LOGIN
Fara POV – Saat Ini
Saat aku membuka mata, kamarku sudah terang benderang. Cahaya matahari tanpa permisi telah masuk melalui jendela yang tirainya memang tak aku tutup sejak semalam, membuat mataku yang bengkak lebih terasa perih. Kulirik jam meja yang ada di sebelah tempat tidur, pukul sepuluh lebih lima belas.
Aku menarik kembali selimut, berusaha mengejar kembali kedamaian dengan masuk ke alam mimpi, namun suara itu mengusikku lagi. Tak jauh dari bantalku, ponselku menyala dan bersuara. Biasanya aku membisukannya, entah kenapa semalam tak aku lakukan. Mungkin karena aku terlalu rindu.
Berdesir hatiku membaca namanya lagi di layar ponsel. Sayangnya, desiran halus itu kemudian diikuti oleh rasa sakit yang bertubi-tubi hingga mataku basah. Napasku tersengal seakan ada batu besar yang menindih dadaku. Dengan satu sentuhan cepat, kutekan tombol merah untuk mengakhiri penderitaanku, meski sesaat.
Mas Pandu, meski namanya sudah menghilang dari layar, namun setelah mataku terbuka, hanya itu yang mengisi kepalaku. Mungkin karena itu, akhir-akhir ini aku sangat suka tidur. Agar ia menghilang, agar kerinduan dan rasa sakitnya tak kurasakan.
Aku menyerah, sepertinya mimpi sudah tak mau lagi menjemputku. Lagi pula perutku keroncongan, kuseret kakiku ke dapur. Masih ada sisa nasi dan telur. Tak butuh waktu lama, nasi goreng sudah tersaji di hadapanku. Setiap gerakan rasanya seperti usaha menghindari pikiranku sendiri.
Mengapa aku harus mengiyakan desakan Kamila untuk istirahat. Aku tidak sakit, aku bisa membantu Wirya untuk event product launching-nya. Atau sekedar ke kantor, ikut rapat event selanjutnya, apa saja asal tidak di rumah.
Terlalu banyak kenangan Mas Pandu di sini. Meski dia tak sering datang, namun aku masih bisa mengingat saat ia berdiri di dapur ini, membuat sendiri kopinya. Aku juga masih ingat bagaimana ia memotret kumpulan lego di atas lemari pajangan, seakan mereka adalah benda peninggalan sejarah.
Rasa sakit di dada menyadarkanku kembali. Segera kuhabiskan nasi goreng yang tinggal sedikit dan meneguk segelas air putih.
Mataku memandang sekeliling rumah. Hampir tak ada hal yang perlu aku kerjakan. Bu Rumi pasti baru datang kemarin, bahkan tong sampah pun masih terlihat bersih.
Kuambil lagi ponsel di dekat piring kosongku, berharap ada pesan yang menyuruhku keluar rumah untuk sesuatu. Dari kisi jendela memang terlihat langit agak mendung, tapi siapa peduli. Cuaca di luar tak semendung hatiku.
Mendung? Lebih tepatnya seperti habis terkena badai. Semua rusak, rapuh, nyeri. Dan semua itu karena satu orang yang saat ini fotonya aku pandangi.
Foto ini adalah satu-satunya foto kami yang tersisa. Entah mengapa aku belum bisa menghapusnya. Mungkin karena di sana kami terlihat sangat ceria, sangat ‘jatuh cinta’.
“Bodoh!” umpatku pada diri sendiri sebelum menjatuhkan kembali ponselku. Aku kembali pada piring dan gelas kotor di hadapanku, membawanya lalu mencucinya dengan seksama untuk membunuh waktu.
Siangnya, aku mandi lalu keluar rumah. Tak kupedulikan gelegar guntur yang bergemuruh. Tak kupedulikan ke mana aku akan membawa mobilku. Setidaknya, otakku berkonsentrasi pada jalanan, bukan mengingat masa lalu.
Tapi otak manusia diciptakan untuk mengingat, bukan melupakan. Entah di antara belokan jalan, atau di lagu yang aku dengar dari radio, aku masih mengingatnya duduk di belakang setir mobil ini dan aku di sebelahnya.
Bagaimana kami tertawa karena lelucon receh yang ia keluarkan, bagaimana kami bernyanyi jika ada lagu yang kami kenali di radio. Semuanya masih tergambar jelas. Tentu masih jelas, baru seminggu ini aku menolak bertemu dengannya setelah apa yang aku lihat di resort minggu lalu.
Entah apa yang ada di pikiranku, atau kaki dan tanganku memiliki memorinya sendiri, mobilku melambat dan berhenti di depan Cethik Resort. Tempat yang seharusnya aku hindari karena di sinilah semuanya diawali dan diakhiri.
Gerbang resort itu kini dihiasi dengan sepasang janur melengkung, menandakan ada perayaan yang sedang diadakan di sana. Sejak resort ini dibuka, memang sudah banyak acara yang digelar.
Tepatnya sepuluh bulan lalu, aku menerima job untuk menangani event pembukaan Cethik Resort. Event yang awalnya aku kira hanya sebuah pekerjaan biasa, ternyata menjadi awal pertemuanku dengan Mas Pandu. Resort ini menjadi saksi bagaimana seorang Fara Sukma Anjani yang gila kerja, akhirnya luluh oleh seorang pria. Namun resort ini juga menjadi saksi, bagaimana pria tersebut menghancurkan hatinya dalam satu malam.
Fara – FlashbackAku menatap angka-angka di hadapanku, namun pikiranku entah ke mana. Kalau Pak Ridho tidak mengubah posisi duduknya, aku pasti masih terus mengulang-ulang apa yang aku lihat sekarang.Lembaran final billing dari vendor lighting, harusnya aku tinggal transfer saja, namun mereka meminta revisi karena ada biaya tambahan. Aku memejamkan sejenak mataku untuk mengusir bayangan diriku berdiri di depan Pandu dan mengajaknya makan malam tadi.“Ini saja perubahannya, kan?” tanyaku setelah beberapa saat membaca kembali. Tak terlalu banyak karena memang hanya sedikit penambahan tak terduga di event kemarin. Tak perlu meminta dari client karena kami selalu memiliki budget untuk hal tak terduga begini.Setelah konfirmasi ke kantor untuk pembayaran akhir, aku berjalan ke luar dari kantor Pak Ridho. Tengkukku masih dingin, beberapa bagian tubuhku pun seperti masih berusaha beradaptasi dengan apa yang tadi aku lakukan.Mengajak Pandu makan malam? Mengajak ex-client makan malam? What ha
Pandu POV – FlashbackSemua pakaian sudah masuk ke dalam koper berukuran 18 inch. Makan siang dengan Nizar nanti adalah kegiatan terakhirku di Jogja sebelum aku ke stasiun sore lalu kembali ke Jakarta.Aku sengaja memilih perjalanan dengan kereta, lebih lambat, lebih bisa diprediksi, lebih tenang. Sebagian lagi, mungkin karena aku tak ingin terlalu cepat untuk pulang. ‘Pulang’ kata yang bagiku jauh dari makna yang sebenarnya.Satu per satu foto bergulir di layar LED kamera manualku. Setidaknya ada banyak jejak kehidupan yang sudah aku bingkai di sini.Aku hampir menekan tombol ‘erase’ saat satu gambar terdisplay dengan background yang kurang ‘bersih’. Alih-alih menekannya, jariku memperbesar gambar itu. Ada harapan tertentu yang menarikku melakukannya.Kemeja putih itu mengingatkanku pada seseorang. Fara. Dan memang dia di sana, cukup jauh di belakang patung kayu berbentuk elang yang menjadi hiasan ruang tengah resort.Dia membelakangi kamera, namun karena dia menghadap ke samping, se
Fara POV – Flashback Tak kunjung ada nada sambung dari nomor Pak Nizar, kepalaku sudah mau pecah rasanya. Kenapa tak ada yang memberi tahuku soal ini. Sebuah hadiah besar, sepeda motor, berpita, dari keluarga owner. Apa ini bagian dari acara? Doorprize atau apa? Sambungannya terhenti karena tak diangkat. Sialan! Lalu otakku memberi kilatan ingatan yang sangat berguna. Coretan di notebook yang aku pikir tak akan pernah aku gunakan. Buru-buru aku buka dan kutekan nomornya. Semoga dia bisa membantu sebelum aku harus menemui Pak Nizar secara langsung yang berarti berjalan ke deretan depan tamu, meminta arahan saat hari-H. Sungguh tidak profesional. Aku menekan tombol dial. Tadi aku melihatnya duduk di sebelah Pak Nizar, sepertinya dia cukup penting. Tapi ingatan itu langsung hilang setelah sambungan teleponku diangkat. “Halo, Pandu ... Halo ...” hanya suara musik dan MC yang aku dengar dari telepon. Sepertinya dia pun kesulitan mendengar suaraku. Mungkin memang aku harus ke sana. Nam
Chapter 6Pandu POV – FlashbackTak ada satu pun yang akan datang ke Jogja untuk peresmian besok. Tidak Papa. Tidak Mama. Tidak juga Lena. Bagi Papa resort ini tak lebih dari kios kecil jika dibandingkan dengan aset-asetnya yang lain. Sedangkan Mama, akan selalu berada di belakang suaminya, di mana pun itu.Untuk beberapa detik, aku hanya diam. Bukan karena terkejut, aku sudah menduganya. Tapi tetap saja, ada bagian kecil dalam diriku yang berharap aku salah.Apa yang aku rasakan sekarang mirip ketika dulu tak ada yang datang saat koleksi foto-fotoku dipajang dalam sebuah pameran kontemporer. Hanya Diana yang datang bersama teman-temannya, membanggakanku sebagai kakaknya.Lena tak seperti Mama. Dia lebih mirip partner dibanding istri. Dia baru bisa keluar kota seminggu lagi. Itu pun jika salon barunya sudah cukup stabil untuk ditinggal. Dan tanpa Lena, tentu saja, tak ada Fero.Dia tangguh sebagai seorang pengusaha. Sering kulihat tatapan kagum Papa padanya. Mungkin Papa berharap Lena-
Fara POV – FlashbackResort masih cukup sepi saat aku dan para tim mulai bekerja pagi ini. Hanya beberapa tamu yang sedang sarapan terlihat lalu lalang memilih menu. Belum banyak karena memang belum dibuka secara resmi.H-3 selalu menjadi fase yang rawan. Terlalu dekat untuk bersantai namun juga terlalu jauh untuk panik. Kertas layout yang aku bawa sudah penuh coretan pensil.“Fer, ikut aku.” Feri langsung menghentikan pekerjaannya lalu mengikutiku.Aku berjalan dari pintu masuk, berhenti, lalu berjalan lagi ke arah kursi VIP, dan mengulang dari awal. Feri mengikutiku tanpa banyak tanya, mereka sudah paham cara kerjaku.“Jalur VIP terlalu sempit. Kalau ada yang berhenti di sini, yang di belakang akan kebingungan.” Feri mengangguk. Kami berdiskusi singkat sebelum akhirnya sepakat.Aku sedikit jongkok menyerupai orang duduk di kursi pada beberapa titik, memastikan pandangan para tamu nantinya ke arah panggung tak terhalang apa pun. Aku tak peduli mungkin beberapa pasang mata melihat ke
Pandu POV – FlashbackPuluhan ikan koi berebut butir-butir pelet ikan yang aku tebarkan. Suara kecipak air menghiasi pagiku yang damai. Aku masih mengenakan celana pendek dan kaos semalam, bukan kemeja atau jas. Slow morning, kenyamanan yang sangat jarang aku rasakan.Menunggu jam delapan bisa terasa sangat lamban, namun jika aku menelepon terlalu pagi, Fero pasti masih mandi atau sarapan.“Halo, Fero,” sapaku setelah telepon diterima. Mbak Nani, pengasuh Fero sudah tahu jadwal kami.“Papa!” sapanya meriah dengan wajah yang memenuhi layar ponsel. “Liat ikan!” Wajah Fero menjadi terlalu dekat, hanya satu matanya yang aku lihat jelas.“Ngobrol sama Papa dulu,” kataku. Layarnya bergoyang-goyang. Lalu terlihat Fero yang sudah duduk di playmat-nya. Pasti Nani mendudukkannya.“Fero sarapan apa tadi?”“Ayam goleng.”“Habis makannya?”“Abis.” Kepalanya oleng ke kiri.Nani mengoreksi, ada wortel yang tidak Fero makan. Fero memang agak susah makan sayur, mirip Mamanya.“Papa pulang,” katanya sa







