Share

Chapter 5 - Fara

Author: Alexa Rd
last update publish date: 2026-03-22 17:50:08

Fara POV – Flashback

Resort masih cukup sepi saat aku dan para tim mulai bekerja pagi ini. Hanya beberapa tamu yang sedang sarapan terlihat lalu lalang memilih menu. Belum banyak karena memang belum dibuka secara resmi.

H-3 selalu menjadi fase yang rawan. Terlalu dekat untuk bersantai namun juga terlalu jauh untuk panik. Kertas layout yang aku bawa sudah penuh coretan pensil.

“Fer, ikut aku.” Feri langsung menghentikan pekerjaannya lalu mengikutiku.

Aku berjalan dari pintu masuk, berhenti, lalu berjalan lagi ke arah kursi VIP, dan mengulang dari awal. Feri mengikutiku tanpa banyak tanya, mereka sudah paham cara kerjaku.

“Jalur VIP terlalu sempit. Kalau ada yang berhenti di sini, yang di belakang akan kebingungan.” Feri mengangguk. Kami berdiskusi singkat sebelum akhirnya sepakat.

Aku sedikit jongkok menyerupai orang duduk di kursi pada beberapa titik, memastikan pandangan para tamu nantinya ke arah panggung tak terhalang apa pun. Aku tak peduli mungkin beberapa pasang mata melihat ke arahku.

Setelah puas pada seating, aku mendekati vendor audio.

Sound check nanti jam sepuluh, ya,” kataku pada salah satu dari mereka. “Openingnya jangan lama-lama. Lima belas menit saja.”

“Kenapa mbak?”

“Ini resort, bukan ballroom.”

“Oke.”

Aku mencatat lagi lalu duduk di salah satu kursi. Kubaca-baca lagi catatanku.

“Hai,” sebuah suara mengagetkanku.

Pria berkaos polo itu, tapi aku lupa namanya.

“Hai,” sapaku kembali tanpa mengubah posisi dudukku.

Tanpa canggung dia duduk di sebelahku, kami terpisah sebuah kursi kosong di mana aku meletakkan beberapa dokumen. “Kamu menyiapkan semuanya dengan detail dan rapi.”

Ada rasa aneh yang kurasakan meski sebentar. “Terima kasih,” jawabku singkat dengan senyum profesional. “Maaf, siapa namamu kemarin?”

Dia tersenyum ringan. “Pandu, Pandu Dharma.”

“Ah, Pandu. Maaf.”

“Tidak apa-apa. Pasti banyak yang harus kamu pikirkan sekarang. Tapi, dari laporanmu kemarin dan apa yang aku lihat tadi, aku ingin mengatakan kalau kamu menyiapkan alurnya dengan sangat rapi. Aku yakin even ini akan sukses.”

Kini aku mengenali rasa aneh tadi. Perutku menegang sebentar sebelum senyum kecil terlepas dari wajahku.

Kami terdiam beberapa detik sebelum Pandu pamit dan berlalu. Setelah dia menjauh, aku membaca lagi catatan-catatanku, namun sepertinya fokusku tak sepenuhnya kembali.

Ada sensasi lama yang muncul setiap kali aku mendengar pujian. Rasa malu, rasa tak pantas. Aku menutup layout, menarik napas dalam lalu memfokuskan mata ke sekitar. Masih banyak yang harus dikerjakan hari ini.

Sinar matahari sore mulai berwarna jingga. Kecuali tim EO dan karyawan hotel, tak banyak terlihat orang berlalu-lalang. Mungkin para tamu beristirahat di kamarnya atau menikmati sore hari di Jogja, tim vendor pun sudah pulang dari siang.

Aku membuat tanda di check-list terakhir hari ini. Anggukan kepalaku pada Feri dan Darwis membuat senyum di wajah mereka. Cukup untuk hari ini, meski di dalam kepalaku masih banyak kekhawatiran.

Sambil memijat pelan leher dan punggungku di sela-sela kemacetan Jogja di sore hari, aku menjalankan mobilku dengan pelan. Bunyi klakson terdengar beberapa kali akibat lampu hijau yang terlalu pendek. Aku tetap menghentikan mobilku, aturan ada untuk dilakukan.

Rumah yang gelap selalu menyambutku saat aku pulang di sore hari. Kuhidupkan lampu teras dan ruang tamu sekedar agar rumah ini tampak berpenghuni. Setelah melepas sepatu dan mengganti pakaian, kurebahkan diri di atas tempat tidur, kubiarkan kamarku gelap.

Lalu seperti teringat sesuatu, tubuhku duduk dengan segera. Apa-apaan, aku tidak boleh bermalasan. Kulangkahkan kaki untuk menyalakan lampu. Kutatap sebentar pantulan wajahku di cermin sebelum menutup pintu kamar mandi.

Sialan! Umpatku dalam hati saat kuah soto panasku tumpah ke atas meja makan. Buru-buru aku ambil tisu lalu menyeka area yang basah. Pasti lengket karena ini soto bersantan.

Kubasahi lap meja lalu kuseka ulang beberapa kali. Setelah aku memastikan tak ada noda dan bekas lengket, kusapu lagi menggunakan tisu basah.

Tengkukku dingin. Teringat kembali adegan saat aku menumpahkan makanan di meja makan persis di depan ayah dan ibuku.

Tatapan ayah yang selalu dingin, malam itu semakin tajam menusuk bagai bongkahan es di dadaku. Ibuku tak bereaksi. Ayah akan marah kalau aku tak membereskan kekacauanku sendiri.

Setelah aku memastikan mejanya kering sempurna, kutarik kembali mangkuk sotoku. Sudah setengah dingin.

Keesokan harinya aku datang lebih pagi. H-2 adalah jadwal pemasangan kanopi tambahan. Area semi outdoor memang paling riskan dengan cuaca, kalau salah perhitungan dan alam tidak mau bekerja sama, bisa rusak semuanya.

Aku melihat jam tanganku, sudah pukul setengah sembilan. Aku ingat aku meminta vendor datang pukul delapan dan mereka menyetujuinya. Tanpa sadar jariku terus mengetuk jam tangan yang tak punya salah apa-apa.

Dua buah pick-up akhirnya berhenti di depan pintu masuk samping. Kuhembuskan napas yang sepertinya sudah tertahan lama.

“Maaf, Mbak. Ada personel yang mendadak cuti, jadi lama loadingnya.”

Aku melihat ke arah tim yang mereka bawa. “Segini saja cukup? Gak perlu tambahan lagi?”

“Cukup, Mbak.”

“Ya sudah buruan mulai. Jangan ada kesalahan, ya.” kataku datar. Selain kanopi, vendor untuk panggung juga mulai pemasangan hari ini. Ada banyak hal yang harus aku awasi.

Telepon dari Kamila aku terima di siang hari. Dia menanyakan progres hari ini. Semua terkendali, jawabku sambil menjabarkan progresnya. Setelah telepon ditutup, aku baca kembali apa-apa yang sudah aku katakan.

“Makan, yuk.” Suara seseorang yang tiba-tiba sudah ada di sampingku. Pandu Dharma.

“Panggungnya belum selesai.”

“Aku rasa mereka tak akan pergi sebelum bertemu denganmu nanti.” Dia tersenyum. “Aku tidak bermaksud tak sopan, hanya saja aku melihatmu dari tadi dan ini sudah sangat lewat jam makan siang.”

Aku melihat jam tanganku. Bukannya aku tak sadar kalau aku lapar, hanya saja ....

“Aku juga baru mau makan di restoran sebelah,” katanya sambil menunjuk ke depan.

Ada jeda sebentar. Aku menatap matanya seakan mencari ancaman. Namun dia begitu tenang. Dan aku berhutang padanya. Dia membantuku sebelumnya.

Sepertinya dia hampir meninggalkanku saat akhirnya aku menjawab. “Baiklah.”

Restoran ini dibuat mengapung di danau buatan kedua. Sama seperti danau yang ada di resort, ada banyak ikan koi yang menghuni kedalamannya. Aku memilih tempat duduk persis di depan danau, agar ada pemandangan yang bisa menjadi perhatian.

Selama mondar-mandir handle event di si ini, baru kali ini aku makan di restoran ini. Selebihnya aku memesan makanan lalu makan di lokasi bersama tim, atau vendor, atau sendiri.

“Bagaimana persiapannya?” tanya Pandu, mungkin sekedar basa-basi mengisi keheningan kami. Di tengah meja ada dua nasi goreng. Seafood miliknya dan nasi goreng ayam punyaku.

“Semua berjalan sesuai rencana. Besok gladi bersih.” Sepertinya kalimat ini lebih terasa untuk menenangkanku sendiri dibanding sebuah jawaban.

“Aku melihat ada kanopi, kau mengantisipasi cuaca dengan baik.”

Aku membuang muka ke arah danau. Puluhan ikan bermunculan saat anak kecil di belakang kami menebar makanan. “Sudah seharusnya. Kita tidak bisa mengendalikan cuaca.”

Aku harus mengingatkan kembali penata dekorasi besok agar mengosongkan area tepi sesuai denah yang sudah aku buat. Meski ada kanopi, aku tak yakin bisa menghalangi hujan yang disertai angin.

“Apa kau bekerja di sini setiap hari?” tanyaku padanya.

Dia menarik tubuhnya sebelum menjawab. “Aku bekerja untuk resort ini, namun aku tidak bekerja di sini. Aku dari ibukota.” Dia tersenyum. “Pekerjaanmu sangat rapi,” lanjutnya.

Kata-katanya membuatku mengalihkan pandangan dari danau padanya, namun hanya dua detik, aku memilih fokus kembali pada makananku. Sebaiknya aku tidak berlama-lama meninggalkan pekerjaan.

“Aku akan kembali lebih dulu, masih banyak yang harus aku awasi,” kataku setelah makananku habis. “Aku akan membayar makananku.”

“Tinggalkan saja, biar aku yang membayarnya nanti.”

“Tidak perlu. Terima kasih untuk bantuanmu dulu.” Aku menegakkan tubuhku.

Wait, kamu pasti punya pen dan kertas, kan?” Aku mengangguk. Dia lalu memintanya. Meski aku tak mengerti maksudnya namun seperti tersihir, aku mengeluarkan pen dan membuka halaman kosong di notebook kecil tempat aku menulis pesan pengingat.

Dia menulis sesuatu setelah itu menyerahkannya kembali padaku tanpa menyobeknya. “Ini nomorku, hubungi aku kalau kau butuh bantuan.”

Aku membaca beberapa digit nomor yang tertulis di sana. Tulisannya rapi. Keningku berkerut. Belum pernah aku ditawari bantuan dari luar. Aku segera menutupnya dan memasukkannya kembali ke dalam tas. Mungkin nomor ini tak akan pernah aku gunakan.

“Terima kasih,” kataku sopan lalu meninggalkannya menuju kasir.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Setelah Aku Bertemu Denganmu   Chapter 9 - Fara

    Fara – FlashbackAku menatap angka-angka di hadapanku, namun pikiranku entah ke mana. Kalau Pak Ridho tidak mengubah posisi duduknya, aku pasti masih terus mengulang-ulang apa yang aku lihat sekarang.Lembaran final billing dari vendor lighting, harusnya aku tinggal transfer saja, namun mereka meminta revisi karena ada biaya tambahan. Aku memejamkan sejenak mataku untuk mengusir bayangan diriku berdiri di depan Pandu dan mengajaknya makan malam tadi.“Ini saja perubahannya, kan?” tanyaku setelah beberapa saat membaca kembali. Tak terlalu banyak karena memang hanya sedikit penambahan tak terduga di event kemarin. Tak perlu meminta dari client karena kami selalu memiliki budget untuk hal tak terduga begini.Setelah konfirmasi ke kantor untuk pembayaran akhir, aku berjalan ke luar dari kantor Pak Ridho. Tengkukku masih dingin, beberapa bagian tubuhku pun seperti masih berusaha beradaptasi dengan apa yang tadi aku lakukan.Mengajak Pandu makan malam? Mengajak ex-client makan malam? What ha

  • Setelah Aku Bertemu Denganmu   Chapter 8 - Pandu

    Pandu POV – FlashbackSemua pakaian sudah masuk ke dalam koper berukuran 18 inch. Makan siang dengan Nizar nanti adalah kegiatan terakhirku di Jogja sebelum aku ke stasiun sore lalu kembali ke Jakarta.Aku sengaja memilih perjalanan dengan kereta, lebih lambat, lebih bisa diprediksi, lebih tenang. Sebagian lagi, mungkin karena aku tak ingin terlalu cepat untuk pulang. ‘Pulang’ kata yang bagiku jauh dari makna yang sebenarnya.Satu per satu foto bergulir di layar LED kamera manualku. Setidaknya ada banyak jejak kehidupan yang sudah aku bingkai di sini.Aku hampir menekan tombol ‘erase’ saat satu gambar terdisplay dengan background yang kurang ‘bersih’. Alih-alih menekannya, jariku memperbesar gambar itu. Ada harapan tertentu yang menarikku melakukannya.Kemeja putih itu mengingatkanku pada seseorang. Fara. Dan memang dia di sana, cukup jauh di belakang patung kayu berbentuk elang yang menjadi hiasan ruang tengah resort.Dia membelakangi kamera, namun karena dia menghadap ke samping, se

  • Setelah Aku Bertemu Denganmu   Chapter 7 - Fara

    Fara POV – Flashback Tak kunjung ada nada sambung dari nomor Pak Nizar, kepalaku sudah mau pecah rasanya. Kenapa tak ada yang memberi tahuku soal ini. Sebuah hadiah besar, sepeda motor, berpita, dari keluarga owner. Apa ini bagian dari acara? Doorprize atau apa? Sambungannya terhenti karena tak diangkat. Sialan! Lalu otakku memberi kilatan ingatan yang sangat berguna. Coretan di notebook yang aku pikir tak akan pernah aku gunakan. Buru-buru aku buka dan kutekan nomornya. Semoga dia bisa membantu sebelum aku harus menemui Pak Nizar secara langsung yang berarti berjalan ke deretan depan tamu, meminta arahan saat hari-H. Sungguh tidak profesional. Aku menekan tombol dial. Tadi aku melihatnya duduk di sebelah Pak Nizar, sepertinya dia cukup penting. Tapi ingatan itu langsung hilang setelah sambungan teleponku diangkat. “Halo, Pandu ... Halo ...” hanya suara musik dan MC yang aku dengar dari telepon. Sepertinya dia pun kesulitan mendengar suaraku. Mungkin memang aku harus ke sana. Nam

  • Setelah Aku Bertemu Denganmu   Chapter 6 - Pandu

    Chapter 6Pandu POV – FlashbackTak ada satu pun yang akan datang ke Jogja untuk peresmian besok. Tidak Papa. Tidak Mama. Tidak juga Lena. Bagi Papa resort ini tak lebih dari kios kecil jika dibandingkan dengan aset-asetnya yang lain. Sedangkan Mama, akan selalu berada di belakang suaminya, di mana pun itu.Untuk beberapa detik, aku hanya diam. Bukan karena terkejut, aku sudah menduganya. Tapi tetap saja, ada bagian kecil dalam diriku yang berharap aku salah.Apa yang aku rasakan sekarang mirip ketika dulu tak ada yang datang saat koleksi foto-fotoku dipajang dalam sebuah pameran kontemporer. Hanya Diana yang datang bersama teman-temannya, membanggakanku sebagai kakaknya.Lena tak seperti Mama. Dia lebih mirip partner dibanding istri. Dia baru bisa keluar kota seminggu lagi. Itu pun jika salon barunya sudah cukup stabil untuk ditinggal. Dan tanpa Lena, tentu saja, tak ada Fero.Dia tangguh sebagai seorang pengusaha. Sering kulihat tatapan kagum Papa padanya. Mungkin Papa berharap Lena-

  • Setelah Aku Bertemu Denganmu   Chapter 5 - Fara

    Fara POV – FlashbackResort masih cukup sepi saat aku dan para tim mulai bekerja pagi ini. Hanya beberapa tamu yang sedang sarapan terlihat lalu lalang memilih menu. Belum banyak karena memang belum dibuka secara resmi.H-3 selalu menjadi fase yang rawan. Terlalu dekat untuk bersantai namun juga terlalu jauh untuk panik. Kertas layout yang aku bawa sudah penuh coretan pensil.“Fer, ikut aku.” Feri langsung menghentikan pekerjaannya lalu mengikutiku.Aku berjalan dari pintu masuk, berhenti, lalu berjalan lagi ke arah kursi VIP, dan mengulang dari awal. Feri mengikutiku tanpa banyak tanya, mereka sudah paham cara kerjaku.“Jalur VIP terlalu sempit. Kalau ada yang berhenti di sini, yang di belakang akan kebingungan.” Feri mengangguk. Kami berdiskusi singkat sebelum akhirnya sepakat.Aku sedikit jongkok menyerupai orang duduk di kursi pada beberapa titik, memastikan pandangan para tamu nantinya ke arah panggung tak terhalang apa pun. Aku tak peduli mungkin beberapa pasang mata melihat ke

  • Setelah Aku Bertemu Denganmu   Chapter 4 - Pandu

    Pandu POV – FlashbackPuluhan ikan koi berebut butir-butir pelet ikan yang aku tebarkan. Suara kecipak air menghiasi pagiku yang damai. Aku masih mengenakan celana pendek dan kaos semalam, bukan kemeja atau jas. Slow morning, kenyamanan yang sangat jarang aku rasakan.Menunggu jam delapan bisa terasa sangat lamban, namun jika aku menelepon terlalu pagi, Fero pasti masih mandi atau sarapan.“Halo, Fero,” sapaku setelah telepon diterima. Mbak Nani, pengasuh Fero sudah tahu jadwal kami.“Papa!” sapanya meriah dengan wajah yang memenuhi layar ponsel. “Liat ikan!” Wajah Fero menjadi terlalu dekat, hanya satu matanya yang aku lihat jelas.“Ngobrol sama Papa dulu,” kataku. Layarnya bergoyang-goyang. Lalu terlihat Fero yang sudah duduk di playmat-nya. Pasti Nani mendudukkannya.“Fero sarapan apa tadi?”“Ayam goleng.”“Habis makannya?”“Abis.” Kepalanya oleng ke kiri.Nani mengoreksi, ada wortel yang tidak Fero makan. Fero memang agak susah makan sayur, mirip Mamanya.“Papa pulang,” katanya sa

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status