Partager

84- PWB

Auteur: Sora Carita
last update Date de publication: 2026-07-10 17:23:52

Tala terbangun ketika langit di luar mulai berangsur terang. Selama ini, setiap kali mereka berbagi kamar—bahkan saat masih ada Bude Sinta di rumah—Geza selalu menjadi orang yang lebih dulu bangun. Saat Tala membuka mata, pria itu biasanya sudah selesai mandi, membuat kopi, atau bahkan sibuk mengecek ponselnya.

Namun pagi ini berbeda. Geza masih tertidur pulas di sampingnya. Di ranjangnya.

Kalau yang pertama masih bisa disebut kebablasan, lalu yang ini apa?

Semalam bukan lagi sekadar kehilangan
Continuez à lire ce livre gratuitement
Scanner le code pour télécharger l'application
Chapitre verrouillé
Commentaires (5)
goodnovel comment avatar
Adfazha
Kyknya Geza pgn hub. nyata sm Tala nih mky smpt ajuin perpjg kontrak lama2 jd kontrak seumur hdp tp Tala mlh stuck di Transaksi PWB hadeh jd Geza ikuti alurnya Tala aja sing penting jatah lancar ya Za wkwkkkk
goodnovel comment avatar
El Craft
ceritanya super nagih, lanjut boleh lah Thor
goodnovel comment avatar
evi erfika
Hahahahah, makan aja tuh gengsi wkwkkwk
VOIR TOUS LES COMMENTAIRES

Dernier chapitre

  • Sebelum Tiga Tahun   132- Cerai Itu Apa?

    Berbeda dengan keluarga besar dari pihak Dharma yang mayoritas menetap di Jabodetabek, keluarga mendiang ibu Geza tersebar di berbagai daerah, mulai dari Yogyakarta hingga beberapa kota lain, bahkan ada yang menetap di luar negeri. Karena itu, perayaan ulang tahun Sansa menjadi salah satu momen langka yang mempertemukan mereka kembali di Jakarta.Salah satunya Bude Sinta, yang siang itu baru tiba dari Jepang. Tala sengaja menjemputnya langsung ke bandara sesuai permintaan Geza. Sudah hampir setahun mereka tidak bertemu. Selama itu pula, mereka hanya sesekali bertukar kabar atau melakukan panggilan video setiap kali Bude Sinta ingin melihat Sansa."Talaa..." Bude Shinta langsung merengkuhnya dalam pelukan hangat. "Aduh, Bude kangen banget."Tala tertawa pelan, balas memeluk wanita paruh baya itu."Gimana setahun ini?" Bude Sinta mengamatinya dari ujung kepala hingga kaki. "Geza nggak nakal kan? Nggak bikin kamu sedih kan? Kok Bude belum pernah denger kamu ngadu ke Bude?"Tala hanya ters

  • Sebelum Tiga Tahun   131- Jangan Mesum !

    Jam tidur Sansa selalu tepat pukul sembilan malam. Sebelum tidur, ada satu ritual yang tak pernah boleh terlewat: membaca buku.Siapa pun boleh membacakannya, tetapi favoritnya tetap Om Eja. Padahal, menurut Tala, cara Geza membaca cerita cenderung kaku dan datar. Tala bahkan sempat mengikuti kelas read aloud, tetapi belum juga berhasil merebut posisi favorit itu.Beberapa hari terakhir Geza lebih sering pulang larut karena pekerjaan. Alhasil, ritual itu hampir selalu diambil alih Tala atau Sus Lia. Malam ini pun Sansa sempat menunggu karena Geza sudah berjanji akan membacakan buku, tetapi menjelang jam tidur pria itu mengabari bahwa ia akan pulang terlambat.Setelah cukup lama berceloteh tentang pesta ulang tahunnya yang tinggal empat hari lagi, Sansa akhirnya terlelap.Berselang kemudian, Geza membuka pintu kamar Sansa dengan langkah tergesa. Begitu melihat Tala mengangkat telunjuk ke bibir, pria itu langsung paham."Sorry. Tadi ada trouble di kantor."Ia menjatuhkan diri duduk di sa

  • Sebelum Tiga Tahun   130- Tala Kalaluna

    Hari itu Adrian datang ke Janitra untuk final review laporan forensik proyek revitalisasi yang hampir setahun terakhir mereka kerjakan. Rapat berlangsung tak terlalu lama. Begitu seluruh catatan akhir disepakati dan berkas resmi ditandatangani, Tala mengajak Adrian ke ruangannya. Ia membuka laci meja, lalu mengeluarkan dua amplop berwarna krem dengan emboss logo Janitra."Oh iya, Kak Adrian." Tala menyodorkannya sambil tersenyum. "Sabtu nanti Sansa ulang tahun. Dateng, ya. Yang satu lagi buat Kak Jia."Adrian menerima kedua amplop itu. Sudut bibirnya terangkat."Wah... akhirnya empat tahun juga."Tala mengangguk kecil."Iya. Cepet banget rasanya.""Nanti aku dateng," jawab Adrian sambil menyelipkan kedua undangan itu ke dalam map yang dibawanya.Tala tersenyum. "Kakak langsung balik ke kantor?"Adrian menggeleng pelan. "Belum tentu. Kenapa? Masih ada yang mau dibahas?""Bukan.""Aku mau ngajak makan siang. Sekalian ngobrol."Adrian mengangguk tanpa banyak berpikir. "Boleh. Di mana?""

  • Sebelum Tiga Tahun   129- Makin Menjadi

    Menjelang siang, Bi Yuni sudah menyiapkan makan siang untuk mereka. Setelah perut kenyang dan kartun yang ditonton Sansa berakhir, bocah itu mulai gelisah mencari kegiatan baru."Tata... bikin kukis, yuk.""Yaya bobo siang dulu."Sansa menggeleng sampai poninya bergoyang."Nggak mau. Yaya mau bikin kukis. Kayak di sekolah."Tala yang memang tak punya agenda lain akhirnya mengangguk.Tak lama kemudian, berbagai bahan sudah terhampar rapi di atas kitchen island. Soal memasak, Tala sadar kemampuannya biasa saja—bahkan masih kalah jauh dibanding Jani. Dulu, sebelum kakaknya itu menikah, hampir semua urusan dapur memang diambil alih Jani.Tapi kalau urusan baking, ceritanya berbeda.Waktu kuliah, Tala pernah bekerja paruh waktu di toko kue milik tetangganya. Awalnya hanya membantu melayani pelanggan, tetapi lama-kelamaan ia ikut belajar membuat kukis dan aneka dessert."Tante, aku rebahan aja ya di sini." Hanum sudah kembali mengambil posisi favoritnya di sofa abu. "Nggak bisa bantu. Gravi

  • Sebelum Tiga Tahun   128- Foto di Grup

    Mereka baru tiba di rumah sekitar pukul tiga dini hari.Begitu mobil berhenti, Tala nyaris berlari masuk tanpa menunggu Geza. Ciuman-ciuman di dalam mobil tadi sudah lebih dari cukup membuat logikanya limbung. Ia memilih mengurung diri di kamar sebelum pria itu kembali mengacak-acak keputusannya.Sungguh.Sedikit tatapan yang terlalu dalam, beberapa kalimat manis, lalu ciuman yang membuat kepalanya kosong.Laki-laki memang berbahaya. Apalagi kalau laki-laki itu bernama Geza.Pikiran itulah yang menjadi hal terakhir sebelum kantuk akhirnya mengalahkan Tala.Saat kembali membuka mata, Tala langsung mengerjap beberapa kali. Langit di balik tirai sudah terang. Jam di atas nakas menunjukkan pukul sembilan pagi. Setelah membersihkan diri sekadarnya, Tala turun ke lantai bawah.Namun Geza tidak ada.Yang terdengar hanya suara televisi dari ruang keluarga. Sansa sedang menonton kartun, sementara Hanum rebahan santai di sofa abu favoritnya."Morning, Tan. Pules banget nih tidurnya.""Morning."

  • Sebelum Tiga Tahun   127- Gimana Mau Cerai?

    Pertanyaan sederhana itu terasa seperti pengulangan dari percakapan yang pernah Amika lontarkan padanya.Kalau Geza menyatakan cinta, apa Tala masih akan pergi?Saat itu jawabannya mudah. Iya.Karena Tala sudah merasa tahu akhirnya. Ia tahu Geza rumit. Ia tahu ada Kinan dan kenangan delapan tahunnya. Ia tahu pria itu punya sisi yang bisa membuatnya terluka.Tapi sekarang...Geza melemparkan pertanyaan yang sama dalam bentuk berbeda. Bukan tentang cinta, apalagi perasaan. Tapi tentang kemungkinan. Jadi apa yang harus Tala jawab saat sepasang mata itu menyorotnya begitu dalam?Tala mengembuskan napas pelan, berusaha menarik kembali kendali atas logikanya. Tatapan dan sentuhan Geza memang selalu punya cara mengacaukan pikirannya. Seolah pria itu tahu persis tombol mana yang harus ditekan agar semua argumen di kepalanya mendadak kehilangan suara."Geza..."Pria itu menunggu."Semua perlakuan kamu malam ini..." Tala menatapnya. "Semua ucapan manis kamu... cuma buat bikin aku sampai ke perta

  • Sebelum Tiga Tahun   5- Tawaran Perlindungan

    “Kamu gila kalau kamu setuju sama ide konyol itu.”Geza menoleh. “Mungkin.”Sebelum membawa Sansaya ke dokter anak, mereka sempat bicara soal hak wali ke pengacara kenalan Geza. Pengacaranya menyarankan satu hal paling konyol untuk menang dan melindungi semuanya.Menikah. Nikah kontrak, lebih tepat

  • Sebelum Tiga Tahun   4- Proposal Tak Terduga

    Mobil Geza melaju membelah kemacetan Jakarta yang terasa jauh lebih menyesakkan dari biasanya. Di kursi penumpang, Tala mencoba menyandarkan kepalanya pada kaca jendela yang dingin, mencari sedikit sisa tenaga yang dia punya.“Temen kamu udah pulang langsung kerja?” tanya Geza tanpa sedikit pun men

  • Sebelum Tiga Tahun   3- Rumah Bagi Sansaya

    Menjaga Sansaya setiap hari ternyata sanggup menguras seluruh kewarasan Tala. Begitu dia terbangun, wajah kuyu dengan lingkaran hitam yang menghias bawah mata langsung menyambutnya.Tala melangkah gontai menuju ruang makan, mengambil segelas air putih, lalu duduk tepat di hadapan Geza. Pria itu suda

  • Sebelum Tiga Tahun   2- Warisan Rumit

    Tala tak sanggup mencerna kalimat itu. Menikah dengan adik kakak iparnya? Sebutannya memang masih keluarga, tapi mereka hanya dua orang asing yang kebetulan terhubung karena sebuah pernikahan kedua kakaknya.“Kamu gila?” Tala mendengus, tawa hambar keluar dari bibirnya yang pucat. “Akal sehat kamu k

Plus de chapitres
Découvrez et lisez de bons romans gratuitement
Accédez gratuitement à un grand nombre de bons romans sur GoodNovel. Téléchargez les livres que vous aimez et lisez où et quand vous voulez.
Lisez des livres gratuitement sur l'APP
Scanner le code pour lire sur l'application
DMCA.com Protection Status