Se connecterPintu kayu jati berukir itu mengayun terbuka, mengungkapkan atmosfer tegang yang menyerbak di dalam ruangan kerja John. Hazel sempat menyatukan kedua alisnya, mencoba mencerna pemandangan di hadapannya sebelum matanya mengenali raut wajah pria paruh baya bertubuh tegap di atas sofa.Rupanya yang datang adalah Tuan Baron, yakni papa dari Axel.Sebuah kedutan sinis muncul di sudut bibir Hazel. Semula, Hazel pikir Axel yang akan datang mencarinya dengan segala drama dan raungan emosionalnya. Namun ternyata, Axel benar-benar tidak punya nyali sama sekali untuk berhadapan langsung dengannya. Pria itu justru sembunyi di balik ketiak ayahnya dan menyuruh sang papa yang menyelesaikan kekacauan ini. "Sangat tipikal Axel! Tidak pernah bisa mengatasi masalah dengan cara dewasa! Benar-benar kekanakak!" batin Hazel sembari menahan dorongan untuk memutar bola matanya keras-keras.Hazel pun masuk lalu duduk berseberangan dengan Baron, menegakkan punggungnya tanpa memperlihatkan sedikit pun keragu
Hazel memejamkan mata sejenak, menarik napas dalam-dalam lalu menghembuskannya perlahan. Ia tidak boleh membiarkan pikirannya terus-menerus digerogoti oleh bayang-bayang Axel. Ini adalah dunia kerja, tempat di mana dedikasi dan reputasinya dipertaruhkan, bukan panggung drama picisan tempat ia harus meratapi nasib. Hazel sadar betul, dirinya tidak boleh seperti ini hanya karena masalah Axel. Bagaimanapun situasinya, ia tetap harus bersikap profesional dan memisahkan secara tegas antara urusan pribadi yang berantakan dan tanggung jawab pekerjaan.Hazel memutar posisi duduknya menghadap Bu Senja. Ia menyunggingkan senyum tipis yang diusahakan sealami mungkin, meski raut lelah di matanya tak sepenuhnya bisa disembunyikan."Saya cuma sedikit kelelahan saja, Bu Senja," ucap Hazel halus, berusaha menenangkan raut khawatir di wajah atasan sekaligus mentornya itu. "Semalam ada beberapa urusan yang cukup menyita waktu dan pikiran, jadi kurang tidur."Bu Senja menatap Hazel intens selama beber
Pagi itu, pendar sinar matahari menerobos masuk melalui celah gorden tinggi di ruang makan keluarga John, memantul hangat di atas meja kayu mahoni yang dipenuhi hidangan sarapan. Namun, di balik kemewahan dan kehangatan visual ruangan itu, ada atmosfer aneh yang merayap dingin.Hazel duduk menatap piringnya yang masih terisi separuh. Jemarinya yang menggenggam garpu membeku di udara. Saat mengunyah potongan roti panggangnya perlahan, Hazel merasa ada sesuatu yang teramat aneh. Suasana rumah pagi ini begitu tenang, sangat tenang hingga terasa tidak alami, seolah-olah peristiwa berdarah di pelataran butik semalam hanyalah mimpi belakangan. Tak ada satu pun suara piring yang dibanting, tak ada tatapan menghakimi dari ibu tirinya, dan yang paling membingungkan, tak ada suara membentak dari papanya.Sama sekali tidak ada yang menyinggung soal keputusannya membatalkan pernikahan dengan Axel.Padahal, jika mengikut pola normal selama bertahun-tahun Hazel hidup di rumah ini, jika papanya ta
Arlo terdiam sejenak mendengar pertanyaan dari mamanya. Kata 'dendam' yang meluncur begitu tenang dari bibir sang mama seketika merenggut habis sisa-sisa binar gembira di wajah tegapnya. Keheningan yang dingin membeku di antara mereka, memutus atmosfer hangat yang baru saja tercipta beberapa detik lalu.Entah kenapa, dada Arlo mendadak berdesir tidak nyaman. Ia merasakan sebuah denyut sesak yang merayapi benaknya, membuatnya mendadak kehilangan mood untuk melanjutkan percakapan malam itu.Arlo menegakkan posisinya, memalingkan pandangan dari tatapan menuntut sang mama. "Ma... aku masuk ke kamar dulu ya. Sudah malam, Mama juga harus istirahat," ujar Arlo dengan suara rendah yang terdengar teramat datar, memotong pembicaraan mereka secara halus namun tegas.Mamanya tidak memaksanya untuk menjawab. Wanita paruh baya itu hanya mengangguk pelan, memberikan senyuman tipis yang sarat akan kepasrahan sembari menatap punggung tegap putranya yang berlalu menaiki anak tangga satu per satu.Pand
Suasana kediaman keluarga John malam itu diselimuti oleh keheningan yang mencengkeram. Begitu Hazel mendorong pintu depan yang berat dan melangkah masuk, tidak ada satu pun orang yang menyambutnya. Seluruh sudut rumah megah berarsitektur klasik itu tampak remang, hanya diterangi oleh pendar lampu dinding bernuansa kuning temaram.Hazel menghentikan langkahnya di tengah ruang tengah, mengedarkan pandangan ke sekeliling. Sunyi. Itu berarti semua orang sudah tidur, termasuk John dan ibu tirinya.Sebuah helaan napas lega yang teramat panjang lolos dari bibir Hazel. Bahunya yang tegang sejak insiden di pelataran butik perlahan meluruh rileks. Setidaknya, untuk malam ini, Hazel bisa beristirahat sejenak di kamar bahagianya tanpa perlu menghadapi tatapan menghakimi dari sang papa. Ia tak perlu menghabiskan sisa tenaganya yang telah terkuras habis hanya untuk meladeni perdebatan kusir yang sia-sia. Walaupun memang mungkin hari ini Hazel bisa lolos, tapi keesokan harinya pasti papanya tida
Hazel tidak peduli lagi. Tanpa menghiraukan ucapan dari Axel, ia membalikkan badan dengan gerakan tegas. Jemarinya mencengkeram erat lengan kemeja Arlo dan Yaya secara bersamaan."Ayo masuk. Abaikan saja dia," ucap Hazel dengan nada dingin yang menyiratkan keputusannya tak bisa diganggu gugat.Hazel mengajak Arlo dan Yaya untuk mengabaikan Axel begitu saja. Mereka melangkah cepat melintasi pelataran, mendorong pintu kaca butik, lalu segera mengunci pintu butik itu dari dalam. Suara kait kunci yang berputar terdengar begitu nyaring di tengah keheningan malam, menegaskan sebuah batas tegas yang kini membentang di antara Hazel dan pria dari masa lalunya itu.Sementara itu, di dalam sedan silver yang terparkir tak jauh di bawah kerindangan pohon akasia, Luna yang sedari tadi memperhatikan seluruh adegan dramatis itu dari jauh mengulas senyum miring. Dari balik kaca mobil yang gelap, ia menyaksikan bagaimana Hazel menyeret kedua orang itu masuk dan membiarkan Axel berdiri mematung sendir
Entah kenapa Hazel merasa jika senyuman Arlo begitu familiar, seperti ia pernah melihatnya sebelumnya. Hanya saja Hazel tidak bisa mengingatnya dengan jelas. Denyut di pelipis Hazel kian mengencang. Ia memejamkan mata sesaat, berusaha keras menggali tumpukan memori di kepalanya, mencari tahu di ma
Sumpah matinya untuk tidak lagi menjadi wanita tertindas bergaung kuat di kepalanya. Hazel mengangkat telapak tangannya tinggi-high di udara, berniat melayangkan tamparan kedua yang jauh lebih keras ke pipi Mona.Namun, pergelangan tangan Hazel mendadak tertahan di udara. Sebuah cengkeraman yang ku
"Kau tidak bisa mencampakkanku begitu saja, Arlo! Hubungan kita tidak bisa berakhir hanya karena keegoisanmu!" seorang wanita dengan gaun desainer mencolok berteriak, matanya sembap oleh air mata amarah. Pria yang dipanggil Arlo itu berdiri tegak, memunggungi Hazel. Postur tubuhnya tinggi tegap,
Lampu kristal di langit-langit restoran mewah itu berpendar redup, memantulkan bayangan dua orang yang kontras di lantai marmer. Hazel mencengkeram tepi meja, jemarinya gemetar hebat menahan rasa sakit yang mendadak menjalar hebat dari dadanya. Napasnya terengah, terasa berat dan beracun. Di depan







