ANMELDENKegiatan sore itu dipenuhi oleh kesibukan khas kegiatan camping.Anak-anak dibagi menjadi beberapa regu dan diajarkan cara mendirikan tenda kecil. Suara tawa, keluhan anak-anak yang kesulitan memasang pasak, dan peluit para pembina saling bersahutan memecah kesunyian hutan.Di tengah kesibukan tersebut, Clara tampil sebagai sosok guru yang paling sempurna.Wanita itu berkeliling dari satu tenda ke tenda lain membantu anak-anak yang kesulitan. Ia membagikan plester luka untuk mereka yang tergores ranting, dan selalu melemparkan senyum hangat.Sikapnya yang anggun dan perhatian membuatnya menjadi guru favorit di mata anak-anak dan staf lainnya.Hingga akhirnya, langkah Clara berhenti tepat di depan tenda berwarna biru dongker milik Regu Singa—regu tempat Ares, Altair, dan dua teman mereka bergabung."Bagaimana tenda kalian, jagoan-jagoan kecil?" sapa Clara dengan suara merdu. Ia berjongkok di depan pintu tenda, menatap Ares yang sedang berjuang keras mengikat tali pasak.Ares mendongak,
Langkah kaki Sabiya di sepanjang lorong Rumah Sakit Sentral Denver terdengar sedikit tergesa-gesa. Selain ingin bertemu dengan Roman yang siang ini akan menjalani terapi kedua, Sabiya juga ingin menceritakan keberangkatan si kembar.Begitu pintu kamar perawatan terbuka, Sabiya melangkah masuk dengan napas yang sedikit tertahan.Di atas ranjang medis, Roman sedang duduk bersandar seraya membaca sebuah laporan dari layar tablet di tangannya.Namun, insting pria itu terlalu tajam. Bahkan sebelum pintu tertutup rapat, ekor mata Roman sudah menangkap pergerakan Sabiya.Apalagi, berdasarkan pengalaman masa lalunya yang pernah ditinggalkan, Roman lebih cermat dan sensitif dalam mencermati setiap perubahan dari wanita yang ia cintai.Ia pun mengangkat wajah, dan dalam hitungan detik, raut tenang sang penguasa klan Valeriano berubah mengeras.Roman meletakkan tabletnya ke atas nakas dengan gerakan cepat. Matanya yang tajam memindai gestur tubuh Sabiya."Sabiya, kau sudah selesai mengantar anak
Sabiya memutar badannya dan berjalan kembali menuju mobil yang menunggunya dengan mesin menyala.Zavier dan Liam membukakan pintu dengan cermat, membiarkan Sabiya melangkah masuk dan duduk bersandar di kursi penumpang.Mobil itu mulai melaju pelan meninggalkan area sekolah menuju jalan protokol yang akan membawa mereka kembali ke Rumah Sakit Sentral Denver.Wanita itu menyandarkan kepalanya pada kaca jendela, menatap deretan pepohonan kota yang bergerak cepat. Tiba-tiba, sebuah gelombang kecemasan mendera hati Sabiya. Ia pun menekan dada kirinya sembari menarik napas panjang berulang kali.Ini pasti hanya kekhawatiran biasa karena dia baru pertama kali membiarkan si kembar pergi cukup lama.Zavier yang duduk di kursi penumpang depan tak sengaja melirik ke arah kaca spion tengah. Pria kepercayaan Roman itu seketika menangkap perubahan raut wajah Sabiya."Nyonya, wajah Anda terlihat pucat. Apakah Anda merasa kurang sehat?"Sabiya mengalihkan pandangannya dari jendela, menatap Zavier de
Kabut tipis menyelimuti halaman Bright School pagi itu. Udara dingin khas kota Denver membuat deretan bus kuning yang terparkir di sepanjang jalan sekolah memantulkan kilau embun.Suasana pelataran sekolah sudah sangat ramai oleh celoteh riang puluhan anak. Mereka mengenakan seragam olahraga biru putih dengan rompi dan topi rimba.Di antara kerumunan mobil keluarga yang berjejer, sebuah Rolls-Royce meluncur perlahan lalu berhenti di sudut jalan yang agak lengang.Pintu kemudi terbuka, memperlihatkan Zavier dan Liam yang bergerak mengamati area sekitar sebelum membukakan pintu belakang.Sabiya turun dari mobil dengan gaun berwarna merah muda dan mantel wol abu-abu. Paras cantiknya tampak sedikit lelah, tetapi ia dengan sabar membantu dua putranya turun dari kabin mobil.Ares dan Altair menyandang ransel gunung mereka masing-masing.Ares tampak begitu antusias, matanya berbinar-binar menatap deretan teman-temannya yang mulai mengantre di depan bus.Sementara itu, Altair berdiri tenang d
Dengan semangat baru yang membara, Ramona menatap Luther dan Wilma secara bergantian."Saya akan ke swalayan sekarang untuk membeli sayuran segar, daging kualitas terbaik, dan rempah-rempah," putus Ramona dengan tekad yang menghiasi wajah pucatnya."Saya akan membuat hidangan beef stew klasik dengan kaldu sapi kental, roti panggang bawang putih, dan selada segar. Meskipun Tuan Falcone sudah makan di luar, saya akan memastikan meja makan selalu menyajikan hidangan hangat yang menunggunya."Luther tertegun sejenak melihat transformasi wanita muda di hadapannya. Ia bisa melihat semangat seorang ibu rumah tangga yang sangat tangguh di balik kelembutan Ramona.Sang kepala pelayan kemudian mengukir senyum yang paling tulus, lalu memberikan anggukan hormat."Pilihan hidangan yang sangat luar biasa, Ramona. Saya akan menyiapkan sopir untuk mengantar Anda berbelanja sekarang juga," dukung Luther.***Satu jam setelah kembali dari swalayan dengan kantong belanjaan, Ramona langsung mengambil ali
Setelah Luca pergi, Ramona mengikuti Wilma menyusuri lorong yang dindingnya dihiasi berbagai lukisan klasik. Semakin jauh ia melangkah, Ramona semakin merasa dirinya seperti debu yang tersesat di istana kaca.Wilma berhenti di depan sebuah pintu dan mengayunkannya terbuka."Ini adalah kamarmu, Ramona," ucap Wilma seraya mempersilakan wanita itu masuk.Ramona melangkah masuk, dan seketika ia terpaku di ambang pintu. Matanya kembali terbelalak.Ini bukanlah kamar tidur pelayan seperti yang ia bayangkan. Kamar ini memiliki ranjang berukuran king-size dengan seprai sutra putih. Ada sebuah sofa santai, lemari pakaian, dan pintu kaca yang terhubung dengan kamar mandi dalam.Bahkan, yang membuat mata Ramona memanas karena terharu adalah di samping ranjang besar itu telah disiapkan sebuah boks bayi. Boks itu terlihat sangat cantik, lengkap dengan kelambu dan berbagai mainan gantung di atasnya."N-Nyonya Wilma ...." Suara Ramona bergetar. "Apakah tidak ada kesalahan? Ini... ini pasti kamar tam
Ponsel di tangan Sabiya kembali bergetar, menampilkan rentetan foto berikutnya yang dikirimkan oleh Clara. Kali ini adalah foto meja makan yang dipenuhi oleh berbagai macam hidangan. Ada omelet truffle, buah-buahan segar, pancake madu, sosis premium, serta segelas susu.[Semua makanan ini dipesan
Tangan besar Roman langsung bergerak melepas baju yang membungkus tubuh Sabiya hingga terlepas sepenu. Namun, Sabiya tetap memejamkan matanya rapat-rapat, membiarkan tubuhnya sekaku patung lilin.Jakun Roman naik-turun saat melihat istrinya yang kini hanya mengenakan bra hitam berenda. Pakaian dala
Kali ini, pria di seberang sana terdiam lebih lama. Sabiya bisa mendengar suara napas Jetro Falcone yang turun naik. Mungkin, pria itu sedang memijat pangkal hidungnya, seperti yang selalu ia lakukan saat menghadapi masalah rumit."Kenapa, Sabiya? Apa kau sudah sadar?"Mendengar pertanyaan yang me
Hampir satu jam berlalu, mobil yang dinaiki Sabiya memasuki kawasan pinggiran kota yang lebih lengang. Kendaraan beroda empat itu melintasi jalanan menanjak, menuju sebuah rumah yang berdiri kokoh di atas perbukitan pribadi.Kediaman yang ditempati Roman dan Sabiya sengaja dibangun di lokasi yang t







