LOGINCakrawala Andromeda tidak lagi berwarna jingga atau perak; ia telah berubah menjadi pusaran kelabu yang mendidih. Di satu sisi, armada The Sentinels of Order memancarkan frekuensi penghapusan yang murni, sebuah simfoni cahaya yang dingin. Di sisi lain, awan hitam The Hollowed yang dipimpin oleh Yudha merangkak dari arah Bima Sakti seperti kabut kematian yang lapar, membawa dendam jutaan nyawa yang pernah dikorbankan Arka. Di tengah jepitan dua kiamat ini, benteng Aethelgard tampak seperti titik kecil yang rapuh.Valerie Adiwangsa berdiri di pusat balkon observasi yang kini telah retak. Angin kosmik menyapu rambut peraknya, dan matanya memancarkan otoritas yang melampaui segala hukum alam. Di belakangnya, Arka dan Malakor berdiri dalam jarak yang sangat dekat—sebuah pemandangan yang mustahil terjadi beberapa jam yang lalu. Arka dengan nafasnya yang berat dan berbau entropi, dan Malakor dengan sirkuit emasnya yang bergetar karena beban kalkulasi yang gagal."Waktunya habis," suara Val
Fajar di Bumi mungkin telah menyingsing, namun di kedalaman kosmos Andromeda, kegelapan memiliki cara tersendiri untuk bersembunyi di balik cahaya perak yang megah. Istana baru klan Adiwangsa yang dibangun Valerie berdiri sebagai monumen rekonsiliasi, namun di ruang-ruang bawah tanahnya yang terdalam—tempat di mana sensor Void Arka sengaja dilemahkan—sebuah denyut energi frekuensi tinggi mulai berdetak. Itu bukan denyut jantung, melainkan ritme kalkulasi mesin yang dingin.Malakor duduk di tengah lingkaran kristal data yang memancarkan hologram fragmen jantung Zarek. Anak itu—yang kini secara fisik telah mencapai kematangan seorang pria dewasa namun dengan sorot mata yang melampaui usia semesta—menatap sisa-sisa paman yang ia hancurkan sendiri. Malakor tidak merasakan penyesalan. Baginya, penyesalan adalah residu emosional yang tidak efisien. Ia sedang melakukan apa yang ayahnya tidak sanggup lakukan: Memisahkan Kekuatan dari Dosa."Logika Ayah telah dikontaminasi oleh rasa bersalah
Andromeda tidak lagi memutih oleh cahaya The Sentinels, namun sisa-sisa badai kosmik itu meninggalkan rona jingga permanen di cakrawala ruang angkasa, seolah-olah galaksi itu sedang berada dalam senja abadi. Di anjungan utama Aethelgard, Valerie Adiwangsa berdiri menatap melalui jendela kaca kristal yang retak. Di bawah sana, planet-planet yang dulu diatur oleh logika kaku Malakor kini mulai berdenyut dengan frekuensi baru—frekuensi yang tidak stabil, penuh dengan emosi mentah yang dilepaskan oleh "Keseimbangan" Valerie.Valerie menarik napas dalam, merasakan beratnya mahkota yang tidak kasat mata di kepalanya. Ia bukan lagi sekadar permaisuri; ia adalah penengah antara kehampaan yang melahap dan cahaya yang menghakimi. Namun, harga dari kedudukan ini adalah kelelahan jiwa yang luar biasa. Setiap kali ia memejamkan mata, ia masih mendengar jeritan jutaan nyawa yang diserap Arka di Bumi.Langkah kaki yang berat dan terseret terdengar di belakangnya. Arka Adiwangsa muncul dari balik b
Langit Andromeda tidak lagi bergolak, namun ia memutih dengan cahaya yang menyakitkan mata. Bukan cahaya bintang, melainkan kehadiran armada The Sentinels of Order yang telah mengepung sistem bintang biner tempat istana baru klan Adiwangsa berada. Kapal-kapal mereka tidak berbentuk mesin; mereka adalah geometri suci yang terbuat dari kristal murni dan frekuensi suara yang harmonis namun mematikan. Di tengah kepungan itu, benteng Aethelgard tampak seperti noda hitam di atas kanvas putih yang sempurna.Valerie Adiwangsa berdiri di anjungan utama, menatap proyeksi hologram raksasa yang menampilkan sesosok entitas tanpa wajah, hanya berupa siluet cahaya yang dikenal sebagai The Arch-Judge. Entitas itu tidak bicara dengan kata-kata, melainkan langsung menyuntikkan kehendaknya ke dalam kesadaran Valerie."Katalisator Valerie Adiwangsa," suara itu bergema seperti ribuan lonceng perak. "Eksistensi klanmu adalah kanker bagi jalinan realitas. Arka Adiwangsa telah melakukan dosa entropi denga
Atmosfer Andromeda yang tadinya perak steril kini tercemar oleh jelaga hitam sisa-sisa ritual entropi Arka. Langitnya tampak memar, perpaduan antara ungu tua dan emas yang memudar. Di pusat reruntuhan Istana Logika, kesunyian yang mengerikan menyelimuti segalanya. Tidak ada lagi raungan mesin atau perintah telepatis yang dingin. Yang terdengar hanyalah helaan napas berat dan tetesan cairan hitam dari luka-luka Arka yang jatuh ke lantai kristal.Valerie Adiwangsa berdiri tegak di tengah kehancuran itu. Ia bukan lagi wanita yang gemetar di bawah dekapan posesif Arka, bukan pula inang yang dikendalikan oleh algoritma Malakor. Cahaya yang memancar dari tubuhnya sekarang adalah spektrum "Keseimbangan"—sebuah energi netral yang memaksa kegelapan dan cahaya untuk tunduk. Di kaki kirinya, Arka bersimpuh, tubuhnya gemetar saat parasit entropi di dalam sarafnya mencoba memberontak namun ditekan oleh aura Valerie. Di kaki kanannya, Malakor terduduk lemas, air mata emas masih mengalir di pipinya
Cahaya perak Andromeda yang biasanya stabil dan menenangkan kini bergetar hebat, seolah-olah ruang angkasa itu sendiri sedang mengalami kejang saraf. Di atas langit istana Malakor, lubang cacing yang tercipta dari pengorbanan jutaan nyawa manusia di Bumi terus memuntahkan kabut hitam yang pekat. Kabut itu bukan materi, melainkan Entropi Murni—sebuah ketiadaan yang aktif, yang memakan setiap foton cahaya yang menyentuhnya. Arka Adiwangsa melayang di tengah badai hitam tersebut. Jubahnya kini terbuat dari asap yang terus berbisik, suara-suara dari jutaan jiwa yang ia "bakar" untuk mencapai tempat ini.Matanya yang putih tanpa pupil menatap lurus ke arah balkon di mana Valerie berdiri. Arka tidak lagi merasakan gravitasi atau oksigen; parasit entropi di dalam sarafnya telah mengubahnya menjadi entitas yang hidup di luar hukum biologi. Ia tidak datang untuk bernegosiasi. Ia datang untuk perjamuan."Victoria..." suara Arka bergema di seluruh struktur ista







