MasukPandu POV – Flashback
Tak ada satu pun yang akan datang ke Jogja untuk peresmian besok. Tidak Papa. Tidak Mama. Tidak juga Lena. Bagi Papa resort ini tak lebih dari kios kecil jika dibandingkan dengan aset-asetnya yang lain. Sedangkan Mama, akan selalu berada di belakang suaminya, di mana pun itu.
Untuk beberapa detik, aku hanya diam. Bukan karena terkejut, aku sudah menduganya. Tapi tetap saja, ada bagian kecil dalam diriku yang berharap aku salah.
Apa yang aku rasakan sekarang mirip ketika dulu tak ada yang datang saat koleksi foto-fotoku dipajang dalam sebuah pameran kontemporer. Hanya Diana yang datang bersama teman-temannya, membanggakanku sebagai kakaknya.
Lena tak seperti Mama. Dia lebih mirip partner dibanding istri. Dia baru bisa keluar kota seminggu lagi. Itu pun jika salon barunya sudah cukup stabil untuk ditinggal. Dan tanpa Lena, tentu saja, tak ada Fero.
Dia tangguh sebagai seorang pengusaha. Sering kulihat tatapan kagum Papa padanya. Mungkin Papa berharap Lena-lah anaknya. Bukan aku atau Diana yang lebih suka belajar dan mengajar.
Suara burung dari luar masuk lewat jendela belakang yang kubuka. Ramainya alam kontras dengan sunyi di dalam kamar ini.
Sepasang senyum lebar menyambutku ketika aku berjalan menuju arah kantor Nizar. Aku membalas senyum mereka. Mungkin keduanya sudah tahu siapa aku, mungkin juga mereka hanya sudah sering melihatku bersama atasannya.
Setelah aku ketuk dua kali, suara Nizar menyahut dari dalam. Kepalanya langsung mendongak ke arahku setelah aku masuk.
“Siap menyambut hari besar besok, Bos?” tanyanya sekilas lalu kembali membaca berkas-berkas di atas mejanya.
“Tak ada yang datang dari Jakarta,” kataku tanpa basa-basi.
Dia mendongak lagi. “Apa? Pak Hendro?” Aku menggeleng. “Lena?” Aku menggeleng lagi. Nizar memegangi kepalanya.
Aku menjatuhkan tubuhku di atas sofa di depan Nizar. “Hanya kau dan aku, seperti biasa,” lanjutku enteng.
Nizar mengela napas tanpa berkata apa pun meski aku tahu ada banyak yang ingin ia katakan. “Aku harus kasih tahu pihak EO.”
“Jangan!” sergahku cepat membuat tangan Nizar batal meraih telepon meja. “Mereka sudah bekerja keras, lagi pula tidak akan banyak membuat perbedaan. Paling hanya beberapa kursi kosong di meja depan.”
“Masa’ Lena juga tak bisa datang, Ndu?” Tatapan Nizar sepertinya lebih memelas dibandingkanku.
Sayang aku harus mengecewakannya lagi. “Tidak. Sebetulnya dia bisa datang malam harinya, tapi aku menyuruhnya tetap di Jakarta saja.”
“Kenapa? Kau tak rindu?”
Hanya beberapa detik aku terdiam mencari rasa rindu itu sebelum akhirnya aku menjawab. “Kasihan dia pasti lelah setelah urusan bisnisnya sendiri.”
Nizar menggeleng sambil menghembuskan napasnya kembali. “Aku dan Winda saja kangen Fero, Ndu.”
Aku tersenyum sambil menyembunyikan rasa getirku. “Aku mau cari makan siang di luar, kau ikut tidak?”
Nizar menggeleng lagi. “Masih banyak yang harus aku urus. Aku hanya manager di sini, bukan bos yang sedang liburan,” katanya menyindir. Dia sudah memunggungiku, membaca berkas-berkas di mejanya kembali sebelum aku mengangkat tubuhku dari kursi.
Namun sebelum tanganku menyentuh handle pintu, suaranya kembali terdengar. “Jangan lupa pakai pin-mu besok!”
Aku ingat sejumlah pin teratai yang diberikan Nizar kemarin, sayang hanya satu yang akan terpakai. Tak kuberikan jawaban apa pun selain suara pintu yang aku tutup dari luar.
Suara musik dan dua orang MC saling bersahutan dari atas panggung. Aku duduk di barisan depan, bersama Nizar, Winda dan Ricky. Tak kupedulikan kursi kosong di antara kami.
Di meja yang lain, beberapa tamu undangan hadir. Beberapa adalah kolega bisnis di kota ini, lalu ada perwakilan dari pemerintahan daerah dan lembaga masyarakat. Selebihnya adalah tamu undangan dan tamu yang sudah menginap di sini.
Sesekali kulihat Winda yang sibuk menerangkan ini itu pada Ricky sementara Nizar fokus melihat ke arah panggung utama.
“Sebentar lagi kamu harus memotong pita, Ndu,” bisik Nizar padaku.
Ada rasa enggan yang semakin besar menyelinap dalam hatiku. Aku mengambil ponselku, memainkannya sebentar untuk mengusir rasa itu saat tiba-tiba ia bergetar.
Sebuah nomor tak dikenal. Biasanya aku akan langsung menolaknya atau membiarkannya saja, tapi saat ini aku justru merasa diselamatkan.
“Halo,” sapaku. Suara dari dalam telepon tidak terlalu jelas. Aku mulai berdiri.
“Mau ke mana?” tanya Nizar panik.
Aku memberikan kode seakan itu adalah telepon penting. “Kau potong saja pitanya,” kataku padanya lagi sebelum meninggalkan barisan depan sambil tetap memegang ponsel di telingaku.
Masih kudengar suara Nizar berusaha memanggilku namun aku sudah melewati satu meja yang lain. “Halo ....” Aku masih berusaha mendengar suara penyelamatku saat kulihat tatapan beberapa tamu yang mengenaliku. Kupercepat langkah ke luar, entah kenapa hari ini aku lelah memainkan peran yang sudah disiapkan untukku.
Setelah agak berjarak dengan pengeras suara, aku mulai mendengar suara dari ponsel. Suara wanita, ia memperkenalkan diri, Fara. Sejenak aku terlupa akan rasa sesak di dadaku.
Aku mendengar dengan seksama lalu kulangkahkan kaki menuju area luar. Masih jelas aku mendengar suara MC memanggil nama Papa atau perwakilan keluarga Wicaksono, yang justru membuat kakiku semakin cepat berjalan.
Aku memasukkan kembali ponselku ke dalam saku saat kulihat Fara berdiri di dekat pintu masuk lobby. Wajahnya berubah saat melihatku seakan ia sudah menunggu cukup lama.
“Ada apa?” tanyaku sambil mendekat padanya.
“Ada kiriman di luar. Aku perlu konfirmasi Pak Nizar karena ini tidak ada di dalam daftar acara.” Tangannya menunjuk ke arah area parkir.
“Kiriman apa?” Kami berjalan beriringan.
“Dari Alena Wicaksono, sebuah motor dan karangan bunga besar.”
Kebingungan Fara seakan langsung berpindah padaku ketika aku mendengar nama Lena. Lalu kami berhenti tepat di depan motor matic berwarna cream yang berselempang pita lengkap dengan karangan bunga di sampingnya.
Aku ingat Lena mengatakan akan mengirimkan sesuatu sebagai pengganti kehadirannya, namun ia tidak mengatakan secara detail maksudnya.
“Dari data yang aku terima, Wicaksono adalah nama keluarga pemilik resort ini, kan?”
Aku menoleh pada Fara. Aku hampir lupa kalau aku tidak mengenalkan nama keluargaku sebelumnya. “Iya.” Dan entah kenapa, hingga saat ini aku masih merasa harus menyembunyikan namaku padanya.
“Apakah motor ini masuk dalam rangkaian acara? Atau untuk personal? Aku perlu meletakkannya di tempat yang sesuai. Aku tidak bisa menghubungi Pak Nizar, jadi aku menghubungimu, maaf.”
“Tidak apa-apa,” anggukku. Lena tidak mengatakan apa-apa siang tadi, dan aku yakin Nizar juga tak tahu menahu soal ini. “Letakkan saja di entrace, atau ruang publik mana pun yang tidak mengganggu jalannya acara. Hadiah ini tidak masuk acara hari ini.”
“Kau yakin? Tidak perlu bertanya pada Pak Nizar dahulu?”
Aku tahu Fara tak akan mudah setuju jika perintahnya bukan dari pemilik otoritas. “Aku akan tanya Pak Nizar lalu menghubungimu. Dia pasti tak akan mengangkat teleponnya sekarang.” Aku bayangkan Nizar sedang di atas panggung saat ini.
Fara mengangguk. “Oke, aku meminta bantuanmu. Itu tadi nomorku.”
“Ada lagi yang bisa aku bantu?”
“Tidak. Terima kasih,” katanya sebelum mengangkat walkie-talkienya, memerintahkan rekannya untuk memindahkan motor ke dalam.
Aku memperhatikannya. Dia tak sadar kalau untuk sesaat, dia menarikku untuk berhenti berpura-pura. Namun hanya sesaat karena saat mataku bertemu karangan bunga yang dikirim Lena, aku kembali mengingat peran yang harus aku mainkan.
Kulangkahkan kaki ke dalam, setidaknya pita sudah terpotong dan aku tak perlu merasa seperti anak laki-laki yang sendirian lagi untuk hari ini.
Chapter 6Pandu POV – FlashbackTak ada satu pun yang akan datang ke Jogja untuk peresmian besok. Tidak Papa. Tidak Mama. Tidak juga Lena. Bagi Papa resort ini tak lebih dari kios kecil jika dibandingkan dengan aset-asetnya yang lain. Sedangkan Mama, akan selalu berada di belakang suaminya, di mana pun itu.Untuk beberapa detik, aku hanya diam. Bukan karena terkejut, aku sudah menduganya. Tapi tetap saja, ada bagian kecil dalam diriku yang berharap aku salah.Apa yang aku rasakan sekarang mirip ketika dulu tak ada yang datang saat koleksi foto-fotoku dipajang dalam sebuah pameran kontemporer. Hanya Diana yang datang bersama teman-temannya, membanggakanku sebagai kakaknya.Lena tak seperti Mama. Dia lebih mirip partner dibanding istri. Dia baru bisa keluar kota seminggu lagi. Itu pun jika salon barunya sudah cukup stabil untuk ditinggal. Dan tanpa Lena, tentu saja, tak ada Fero.Dia tangguh sebagai seorang pengusaha. Sering kulihat tatapan kagum Papa padanya. Mungkin Papa berharap Lena
Fara POV – FlashbackResort masih cukup sepi saat aku dan para tim mulai bekerja pagi ini. Hanya beberapa tamu yang sedang sarapan terlihat lalu lalang memilih menu. Belum banyak karena memang belum dibuka secara resmi.H-3 selalu menjadi fase yang rawan. Terlalu dekat untuk bersantai namun juga terlalu jauh untuk panik. Kertas layout yang aku bawa sudah penuh coretan pensil.“Fer, ikut aku.” Feri langsung menghentikan pekerjaannya lalu mengikutiku.Aku berjalan dari pintu masuk, berhenti, lalu berjalan lagi ke arah kursi VIP, dan mengulang dari awal. Feri mengikutiku tanpa banyak tanya, mereka sudah paham cara kerjaku.“Jalur VIP terlalu sempit. Kalau ada yang berhenti di sini, yang di belakang akan kebingungan.” Feri mengangguk. Kami berdiskusi singkat sebelum akhirnya sepakat.Aku sedikit jongkok menyerupai orang duduk di kursi pada beberapa titik, memastikan pandangan para tamu nantinya ke arah panggung tak terhalang apa pun. Aku tak peduli mungkin beberapa pasang mata melihat ke
Pandu POV – FlashbackPuluhan ikan koi berebut butir-butir pelet ikan yang aku tebarkan. Suara kecipak air menghiasi pagiku yang damai. Aku masih mengenakan celana pendek dan kaos semalam, bukan kemeja atau jas. Slow morning, kenyamanan yang sangat jarang aku rasakan.Menunggu jam delapan bisa terasa sangat lamban, namun jika aku menelepon terlalu pagi, Fero pasti masih mandi atau sarapan.“Halo, Fero,” sapaku setelah telepon diterima. Mbak Nani, pengasuh Fero sudah tahu jadwal kami.“Papa!” sapanya meriah dengan wajah yang memenuhi layar ponsel. “Liat ikan!” Wajah Fero menjadi terlalu dekat, hanya satu matanya yang aku lihat jelas.“Ngobrol sama Papa dulu,” kataku. Layarnya bergoyang-goyang. Lalu terlihat Fero yang sudah duduk di playmat-nya. Pasti Nani mendudukkannya.“Fero sarapan apa tadi?”“Ayam goleng.”“Habis makannya?”“Abis.” Kepalanya oleng ke kiri.Nani mengoreksi, ada wortel yang tidak Fero makan. Fero memang agak susah makan sayur, mirip Mamanya.“Papa pulang,” katanya sa
Fara POV - FlashbackEntah sudah berapa lama aku mengetukkan jariku ke penyangga tangan kursi kayu ini, namun rasanya memang sudah cukup lama. Ruangan di hadapanku masih kosong. Karyawan yang tadi menyilakanku menunggu juga belum memberi kabar apa-apa.Sialan, sudah setengah jam lebih aku di sini dan belum mendapat apa-apa. Padahal aku dan Kamila sudah membuat janji dengan Pak Nizar kemarin. Dari dulu aku paling tidak suka menunggu tanpa kepastian. Waktu adalah ukuran seberapa serius seseorang memandang sesuatu.Perusahaan event organizer kami akan menangani grand opening resort ini enam hari lagi. Semua detail sebenarnya sudah kami rencanakan sejak pertemuan pertama dengan Pak Nizar dua minggu lalu, namun hari ini aku perlu menunjukkan sesuatu padanya sebelum eksekusi akhir.Empat puluh lima menit, dan kesabaranku ikut menipis. Kuangkat punggungku yang terasa panas karena sejak tadi duduk. Aku mendekati meja sekretaris.“Bagaimana, Mbak? Apa sudah ada kabar lagi dari Pak Nizar?” Aku
Pandu POV - FlashbackAkhirnya sampai juga setelah perjalanan panjang dari bandara ke sini. Aku sengaja tidak memberi tahu Nizar kalau aku akan datang hari ini. Biar dia kegirangan melihatku, atau malah kelimpungan? Kangen juga melihat berandal itu secara langsung.Resort ini tampak jauh berbeda dibanding terakhir aku ke sini. Saat itu besi-besi penopang masih berdiri di mana-mana, seperti rangka tulang yang menunggu diisi kehidupan. Hanya danaunya yang sudah selesai dan bisa aku nikmati keindahannya.Kini semuanya telah berpadu. bangunan mengilat, udara lembut, dan taburan cahaya matahari yang jatuh di antara pohon kamboja seperti serpihan ketenangan yang sulit kutemukan di ibukota. Mungkin ini pertama kalinya dalam beberapa bulan aku merasa dadaku tidak sesak.“Pandu Dharma,” kataku pada resepsionis. Seragam mereka khas budaya Jogja. Kebaya batik berwarna maroon dan coklat. Entah siapa yang memilihnya dulu, Nizar atau Lena?Resort ini adalah bisnis penginapan pertama yang dibuka kel
Fara POV – Saat IniSaat aku membuka mata, kamarku sudah terang benderang. Cahaya matahari tanpa permisi telah masuk melalui jendela yang tirainya memang tak aku tutup sejak semalam, membuat mataku yang bengkak lebih terasa perih. Kulirik jam meja yang ada di sebelah tempat tidur, pukul sepuluh lebih lima belas.Aku menarik kembali selimut, berusaha mengejar kembali kedamaian dengan masuk ke alam mimpi, namun suara itu mengusikku lagi. Tak jauh dari bantalku, ponselku menyala dan bersuara. Biasanya aku membisukannya, entah kenapa semalam tak aku lakukan. Mungkin karena aku terlalu rindu.Berdesir hatiku membaca namanya lagi di layar ponsel. Sayangnya, desiran halus itu kemudian diikuti oleh rasa sakit yang bertubi-tubi hingga mataku basah. Napasku tersengal seakan ada batu besar yang menindih dadaku. Dengan satu sentuhan cepat, kutekan tombol merah untuk mengakhiri penderitaanku, meski sesaat.Mas Pandu, meski namanya sudah menghilang dari layar, namun setelah mataku terbuka, hanya it







