Masuk"Benarkah Ayah sudah menemukannya?""Kenapa dia belum menghubungiku?""Kenapa mereka belum kembali ke sini? Apa Lily masih marah padaku?"Kiello menghela napas jengah sambil memangku putrinya yang terlelap di sofa ruang rawat. Karena Natsuki harus pulang ke rumah dan Geovano harus mencari Lily yang ngambek, arsitek tampan itulah yang kini ditugaskan untuk menemani sang kakak tiri di sini.Sekaligus meladeni pertanyaan super cerewetnya yang mengkhawatirkan sang istri."Ayah sudah bilang, kan? Lily ada urusan. Makanya belum bisa ke sini lagi!" jelas Kiello yang ingin sekali marah pada pria sipit yang biasanya galak dan bersikap seolah tidak punya hati itu."Tapi urusan apa? Dia tidak punya urusan selain menyiram tanamannya di rumah," tanya Benji lagi."Ya mana kutahu, Ayah saja tidak menjelaskan. Bagaimana aku bisa tahu?" "Kalau tidak tahu seharusnya kau mencari tahu!""Kenapa kau tidak cari tahu sendiri?""Kalau bisa juga aku tidak mungkin bertanya padamu!""Yasudah, karena tidak bisa
Benji terbangun dengan sebelah tangannya yang terasa berat.Begitu berhasil membuka mata dengan sempurna, Benji tersenyum lega melihat kehadiran perempuan cantik yang kini tengah terlelap sambil menenggelamkan wajah di sisi tubuhnya. Dia menggenggam tangan besar Benji yang terbebas dari infus begitu erat, seolah takut jika sang suami akan kabur."Sejak kapan dia tidur di sini? Pasti tidak nyaman ...," gumam Benji sambil memandang lekat istrinya yang kini setengah wajahnya tertutup rambutnya sendiri.Belum lama memperhatikannya, Lily yang tiba-tiba mengerjap dan membuka mata membuat senyum Benji sontak tersungging lebar. Dan Lily yang menyadari suaminya telah bangun, sontak duduk dengan tegak sambil mendelik terkejut."Kapan Mas Benji sadar?" tanya perempuan itu tidak santai."Belum lama ...," jawab pria itu sedikit serak."Kenapa tidak membangunkanku?!" bentak Lily tiba-tiba dengan wajah marah sambil bangkit berdiri."Aku pikir kau masih mengantuk ...," jawab Benji sedikit terkejut de
Firasat buruk Lily rupanya menjadi kenyataan.Mimpi buruk itu tersuguh di depan mata begitu Lily terbangun dari tidur. Datang bersama kabar dari Kiello bahwa suaminya sedang berada di rumah sakit sejak tengah malam tadi.Benji tertembak oleh Abia. Pria sipit itu dijebak di rumahnya sendiri bersama sang ayah oleh mantan istrinya. Entah bagaimana bisa perempuan itu masuk ke rumah mereka, yang jelas suaminya kini berada dalam bahaya.Bagaimana bisa Lily bisa tidur nyenyak sejak semalam dan baru diberitahu sekarang?Natsuki dan Akane bahkan sudah ada di rumah sakit. Seluruh keluarga berkumpul di sana untuk melihat keadaan suaminya. Hanya Lily yang baru dikabari pagi ini."Tidak bisakah kau menyetir sedikit lebih cepat?!" Rasa kesal yang bersarang di dada membuat Lily menegur ketus Kiello yang kini duduk di kursi kemudi untuk menjemputnya."Tidak perlu buru-buru, Lily. Bahaya ...," sahut Kiello lembut sambil sejenak melirik raut wajah ipar sekaligus sahabatnya yang tampak marah."Kalau kau
Mobil Benji tiba-tiba mogok di jalan menuju rumah ayahnya.Entah apa yang salah dari mobil yang baru diservice beberapa hari lalu tersebut, yang jelas mesinnya mati total di jalan yang sepi. Beruntung ada Geovano yang lewat memang untuk menemuinya ke rumah. Atas usulan Geovano, Benji pun tidak jadi menemui sang istri yang kini telah aman di rumah ayahnya. Pria sipit itu memilih fokus mencari siapa pelaku di balik teror cukup berani di rumahnya sambil menunggu mobil yang diperiksa oleh montir.Namun, belum lama berada di sana, Benji mendapat telepon dari salah satu pembantu di rumahnya. Siska, salah satu pelayan yang selama ini juga sudah lama bekerja padanya, menginformasikan bahwa pelaku telah tertangkap dan diamankan di rumah.Namun, perempuan itu bilang tidak ada yang mengenalinya. Jadi, tanpa pikir panjang, Benji dan Geovano yang sudah kelewat penasaran segera ke rumah Benji untuk mengeceknya.Siapa sangka, sesaat ayah dan anak itu memasuki rumah, pintu tiba-tiba terkunci dari lu
Suasana di kediaman Benjamin Kaisar terasa mencekam. Apalagi setelah Lily diantar ke rumah mertuanya.Kini, sang tuan rumah tidak lagi berusaha menahan amarahnya. Karena sebelum hadirnya Lily di rumah ini, Benjamin Kaisar memang bukan tipe majikan yang disukai para pekerjanya."Sebenarnya untuk apa aku menggaji kalian? Tidak ada yang bekerja dengan becus di sini!"Seperti sore ini, Benji memaki para penjaga baru yang belum genap dua hari bekerja di rumahnya. Tidak terkecuali para pelayan yang juga jadi sasaran kemarahan."Kemarin kalian lihat sendiri, ada yang meneror istriku dengan bangkai tikus dan darah. Barang itu berhasil masuk ke rumah dengan mudah.""Aku sudah memperingati, memerintahkan kalian untuk lebih waspada.""LALU BAGAIMANA BISA TEROR ITU SEKARANG BISA MASUK KAMARKU?!""Apa gunanya aku menambah penjaga? Kalian semua tidak bekerja!" Benji memaki orang-orang yang bahkan tidak tahu harus membela diri dengan kalimat macam apa. Karena bersuara pun rasanya sangat menakutkan,
"Kenapa kau memecat mereka?!"Pagi-pagi sekali, Lily sudah mendapati kabar bahwa Benji sudah memecat lima penjaga yang sudah bekerja bertahun-tahun padanya. Hal yang tentu saja langsung membuat perempuan itu tidak suka."Mereka tidak berguna. Untuk apa aku melihat mereka di sini?" sahut Benji santai sambil memakai dasi guna siap-siap berangkat kerja.Lily yang baru saja kembali dari dapur setelah membantu pembantu yang lain membereskan meja makan, sontak berjalan mendekat dan berdiri di depan suaminya sambil menyorot tajam."Mereka tidak tahu soal paket itu karena biasanya aku memang sering menerima paket, Mas. Kenapa kau marah sekali?" tanya Lily tidak habis pikir.Namun, Benji malah mengabaikannya dan sibuk berkaca."Kau tidak memikirkan para penjaga itu yang mungkin saja susah mendapat pekerjaan baru di luar sana? Kau tidak memikirkan anak istri mereka? Mereka sudah lama bekerja padamu, bagaimana kau bisa begitu mudah memecat mereka, Masss?" rengek Lily sambil menarik lengan suamin







