Masuk
Aroma balsem murah dan keringat basi menyengat hidung, tapi Arga Dananjaya tidak peduli. Dunianya menyempit pada satu titik: bahu kanan seorang kuli bangunan yang membengkak sekeras beton.
"Sakit, Dok... ampun!" Pria paruh baya itu mengerang, giginya bergemeretak menahan nyeri.
"Tahan napas," perintah Arga. Suaranya rendah, tanpa emosi, namun memiliki otoritas yang membuat pasien itu menurut.
Arga tidak sekadar melihat bahu yang terkilir. Saat ujung jari-jarinya menyentuh kulit kasar yang tertutup debu semen itu, Hyper-Tactile Empathy-nya bekerja. Ia tidak hanya meraba otot; ia mendengar jeritannya. Ia bisa merasakan serat trapezius yang melintir, simpul fascia yang meradang, dan aliran darah yang tersumbat seolah-olah itu terjadi di tubuhnya sendiri. Rasa sakit pasien mengalir ke ujung saraf Arga seperti sengatan listrik ribuan volt.
Itu adalah kutukan. Itu adalah bakat.
Arga memejamkan mata. Ia membiarkan getaran nyeri itu memandu tangannya. Jemarinya yang panjang dan kokoh—tangan seorang pianis yang dipaksa menjadi tukang urut—bergerak dengan presisi bedah. Ia menekan titik trigger point di bawah tulang selangka, memutar lengan pasien dengan sudut 45 derajat yang mustahil, lalu menyentak dengan satu gerakan thrust yang cepat.
Krak.
Bunyi tulang kembali ke soketnya terdengar nyaring, membelah kesunyian klinik kumuh itu.
Pria itu terkesiap, lalu napasnya berhembus panjang. Bahunya lemas seketika. Rasa sakit itu hilang, digantikan aliran darah hangat yang melegakan.
"Gerakkan," kata Arga datar, melepaskan sarung tangan lateksnya.
Pria itu memutar lengannya dengan takjub. "Sembuh... Ya Tuhan, terima kasih, Dok! Tangan Dokter benar-benar ajaib."
Arga hanya mengangguk singkat. Ia berjalan ke wastafel pojok yang berkarat, mencuci tangannya dengan sabun batangan kasar. Ia melihat pantulan wajahnya di cermin retak: lingkaran hitam di bawah mata, tulang pipi yang menonjol karena kurang makan, dan tatapan kosong seseorang yang jiwanya perlahan mati.
"Ini, Dok. Cuma ini yang saya punya hari ini." Pasien itu meletakkan dua lembar uang lima puluh ribuan yang lusuh di atas meja formika.
Arga menatap uang seratus ribu rupiah itu. Seratus ribu untuk memperbaiki aset tubuh yang membuat pria itu bisa bekerja lagi seumur hidup.
"Simpan saja buat beli susu anakmu," gumam Arga, meraih jaket usangnya. "Bahu Bapak butuh istirahat dua hari. Jangan angkat beban dulu."
"Tapi, Dok—"
Arga sudah melangkah keluar, menembus hujan gerimis Jakarta yang berbau aspal basah. Ia tidak butuh seratus ribu. Ia butuh delapan ratus juta.
Tiga puluh menit kemudian, atmosfer berubah drastis.
Tidak ada lagi bau balsem. Yang ada hanyalah aroma antiseptik dingin yang menusuk dan desing mesin ventilator yang konstan. Ruang Administrasi RS Medika Utama terasa lebih mencekam daripada kamar mayat.
"Maaf, Dokter Arga. Sistem kami otomatis mengunci."
Wanita di balik meja resepsionis itu tidak berani menatap mata Arga. Ia sibuk mengetik di keyboard, seolah layar komputernya lebih manusiawi daripada pria yang berdiri dengan baju basah di depannya.
"Saya hanya minta waktu tiga hari," suara Arga serak, namun ia berusaha menjaganya tetap stabil. "Saya sedang mengurus penjualan tanah warisan di kampung. Pembelinya baru transfer lusa."
Kebohongan. Tanah itu sudah dijual tahun lalu. Uangnya habis untuk operasi bypass pertama.
"Tagihan Ibu Ratna sudah menunggak tiga bulan, Dok. Totalnya delapan ratus lima puluh juta rupiah," resepsionis itu akhirnya menatap Arga, tatapannya campuran antara kasihan dan jijik. "Protokol rumah sakit jelas. Jika tidak ada pembayaran minimal 30% sore ini... ventilator harus dilepas untuk dialokasikan ke pasien daftar tunggu."
Dunia Arga berguncang. Bukan gempa bumi, tapi runtuhnya pilar terakhir kewarasannya.
Arga menoleh ke arah pintu kaca ICU di kejauhan. Dari sini, ia bisa melihat ibunya. Sosok yang dulu gagah membesarkannya seorang diri, kini hanyalah tubuh ringkih yang dililit selang-selang plastik. Dada ibunya naik-turun bukan karena napas kehidupan, tapi karena paksaan mesin.
Ibunya adalah satu-satunya alasan Arga belum menyayat nadinya sendiri.
"Dia ibuku, Mbak," bisik Arga. Tangannya yang dipuja orang sebagai 'Tangan Tuhan' kini gemetar di atas meja marmer dingin itu. Tangan yang bisa menyembuhkan ribuan orang, tapi tidak berdaya menyelamatkan satu nyawa yang paling berarti. "Tolong. Jangan cabut mesinnya."
"Saya hanya menjalankan tugas, Dok." Wanita itu menggeser selembar faktur merah. "Pukul 17.00 tenggat waktunya."
Arga berjalan mundur. Kakinya terasa berat, seolah gravitasi menariknya langsung ke neraka. Ia tersandung keluar menuju lorong tunggu yang sepi. Jam dinding digital di lorong menunjukkan pukul 16.15.
Empat puluh lima menit menuju eksekusi mati.
Arga merosot di kursi tunggu berbahan logam dingin. Ia merogoh saku, mengeluarkan ponsel layar retak yang baterainya tinggal 10%. Daftar kontaknya penuh dengan nama teman sejawat, dokter spesialis, bahkan mantan dosen. Tapi ia tahu, menelepon mereka percuma. Siapa yang mau meminjamkan hampir satu miliar pada fisioterapis bangkrut yang lisensinya pun terancam tidak diperpanjang karena jarang praktik?
Ia menatap kedua telapak tangannya. Kasar. Kuat. Penuh urat. Tangan yang sia-sia.
Tuhan, jika Kau memang ada, ambil saja tanganku ini. Aku tidak butuh bakat ini jika Ibu harus mati.
Tepat saat keputusasaan itu mencapai puncaknya, ponsel di genggamannya bergetar. Layar menyala.
Unknown Number.
Arga menatapnya kosong. Penagih utang? Bank? Atau malaikat maut?
Dengan jari gemetar, ia menggeser tombol hijau. "Halo?"
Tidak ada salam. Tidak ada basa-basi.
Suara di seberang sana terdengar berat, datar, dan sedingin logam, seolah suara itu datang dari tempat yang tidak tersentuh matahari.
"Arga Dananjaya. Fisioterapis lulusan Cum Laude yang sedang butuh delapan ratus lima puluh juta rupiah dalam empat puluh menit."
Jantung Arga berhenti berdetak sesaat. Matanya menyapu sekeliling lorong RS, mencari siapa yang mengawasinya. "Siapa ini?"
"Itu tidak penting. Yang penting adalah apa yang bisa kamu tawarkan," suara itu melanjutkan, tanpa intonasi. Di latar belakang, terdengar denting halus gelas kristal beradu. "Tuan Atmadja mendengar reputasi 'Tangan Ajaib'-mu. Beliau tertarik."
"Saya tidak melayani panggilan sembarangan," Arga hendak memutus sambungan, mengira ini lelucon sakit.
"Kami tahu ibumu ada di ICU Medika Utama. Kami juga tahu ventilator itu akan mati pukul lima sore."
Darah Arga membeku. "Jangan sentuh ibuku!"
"Kami tidak akan menyentuhnya. Uang kami yang akan menyelamatkannya," suara itu menyela tajam. "Sebuah mobil hitam sudah menunggu di lobi depan. Bawa tanganmu, Dokter. Hanya itu yang perlu kau bawa."
Hening sejenak. Napas Arga memburu.
"Apa yang Tuan Atmadja inginkan dariku?" tanya Arga, suaranya bergetar antara harapan dan ketakutan.
Jawaban di seberang sana membuat bulu kuduknya meremang.
"Tuan Atmadja ingin membeli tangan Anda, Dokter. Untuk menyentuh sesuatu yang... sangat berharga."
Telepon mati.
Arga menatap layar hitam ponselnya. Di kejauhan, bunyi bip monitor jantung dari ruang ICU terdengar seperti hitungan mundur bom waktu. Arga berdiri, mengepalkan tangannya hingga buku-buku jarinya memutih.
Ia tidak punya pilihan. Ia baru saja menggadaikan tangannya pada iblis.
Limousine itu meluncur mulus membelah jalanan Jakarta yang basah, kedap suara bagaikan kapsul waktu yang terpisah dari realitas. Di dalam, Arga merasa oksigen menipis. Tanda tangannya di atas kertas kontrak itu masih basah, namun ia merasa seperti baru saja menandatangani surat kematian jiwanya sendiri.Dimas menutup map kulit itu dengan bunyi blap yang pelan namun final. Ia menuangkan scotch ke dalam dua gelas kristal."Minumlah," Dimas menyodorkan satu gelas pada Arga. "Kamu butuh keberanian cair untuk mendengar bagian selanjutnya."Arga menolak dengan gerakan tangan kaku. "Katakan saja apa yang harus saya lakukan. Prosedur medis seperti apa? Inseminasi buatan? IVF (In Vitro Fertilization)? Saya bisa merekomendasikan klinik fertilitas terbaik yang bisa menjaga kerahasiaan—"Dimas tertawa. Tawa yang kering, pendek, dan tidak mencapai matanya."Kamu pikir saya belum mencoba itu semua?" Dimas menyesap minumannya, matanya menerawang ke luar jendela yang gelap. "Tiga tahun, Arga. Tiga ta
Bunyi itu datang dalam mimpi buruknya, dan kini menjadi kenyataan.Biiip... Biiip... Biiiiiip—Suara monoton panjang dari monitor EKG membelah keheningan Ruang ICU bagaikan jeritan logam.Arga, yang baru saja terlelap sepuluh menit di kursi tunggu koridor karena kelelahan pasca-terapi di rumah Atmadja, tersentak bangun. Insting medisnya menyala lebih cepat daripada kesadarannya. Ia berlari menerobos pintu ganda ICU, mengabaikan teriakan suster jaga.Pemandangan di balik kaca isolasi nomor 4 meruntuhkan dunianya.Tubuh ibunya kejang hebat. Grafik di monitor bukan lagi gelombang sinus yang berirama, melainkan garis-garis kacau Ventricular Fibrillation. Jantung ibunya tidak memompa; ia hanya bergetar."Code Blue! Kamar 4!" teriak dokter jaga.Arga terpaku di depan kaca. Tangannya menempel pada permukaan dingin itu, ingin menembus masuk, ingin memegang dada ibunya, ingin mengalirkan energinya sendiri. Tapi ia tahu, Magic Hands-nya tidak berguna di sini. Pijatan otot tidak bisa memperbaiki
Hujan di luar semakin deras, menghantam kaca jendela kamar Kirana seperti ribuan jarum yang ingin masuk. Namun di dalam, keheningan terasa begitu padat hingga Arga bisa mendengar detak jantungnya sendiri.Arga berdiri di sisi ranjang. Ia telah melepaskan jas dokternya, menyisakan kemeja putih yang lengan bajunya digulung hingga siku, memperlihatkan lengan bawahnya yang berotot dan berurat tegas. Di meja nakas, sebotol minyak terapi beraroma sandalwood dan ylang-ylang sudah terbuka.Dimas tidak menyediakan minyak medis biasa. Ia menyediakan minyak afrodisiak."Kita mulai, Nyonya," suara Arga rendah, berusaha terdengar klinis meski otaknya sedang bertarung melawan skenario gila yang diperintahkan Dimas. Fokus pada paha dalam. Rangsang hormonnya.Kirana berbaring telentang di atas seprai sutra abu-abu. Ia menatap langit-langit dengan mata nyalang, tangannya mencengkeram sisi selimut erat-erat hingga buku jarinya memutih. Tubuhnya kaku. Ia seperti narapidana yang menunggu eksekusi mati, b
Ruang kerja Dimas Atmadja berbau tembakau mahal dan ambisi yang mematikan. Dinding-dindingnya dilapisi kayu mahoni gelap yang menyerap cahaya, menciptakan suasana seperti ruang interogasi kelas atas.Arga berdiri di depan meja kerja raksasa itu, kedua tangannya saling meremas di belakang punggung—gestur tubuh untuk menyembunyikan tremor halus sisa kejadian di kamar Kirana tadi."Laporanmu, Dokter," tuntut Dimas tanpa mengalihkan pandangan dari layar tabletnya.Arga menarik napas dalam. Ia berada di persimpangan jalan. Di satu sisi, etika medis menuntut kejujuran. Di sisi lain, tatapan ketakutan Kirana tadi masih menghantuinya. Jangan bilang dia..."Secara fisiologis, struktur saraf Nyonya Kirana... intact," lapor Arga, memilih kata dengan hati-hati. "Utuh. Tidak ada lesi pada sumsum tulang belakang. Ototnya memang mengalami atrofi atau penyusutan karena jarang dipakai, tapi refleks tendonnya masih aktif."Dimas akhirnya mendongak. Tidak ada binar bahagia di matanya. Tidak ada kelegaan
Lorong menuju sayap timur rumah itu terasa seperti berjalan masuk ke dalam perut binatang buas yang sedang tidur. Senyap. Dingin. Dan menyesakkan.Di ujung lorong, sebuah pintu ganda berwarna putih gading menjulang. Tidak ada penjaga di sana, tetapi Arga bisa merasakan aura pengawasan yang tebal, seolah dinding-dinding itu memiliki mata. Ia menarik napas panjang, mencoba menetralkan detak jantungnya yang masih memburu sisa intimidasi Dimas, lalu mengetuk pelan.Tidak ada jawaban.Arga memutar gagang pintu yang terbuat dari kuningan dingin. Pintu terbuka tanpa suara.Hal pertama yang menyambutnya adalah aroma.Bukan aroma parfum mahal seperti di bagian rumah yang lain. Kamar ini berbau seperti bangsal rumah sakit yang disamarkan—campuran tajam alkohol sterilisasi, linen yang terlalu sering dicuci, dan aroma manis yang menyedihkan dari bunga sedap malam yang mulai membusuk di vas pojok ruangan. Aroma keputusasaan yang diredam.Kamar itu luas, didominasi warna pastel pucat yang seharusny
Mobil sedan hitam itu meluncur membelah hujan Jakarta tanpa suara, seolah-olah rodanya tidak menyentuh aspal. Di dalam kabin yang beraroma kulit mahal dan musk dingin, Arga duduk kaku. AC mobil terasa membekukan tulang, kontras dengan keringat dingin yang membasahi kemeja lusuhnya.Di kursi depan, Pak Ujang duduk diam seperti patung batu. Tidak ada percakapan. Hanya deru halus mesin yang membawa Arga menjauh dari rumah sakit, menjauh dari ibunya, menuju nasib yang belum ia pahami. Satu-satunya hal yang ia tahu: pihak administrasi RS meneleponnya lima menit lalu, mengonfirmasi bahwa deposit sebesar satu miliar rupiah telah masuk.Nyawa ibunya telah dibeli. Sekarang, pemilik uang itu menagih barang dagangannya: Arga.Gerbang besi setinggi lima meter bergeser otomatis saat mobil mendekat. Di balik pagar itu, bukan sekadar rumah yang menyambut Arga, melainkan sebuah mausoleum raksasa. Kediaman keluarga Atmadja berdiri megah dengan pilar-pilar marmer putih yang menjulang angkuh, menantang






![Penyesalan Tuan CEO [Mantan Kekasihku]](https://acfs1.goodnovel.com/dist/src/assets/images/book/43949cad-default_cover.png)
