LOGINKalau sudah begini—dipeluk, dikecup—mungkin memang sudah waktunya Tala mengatakan alasan sebenarnya dia datang, lalu berbaikan dan kemudian bercinta. Begitu bukan alur seharusnya?Ck, opsi terakhir ralat. Mesum sekali Tala!Tapi wajah suaminya itu belum terlihat berbinar—belum terlihat bucin, tepatnya. Geza yang ada di sebelahnya ini justru lebih menunjukkan sisi Geza saat menjadi suami kontrak. Belum Tala lihat sorot mata memuja sekaligus rakus yang biasanya muncul dari tatapan suaminya itu setiap kali berada dekat dengannya.Tala mengembuskan napas frustrasi.Sungguh, ia tidak punya pengalaman menghadapi pria yang bisa tantrum hanya karena cemburu. Mungkin karena mantan-mantannya memang bukan tipe pencemburu. Atau mungkin karena cinta mereka pada Tala memang tidak pernah sebesar itu.Entahlah.Perdebatan batinnya selesai, pada akhirnya ia menurunkan ego. “Aku ke sini tuh mau minta maaf.”Geza langsung menggeser duduknya, menghadap Tala.“No, no, no. Saya yang mestinya minta maaf soal
Hanya satu hari Geza mengambil cuti dan hari itu dihabiskannya untuk mengurus Tala sambil tetap memasang muka garang—tentu saja. Jelas ia masih menyimpan kesal soal kejadian nomor darurat itu. Tapi mau bagaimana lagi? Semuanya sudah terlanjur terjadi dan sungguh Tala melakukannya bukan dengan maksud lain. Geza sudah mengabari bahwa malam ini ia tidak akan pulang. Ada urusan pekerjaan yang ingin diselesaikan di apartemen katanya. Mungkin, ia juga butuh sedikit ruang untuk menenangkan kepala yang masih dipenuhi kekesalan. Hari keempat pascapenjambretan, Tala sendiri masih belum melakukan aktivitas berarti. Semua urusan proyek Serpong sudah aman ditangani Suwandi. Seharian ini ia hanya mengantar Sansa sekolah, lalu menghabiskan waktu di rumah dengan menemani Sansa bermain, menonton, dan melakukan aktivitas ringan lainnya. Sungguh, ia mulai bosan. Jadi sore ini, Tala memutuskan mengantarkan makan malam untuk suaminya yang sedang marah itu. Membujuk, mungkin? Kini ia sudah berdiri d
Begitu Geza pergi, kamar kembali terasa lebih tenang. Beberapa menit kemudian, Bi Yuni masuk membawa semangkuk sup ayam hangat untuk Tala. “Mbak Tala, udah mendingan? Bibi kaget banget pas denger kabarnya. Daerah situ emang kadang rawan, Mbak. Rame sih rame, cuma kanan-kirinya pan banyak lahan kosong. Sering dijadiin kesempatan buat yang mau jambret begitu.” “Iya, Bi. Ini udah nggak apa-apa, kok. Makasih, ya.” Tala menerima mangkuk yang disodorkan Bi Yuni, lalu meniup pelan uap yang mengepul dari permukaan sup. “Mau mandi gak Mbak? Nanti bibi bantu. Tadi Pak Geza bilang Mbak jangan dibiarin mandi sendiri dulu. Begitu katanye.” “Oh, nggak usah, Bi. Saya bisa sendiri.” Bi Yuni malah terkekeh. “Lho, mau sama Pak Geza aja ya mandinya?” godanya. “Mau kangen-kangenan, ya, Mbak?” Wajah Tala langsung memerah. “Bi Yuni, apaan, sih?” Kangen-kangenan apanya, Bi? Debat yang ada. Bi Yuni semakin terkekeh melihat wajah Tala. “Becanda, Mbak Tala cepet baek lagi, ya. Bibi tinggal, kalau bu
Begitu kembali ke rumah, Tala mendapati Sansa sudah tidur. Hanya Sus Lia yang masih terjaga dan langsung menyambut mereka dengan raut khawatir begitu melihat kondisi Tala. “Gimana, Mbak kondisinya? Mau saya bantu siapin apa?” “Cuma lecet Sus, udah gapapa. Sansa Aman kan?” Tala bersandar di sofa. Merasakan sekujur tubuhnya mulai pegal dan nyeri. ”Aman Mbak, cuma nanyain aja kayak biasa kapan Tata pulang.” ”Sus bantu aku ke kamar.” pinta Tala. Saat tiba tadi, Geza menurunkan Tala di sofa lalu ia sendiri ke halaman depan untuk menerima telepon dan sepuluh menit sudah berlalu masih belum terlihat tanda percakapan itu akan usai. ”Mari Mbak.” Sus Lia sudah melingkarkan lengan Tala di bahunya, namun pria itu masuk dan segera mengambil alih. “Udah saya bilang, tunggu dulu di sini.” intonasi suaranya tegas. Lantas Geza menoleh kepada Sus Lia. “Sama saya aja, Sus.” Tanpa menunggu jawaban, ia langsung menyelipkan satu tangan di bawah lutut Tala dan tangan lainnya menyangga punggung pere
Geza langsung beringsut mendekat, lalu menarik Tala ke dalam pelukannya. Erat sekali.Jauh lebih erat dari biasanya.Tala sempat membeku beberapa detik. Baru setelah menyadari tubuh pria itu benar-benar menempel padanya, ia perlahan mengangkat tangan dan membalas peluknya. Bisa Tala rasakan detak jantung pria itu berpacu dengan hebat.“Mas... aku beneran nggak apa-apa.”Pelukan itu tidak mengendur.Justru semakin erat, seakan Geza masih perlu memastikan sendiri bahwa perempuan yang ada di dalam pelukannya benar-benar baik-baik saja.”Serius aku gapapa.””Mas...”Saat itulah Geza melepas peluk. Matanya menyapu tubuh Tala dari kepala sampai kaki. “Kamu nggak apa-apa?”“Aku gapapa.” ulang Tala sekali lagi.“Mana yang sakit?”Tala menggeleng. “Cuma lecet sama luka kecil. Dokter juga udah periksa.”“Pusing?”“Sedikit.”“Mual?”“Nggak.”Geza masih menatapnya, belum puas dengan jawaban itu. Tangannya terangkat, menyentuh pelipis Tala yang tertutup plester bening. Jemarinya berhenti di sana, b
“Ada keluarga yang bisa dihubungi, Mbak?” tanya suster yang baru saja selesai memasang perban di siku Tala.“Ada nomor telepon yang bisa dihubungi, Mbak?” ulangnya ketika Tala hanya diam.Tala tergagap. Fokusnya masih belum sepenuhnya terkumpul. Plester bening menempel di pelipisnya, sementara kepalanya masih terasa berat dan berdenyut.Ia mengerjap beberapa kali. Pikirannya bergerak lambat, berusaha menangkap sesuatu yang seharusnya begitu sederhana.Tangannya refleks bergerak ke sisi tubuh, hendak meraih ponsel seperti yang biasa ia lakukan setiap kali membutuhkan nomor seseorang. Namun yang disentuhnya hanya ruang kosong.Baru saat itulah ingatannya seperti tersentak. Tas yang berisi ponsel dan semua barangnya hilang.“HP saya...” gumamnya pelan.“Kenapa, Mbak?”“Kayaknya... ikut hilang.”Suster itu terdiam sejenak, lalu kembali bertanya dengan suara lebih lembut.“Ada nomor yang Mbak hafal?”Tala memejamkan mata.Ia mencoba mengingat satu per satu nomor yang mungkin masih tersimpan
Satu minggu sudah berlalu sejak perdebatan malam itu. Tala membangun dinding pembatas setinggi mungkin. Setiap informasi mengenai Sansa disampaikan layaknya laporan kerja—dingin, kaku, dan efisien. Tala tak mau terlihat rapuh, apalagi menunjukkan bahwa kalimat Geza berhasil melukainya.Pagi ini, keh
Tidak ada yang benar-benar tidur nyenyak selama satu bulan terakhir. Duka perlahan mengubah ritme hidup mereka tanpa permisi. Tala terbiasa bangun karena tangisan tengah malam, sementara Geza mulai hafal cara menenangkan Sansaya sebelum anak itu benar-benar histeris. Ada kalanya mereka bergantian me
“Kamu gila kalau kamu setuju sama ide konyol itu.”Geza menoleh. “Mungkin.”Sebelum membawa Sansaya ke dokter anak, mereka sempat bicara soal hak wali ke pengacara kenalan Geza. Pengacaranya menyarankan satu hal paling konyol untuk menang dan melindungi semuanya.Menikah. Nikah kontrak, lebih tepat
Mobil Geza melaju membelah kemacetan Jakarta yang terasa jauh lebih menyesakkan dari biasanya. Di kursi penumpang, Tala mencoba menyandarkan kepalanya pada kaca jendela yang dingin, mencari sedikit sisa tenaga yang dia punya.“Temen kamu udah pulang langsung kerja?” tanya Geza tanpa sedikit pun men







