Se connecterFara POV - Flashback
Entah sudah berapa lama aku mengetukkan jariku ke penyangga tangan kursi kayu ini, namun rasanya memang sudah cukup lama. Ruangan di hadapanku masih kosong. Karyawan yang tadi menyilakanku menunggu juga belum memberi kabar apa-apa.
Sialan, sudah setengah jam lebih aku di sini dan belum mendapat apa-apa. Padahal aku dan Kamila sudah membuat janji dengan Pak Nizar kemarin. Dari dulu aku paling tidak suka menunggu tanpa kepastian. Waktu adalah ukuran seberapa serius seseorang memandang sesuatu.
Perusahaan event organizer kami akan menangani grand opening resort ini enam hari lagi. Semua detail sebenarnya sudah kami rencanakan sejak pertemuan pertama dengan Pak Nizar dua minggu lalu, namun hari ini aku perlu menunjukkan sesuatu padanya sebelum eksekusi akhir.
Empat puluh lima menit, dan kesabaranku ikut menipis. Kuangkat punggungku yang terasa panas karena sejak tadi duduk. Aku mendekati meja sekretaris.
“Bagaimana, Mbak? Apa sudah ada kabar lagi dari Pak Nizar?” Aku sudah beberapa kali berbicara dengan Mbak Vina ini. Kali ini dia hanya tersenyum.
“Saya telepon lagi ya, Kak.”
Aku balas tersenyum tanpa menjauh dari mejanya, melihat dia mencoba menelepon atasannya.
“Pak, masih ditunggu Kak Fara di sini.” Dia lalu terdiam mendengarkan. “Baik, Pak.” Tak lama ia menutup teleponnya.
Dari reaksinya, aku bersiap kembali ke kantor tanpa hasil. Namun ternyata aku salah.
“Kak Fara silakan menunggu di lobby, nanti akan ada seseorang dari manajemen yang akan menemui,” katanya tenang.
“Oke. Terima kasih, Mbak,” balasku singkat lalu berjalan ke arah luar.
Kenapa kami tidak bertemu di kantor? Pikirku. Tapi aku kembali duduk tenang di salah satu kursi lobby depan. Tak kubiarkan empat puluh lima menitku hilang sia-sia tanpa hasil.
Lima belas menit kemudian, datang seorang pria memakai kaos polo putih dengan celana panjang berwarna krem menghampiriku. Di dadanya terjuntai sebuah kamera manual.
“Fara?” tanyanya sopan.
Aku berdiri. “Ya.”
“Aku Pandu. Pak Nizar memintaku untuk menemuimu.”
Aku melihat dari atas hingga ke bawah. Pria ini jelas tidak sedang bekerja meski pakaiannya cukup rapi. Ada sisa keringat di dahinya, seolah baru berkeliling atau baru kembali dari luar area resort.
“Apa Anda betul karyawan di sini?” tanyaku tanpa ragu. Apa yang akan aku sampaikan ada hubungannya dengan biaya event ini. Tak boleh sembarang orang tahu.
Dia tertawa kecil yang membuatku sedikit tersinggung, sedikit terlalu santai untuk situasi ini. “Saya mengerti. Akan saya teleponkan Pak Nizar.”
Aku membiarkannya. Aku perlu bukti. Dia seperti sengaja menelepon di dekatku.
“Pak Nizar, Bu Fara ingin mengetahui kalau Anda memang meminta saya untuk bertemu dengannya. Mohon Bapak bicara langsung dengan Bu Fara.” Disodorkannya telepon genggamnya padaku. “Silahkan.”
“Halo,” sapaku. “Baik ... Baik, Pak ... terima kasih.”
Aku mengembalikan ponselnya. Senyum ramah masih tersungging di wajahnya.
“Kita bicara di lobby?” tanyanya. Aku hanya mengangguk.
Orang bernama Pandu ini memeriksa cukup detail mengenai perubahan budget yang aku laporkan melalui iPad. Digulirnya beberapa kali sambil dahinya berkerut.
“Tidak ada opsi lain?” tanyanya sambil menyerahkan iPadku.
“Ini yang paling masuk akal dan aman tanpa banyak mengorbankan estetika. VIP Guest dan tim dokumentasi akan sama-sama mendapatkan tempat yang strategis untuk melihat ke arah panggung.” Aku membuka kembali foto-foto area lobby dan kolam tengah untuk menekankan poinku.
Bukan salah kami kalau sampai hari H ternyata area kolam belum selesai renovasi. Sementara itu tak mungkin mengorbankan posisi salah satu dari mereka. Reputasi Event Organiser kami bisa tercoreng.
“Baiklah. Aku rasa memang itu yang terbaik. Aku setuju.” Pandu menyandarkan tubuhnya ke punggung sofa.
“Kamu setuju? Apa tidak seharusnya kamu teruskan file ini ke Pak Nizar?”
“Oh.” Tubuhnya tegak kembali. “Maksudku, aku akan menyampaikan dan meyakinkan Pak Nizar kalau ini solusi terbaik.” Ia terbatuk ringan.
Aku mengangguk. “Terima kasih.” Kurapikan iPad dan beberapa dokumen yang sedikit berserakan di meja. “Hari ini aku membawa beberapa teman untuk mengukur kembali. Kamu yakin kalau Pak Nizar pasti setuju, kan?”
“Dari sisi manajemen, ini paling logis. Aku rasa tidak ada alasan untuk menolaknya.”
“Okay. Kalau begitu kami akan mulai mengukur hari ini.” Aku memasukkan dokumen dan iPadku ke dalam tas. “Sudah kukirim filenya ke email Pak Nizar sejak pagi tadi.”
“Okay, akan aku sampaikan.”
Kami berdua sama-sama berdiri lalu menganggukkan kepala. Dia menungguku berjalan lebih dahulu. Dari ekor mataku sepertinya ia duduk kembali.
Aku dan tim menghabiskan waktu sekitar dua jam untuk mengukur kembali bagian resort yang akan digunakan untuk memindah lokasi awal. Meski hanya sebagian, namun aku tak ingin detail kecil ini mengganggu kesempurnaan acara. Acara ini harus berhasil. Ini adalah pertama kalinya aku memimpin secara langsung di bawah Kamila, aku tak ingin mengecewakannya.
Sebelum aku meninggalkan resort, aku melihat sosok Pandu lagi. Dia sedang mengambil gambar salah satu sudut resort dengan kameranya. Kenapa ahli keuangan juga mengambil foto hotel ini? Caranya memotret tampak terlalu fokus untuk sekadar iseng.
Mungkin itu hobinya saja, kutepis segera pikiran burukku. Yang jelas, kalau Pak Nizar tidak setuju dengan rancanganku tadi, akan aku cari orang itu. Satu acara gagal bisa menghapus puluhan yang berhasil. Dan aku tidak berniat membiarkan namaku masuk daftar itu.
Fara – FlashbackAku menatap angka-angka di hadapanku, namun pikiranku entah ke mana. Kalau Pak Ridho tidak mengubah posisi duduknya, aku pasti masih terus mengulang-ulang apa yang aku lihat sekarang.Lembaran final billing dari vendor lighting, harusnya aku tinggal transfer saja, namun mereka meminta revisi karena ada biaya tambahan. Aku memejamkan sejenak mataku untuk mengusir bayangan diriku berdiri di depan Pandu dan mengajaknya makan malam tadi.“Ini saja perubahannya, kan?” tanyaku setelah beberapa saat membaca kembali. Tak terlalu banyak karena memang hanya sedikit penambahan tak terduga di event kemarin. Tak perlu meminta dari client karena kami selalu memiliki budget untuk hal tak terduga begini.Setelah konfirmasi ke kantor untuk pembayaran akhir, aku berjalan ke luar dari kantor Pak Ridho. Tengkukku masih dingin, beberapa bagian tubuhku pun seperti masih berusaha beradaptasi dengan apa yang tadi aku lakukan.Mengajak Pandu makan malam? Mengajak ex-client makan malam? What ha
Pandu POV – FlashbackSemua pakaian sudah masuk ke dalam koper berukuran 18 inch. Makan siang dengan Nizar nanti adalah kegiatan terakhirku di Jogja sebelum aku ke stasiun sore lalu kembali ke Jakarta.Aku sengaja memilih perjalanan dengan kereta, lebih lambat, lebih bisa diprediksi, lebih tenang. Sebagian lagi, mungkin karena aku tak ingin terlalu cepat untuk pulang. ‘Pulang’ kata yang bagiku jauh dari makna yang sebenarnya.Satu per satu foto bergulir di layar LED kamera manualku. Setidaknya ada banyak jejak kehidupan yang sudah aku bingkai di sini.Aku hampir menekan tombol ‘erase’ saat satu gambar terdisplay dengan background yang kurang ‘bersih’. Alih-alih menekannya, jariku memperbesar gambar itu. Ada harapan tertentu yang menarikku melakukannya.Kemeja putih itu mengingatkanku pada seseorang. Fara. Dan memang dia di sana, cukup jauh di belakang patung kayu berbentuk elang yang menjadi hiasan ruang tengah resort.Dia membelakangi kamera, namun karena dia menghadap ke samping, se
Fara POV – Flashback Tak kunjung ada nada sambung dari nomor Pak Nizar, kepalaku sudah mau pecah rasanya. Kenapa tak ada yang memberi tahuku soal ini. Sebuah hadiah besar, sepeda motor, berpita, dari keluarga owner. Apa ini bagian dari acara? Doorprize atau apa? Sambungannya terhenti karena tak diangkat. Sialan! Lalu otakku memberi kilatan ingatan yang sangat berguna. Coretan di notebook yang aku pikir tak akan pernah aku gunakan. Buru-buru aku buka dan kutekan nomornya. Semoga dia bisa membantu sebelum aku harus menemui Pak Nizar secara langsung yang berarti berjalan ke deretan depan tamu, meminta arahan saat hari-H. Sungguh tidak profesional. Aku menekan tombol dial. Tadi aku melihatnya duduk di sebelah Pak Nizar, sepertinya dia cukup penting. Tapi ingatan itu langsung hilang setelah sambungan teleponku diangkat. “Halo, Pandu ... Halo ...” hanya suara musik dan MC yang aku dengar dari telepon. Sepertinya dia pun kesulitan mendengar suaraku. Mungkin memang aku harus ke sana. Nam
Chapter 6Pandu POV – FlashbackTak ada satu pun yang akan datang ke Jogja untuk peresmian besok. Tidak Papa. Tidak Mama. Tidak juga Lena. Bagi Papa resort ini tak lebih dari kios kecil jika dibandingkan dengan aset-asetnya yang lain. Sedangkan Mama, akan selalu berada di belakang suaminya, di mana pun itu.Untuk beberapa detik, aku hanya diam. Bukan karena terkejut, aku sudah menduganya. Tapi tetap saja, ada bagian kecil dalam diriku yang berharap aku salah.Apa yang aku rasakan sekarang mirip ketika dulu tak ada yang datang saat koleksi foto-fotoku dipajang dalam sebuah pameran kontemporer. Hanya Diana yang datang bersama teman-temannya, membanggakanku sebagai kakaknya.Lena tak seperti Mama. Dia lebih mirip partner dibanding istri. Dia baru bisa keluar kota seminggu lagi. Itu pun jika salon barunya sudah cukup stabil untuk ditinggal. Dan tanpa Lena, tentu saja, tak ada Fero.Dia tangguh sebagai seorang pengusaha. Sering kulihat tatapan kagum Papa padanya. Mungkin Papa berharap Lena-
Fara POV – FlashbackResort masih cukup sepi saat aku dan para tim mulai bekerja pagi ini. Hanya beberapa tamu yang sedang sarapan terlihat lalu lalang memilih menu. Belum banyak karena memang belum dibuka secara resmi.H-3 selalu menjadi fase yang rawan. Terlalu dekat untuk bersantai namun juga terlalu jauh untuk panik. Kertas layout yang aku bawa sudah penuh coretan pensil.“Fer, ikut aku.” Feri langsung menghentikan pekerjaannya lalu mengikutiku.Aku berjalan dari pintu masuk, berhenti, lalu berjalan lagi ke arah kursi VIP, dan mengulang dari awal. Feri mengikutiku tanpa banyak tanya, mereka sudah paham cara kerjaku.“Jalur VIP terlalu sempit. Kalau ada yang berhenti di sini, yang di belakang akan kebingungan.” Feri mengangguk. Kami berdiskusi singkat sebelum akhirnya sepakat.Aku sedikit jongkok menyerupai orang duduk di kursi pada beberapa titik, memastikan pandangan para tamu nantinya ke arah panggung tak terhalang apa pun. Aku tak peduli mungkin beberapa pasang mata melihat ke
Pandu POV – FlashbackPuluhan ikan koi berebut butir-butir pelet ikan yang aku tebarkan. Suara kecipak air menghiasi pagiku yang damai. Aku masih mengenakan celana pendek dan kaos semalam, bukan kemeja atau jas. Slow morning, kenyamanan yang sangat jarang aku rasakan.Menunggu jam delapan bisa terasa sangat lamban, namun jika aku menelepon terlalu pagi, Fero pasti masih mandi atau sarapan.“Halo, Fero,” sapaku setelah telepon diterima. Mbak Nani, pengasuh Fero sudah tahu jadwal kami.“Papa!” sapanya meriah dengan wajah yang memenuhi layar ponsel. “Liat ikan!” Wajah Fero menjadi terlalu dekat, hanya satu matanya yang aku lihat jelas.“Ngobrol sama Papa dulu,” kataku. Layarnya bergoyang-goyang. Lalu terlihat Fero yang sudah duduk di playmat-nya. Pasti Nani mendudukkannya.“Fero sarapan apa tadi?”“Ayam goleng.”“Habis makannya?”“Abis.” Kepalanya oleng ke kiri.Nani mengoreksi, ada wortel yang tidak Fero makan. Fero memang agak susah makan sayur, mirip Mamanya.“Papa pulang,” katanya sa







