LOGINPandu POV – Flashback
Puluhan ikan koi berebut butir-butir pelet ikan yang aku tebarkan. Suara kecipak air menghiasi pagiku yang damai. Aku masih mengenakan celana pendek dan kaos semalam, bukan kemeja atau jas. Slow morning, kenyamanan yang sangat jarang aku rasakan.
Menunggu jam delapan bisa terasa sangat lamban, namun jika aku menelepon terlalu pagi, Fero pasti masih mandi atau sarapan.
“Halo, Fero,” sapaku setelah telepon diterima. Mbak Nani, pengasuh Fero sudah tahu jadwal kami.
“Papa!” sapanya meriah dengan wajah yang memenuhi layar ponsel. “Liat ikan!” Wajah Fero menjadi terlalu dekat, hanya satu matanya yang aku lihat jelas.
“Ngobrol sama Papa dulu,” kataku. Layarnya bergoyang-goyang. Lalu terlihat Fero yang sudah duduk di playmat-nya. Pasti Nani mendudukkannya.
“Fero sarapan apa tadi?”
“Ayam goleng.”
“Habis makannya?”
“Abis.” Kepalanya oleng ke kiri.
Nani mengoreksi, ada wortel yang tidak Fero makan. Fero memang agak susah makan sayur, mirip Mamanya.
“Papa pulang,” katanya sambil mengetuk layar ponsel.
Ada rasa berat sekaligus hangat yang seketika menjalar di dadaku. “Papa belum bisa pulang, Nak.” Terlihat Fero memeluk Nani, yang membuatku iri. “Fero jangan nakal di rumah, ya.”
Ia mengangguk sambil memasukkan jarinya ke mulut. “Liat ikan!”
Aku tersenyum lalu mengarahkan kameraku pada ikan koi yang berlalu lalang. Sengaja aku taburi mereka makanan lagi agar berkumpul.
Gerakan mereka memancing tawa Fero yang lantang. Ia mencari ikan yang diberi nama Tori kemarin dan aku sibuk mengarang ke mana ikan itu pergi.
Saat aku mengakhiri telepon beberapa saat kemudian, ada rasa sesak yang menyusup kembali. Kebebasanku harus aku bayar dengan kerinduan pada Fero. Andai ia tak tiba-tiba mencari Mamanya lalu menangis, pasti sudah aku bawa dia ke sini.
Apa yang aku sebut kebebasan di sini pun ternyata tak sepenuhnya bisa aku miliki. Sebelum jam sebelas, aku sudah siap dengan baju resmi dan laptopku.
Virtual meeting dengan Papa dan beberapa pemegang saham mau tak mau tetap membuat kepalaku berdenyut. Meski ada Hendrik yang mewakiliku di sana, namun Papa tetap bertanya padaku.
Seperti biasa, Papa lebih memperlakukanku sebagai anak didik bisnisnya dibanding anak kandung. Semua keputusanku dikoreksi dan harus mendapat persetujuannya meski secara administratif itu tidak sepenuhnya perlu.
Saat layar virtual terputus, baru aku bisa bernapas dalam. Kulonggarkan dasi yang seperti mencekik leher lalu kuteguk air dari botol mineral yang sedari tadi masih utuh.
Ke mana pun aku pergi, aku tak bisa menghilangkan kenyataan bahwa aku adalah anak laki-laki satu-satunya dari keluarga Wicaksono. Pemilik bisnis properti yang sudah menggurita di beberapa kota besar.
Aku melihat kameraku. Kamera itu selalu menjadi lambang tersendiri bagiku. Beberapa foto keluarga masih tersimpan rapi di dalamnya. Aku ingat senyum di foto itu. Aku juga ingat betapa cepatnya senyum itu menghilang setelah kamera diturunkan.
Dalam diriku selalu ada ketakutan bahwa tanpa sadar aku sudah mengulanginya bersama Lena. Rasa takut selalu menyusup membayangkan jika Fero sampai menjalani kehidupan seperti yang aku dan Diana alami dari kecil.
Tapi Lena adalah ibu yang hangat, dan aku adalah ayah yang sebisa mungkin memiliki waktu yang berkualitas untuk Fero. Meski pernikahan kami tidak sempurna namun kami sepertinya sepakat memberi kesempurnaan untuk si kecil.
Suara ponsel mengusik lamunanku akan masa lalu. Sebuah pesan dari Nizar, dia sudah menyuruh shuttle menjemputku setengah jam lagi. Dasar berandal itu. Nizar memang tak pernah memperlakukan aku seperti bosnya, kecuali saat rapat.
Tapi kadang orang terdekat bisa mengerti apa yang kita butuhkan dibandingkan apa yang bisa kita akui. Aku memang butuh keluar.
Kulepas lalu kulempar dasi yang masih menggantung di leherku. Jemput aku sekarang. Tulisku pada Nizar. Sekali-kali biar dia tahu siapa Bos-nya, senyumku dalam hati. Tak lupa kuambil kameraku.
Kami berjalan kaki menyusuri jalanan di Kotagede. Di beberapa tempat kami berhenti agar aku bisa mengambil gambar. Dari sudut mataku aku melihat Nizar berkali-kali menghapus keringatnya. Biar tahu rasa dia.
“Bagaimana kandungan Winda?” tanyaku di sela-sela menyelaraskan fokus kamera. Kemarin Nizar mengantar Winda USG hingga ia tak bisa bertemu Fara. Fara ... entah kenapa nama itu mudah sekali menempel di otakku.
“Baik. Cowok lagi, Ndu. Bakal ramai rumahku.” Nizar meneguk air mineral yang dibawanya.
“Baguslah. Asal tidak kau ajari macam-macam.” Aku membidik sebuah rumah tua yang sepertinya memang masuk dalam cagar budaya Jogja.
Jika aku bisa memilih, mungkin aku akan lebih nyaman tinggal di sini. Hidup sederhana, bercengkerama dengan keluarga di pelataran bermandi cahaya matahari sore.
“Aku tak pernah melihatmu memegang kamera lagi selama di Jakarta.” Kami berjalan lagi ke arah utara, menyapa beberapa penduduk lokal yang sedang beraktivitas di luar rumah.
“Mana aku punya waktu,” jawabku enteng meski aku merasa tenggorokanku berat.
“Itu kan hobimu sejak remaja, Ndu. Carilah waktu untuk dirimu.” Nizar tak menatapku, tapi aku tahu dia serius.
“Kau memang cocok dengan Winda.” Tapi tak cocok jadi anak Papaku, tambahku dalam hati.
Kami berhenti di beberapa spot sebelum akhirnya Nizar protes dan menyeretku mencari restoran.
Aku kembali ke penginapan sebelum pukul delapan malam. Mandi air hangat memulihkan energiku setelah entah berapa kilometer kami berjalan-jalan di Jogjakarta.
Setelah mengeringkan rambut, aku menelepon Lena. Biasanya dia sudah bersama Fero di dalam kamar anak.
“Halo, Sayang,” sapanya. Masih terlihat sisa riasan di wajahnya. “Ngapain aja tadi?”
“Meeting sama Papa trus jalan-jalan sama Nizar. Urusanmu lancar?”
“Ya, gitulah. Masih ada beberapa produk yang belum lengkap, terpaksa nunda beberapa customer. Yang ngurus gudang anak baru, jadi masih perlu di back-up.”
Aku tersenyum mendengarnya. Sejak dulu Lena memang ingin membuka bisnisnya sendiri. Padahal Papanya-Papa mertuaku, sudah ingin mewariskan salah satu perusahaannya, tapi Lena menolak. Akhirnya adiknya, si Reno yang ambil.
Jiwa bisnis Lena memang kuat, mungkin karena itu Papa mertuaku pada awalnya lebih memilih Lena dibanding Reno. Tapi mungkin itu kelebihan perempuan, mereka lebih bisa mengelak dari tuntutan keluarga.
Diana, adikku, ia lebih suka mengajar, jadi dosen. Suaminya yang didaulat Papa untuk membantu di kantor.
“Kan tidak harus kamu yang memback-up. Jangan terlalu capek. Ingat Fero juga menunggumu di rumah.”
“Iya. Bagaimana resort kita?” Lena memalingkan wajahnya, ia memanggil Fero yang sedari tadi belum kelihatan.
“Bagus. Sejauh ini sepertinya tak ada komplain dari pelayanan. Hanya saja karena kita separuh outdoor, harus lebih prepare saat hujan atau kemarau,” jawabku setelah Lena melihat kembali ke arah kamera.
Tak lama terlihat Fero mendekat lalu menghambur ke pelukan Mamanya. Dari gerakan Lena membersihkan baju Fero, aku menebak dia pasti habis bermain dengan kucingnya.
Meski anak laki-laki, namun wajah Fero lebih mirip Mamanya. Dia pun lebih lekat pada Lena, meski aku tak kalah menyayanginya. Tapi aku kalah waktu dan susu, kalau kata Lena dulu.
“Papa!” sapa Fero sebelum Lena menggendongnya untuk menyikat gigi dan berganti pakaian sebelum tidur.
Tampilan layar ponselku berubah hitam lalu menampilkan bagian dalam kamar Fero. Sepertinya Lena meletakkan ponselnya di atas tempat tidur. Mereka berdua pasti sedang di kamar mandi.
“Papaaa!” suara Fero sudah terdengar sebelum wajahnya muncul di layar. Aku segera menegakkan ponselku lagi.
“Poni nakal.” Poni adalah kucingnya. Ada warna hitam mirip poni di bagian atas kepalanya.
“Nakal kenapa?” tanyaku dengan wajah serius.
“Lali-lali di lumah.”
Wajahku tetap serius. “Oww ... Kenapa Poni lari-lari?”
Fero tampak berpikir lama, namun tak ada jawaban yang keluar, ia hanya menguap.
“Sudah, sini bobok.” Suara Lena mengambil alih.
Sudah waktunya telepon dimatikan. Keduanya pasti lelah setelah beraktivitas seharian, begitu juga aku.
“Nikmati liburanmu ya, Sayang. Love you.” Lena memberi salam penutup.
“Love you too,” jawabku sebelum Lena mengakhiri panggilan.
Aku mematikan lampu kamar. Dalam gelap aku tahu satu hal. Aku ayah yang mencintai anakku, suami yang bertanggung jawab, dan anak Papa yang memenuhi harapan.
Namun pertanyaannya, di antara semua peran itu, apa yang tersisa untuk diriku sendiri?
Fara – FlashbackAku menatap angka-angka di hadapanku, namun pikiranku entah ke mana. Kalau Pak Ridho tidak mengubah posisi duduknya, aku pasti masih terus mengulang-ulang apa yang aku lihat sekarang.Lembaran final billing dari vendor lighting, harusnya aku tinggal transfer saja, namun mereka meminta revisi karena ada biaya tambahan. Aku memejamkan sejenak mataku untuk mengusir bayangan diriku berdiri di depan Pandu dan mengajaknya makan malam tadi.“Ini saja perubahannya, kan?” tanyaku setelah beberapa saat membaca kembali. Tak terlalu banyak karena memang hanya sedikit penambahan tak terduga di event kemarin. Tak perlu meminta dari client karena kami selalu memiliki budget untuk hal tak terduga begini.Setelah konfirmasi ke kantor untuk pembayaran akhir, aku berjalan ke luar dari kantor Pak Ridho. Tengkukku masih dingin, beberapa bagian tubuhku pun seperti masih berusaha beradaptasi dengan apa yang tadi aku lakukan.Mengajak Pandu makan malam? Mengajak ex-client makan malam? What ha
Pandu POV – FlashbackSemua pakaian sudah masuk ke dalam koper berukuran 18 inch. Makan siang dengan Nizar nanti adalah kegiatan terakhirku di Jogja sebelum aku ke stasiun sore lalu kembali ke Jakarta.Aku sengaja memilih perjalanan dengan kereta, lebih lambat, lebih bisa diprediksi, lebih tenang. Sebagian lagi, mungkin karena aku tak ingin terlalu cepat untuk pulang. ‘Pulang’ kata yang bagiku jauh dari makna yang sebenarnya.Satu per satu foto bergulir di layar LED kamera manualku. Setidaknya ada banyak jejak kehidupan yang sudah aku bingkai di sini.Aku hampir menekan tombol ‘erase’ saat satu gambar terdisplay dengan background yang kurang ‘bersih’. Alih-alih menekannya, jariku memperbesar gambar itu. Ada harapan tertentu yang menarikku melakukannya.Kemeja putih itu mengingatkanku pada seseorang. Fara. Dan memang dia di sana, cukup jauh di belakang patung kayu berbentuk elang yang menjadi hiasan ruang tengah resort.Dia membelakangi kamera, namun karena dia menghadap ke samping, se
Fara POV – Flashback Tak kunjung ada nada sambung dari nomor Pak Nizar, kepalaku sudah mau pecah rasanya. Kenapa tak ada yang memberi tahuku soal ini. Sebuah hadiah besar, sepeda motor, berpita, dari keluarga owner. Apa ini bagian dari acara? Doorprize atau apa? Sambungannya terhenti karena tak diangkat. Sialan! Lalu otakku memberi kilatan ingatan yang sangat berguna. Coretan di notebook yang aku pikir tak akan pernah aku gunakan. Buru-buru aku buka dan kutekan nomornya. Semoga dia bisa membantu sebelum aku harus menemui Pak Nizar secara langsung yang berarti berjalan ke deretan depan tamu, meminta arahan saat hari-H. Sungguh tidak profesional. Aku menekan tombol dial. Tadi aku melihatnya duduk di sebelah Pak Nizar, sepertinya dia cukup penting. Tapi ingatan itu langsung hilang setelah sambungan teleponku diangkat. “Halo, Pandu ... Halo ...” hanya suara musik dan MC yang aku dengar dari telepon. Sepertinya dia pun kesulitan mendengar suaraku. Mungkin memang aku harus ke sana. Nam
Chapter 6Pandu POV – FlashbackTak ada satu pun yang akan datang ke Jogja untuk peresmian besok. Tidak Papa. Tidak Mama. Tidak juga Lena. Bagi Papa resort ini tak lebih dari kios kecil jika dibandingkan dengan aset-asetnya yang lain. Sedangkan Mama, akan selalu berada di belakang suaminya, di mana pun itu.Untuk beberapa detik, aku hanya diam. Bukan karena terkejut, aku sudah menduganya. Tapi tetap saja, ada bagian kecil dalam diriku yang berharap aku salah.Apa yang aku rasakan sekarang mirip ketika dulu tak ada yang datang saat koleksi foto-fotoku dipajang dalam sebuah pameran kontemporer. Hanya Diana yang datang bersama teman-temannya, membanggakanku sebagai kakaknya.Lena tak seperti Mama. Dia lebih mirip partner dibanding istri. Dia baru bisa keluar kota seminggu lagi. Itu pun jika salon barunya sudah cukup stabil untuk ditinggal. Dan tanpa Lena, tentu saja, tak ada Fero.Dia tangguh sebagai seorang pengusaha. Sering kulihat tatapan kagum Papa padanya. Mungkin Papa berharap Lena-
Fara POV – FlashbackResort masih cukup sepi saat aku dan para tim mulai bekerja pagi ini. Hanya beberapa tamu yang sedang sarapan terlihat lalu lalang memilih menu. Belum banyak karena memang belum dibuka secara resmi.H-3 selalu menjadi fase yang rawan. Terlalu dekat untuk bersantai namun juga terlalu jauh untuk panik. Kertas layout yang aku bawa sudah penuh coretan pensil.“Fer, ikut aku.” Feri langsung menghentikan pekerjaannya lalu mengikutiku.Aku berjalan dari pintu masuk, berhenti, lalu berjalan lagi ke arah kursi VIP, dan mengulang dari awal. Feri mengikutiku tanpa banyak tanya, mereka sudah paham cara kerjaku.“Jalur VIP terlalu sempit. Kalau ada yang berhenti di sini, yang di belakang akan kebingungan.” Feri mengangguk. Kami berdiskusi singkat sebelum akhirnya sepakat.Aku sedikit jongkok menyerupai orang duduk di kursi pada beberapa titik, memastikan pandangan para tamu nantinya ke arah panggung tak terhalang apa pun. Aku tak peduli mungkin beberapa pasang mata melihat ke
Pandu POV – FlashbackPuluhan ikan koi berebut butir-butir pelet ikan yang aku tebarkan. Suara kecipak air menghiasi pagiku yang damai. Aku masih mengenakan celana pendek dan kaos semalam, bukan kemeja atau jas. Slow morning, kenyamanan yang sangat jarang aku rasakan.Menunggu jam delapan bisa terasa sangat lamban, namun jika aku menelepon terlalu pagi, Fero pasti masih mandi atau sarapan.“Halo, Fero,” sapaku setelah telepon diterima. Mbak Nani, pengasuh Fero sudah tahu jadwal kami.“Papa!” sapanya meriah dengan wajah yang memenuhi layar ponsel. “Liat ikan!” Wajah Fero menjadi terlalu dekat, hanya satu matanya yang aku lihat jelas.“Ngobrol sama Papa dulu,” kataku. Layarnya bergoyang-goyang. Lalu terlihat Fero yang sudah duduk di playmat-nya. Pasti Nani mendudukkannya.“Fero sarapan apa tadi?”“Ayam goleng.”“Habis makannya?”“Abis.” Kepalanya oleng ke kiri.Nani mengoreksi, ada wortel yang tidak Fero makan. Fero memang agak susah makan sayur, mirip Mamanya.“Papa pulang,” katanya sa







