LOGINFara POV – Flashback
Tak kunjung ada nada sambung dari nomor Pak Nizar, kepalaku sudah mau pecah rasanya. Kenapa tak ada yang memberi tahuku soal ini. Sebuah hadiah besar, sepeda motor, berpita, dari keluarga owner. Apa ini bagian dari acara? Doorprize atau apa?Sambungannya terhenti karena tak diangkat. Sialan!Lalu otakku memberi kilatan ingatan yang sangat berguna. Coretan di notebook yang aku pikir tak akan pernah aku gunakan. Buru-buru aku buka dan kutekan nomoFara POV – FlashbackTak kunjung ada nada sambung dari nomor Pak Nizar, kepalaku sudah mau pecah rasanya. Kenapa tak ada yang memberi tahuku soal ini. Sebuah hadiah besar, sepeda motor, berpita, dari keluarga owner. Apa ini bagian dari acara? Doorprize atau apa?Sambungannya terhenti karena tak diangkat. Sialan!Lalu otakku memberi kilatan ingatan yang sangat berguna. Coretan di notebook yang aku pikir tak akan pernah aku gunakan. Buru-buru aku buka dan kutekan nomornya. Semoga dia bisa membantu sebelum aku harus menemui Pak Nizar secara langsung yang berarti berjalan ke deretan depan tamu, meminta arahan saat hari-H. Sungguh tidak profesional.Aku menekan tombol dial. Tadi aku melihatnya duduk di sebelah Pak Nizar, sepertinya dia cukup penting. Tapi ingatan itu langsung hilang setelah sambungan teleponku diangkat.“Halo, Pandu ... Halo ...” hanya suara musik dan MC yang aku dengar dari telepon. Sepertinya dia pun kesulitan mendengar suar
Chapter 6Pandu POV – FlashbackTak ada satu pun yang akan datang ke Jogja untuk peresmian besok. Tidak Papa. Tidak Mama. Tidak juga Lena. Bagi Papa resort ini tak lebih dari kios kecil jika dibandingkan dengan aset-asetnya yang lain. Sedangkan Mama, akan selalu berada di belakang suaminya, di mana pun itu.Untuk beberapa detik, aku hanya diam. Bukan karena terkejut, aku sudah menduganya. Tapi tetap saja, ada bagian kecil dalam diriku yang berharap aku salah.Apa yang aku rasakan sekarang mirip ketika dulu tak ada yang datang saat koleksi foto-fotoku dipajang dalam sebuah pameran kontemporer. Hanya Diana yang datang bersama teman-temannya, membanggakanku sebagai kakaknya.Lena tak seperti Mama. Dia lebih mirip partner dibanding istri. Dia baru bisa keluar kota seminggu lagi. Itu pun jika salon barunya sudah cukup stabil untuk ditinggal. Dan tanpa Lena, tentu saja, tak ada Fero.Dia tangguh sebagai seorang pengusaha. Sering kulihat tatapan kagum Papa padanya. Mungkin Papa berharap Lena
Fara POV – FlashbackResort masih cukup sepi saat aku dan para tim mulai bekerja pagi ini. Hanya beberapa tamu yang sedang sarapan terlihat lalu lalang memilih menu. Belum banyak karena memang belum dibuka secara resmi.H-3 selalu menjadi fase yang rawan. Terlalu dekat untuk bersantai namun juga terlalu jauh untuk panik. Kertas layout yang aku bawa sudah penuh coretan pensil.“Fer, ikut aku.” Feri langsung menghentikan pekerjaannya lalu mengikutiku.Aku berjalan dari pintu masuk, berhenti, lalu berjalan lagi ke arah kursi VIP, dan mengulang dari awal. Feri mengikutiku tanpa banyak tanya, mereka sudah paham cara kerjaku.“Jalur VIP terlalu sempit. Kalau ada yang berhenti di sini, yang di belakang akan kebingungan.” Feri mengangguk. Kami berdiskusi singkat sebelum akhirnya sepakat.Aku sedikit jongkok menyerupai orang duduk di kursi pada beberapa titik, memastikan pandangan para tamu nantinya ke arah panggung tak terhalang apa pun. Aku tak peduli mungkin beberapa pasang mata melihat ke
Pandu POV – FlashbackPuluhan ikan koi berebut butir-butir pelet ikan yang aku tebarkan. Suara kecipak air menghiasi pagiku yang damai. Aku masih mengenakan celana pendek dan kaos semalam, bukan kemeja atau jas. Slow morning, kenyamanan yang sangat jarang aku rasakan.Menunggu jam delapan bisa terasa sangat lamban, namun jika aku menelepon terlalu pagi, Fero pasti masih mandi atau sarapan.“Halo, Fero,” sapaku setelah telepon diterima. Mbak Nani, pengasuh Fero sudah tahu jadwal kami.“Papa!” sapanya meriah dengan wajah yang memenuhi layar ponsel. “Liat ikan!” Wajah Fero menjadi terlalu dekat, hanya satu matanya yang aku lihat jelas.“Ngobrol sama Papa dulu,” kataku. Layarnya bergoyang-goyang. Lalu terlihat Fero yang sudah duduk di playmat-nya. Pasti Nani mendudukkannya.“Fero sarapan apa tadi?”“Ayam goleng.”“Habis makannya?”“Abis.” Kepalanya oleng ke kiri.Nani mengoreksi, ada wortel yang tidak Fero makan. Fero memang agak susah makan sayur, mirip Mamanya.“Papa pulang,” katanya sa
Fara POV - FlashbackEntah sudah berapa lama aku mengetukkan jariku ke penyangga tangan kursi kayu ini, namun rasanya memang sudah cukup lama. Ruangan di hadapanku masih kosong. Karyawan yang tadi menyilakanku menunggu juga belum memberi kabar apa-apa.Sialan, sudah setengah jam lebih aku di sini dan belum mendapat apa-apa. Padahal aku dan Kamila sudah membuat janji dengan Pak Nizar kemarin. Dari dulu aku paling tidak suka menunggu tanpa kepastian. Waktu adalah ukuran seberapa serius seseorang memandang sesuatu.Perusahaan event organizer kami akan menangani grand opening resort ini enam hari lagi. Semua detail sebenarnya sudah kami rencanakan sejak pertemuan pertama dengan Pak Nizar dua minggu lalu, namun hari ini aku perlu menunjukkan sesuatu padanya sebelum eksekusi akhir.Empat puluh lima menit, dan kesabaranku ikut menipis. Kuangkat punggungku yang terasa panas karena sejak tadi duduk. Aku mendekati meja sekretaris.“Bagaimana, Mbak? Apa sudah ada kabar lagi dari Pak Nizar?” Aku
Pandu POV - FlashbackAkhirnya sampai juga setelah perjalanan panjang dari bandara ke sini. Aku sengaja tidak memberi tahu Nizar kalau aku akan datang hari ini. Biar dia kegirangan melihatku, atau malah kelimpungan? Kangen juga melihat berandal itu secara langsung.Resort ini tampak jauh berbeda dibanding terakhir aku ke sini. Saat itu besi-besi penopang masih berdiri di mana-mana, seperti rangka tulang yang menunggu diisi kehidupan. Hanya danaunya yang sudah selesai dan bisa aku nikmati keindahannya.Kini semuanya telah berpadu. bangunan mengilat, udara lembut, dan taburan cahaya matahari yang jatuh di antara pohon kamboja seperti serpihan ketenangan yang sulit kutemukan di ibukota. Mungkin ini pertama kalinya dalam beberapa bulan aku merasa dadaku tidak sesak.“Pandu Dharma,” kataku pada resepsionis. Seragam mereka khas budaya Jogja. Kebaya batik berwarna maroon dan coklat. Entah siapa yang memilihnya dulu, Nizar atau Lena?Resort ini adalah bisnis penginapan pertama yang dibuka kel







