Share

Sebuah Karma (2)

Penulis: Ami_Shin
last update Tanggal publikasi: 2022-04-27 23:29:22

“Mau apa?” tanya Saka, suaranya terdengar dingin hingga membuat hati Renata membeku menyakitkan mendengarnya.

Renata mengepalkan kedua tangannya, kedua matanya memerah sempurna. Sekali aja dia berkedip maka air matanya akan lolos begitu saja. “Kamu... nggak pulang.” Hanya itu yang bisa Renata katakan.

Sesaat, Saka hanya diam. Namun setelah itu menghela napas malas. “Pulang, Nata, aku sibuk.”

“Sayang,” wanita itu berbisik di telinga Saka.
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Sleeping With Mr. Arrogant   Ketakutan Saka

    Semuanya berjalan dengan sangat baik sejak malam itu. Sesuai kesepakatan mereka berdua, mereka tidak lagi tidur terpisah. Saka bahkan menunggui Renata memindahkan barang-barangnya ke dalam kamar Saka, memastikan istrinya itu benar-benar tidak mengingkari kesepakatan mereka. Sebenarnya, itu bukan sesuatu yang paling menggelikan bagi Renata. Masih ada satu hal lagi yang paling membuat Renata merasa lucu sekaligus berdebar. Setiap pagi, ketika membuka kedua matanya, maka yang Renata temukan adalah Saka yang sedang berbaring miring sambil menopang kepalanya dengan telapak tangan selagi dia sibuk memandangi Renata. Tidak ada senyuman apa lagi raut wajah yang ceria di wajah suaminya itu. Hanya ada tatapan penuh ketenangan yang begitu dingin meski Renata masih bisa menemukan binar cinta untuknya di kedua mata suaminya itu. Jika di awal-awal Renata selalu terlihat canggung dan berusaha mengalihkan perhatian Saka meski gagal karena setelah itu Saka pasti akan membe

  • Sleeping With Mr. Arrogant   Tidak Akan Menyakiti Lagi

    “Cinderella dan Pangeran, akhirnya menikah dan hidup bahagia selamanya.” Ujar Renata di akhir dongeng yang sedang dia bacakan pada Aya. Renata menutup buku di tangannya, melirik ke bawah, pada Aya yang berbaring di atas pangkuannya. Aya belum tidur, matanya masih menatap lurus ke langit kamar. Usapan telapak tangan Renata di dahinya membuat Aya melirik pada Renata. “Pangeran itu… orang baik ya, Tante?” tanya Aya dengan suara rendahnya yang menyerupai bisikan. Renata mengangguk padanya. Untuk sejenak, Aya hanya berdiam diri dengan tatapan lekatnya yang mengarah pada Renata. Kemudian, dia kembali bertanya. “Benar-benar orang baik?” “Iya.”

  • Sleeping With Mr. Arrogant   Cemburu

    Saka membuka kedua matanya, mengerjap lambat, lalu menatap langit-langit kamarnya yang kini mulai terlihat jelas di kedua matanya. Lelaki ini tidak membutuhkan siapa-siapa untuk membantunya bangun di pagi hari, karena setiap pukul enam pagi, kedua matanya selalu terbuka dengan sendirinya. Pagi ini pun juga begitu. Hanya saja, ada yang berbeda dengan pagi ini. Jika biasanya Saka akan bergegas mandi setelah bangun, maka kali ini dia membutuhkan waktu yang lebih banyak lagi untuk berbaring di tempat tidurnya, sembari mengingat apa yang telah terjadi antara dirinya dan Renata tadi malam. Sebuah ciuman panas nan panjang itu kembali melintasi pikirannya, membuat Saka seolah bisa kembali merasakan bibir kenyal Renata, yang membalas setiap pagutannya. Lidah Renata yang ikut menari bersama lidahnya, dan deru napas Renata yang begitu hangat dan juga… tersengal. Kini, tanpa bisa dicegah, sudut bibir Saka tertarik ke atas dengan sendirinya. Membentuk sebuah senyuman simpul nam

  • Sleeping With Mr. Arrogant   Merindu

    Setelah melihat-lihat lokasi rumah sakit milik Renata yang sedang dibangun, Saka membawa Renata ke rumah orangtuanya. Begitu Saka dan Renata masuk ke dalam rumah, Aya berlari kencang, berhambur ke arah Saka yang merundukan tubuhnya agar bisa menangkap tubuh Aya dan menggendongnya. “Papa jemput Aya?” tanya Aya pada Saka dengan senyuman tipis. “Hm,” kepala Saka mengangguk. “Aya nggak nakal kan selama dijagain Nenek?” “Nggak. Aya anak baik.” “Good.” Saka dan Aya saling berbalas senyuman, sementara itu Renata yang berada di belakang mereka hanya mengamatinya dalam diam. Aya… Renata sudah mengetahui kisah gadis kecil yang Saka adopsi. Usianya masih emopat tahun ketika Saka mengambilnya dari sebuah panti asuhan. Saka bilang, Aya adalah pelipur laranya sejak Renata dan Ghea meninggalkannya. Gadis kecil yang selalu menemani Saka, menjadi penghibur tersendiri bagi Saka, kala dia sedang membutuhkan teman dan seseorang

  • Sleeping With Mr. Arrogant   Mewujudkan Impian

    Renata baru saja keluar dari kamarnya. Karena dia masih mengingat kebiasaan Bi Ambar yang menyiapkan sarapan pagi untuk mereka, Renata berniat untuk membantunya. “Aku bantu ya, Bi.” “Eh, Non Nata, nggak usah, Non. Biar Bibi aja. Ini sebentar lagi selesai kok.” Tolak Bi Ambar sembari membuatkan segelas kopi. “Itu kopinya buat Saka, ya, Bi?” “Iya, Non.” Renata menatap gerak-gerik Bi Ambar yang sedang membuatkan kopi untuk Saka. Dan hal itu membuat Renata teringat akan kebiasaannya dulu yang selalu menyiapkan kopi untuk Saka di pagi hari. “Non?” tegur Bi Ambar. “Ya?” jawab Renata tersentak dari lamunan. Bi Ambar tersenyum tipis padanya. “Kangen buatin kopi buat Den Saka, ya?” Kangen? Renata hanya tersenyum samar menanggapinya. “Non Nata mau Non aja yang buatin kopinya Den Saka?” “Hm?” “Nggak apa-apa kok, nih, gantiin Bibi. Den Saka pasti seneng kalau yang bu

  • Sleeping With Mr. Arrogant   Siapa Aya?

    Renata sedang bersama keluarganya yang kini ikut pulang menemani Saka. Kepulangan Renata kembali ke Jakarta pun membuat seluruh keluarganya ingin menyapanya. Seperti sekarang, Annisa dan anak-anaknya berada di rumah Saka, sedang berbincang dengan Renata. Namun, tidak sekalipun Renata menikmati perbincangan mereka karena yang ada di kepalanya saat ini hanyalah Saka dan juga… gadis kecil itu. Hingga kemudian Renata pamit pada keluarganya untuk menemui Saka. Ketika beranjak pergi, Renata menoleh sekilas pada Calista dan Revan yang duduk di sofa dan sedang menatapnya. Renata mengulas senyuman tipisnya, yang di balas dengan senyuman lega oleh sepasang suami istri itu. Sepertinya kepulangan Renata membuat rasa bersalah Revan sedikit berkurang padanya. Renata berniat mencari Saka, namun ketika dia menemukan Mamanya di meja makan, sedang menyuapi gadis kecil itu, langkah Renata terhenti. Lama dia mengamati Mamanya dan anak kecil itu yang terlihat sangat akrab

  • Sleeping With Mr. Arrogant   Ayo, Kita Bercerai (1)

    Saka hanya duduk diam di atas sofa, memandangi Renata yang sejak tadi hanya terus berdiam diri, sekalipun Ayu sedang berusaha membujuknya untuk makan. Jangankan mau menerima suapan itu, sepatah kata pun tidak keluar dari bibirnya sejak tadi. Renata hanya diam, memandangi jendela dengan tatapan koson

  • Sleeping With Mr. Arrogant   Hanya Ingin Mati

    Herman memeluk istrinya yang menangis tersedu. Dokter baru saja pergi setelah menjelaskan keadaan Renata. Bagai disambar petir di siang bolong, begitu lah perasaan Herman dan Ayu ketika Saka memberitahu mereka jika Renata sedang berada di rumah sakit dan Renata… baru saja melakukan percobaan bunuh d

  • Sleeping With Mr. Arrogant   Sayap-Sayap Patah

    Renata masih terjaga. Tadi malam, dia sama sekali tidak menyentuh obat tidurnya hingga akhirnya, tidak sekalipun matanya bisa terpejam. Renata hanya terus berbaring meringkuk di kamar tamu, ya, kamar tamu karena dia sama sekali tidak mau kembali menginjakan kakinya di kamarnya yang dulu. Ada begitu

  • Sleeping With Mr. Arrogant   Badai Ditengah Pelangi (2)

    Ucapan Saka yang begitu kejam membuat Renata menatapnya tak percaya. Ada apa lagi ini? Pikirnya. Mengapa Saka kembali seperti ini? Bukankah semuanya sudah baik-baik saa? “Revan,” desis Saka. “kamu kembali menemuinya hari ini kan?” “Revan?” sejenak, Renata berusaha mencerna ap

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status