/ Urban / Sistem Sign-In Harian / 36. Jalan Sang Penantang

공유

36. Jalan Sang Penantang

작가: KoTz
last update 게시일: 2026-07-21 11:14:02

"Tepat. Jangan pernah mencoba masuk ke dalam pusaran hidup mereka. Sepintar dan sekeras apa pun kamu berusaha, pada akhirnya kamu akan sadar bahwa kamu tidak lebih dari bidak catur orang lain," nasihat Hendra.

"Hend, apa kamu tidak ingin kembali ke Keluarga Hendra dan menempatkan papan ibumu di altar yang paling terhormat?" tanya Reyhan seraya mematikan puntung rokoknya ke lantai semen.

"Aku ingin." Suara Hendra bergetar menahan amarah yang terpendam. "Di dalam mimpiku, aku melihat Keluarga Hen
이 작품을 무료로 읽으실 수 있습니다
QR 코드를 스캔하여 앱을 다운로드하세요
잠긴 챕터

최신 챕터

  • Sistem Sign-In Harian   36. Jalan Sang Penantang

    "Tepat. Jangan pernah mencoba masuk ke dalam pusaran hidup mereka. Sepintar dan sekeras apa pun kamu berusaha, pada akhirnya kamu akan sadar bahwa kamu tidak lebih dari bidak catur orang lain," nasihat Hendra."Hend, apa kamu tidak ingin kembali ke Keluarga Hendra dan menempatkan papan ibumu di altar yang paling terhormat?" tanya Reyhan seraya mematikan puntung rokoknya ke lantai semen."Aku ingin." Suara Hendra bergetar menahan amarah yang terpendam. "Di dalam mimpiku, aku melihat Keluarga Hendra berlutut, memohon pengampunan di bawah kakiku. Tapi itu semua cuma angan-angan. Aku tidak punya kekuatan untuk mewujudkannya. Dan yang lebih penting, aku harus bersyukur atas apa yang sudah ada sekarang. Aku tidak ingin menyeret orang-orang yang kusayangi ke dalam bahaya. Orang tua angkatku. Teman-temanku. Kamu, saudaraku."Suara Hendra yang sarat akan keputusasaan bergema memantul di dinding-dinding usang ruang bawah tanah itu."Aku akan membantumu," ucap Reyhan dengan penuh kesungguhan. Ma

  • Sistem Sign-In Harian   35. Darah Para Penguasa

    "Aku percaya." Hendra terkekeh pelan, meski matanya menyiratkan kepedihan. "Sahabatku, aku bersyukur bisa mengenalmu. Bertahun-tahun aku memendam rahasia ini sendirian. Kamu adalah satu-satunya orang yang kupilih untuk mendengarkannya." Tatapan Hendra kembali menerawang ke arah altar kayu di hadapan mereka. "Pernah dengar nama Keluarga Hendra dari tanah timur?" "Tidak pernah." "Itu wajar. Sebelum semua ini, kamu hanyalah warga sipil biasa. Tidak mungkin lingkaran hidupmu bersinggungan dengan dunia kami, apalagi memahaminya. Keluarga Hendra sudah mengakar sejak berabad-abad lalu. Kami hidup di luar sorotan, mengendalikan kekuasaan dari balik tirai. Tapi tanyakan pada Rania, dia pasti tahu. Di masa kejayaannya, keluarga kami memiliki kekuatan untuk mengguncang separuh perekonomian negeri ini." Hendra berhenti sejenak, lalu melanjutkan dengan suara yang makin merendah. "Namun, di balik kemegahan itu, akar keluarga kami berlumuran darah. Semuanya bermula dari bisnis ilegal." "Bisnis

  • Sistem Sign-In Harian   34. Asal-Usul Hendra

    "Ikut aku. Akan kutunjukkan padamu apa yang kumaksud dengan mencari informan bawah tanah tanpa harus menjual jiwamu pada iblis," putus Hendra tegas.Mengetahui Reyhan masih dilingkupi keraguan yang keras kepala, Hendra merebut kunci mobil dari saku Reyhan. Ia menarik lengan sahabatnya itu dan membawanya keluar dari klub.Kali ini Hendra yang mengambil alih kemudi. Ia membawa mobil mewah Reyhan meninggalkan pusat kota yang gemerlap, melaju menembus malam menuju pinggiran kota yang makin lama makin minim penerangan.Setengah jam kemudian, mobil berhenti di ujung sebuah gang sempit. Reyhan melangkah turun, menatap kebingungan pada deretan kompleks rumah susun kumuh yang cat dindingnya sudah mengelupas parah di hadapannya."Sudah tiga tahun sejak terakhir kali aku menginjakkan kaki di tempat keparat ini," gumam Hendra, suaranya nyaris terdengar seperti embusan angin. Ia menarik napas panjang, menatap gedung lusuh itu dengan sorot mata penuh beban. "Tapi demi kamu, Rey... aku rela membuka

  • Sistem Sign-In Harian   33. Mengetuk Pintu Sang Ratu Dunia Bawah

    "Bayar informan?" gumam Reyhan mengulang kalimat itu. Seketika, sebuah nama melintas di kepalanya. Seseorang yang menguasai jaringan gelap kota ini."Ikut aku sebentar," ajak Reyhan seraya menarik lengan kemeja Hendra."Tidak mau. Aku ada tumpukan pekerjaan. Aku ini karyawan teladan yang baru bekerja sehari," protes Hendra, meski matanya kembali mencuri pandang ke luar ruangan."Oh, benarkah? Karyawan teladan? Kalau begitu menetaplah di sini dan selesaikan laporanmu. Elsa, kamu ikut aku keluar!" goda Reyhan dengan suara sedikit dikeraskan, sengaja melepaskan cengkeramannya.Mendengar nama Elsa disebut, Hendra langsung melompat dari kursi bak disengat lebah. "Tunggu! Aku saja yang ikut denganmu. Biarkan Elsa tetap di sini menyelesaikan tugasnya!" potong Hendra cepat."Kamu pikir aku tidak bisa membaca isi kepalamu?" cibir Reyhan sambil menggeleng pelan.Sejak melangkah masuk ke kantor, Reyhan sudah menyadari gelagat Hendra. Sore itu saja, pemuda itu kelewat bersemangat, repot-repot men

  • Sistem Sign-In Harian   32. Misi Mencari Sandra

    Di dalam ruangan, Pak Indra terlihat menatap selembar kertas dengan wajah kusut. Ia bahkan tidak sadar Reyhan sudah berdiri di depan mejanya."Pak Indra, serius sekali?" tegur Reyhan.Indra mendongak terkejut. "Rey. Kamu sudah datang. Ini surat tagihan dari bank. Kita punya tunggakan utang tiga miliar rupiah," desah Indra dengan wajah muram."Utang tiga miliar? Kok bisa mendadak begini?" tanya Reyhan cemas."Ini ulah Maya. Dia menggelapkan uang kas perusahaan sebesar tiga miliar tanpa sepengetahuanku," jawab Indra seraya tersenyum getir."Lalu apa rencana kamu sekarang?" tanya Reyhan. Ia duduk di sofa dan menyodorkan sebatang rokok kepada Indra maupun Hendra."Aku tidak akan melaporkannya ke RIC. Biar bagaimanapun, aku berutang nyawa pada mendiang adiknya," desah Indra sambil menerima rokok tersebut. Isapan pertamanya langsung membuatnya terbatuk.Setelah minum air, Indra menatap Reyhan. "Jangan panik. Aku yang akan mengganti tiga miliar itu. Sahamku di sini kan lumayan besar," tutur

  • Sistem Sign-In Harian   31. Jalan yang Berbeda

    "Pak, apa Anda benar-benar tidak tahu ke mana Sandra pergi?" tanya Reyhan pelan."Jujur saja, aku tidak tahu," jawab Darwin. "Kamu harus mengerti kalau penugasan internal anggota RIC sangat dirahasiakan.""Dirahasiakan? Tapi Sandra memegang kartu identitas Agent Senior S.I.A. Setidaknya Anda tahu dia berasal dari kesatuan mana, kan?" sambung Reyhan penasaran. Sebuah tebakan baru mulai terbentuk di kepalanya."S.I.A.?" Darwin terkejut Reyhan mengetahui identitas Sandra. "S.I.A., Satuan Intelligence Agency. Itu di luar wewenangku. Bahkan aku tidak punya akses ke sana. Sudahlah, cukup sampai di sini pertanyaannya. Aku masih punya setumpuk tugas," sahut Darwin, secara halus mengusir Reyhan dari ruangannya.Darwin menghela napas melihat sosok Reyhan yang berjalan menjauh. "Sandra, kamu yakin mau melepaskan dia?"Begitu kalimat itu terucap, Sandra melangkah keluar dari ruang istirahat Darwin."Terima kasih, Om Darwin. Tapi dunia kami memang berbeda. Lebih baik aku memutus semuanya dari awal

더보기
좋은 소설을 무료로 찾아 읽어보세요
GoodNovel 앱에서 수많은 인기 소설을 무료로 즐기세요! 마음에 드는 작품을 다운로드하고, 언제 어디서나 편하게 읽을 수 있습니다
앱에서 작품을 무료로 읽어보세요
앱에서 읽으려면 QR 코드를 스캔하세요.
DMCA.com Protection Status