เข้าสู่ระบบPersiapan pernikahan Cakra dan Arum dikerjakan berdua. Keduanya mewujudkan impian pernikahan yang mereka inginkan. Walaupun ada cekcok sedikit tapi semuanya tidak sampai bubar. "Sayang, tidak lama lagi kita akan menikah. Aku sudah tidak sabar. Kamu tahu aku semangat sekali untuk menikah dengan kamu. Apa kamu semangat dan bahagia menikah dengan aku?" tanya Cakra yang manja dengan calon istrinya Arum. Arum tertawa mendengar Cakra pria tampan yang manja ini mengatakan itu. "Kalau aku katakan manja kamu marah tidak?" tanya Arum. "Kenapa aku dikatakan manja. Aku tidak manja, aku hanya sedikit ingin memeluk kamu. Aku tidak sabar untuk menjadikan kamu istri. Kamu jangan kerja lagi ya. Eh, kamu kerja saja temani aku di kantor jika aku ingin kamu dan rindu kamu aku bisa langsung peluk kamu. Kamu tidak boleh jauh dari aku." Arum menggelengkan kepala mendengar apa yang dikatakan oleh Cakra. Dia tidak menyangka kalau Cakra berkata seperti itu."Jadi maksudmu kalau aku kerja di kantormu nanti
Cakra mendengus kesal dia akhirnya ikut. Ayahnya itu tidak bisa diajak kerja sama dan ayahnya terlalu memaksa dirinya hingga dia mau tidak mau ikut dengan kedua orang tuanya. Cakra diminta memakai pakaian yang sudah disiapin oleh orang tuanya. Sekali lagi, Cakra mau tidak mau melakukannya dan dia memakai pakaian batik yang sangat formal. "Kita ini mau kemana sih? Aku ini seperti dijebak oleh kalian. Apa kalian mau jodohkan aku dengan wanita lain?!" Cakra risau dengan tingkah orang tuanya yang ditanya tidak mau jawab malah mereka terlihat tenang. "Dengar ya, aku sudah punya kekasih jadi jangan nikahin aku dengan gadis lain. Jika itu terjadi maka aku akan pergi dari rumah." Cakra sekali lagi memperingati orang tuanya untuk tidak ikut campur urusan kehidupan dia. "Kamu bisa diam tidak? Kamu ini berisik sekali. Kamu jalankan saja mobil ini dan ikuti arahanku. Kamu tidak perlu banyak bicara." Lintang kesal dengan anaknya sedari di rumah sampai di jalan selalu saja mengomel dan marah hin
"Ma. Kenapa diam? Jawab Ma. Benar tidak yang Papa katakan?" tanya Cakra ke Hana. Hana lagi-lagi tidak bisa menjawabnya. Hana menoleh ke arah Lintang yang memalingkan wajahnya dari dirinya. "Kenapa kamu tidak jawab. Ayo jawab. Anakmu bertanya itu. Kamu benar-benar keterlaluan sekali. Kamu yang sudah buka suara kamu malah diam seribu bahasa. Apa-apaan ini." Hana kesal dengan Lintang lepas tangan. "Cakra, kamu jangan dengarkan papamu itu. Dia asal bicara. Kalau memang asisten kamu itu mau lamaran pasti dia beritahukan ke kamu. Sudah lupakan saja," jawab Pak Irwandi mewakili Lintang menjawab pertanyaan cucunya. Cakra menatap kakeknya lekat. Dia mau tahu apakah benar yang kakeknya katakan. Apakah kakeknya tidak bohong. Dan dari sorot matanya kakeknya benar. "Baiklah. Aku mau ke kamar. Kalian benar-benar mencurigakan sekali." Cakra geleng kepala dengan tingkah ayahnya. Dia tahu betul ayahnya itu jahil dan suka menggoda dia dan ibunya. Tapi, biarpun jahil dia sayang pada ayahnya. Pak
Lintang geleng kepala. Dia tidak berani untuk mengatakan penolakannya di depan Hana. Bisa bahaya dia nantinya. "Kita pulang saja. Ayo cepat, " cicit Lintang yang segera bergerak menuju mobil. Hana pun ikut pulang tadi dia pamitan dulu dengan keluarga angkat Arum dan mengatakan akan datang lagi hari sabtu malam minggu. Arya terharu karena anaknya diterima oleh Hana. Dia berpikir Hana tidak mau menerima anaknya. Akan tetapi dia menerimanya. Arya pun pulang dan memberitahukan ke ayah dan ibunya. Tanggapan mereka bahagia. Mendengar keluarga Lintang mau menerima cucu mereka. "Arum harus dibawa ke sini. Kita buat acara mewah. Jangan buat keluarga kita malu. Mama mau cucu mama itu bahagia. Oh ya, mama mau ketemu dengan cucu mama. Kamu kapan baw kami ketemu dia. Ayolah, kenalkan mama dan Papa ke cucu satu-satunya itu. Kamu mau kan?" tanya Ibu kandung Aryaberharap anaknya bisa mengajak dia bertemu dengan cucunya. "Benar itu. Kami juga mau bertemu dia. Dan kami mau dia mengenal kami. Kita
"Kita nikah saja baru kita ketemu dengan orang tua kita. Bagaimana? Apakah kamu mau menikah denganku?" tanya Cakra membuat Arum melotot. "Tidak. Aku tidak mau. Sudahlah, aku pusing. Kamu jangan buat aku pusing dengan permintaan kamu itu." Arum mengabaikan Cakra yang meminta mereka menikah baru meminta restu dari keluarga. Cakra menghela napas panjang mendengar apa yang dikatakan oleh Arum. Cakra kembali ke mejanya dan duduk di kursi. Cakra menatap Arum dengan penuh cinta. Dirinya tidak mau kehilangan Arum. Jika orang tuanya tidak suka maka dia akan perjuangkan. Lintang yang sudah mendapatkan alamat dari Arum segera pergi ke rumahnya bersama Hana. "Sayang, kamu yakin mau temui orang tua angkat Arum? Apa kamu sudah setuju dengan mereka?" tanya Hana penasaran dengan Lintang yang tiba-tiba saja ingin ke rumah orang tua angkat Arum yang katanya polisi. "Aku hanya ingin tahu apa yang terjadi. Bukan setuju. Bedakan ya." Lintang tidak suka dengan apa yang dikatakan oleh Hana. Hana terse
"Kamu setuju dengan dia? Kamu tidak masalah anakmu menikah dengan orang yang sudah mencelakai kita berdua. Kamu tidak ingat, bagaimana kejamnya mereka, Hana?" tanya Lintang tidak percaya jika Hana malah luluh dengan apa yang anaknya lakukan. Hana menghela napas. Dia tahu kedua orang tua Arum seperti apa dengan dirinya. Tapi, dia tidak bisa berkata-kata banyak karena sosok Arum berbeda dengan orang tuanya. Dia tidak sama dan dia terlihat baik dan sopan. "Dia tidak sama dengan ayah dan ibunya. Dia diasuh dengan orang yang benar. Dia tidak jahat. Kamu tidak lihat bagaimana sederhananya dia tadi. Aku suka dengan dia. Dia manis dan lucu. Cocok dengan menantuku. Kamu coba deh resapi dia maksudnya aku lihat sisi positif dari anak itu eh maksudnya Arum. Coba sekali saja kamu lihat dia. Jangan lihat orang tuanya. Anak kita tidak menikah dengan mereka tapi Arum."Hana kembali mengatakan kesukaan dia ke Arum. Dia bisa merasakan kalau Arum itu jauh dari ibu dan ayahnya. Dia memiliki sesuatu yan
"Pak Irwandi. Kenapa Anda ada di sini. Aduh sakit sekali. Dan kenapa Bapak mengejutkan saya. Kalau saya kena serangan jantung bagaimana," cicit Mario yang segera bangun perlahan sambil memegang meja. Mario geleng kepala melihat kelakuan dari ayah bosnya ini. "Lagian kamu kenapa memandang wanita it
Lintang terdiam, dia tidak bisa mengatakan apa yang Hana tanyakan kepada dia. Gairahnya yang tadi sudah di ubun-ubun kini hilang mendengar perkataan dari Hana. Dia tidak mungkin mengatakan Hana istrinya. Sedangkan dia sudah mengatakan di awal kalau dia tidak menganggap Hana itu istrinya. Tapi seka
Hana yang melihat situasi semakin tidak kondusif langsung menengahi keduanya."Maaf, Arya. Saya pulang dulu ya nanti kita bicarakan lagi. Oh, ya berikan nomormu nanti aku hubungi." Hana meminta nomor telepon dari Arya karena dia ingin berbicara dengan Arya nantinya. "Hmm, baiklah. Mana ponselmu ak
Hana hanya bisa tersenyum mendengar apa yang dikatakan oleh Ibu Ami. Dia juga bingung harus berkata apa. Apakah dia harus katakan dari hati atau dia katakan kalau dirinya diancam oleh Lintang.Hana menggelengkan kepala menandakan kalau semuanya bukan dari hatinya."Maaf sebelumnya. Kalau ibu tanya







