LOGINPandu POV - Flashback
Akhirnya sampai juga setelah perjalanan panjang dari bandara ke sini. Aku sengaja tidak memberi tahu Nizar kalau aku akan datang hari ini. Biar dia kegirangan melihatku, atau malah kelimpungan? Kangen juga melihat berandal itu secara langsung.
Resort ini tampak jauh berbeda dibanding terakhir aku ke sini. Saat itu besi-besi penopang masih berdiri di mana-mana, seperti rangka tulang yang menunggu diisi kehidupan. Hanya danaunya yang sudah selesai dan bisa aku nikmati keindahannya.
Kini semuanya telah berpadu. bangunan mengilat, udara lembut, dan taburan cahaya matahari yang jatuh di antara pohon kamboja seperti serpihan ketenangan yang sulit kutemukan di ibukota. Mungkin ini pertama kalinya dalam beberapa bulan aku merasa dadaku tidak sesak.
“Pandu Dharma,” kataku pada resepsionis. Seragam mereka khas budaya Jogja. Kebaya batik berwarna maroon dan coklat. Entah siapa yang memilihnya dulu, Nizar atau Lena?
Resort ini adalah bisnis penginapan pertama yang dibuka keluargaku setelah cukup berhasil di bisnis properti. Belum ada pembukaan resminya. Kami baru akan menggelarnya seminggu lagi. Tetapi beberapa tamu dengan koneksi bisnis sudah menginap.
Aku memang datang lebih awal. Butuh jeda. Butuh napas. Dan mungkin… butuh jarak dari rutinitas yang akhir-akhir ini terasa seperti berjalan tanpa arah. Kadang aku merasa autopilot terlalu lama, sampai lupa apa rasanya pulang ke diri sendiri.
“Terima kasih.” Nomor dua puluh empat tertera di keycard-ku. Petugas mengantarku menggunakan shuttle karena resort ini cukup luas. Dari dalam mobil kecil itu, aku memperhatikan setiap detail. Dinding krem yang lembut, ornamen kayu, lampu-lampu gantung, hingga aliran sungai buatan yang diisi ratusan ikan koi.
Andai aku bisa mengajak Fero, dia pasti senang sekali. Pikirannya pasti dipenuhi nama-nama ikan itu satu per satu, dia selalu punya cara membuat hal kecil terlihat penting.
Sengaja aku tidak menggunakan nama keluarga agar mereka tidak tahu kalau aku adalah salah satu pemilik hotel. Hanya Nizar yang tahu posisiku di sini. Lebih aman begini. Aku bisa menilai semuanya tanpa topengku sebagai salah satu ‘pemilik’.
Setelah mengamati interior kamar, sejauh ini, aku menyukai semua detail yang ada di penginapan. Warna dinding, ornamen, furniture, hingga linen. Yang ini pasti pilihan Lena. Dia juga tak bisa ikut. Bisnis salon dan spa miliknya sedang buka cabang baru lagi di Jakarta.
Setelah keluar dari kamar mandi, aku mengirim pesan pada Nizar. Tak butuh waktu lama, si kunyuk itu meneleponku.
“Hai, Pak Manager. Sibuk ya?” gurauku. Nizar menjawab sambil mengumpat senang. Dia terkejut mengetahui kalau aku sudah ada di penginapan.
“Awas ya, jangan sampai ada orang lain tahu siapa aku, setidaknya sampai acara pembukaan. Aku tidak mau dapat pelayanan berlebihan, Zar. Lebih baik aku yang memberi kritik dari pada tamu, kan?”
Nizar mengiyakan dengan syarat kami segera bertemu. “Ketemu di luar saja, ya. Sekalian ajak aku jalan-jalan.” Tawarku yang langsung ia setujui.
Namun sore harinya, saat aku mengagumi ikan-ikan koi yang berenang bebas memutari kamar-kamar di penginapan, terdengar suara ketukan dari arah pintu.
Setelah aku buka, Nizar dengan kedua tangannya yang terbuka lebar langsung memelukku. Tawanya mengisi seisi kamarku.
“Kunyuk! Kenapa ke sini?” tanyaku separuh kaget. Segera aku mendorongnya masuk lalu menutup pintu. “Kau katakan apa pada petugas shuttle?”
“Tenang. Aku sudah pesan jangan sampai ada yang tahu kalau teman istriku menginap di sini,” jawabnya santai sambil berjalan ke teras belakang.
“Bagaimana kabar Winda?” aku mengikutinya duduk di teras belakang, menghadap sungai buatan yang melewati kamar-kamar.
“Baik. Dia lagi isi, pusing aku.” Nizar memegang kepalanya.
Nizar adalah teman kuliahku juga Lena. Kami sudah seperti keluarga. Aku menariknya untuk menjadi manajer di sini setelah sebelumnya ia bekerja untuk Papa di bisnis properti. Dengan senang hati dia menerimanya, Winda rupanya sudah lama ingin pindah ke kota kecil dibanding hidup di ibukota.
“Berita gembira kan? Ricky sudah waktunya punya adik.”
“Iya gembira. Tapi manjanya tambah minta ampun.” Nizar memandangku. “Kamu tahu kan aku lagi sibuk-sibuknya di sini.”
Aku tertawa. Aku ingat dulu mereka adalah pasangan yang tak bisa berpisah. Ke mana-mana selalu berdua.
“Kadang aku ingin Winda juga memiliki kesibukan. Yah, tak sesibuk Lena, aku bisa mati kesepian kalau Winda seperti Lena. Kau kan tahu sendiri aku bagaimana.” Wajahnya tersenyum penuh isyarat.
“Siapa yang tak tahu? Suami-suami anaknya istri kan?”
Nizar tertawa lepas. Ada sebersit kecemburuan di dadaku. Kadang aku iri pada cara mereka saling terikat, bukan dalam arti romantis, tapi hangat. Mengakar.
Aku dan Lena tidak pernah sedekat Nizar dan Winda. Bahkan sejak kami pacaran. Kami seperti dua orang yang berjalan bersama namun sering lupa menoleh satu sama lain.
Setelah Fero lahir, dia yang menjadi jembatan kami, atau lebih mirip penambal cinta kedua orang tuanya. Meski laki-laki, namun Fero lebih mirip Lena. Kadang hal seperti itu pun membuatku cemburu.
“Mau ke mana nanti? Jangan bilang hanya diam di kamar, ‘ngasih makan koi.” Sambung Nizar.
“Justru aku mau keliling Jogja. Sudah lama kameraku tidak digunakan.”
Untuk itulah aku datang seminggu lebih awal dari acara peresmian. Aku ingin bernapas lebih lega, tanpa tumpukan pekerjaan atau tuntutan.
Namun siapa sangka, perjalanan ini justru akan membuka pintu yang membawa banyak cinta, luka dan pilihan yang tak mudah. Kalau aku tahu seberapa besar perubahan itu, mungkin aku akan berpikir dua kali untuk datang lebih awal. Tapi, mungkin memang sudah waktunya hidup menamparku dengan keras.
Fara – FlashbackAku menatap angka-angka di hadapanku, namun pikiranku entah ke mana. Kalau Pak Ridho tidak mengubah posisi duduknya, aku pasti masih terus mengulang-ulang apa yang aku lihat sekarang.Lembaran final billing dari vendor lighting, harusnya aku tinggal transfer saja, namun mereka meminta revisi karena ada biaya tambahan. Aku memejamkan sejenak mataku untuk mengusir bayangan diriku berdiri di depan Pandu dan mengajaknya makan malam tadi.“Ini saja perubahannya, kan?” tanyaku setelah beberapa saat membaca kembali. Tak terlalu banyak karena memang hanya sedikit penambahan tak terduga di event kemarin. Tak perlu meminta dari client karena kami selalu memiliki budget untuk hal tak terduga begini.Setelah konfirmasi ke kantor untuk pembayaran akhir, aku berjalan ke luar dari kantor Pak Ridho. Tengkukku masih dingin, beberapa bagian tubuhku pun seperti masih berusaha beradaptasi dengan apa yang tadi aku lakukan.Mengajak Pandu makan malam? Mengajak ex-client makan malam? What ha
Pandu POV – FlashbackSemua pakaian sudah masuk ke dalam koper berukuran 18 inch. Makan siang dengan Nizar nanti adalah kegiatan terakhirku di Jogja sebelum aku ke stasiun sore lalu kembali ke Jakarta.Aku sengaja memilih perjalanan dengan kereta, lebih lambat, lebih bisa diprediksi, lebih tenang. Sebagian lagi, mungkin karena aku tak ingin terlalu cepat untuk pulang. ‘Pulang’ kata yang bagiku jauh dari makna yang sebenarnya.Satu per satu foto bergulir di layar LED kamera manualku. Setidaknya ada banyak jejak kehidupan yang sudah aku bingkai di sini.Aku hampir menekan tombol ‘erase’ saat satu gambar terdisplay dengan background yang kurang ‘bersih’. Alih-alih menekannya, jariku memperbesar gambar itu. Ada harapan tertentu yang menarikku melakukannya.Kemeja putih itu mengingatkanku pada seseorang. Fara. Dan memang dia di sana, cukup jauh di belakang patung kayu berbentuk elang yang menjadi hiasan ruang tengah resort.Dia membelakangi kamera, namun karena dia menghadap ke samping, se
Fara POV – Flashback Tak kunjung ada nada sambung dari nomor Pak Nizar, kepalaku sudah mau pecah rasanya. Kenapa tak ada yang memberi tahuku soal ini. Sebuah hadiah besar, sepeda motor, berpita, dari keluarga owner. Apa ini bagian dari acara? Doorprize atau apa? Sambungannya terhenti karena tak diangkat. Sialan! Lalu otakku memberi kilatan ingatan yang sangat berguna. Coretan di notebook yang aku pikir tak akan pernah aku gunakan. Buru-buru aku buka dan kutekan nomornya. Semoga dia bisa membantu sebelum aku harus menemui Pak Nizar secara langsung yang berarti berjalan ke deretan depan tamu, meminta arahan saat hari-H. Sungguh tidak profesional. Aku menekan tombol dial. Tadi aku melihatnya duduk di sebelah Pak Nizar, sepertinya dia cukup penting. Tapi ingatan itu langsung hilang setelah sambungan teleponku diangkat. “Halo, Pandu ... Halo ...” hanya suara musik dan MC yang aku dengar dari telepon. Sepertinya dia pun kesulitan mendengar suaraku. Mungkin memang aku harus ke sana. Nam
Chapter 6Pandu POV – FlashbackTak ada satu pun yang akan datang ke Jogja untuk peresmian besok. Tidak Papa. Tidak Mama. Tidak juga Lena. Bagi Papa resort ini tak lebih dari kios kecil jika dibandingkan dengan aset-asetnya yang lain. Sedangkan Mama, akan selalu berada di belakang suaminya, di mana pun itu.Untuk beberapa detik, aku hanya diam. Bukan karena terkejut, aku sudah menduganya. Tapi tetap saja, ada bagian kecil dalam diriku yang berharap aku salah.Apa yang aku rasakan sekarang mirip ketika dulu tak ada yang datang saat koleksi foto-fotoku dipajang dalam sebuah pameran kontemporer. Hanya Diana yang datang bersama teman-temannya, membanggakanku sebagai kakaknya.Lena tak seperti Mama. Dia lebih mirip partner dibanding istri. Dia baru bisa keluar kota seminggu lagi. Itu pun jika salon barunya sudah cukup stabil untuk ditinggal. Dan tanpa Lena, tentu saja, tak ada Fero.Dia tangguh sebagai seorang pengusaha. Sering kulihat tatapan kagum Papa padanya. Mungkin Papa berharap Lena-
Fara POV – FlashbackResort masih cukup sepi saat aku dan para tim mulai bekerja pagi ini. Hanya beberapa tamu yang sedang sarapan terlihat lalu lalang memilih menu. Belum banyak karena memang belum dibuka secara resmi.H-3 selalu menjadi fase yang rawan. Terlalu dekat untuk bersantai namun juga terlalu jauh untuk panik. Kertas layout yang aku bawa sudah penuh coretan pensil.“Fer, ikut aku.” Feri langsung menghentikan pekerjaannya lalu mengikutiku.Aku berjalan dari pintu masuk, berhenti, lalu berjalan lagi ke arah kursi VIP, dan mengulang dari awal. Feri mengikutiku tanpa banyak tanya, mereka sudah paham cara kerjaku.“Jalur VIP terlalu sempit. Kalau ada yang berhenti di sini, yang di belakang akan kebingungan.” Feri mengangguk. Kami berdiskusi singkat sebelum akhirnya sepakat.Aku sedikit jongkok menyerupai orang duduk di kursi pada beberapa titik, memastikan pandangan para tamu nantinya ke arah panggung tak terhalang apa pun. Aku tak peduli mungkin beberapa pasang mata melihat ke
Pandu POV – FlashbackPuluhan ikan koi berebut butir-butir pelet ikan yang aku tebarkan. Suara kecipak air menghiasi pagiku yang damai. Aku masih mengenakan celana pendek dan kaos semalam, bukan kemeja atau jas. Slow morning, kenyamanan yang sangat jarang aku rasakan.Menunggu jam delapan bisa terasa sangat lamban, namun jika aku menelepon terlalu pagi, Fero pasti masih mandi atau sarapan.“Halo, Fero,” sapaku setelah telepon diterima. Mbak Nani, pengasuh Fero sudah tahu jadwal kami.“Papa!” sapanya meriah dengan wajah yang memenuhi layar ponsel. “Liat ikan!” Wajah Fero menjadi terlalu dekat, hanya satu matanya yang aku lihat jelas.“Ngobrol sama Papa dulu,” kataku. Layarnya bergoyang-goyang. Lalu terlihat Fero yang sudah duduk di playmat-nya. Pasti Nani mendudukkannya.“Fero sarapan apa tadi?”“Ayam goleng.”“Habis makannya?”“Abis.” Kepalanya oleng ke kiri.Nani mengoreksi, ada wortel yang tidak Fero makan. Fero memang agak susah makan sayur, mirip Mamanya.“Papa pulang,” katanya sa







