Share

Chapter 9 - Fara

Author: Alexa Rd
last update publish date: 2026-04-18 21:23:26
Fara – Flashback

Aku menatap angka-angka di hadapanku, namun pikiranku entah ke mana. Kalau Pak Ridho tidak mengubah posisi duduknya, aku pasti masih terus mengulang-ulang apa yang aku lihat sekarang.

Lembaran final billing dari vendor lighting, harusnya aku tinggal transfer saja, namun mereka meminta revisi karena ada biaya tambahan. Aku memejamkan sejenak mataku untuk mengusir bayangan diriku berdiri di depan Pandu dan mengajaknya makan malam tadi.

“Ini saja perubahannya, kan?” tanyaku setelah
Alexa Rd

bila berkenan, mohon tinggalkan komentar atau ulasan ya. Push me to do better. Thank you

| Like
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Setelah Aku Bertemu Denganmu   Chapter 9 - Fara

    Fara – FlashbackAku menatap angka-angka di hadapanku, namun pikiranku entah ke mana. Kalau Pak Ridho tidak mengubah posisi duduknya, aku pasti masih terus mengulang-ulang apa yang aku lihat sekarang.Lembaran final billing dari vendor lighting, harusnya aku tinggal transfer saja, namun mereka meminta revisi karena ada biaya tambahan. Aku memejamkan sejenak mataku untuk mengusir bayangan diriku berdiri di depan Pandu dan mengajaknya makan malam tadi.“Ini saja perubahannya, kan?” tanyaku setelah beberapa saat membaca kembali. Tak terlalu banyak karena memang hanya sedikit penambahan tak terduga di event kemarin. Tak perlu meminta dari client karena kami selalu memiliki budget untuk hal tak terduga begini.Setelah konfirmasi ke kantor untuk pembayaran akhir, aku berjalan ke luar dari kantor Pak Ridho. Tengkukku masih dingin, beberapa bagian tubuhku pun seperti masih berusaha beradaptasi dengan apa yang tadi aku lakukan.Mengajak Pandu makan malam? Mengajak ex-client makan malam? What ha

  • Setelah Aku Bertemu Denganmu   Chapter 8 - Pandu

    Pandu POV – FlashbackSemua pakaian sudah masuk ke dalam koper berukuran 18 inch. Makan siang dengan Nizar nanti adalah kegiatan terakhirku di Jogja sebelum aku ke stasiun sore lalu kembali ke Jakarta.Aku sengaja memilih perjalanan dengan kereta, lebih lambat, lebih bisa diprediksi, lebih tenang. Sebagian lagi, mungkin karena aku tak ingin terlalu cepat untuk pulang. ‘Pulang’ kata yang bagiku jauh dari makna yang sebenarnya.Satu per satu foto bergulir di layar LED kamera manualku. Setidaknya ada banyak jejak kehidupan yang sudah aku bingkai di sini.Aku hampir menekan tombol ‘erase’ saat satu gambar terdisplay dengan background yang kurang ‘bersih’. Alih-alih menekannya, jariku memperbesar gambar itu. Ada harapan tertentu yang menarikku melakukannya.Kemeja putih itu mengingatkanku pada seseorang. Fara. Dan memang dia di sana, cukup jauh di belakang patung kayu berbentuk elang yang menjadi hiasan ruang tengah resort.Dia membelakangi kamera, namun karena dia menghadap ke samping, se

  • Setelah Aku Bertemu Denganmu   Chapter 7 - Fara

    Fara POV – Flashback Tak kunjung ada nada sambung dari nomor Pak Nizar, kepalaku sudah mau pecah rasanya. Kenapa tak ada yang memberi tahuku soal ini. Sebuah hadiah besar, sepeda motor, berpita, dari keluarga owner. Apa ini bagian dari acara? Doorprize atau apa? Sambungannya terhenti karena tak diangkat. Sialan! Lalu otakku memberi kilatan ingatan yang sangat berguna. Coretan di notebook yang aku pikir tak akan pernah aku gunakan. Buru-buru aku buka dan kutekan nomornya. Semoga dia bisa membantu sebelum aku harus menemui Pak Nizar secara langsung yang berarti berjalan ke deretan depan tamu, meminta arahan saat hari-H. Sungguh tidak profesional. Aku menekan tombol dial. Tadi aku melihatnya duduk di sebelah Pak Nizar, sepertinya dia cukup penting. Tapi ingatan itu langsung hilang setelah sambungan teleponku diangkat. “Halo, Pandu ... Halo ...” hanya suara musik dan MC yang aku dengar dari telepon. Sepertinya dia pun kesulitan mendengar suaraku. Mungkin memang aku harus ke sana. Nam

  • Setelah Aku Bertemu Denganmu   Chapter 6 - Pandu

    Chapter 6Pandu POV – FlashbackTak ada satu pun yang akan datang ke Jogja untuk peresmian besok. Tidak Papa. Tidak Mama. Tidak juga Lena. Bagi Papa resort ini tak lebih dari kios kecil jika dibandingkan dengan aset-asetnya yang lain. Sedangkan Mama, akan selalu berada di belakang suaminya, di mana pun itu.Untuk beberapa detik, aku hanya diam. Bukan karena terkejut, aku sudah menduganya. Tapi tetap saja, ada bagian kecil dalam diriku yang berharap aku salah.Apa yang aku rasakan sekarang mirip ketika dulu tak ada yang datang saat koleksi foto-fotoku dipajang dalam sebuah pameran kontemporer. Hanya Diana yang datang bersama teman-temannya, membanggakanku sebagai kakaknya.Lena tak seperti Mama. Dia lebih mirip partner dibanding istri. Dia baru bisa keluar kota seminggu lagi. Itu pun jika salon barunya sudah cukup stabil untuk ditinggal. Dan tanpa Lena, tentu saja, tak ada Fero.Dia tangguh sebagai seorang pengusaha. Sering kulihat tatapan kagum Papa padanya. Mungkin Papa berharap Lena-

  • Setelah Aku Bertemu Denganmu   Chapter 5 - Fara

    Fara POV – FlashbackResort masih cukup sepi saat aku dan para tim mulai bekerja pagi ini. Hanya beberapa tamu yang sedang sarapan terlihat lalu lalang memilih menu. Belum banyak karena memang belum dibuka secara resmi.H-3 selalu menjadi fase yang rawan. Terlalu dekat untuk bersantai namun juga terlalu jauh untuk panik. Kertas layout yang aku bawa sudah penuh coretan pensil.“Fer, ikut aku.” Feri langsung menghentikan pekerjaannya lalu mengikutiku.Aku berjalan dari pintu masuk, berhenti, lalu berjalan lagi ke arah kursi VIP, dan mengulang dari awal. Feri mengikutiku tanpa banyak tanya, mereka sudah paham cara kerjaku.“Jalur VIP terlalu sempit. Kalau ada yang berhenti di sini, yang di belakang akan kebingungan.” Feri mengangguk. Kami berdiskusi singkat sebelum akhirnya sepakat.Aku sedikit jongkok menyerupai orang duduk di kursi pada beberapa titik, memastikan pandangan para tamu nantinya ke arah panggung tak terhalang apa pun. Aku tak peduli mungkin beberapa pasang mata melihat ke

  • Setelah Aku Bertemu Denganmu   Chapter 4 - Pandu

    Pandu POV – FlashbackPuluhan ikan koi berebut butir-butir pelet ikan yang aku tebarkan. Suara kecipak air menghiasi pagiku yang damai. Aku masih mengenakan celana pendek dan kaos semalam, bukan kemeja atau jas. Slow morning, kenyamanan yang sangat jarang aku rasakan.Menunggu jam delapan bisa terasa sangat lamban, namun jika aku menelepon terlalu pagi, Fero pasti masih mandi atau sarapan.“Halo, Fero,” sapaku setelah telepon diterima. Mbak Nani, pengasuh Fero sudah tahu jadwal kami.“Papa!” sapanya meriah dengan wajah yang memenuhi layar ponsel. “Liat ikan!” Wajah Fero menjadi terlalu dekat, hanya satu matanya yang aku lihat jelas.“Ngobrol sama Papa dulu,” kataku. Layarnya bergoyang-goyang. Lalu terlihat Fero yang sudah duduk di playmat-nya. Pasti Nani mendudukkannya.“Fero sarapan apa tadi?”“Ayam goleng.”“Habis makannya?”“Abis.” Kepalanya oleng ke kiri.Nani mengoreksi, ada wortel yang tidak Fero makan. Fero memang agak susah makan sayur, mirip Mamanya.“Papa pulang,” katanya sa

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status