LOGIN"Om, lo tuh mesum banget sih! Bisa gak sih jangan kayak gitu di tempat umum?" protes Hanum berapi-api begitu mereka semua sudah duduk mengitari meja panjang di restoran dekat kantor. Wajahnya masih menyisakan sisa-sisa syok pasca-menonton pertunjukan gratis tadi.Sama syoknya dengan orang-orang yang menyaksikan kejadian itu—Sania, Hanum, Adrian, Jia, Sus Lia, dan tentu saja Sansa.Lengkap.Kurang security saja, pikir Tala miris."Salah?" tanya Geza cuek. Pria itu dengan santai menuangkan air putih ke gelas Tala, sama sekali tidak terlihat terganggu atau malu."Kan istri sendiri.""Itu kantor, Hei! Kantor!" sahut Hanum lagi, gregetan dengan ekspresi lempeng Geza. "Untung Sansa gak lihat.”Terimakasih sus Lia yang sangat bisa gerak cepat di situasi darurat."Itu ruangan istri saya. Kalian harusnya ketuk dulu kalau mau masuk," balas Geza tak mau kalah.Sania yang duduk di ujung meja ikut menyahut pelan sambil meringis. "Udah kali, Pak. Saya udah ketuk tiga kali, tapi bapaknya aja yang ke
Geza melangkah maju, lalu dengan santai duduk di kursi tepat di depan meja kerja Tala. Tangannya terulur, ikut membuka dan membalik map yang tengah Tala cek sejak tadi."Ada yang urgent banget sampai harus dikerjain weekend gini?" tanya Geza, matanya beralih menatap Tala dengan intensitas yang sama seperti subuh tadi.Tala menelan ludah pelan.Yang urgent itu sebenarnya jarak kita sekarang, Geza, jerit Tala dalam hati."Buat persiapan bidding Senin besok, biar gak ada kendala.” jawab Tala seformal mungkin, mencoba membentengi diri.Padahal kendala yang sebenarnya sudah muncul sejak dini hari tadi.Dan nama kendala itu...Geza Ragendra."Kamu... tahu dari mana aku lembur di sini?"Geza menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi, lalu mengulas senyum miring yang teramat tipis. "Sania report ke saya."Ah, sial. Tala memejamkan matanya sesaat, merutuki kebodohannya sendiri. Ia lupa satu fakta penting; sekoperatif apa pun Sania padanya sekarang, gadis itu tetaplah salah satu "antek-antek"
Saat Tala benar-benar terbangun, pria itu sudah pergi entah ke mana. Sisi kasur di sebelahnya sudah mendingin, namun sisa pelukan dan kecupan hangat di keningnya subuh tadi masih terasa membekas nyata. Seketika, akal sehat Tala mulai menjerit lagi. Ini tidak benar. Logikanya yang sempat meleleh tadi menuntut untuk dipasang kembali.Ini hari Sabtu, awalnya ia berencana untuk diam di rumah saja menghabiskan waktu bersama Sansa. Namun, saat selesai mandi dan bersiap sarapan, ia mengurungkan niat itu begitu mendengar kalimat Hanum."Om Eja udah berangkat dari jam enam tadi, Tante. Katanya mau tenis dulu, nanti pulang siangan deh kayaknya," ujar Hanum sambil menata piring.Baguslah. Berarti rumah aman sampai siang. Mereka tak perlu pamer keharmonisan di depan Hanum dan Tala tak perlu gelisah saat jarak mereka terlalu dekat.Jika Geza pulang agak siangan dan berangkat hanya untuk tenis, itu artinya sisa hari Sabtu ini pria itu akan berdiam di rumah. Dan menghabiskan waktu seharian penuh den
Setelah obrolan panjang dengan Geza itu, akhirnya Tala memejamkan mata. Namun tidur tak benar-benar memberinya istirahat. Kesunyian kamar justru menyeretnya masuk ke dalam labirin ingatan yang paling ingin ia hindari.Semuanya terasa begitu nyata. Ia seperti kembali menjadi mahasiswi yang baru pulang dari kampus. Maket tugasnya masih dipeluk erat, kardusnya penyok di beberapa sisi. Napasnya memburu ketika langkahnya berhenti di sebuah pemakaman yang tanahnya masih basah oleh hujan.Ia mengenali tempat itu. Perlahan, pandangannya jatuh pada sebuah batu nisan. Nama ayahnya terukir di sana membuat dadanya langsung sesak."Nggak..."Suara itu terdengar seperti miliknya, tetapi begitu jauh. Air matanya mengalir tanpa bisa dibendung. Lututnya melemas hingga seseorang tiba-tiba memeluknya dari belakang. Sangat hangat dan akrab."Tala..."Jani.Pelukan kakaknya selalu sama. Erat. Menenangkan. Membuatnya merasa semuanya akan baik-baik saja. Namun kehangatan itu hanya bertahan sesaat. Dalam sat
Ujian sekamar dengan Geza masih belum selesai. Ini adalah hari ketiga sekaligus malam terakhir Hanum menginap di rumah mereka. Selama tiga hari ini, Tala sudah cukup tersiksa menghadapi kombinasi mematikan dari seorang Geza. Geza yang anteng, Geza yang bertingkah menggemaskan, Geza yang baru selesai mandi dengan aroma segar yang menguar dalam jarak dekat. Dan malam ini, pria itu punya tambahan pesona baru yang jauh lebih berbahaya—Geza yang terlihat rapuh dan kesepian.Malam ini, mereka duduk bersandar pada headboard ranjang, mengobrol ngalor-ngidul begitu saja. Berawal dari membahas Hanum dan karier barunya yang tengah dirintis di Jakarta, lalu bergeser ke pekerjaan, keluarga, hingga kenangan-kenangan lama yang tanpa sadar membawa mereka pada sosok Jani.Geza tersenyum kecil. "Semua masakan Mbak Jani enak."Tala tersenyum tipis. Masakan kakaknya memang seenak itu. Tala kehilangan ibunya saat masih berusia enam tahun, sementara Jani berusia sebelas tahun. Saat itu, Tala dititipkan pad
Hari pertama, Geza berhasil Tala paksa tidur di kamar Sansa. Mereka tidak boleh lagi sekamar setelah kelakuan Geza yang terang-terangan menjadikan bahu Tala sebagai sandaran saat menonton televisi dan setelah mereka kebablasan malam itu.Hari kedua, Geza bahkan sudah berniat tidur di ruang kerja. Namun menjelang tengah malam, pria itu tetap muncul di ambang pintu kamar."Mau ngapain?" tanya Tala setengah mengantuk."Tidur.""Di sini?""Iya."Tala sudah terlalu lelah untuk berdebat. Ia hanya menggeser tubuhnya sedikit, memberi ruang di sisi ranjang."Jaga jarak," peringat Tala."Kamu yang gak jaga jarak, ngabisin jatah tempat tidur saya," balas Geza telak. Tala memang selasak itu saat tidur."Ya udah, sana balik ke ruang kerja," sahut Tala ketus.Geza tak merespons. Pria itu hanya mengulurkan tangan untuk mematikan lampu kamar, menyisakan lampu tidur di sudut ruangan yang memancarkan cahaya temaram.Tala memejamkan mata.Lima menit.Sepuluh menit.Lima belas menit.Rasa kantuknya belum
“Kamu gila kalau kamu setuju sama ide konyol itu.”Geza menoleh. “Mungkin.”Sebelum membawa Sansaya ke dokter anak, mereka sempat bicara soal hak wali ke pengacara kenalan Geza. Pengacaranya menyarankan satu hal paling konyol untuk menang dan melindungi semuanya.Menikah. Nikah kontrak, lebih tepat
Menjaga Sansaya setiap hari ternyata sanggup menguras seluruh kewarasan Tala. Begitu dia terbangun, wajah kuyu dengan lingkaran hitam yang menghias bawah mata langsung menyambutnya.Tala melangkah gontai menuju ruang makan, mengambil segelas air putih, lalu duduk tepat di hadapan Geza. Pria itu suda
Mobil Geza melaju membelah kemacetan Jakarta yang terasa jauh lebih menyesakkan dari biasanya. Di kursi penumpang, Tala mencoba menyandarkan kepalanya pada kaca jendela yang dingin, mencari sedikit sisa tenaga yang dia punya.“Temen kamu udah pulang langsung kerja?” tanya Geza tanpa sedikit pun men
Tala tak sanggup mencerna kalimat itu. Menikah dengan adik kakak iparnya? Sebutannya memang masih keluarga, tapi mereka hanya dua orang asing yang kebetulan terhubung karena sebuah pernikahan kedua kakaknya.“Kamu gila?” Tala mendengus, tawa hambar keluar dari bibirnya yang pucat. “Akal sehat kamu k







