicara sama sekali dengannya. Geza mendengarkan dengan saksama, sesekali menyahut pertanyaan-pertanyaan polos keponakannya itu. Hingga, saat Sansa meminta panggilan video, terdengar suara gemerisik dari seberang, disusul larangan Tala yang samar-samar tertangkap telinganya. Geza langsung menangkap celah itu. “Jadi, Om Eja boleh bicara sama Tata?” bujuknya lagi, setelah permintaan serupa tadi ditolak mentah-mentah oleh Sansa. “Kata Tata, no-no.” Geza mengembuskan napas pelan. Rupanya, Tala benar-benar berusaha menghindarinya, panggilan ini ada hanya karena Sansa. “Om Eja kangen Tata. Ayo, Yaya bilangin, ya.” Tak lama kemudian, suara mungil itu kembali terdengar di
“Pak, Bu Kinan minta waktu untuk membahas proyek A Plus.” Rena melongokkan wajah dari balik pintu, ragu-ragu sebelum melanjutkan. “Katanya cukup urgent.” Sudah empat hari terakhir emosi atasannya itu buruk. Sangat buruk, malah. Rena sampai harus berpikir dua kali setiap kali hendak masuk ke ruangannya. “Bilang lewat email aja,” jawab Geza ketus tanpa mengalihkan pandangan dari layar laptop. “Tapi, Pak...” Rena menjeda, tampak serba salah. “Katanya urgent. Sepuluh menit lagi Pak Agus juga akan menyusul.” Nama terakhir itu membuat Geza terpaksa mengurungkan niatnya untuk menolak. “Ya sudah. Suruh masuk.” “Baik, Pak.” Rena segera berlalu, sementara Geza menyandarkan punggung ke kursi dan mengembuskan napas panjang. Sungguh, kepalanya sudah cukup penuh. Ia tak punya tenaga untuk menghadapi persoalan lain, apalagi yang melibatkan Kinan. Sayangnya, urusan pekerjaan tak bisa ia abaikan hanya karena kehidupan pribadinya sedang berantakan. Kinan masuk beberapa saat kemudian, lalu duduk
Geza punya jadwal bertemu klien saat jam makan siang. Kebetulan, lokasi pertemuan itu tak jauh dari kantor Amika. Ia pun memanfaatkan kesempatan tersebut untuk menemui sahabat istrinya, meski kemungkinan besar ia akan kembali menerima tamparan. Sudah tiga hari Tala pergi, dan ia masih belum tahu harus mencari ke mana lagi. Geza menunggu dengan gelisah di lobi firma tempat Amika bekerja. Setelah pesannya tak kunjung dapat balasan, ia terpaksa menghubungi atasan perempuan itu, yang kebetulan merupakan koleganya sendiri, untuk meminta bantuan mempertemukan mereka. Dan ya, akhirnya Amika muncul dengan wajah masam. Begitu melihat Geza, ia langsung menghampiri pria itu sambil bersungut kesal. “Harus banget gunain kekuasaan lo buat bikin gue mau nemuin lo, Mas? Dasar licik!” Geza tak membalas sindiran itu. Ia sudah menduga Amika akan marah, tetapi saat ini ia tak punya banyak pilihan. “Mik, kalau kamu masih mau luapin kemarahan kamu sama saya, silakan.” Geza menatapnya serius. “Tapi jan
Tala berdiri memandangi gundukan tanah merah yang masih basah. Rasa sakitnya sama. Sama seperti saat ia kehilangan ibu, lalu nenek, dan terakhir ayahnya. Kehilangan sudah terlalu akrab dalam hidup Tala. Namun kali ini, ia berusaha berdiri lebih tegak—meski sekujur tubuhnya masih gemetar dan kepalan
Jam sudah menunjukkan pukul satu dini hari saat Tala akhirnya memutuskan turun ke lantai bawah. Dia benar-benar tidak bisa tidur. Bukan karena ini adalah malam pertamanya dengan status sebagai istri Geza.Bukan.Tidak akan ada yang berbeda karena mereka bukan pasangan nyata. Alarm tubuhnya saja yang
Geza tidak terkejut saat Tala menuntut penjelasan dengan tatapan menghunus. Pria itu memutar tubuh untuk menghadap Tala sepenuhnya."Kita enggak sedang membohongi anak kecil, Tala." jawab Geza rendah, terlampau tenang. "Keluarga saya, kolega bisnis saya dan Arka, sampai pengadilan—ada terlalu banyak
Malam itu jadi malam paling panjang untuk semua sesi perdebatan yang pernah mereka lewati selama enam tahun terakhir. Geza harus mendapatkan kesepakatannya malam ini juga.“Semuanya sudah saya atur di dokumen resmi,” Geza kembali bicara, memecah keheningan. “Saya gak akan ambil sepeser pun yang jadi







