เข้าสู่ระบบ"Kamu selingkuh." Langkah kaki Saka terhenti, lalu dia mendengar tarikan napas tercekat Renata di belakangnya, membuatnya memutar tubuh untuk menatap Renata. Renata mengepalkan kedua tangannya, menatap Saka penuh tuntutan. "Apa yang kamu lakukan dengan wanita itu di hotel? Kalian..." kedua mata Renata membendung telaga yang siap tumpah detik itu juga. "Memangnya... kenapa kalau aku selingkuh?" Saka melangkah perlahan menghampiri Renata, berdiri tegak dengan tatapan dinginnya yang menusuk. Kepalanya sedikit merunduk hingga dia bisa berbisik di telinga Renata. "bukannya dulu kamu juga selingkuhan suami orang, hm? Jadi, berhenti lah bersikap seolah-olah kamu yang paling tersakiti. Padahal... kamu dan perempuan itu nggak ada bedanya, Nata." Saka menarik wajahnya, dia tersenyum miring ketika menemukan wajah pucat Renata yang menatap kosong ke depan. "aku benar, kan?"
ดูเพิ่มเติมHanya ada hening yang mengisi seluruh penjuru kamar hotel itu. Sementara seorang lelaki yang baru saja terbangun dari tidurnya dan menemukan wanita di sampingnya terduduk lemas dengan tatapan kosong, hanya melayangkan tatapan datarnya yang dingin. Lelaki itu beranjak dari atas ranjang, memungut celananya yang tergeletak di atas lantai, kemudian memakainya dengan penuh ketenangan.
Ekor matanya sesekali melirik wanita itu, masih tetap sama, hanya diam dan terlihat sangat terpukul. Satu tangannya yang menahan selimut menutupi tubuh telanjangnya terlihat terkepal. Namun pemandangan menyedihkan itu sama sekali tidak menimbulkan rasa peduli bagi lelaki itu. Dia hanya merapikan dirinya, memeriksa ponsel kemudian berbicara pelan pada seseorang yang dia telefon. Lalu, ketika dia sudah bersiap untuk pergi, dia hanya melemparkan sebuah kartu nama yang tergeletak jatuh di atas pangkuan wanita itu. "Hubungi aku kalau terjadi sesuatu." Ujarnya dengan suara dinginnya yang berat. Dan tanpa memedulikan reaksi wanita itu, dia sudah beranjak pergi, meninggalkan seorang wanita yang tadi malam baru saja melewatkan malam yang panas bersamanya dalam keadaan mabuk. Kini, dengan tangan gemetar, wanita itu mengambil kartu nama dari atas pangkuannya. Kedua matanya berlinang, bibirnya gemetar, dunianya yang sudah hancur kini semakin remuk redam. Saat satu isakan lolos dari mulutnya, dia berusaha menutup mulutnya dengan punggung tangan. Namun, air matanya tidak lagi bisa terbendung. Dia merebahkan tubuhnya, meringkuk selagi menahan isakannya meski hanya sia-sia. Tubuhnya terguncang akibat tangisnya, dadanya bergemurah hebat menahan amarah dan ketakutan. Bukankah setiap kehidupan yang ada di dunia ini selalu memliki arti dan juga tujuan? Lalu, mengapa hingga detik ini, dia tidak menemukan kedua hal itu dalam hidupnya. Kenapa... hidupnya sama sekali tidak berarti, untuk orang lain, mau pun dirinya sendiri. Bukan dunia yang tidak adil padanya, hanya saja, sepertinya dunia ini memang tidak diperuntukkan untuknya. Lalu, apakah masih ada tempat lain untuknya, tempat di mana dia bisa benar-benar mendapatkan kebahagiaan, kedamaian, dan juga... cinta.***Semuanya berjalan dengan sangat baik sejak malam itu. Sesuai kesepakatan mereka berdua, mereka tidak lagi tidur terpisah. Saka bahkan menunggui Renata memindahkan barang-barangnya ke dalam kamar Saka, memastikan istrinya itu benar-benar tidak mengingkari kesepakatan mereka. Sebenarnya, itu bukan sesuatu yang paling menggelikan bagi Renata. Masih ada satu hal lagi yang paling membuat Renata merasa lucu sekaligus berdebar. Setiap pagi, ketika membuka kedua matanya, maka yang Renata temukan adalah Saka yang sedang berbaring miring sambil menopang kepalanya dengan telapak tangan selagi dia sibuk memandangi Renata. Tidak ada senyuman apa lagi raut wajah yang ceria di wajah suaminya itu. Hanya ada tatapan penuh ketenangan yang begitu dingin meski Renata masih bisa menemukan binar cinta untuknya di kedua mata suaminya itu. Jika di awal-awal Renata selalu terlihat canggung dan berusaha mengalihkan perhatian Saka meski gagal karena setelah itu Saka pasti akan membe
“Cinderella dan Pangeran, akhirnya menikah dan hidup bahagia selamanya.” Ujar Renata di akhir dongeng yang sedang dia bacakan pada Aya. Renata menutup buku di tangannya, melirik ke bawah, pada Aya yang berbaring di atas pangkuannya. Aya belum tidur, matanya masih menatap lurus ke langit kamar. Usapan telapak tangan Renata di dahinya membuat Aya melirik pada Renata. “Pangeran itu… orang baik ya, Tante?” tanya Aya dengan suara rendahnya yang menyerupai bisikan. Renata mengangguk padanya. Untuk sejenak, Aya hanya berdiam diri dengan tatapan lekatnya yang mengarah pada Renata. Kemudian, dia kembali bertanya. “Benar-benar orang baik?” “Iya.”
Saka membuka kedua matanya, mengerjap lambat, lalu menatap langit-langit kamarnya yang kini mulai terlihat jelas di kedua matanya. Lelaki ini tidak membutuhkan siapa-siapa untuk membantunya bangun di pagi hari, karena setiap pukul enam pagi, kedua matanya selalu terbuka dengan sendirinya. Pagi ini pun juga begitu. Hanya saja, ada yang berbeda dengan pagi ini. Jika biasanya Saka akan bergegas mandi setelah bangun, maka kali ini dia membutuhkan waktu yang lebih banyak lagi untuk berbaring di tempat tidurnya, sembari mengingat apa yang telah terjadi antara dirinya dan Renata tadi malam. Sebuah ciuman panas nan panjang itu kembali melintasi pikirannya, membuat Saka seolah bisa kembali merasakan bibir kenyal Renata, yang membalas setiap pagutannya. Lidah Renata yang ikut menari bersama lidahnya, dan deru napas Renata yang begitu hangat dan juga… tersengal. Kini, tanpa bisa dicegah, sudut bibir Saka tertarik ke atas dengan sendirinya. Membentuk sebuah senyuman simpul nam
Setelah melihat-lihat lokasi rumah sakit milik Renata yang sedang dibangun, Saka membawa Renata ke rumah orangtuanya. Begitu Saka dan Renata masuk ke dalam rumah, Aya berlari kencang, berhambur ke arah Saka yang merundukan tubuhnya agar bisa menangkap tubuh Aya dan menggendongnya. “Papa jemput Aya?” tanya Aya pada Saka dengan senyuman tipis. “Hm,” kepala Saka mengangguk. “Aya nggak nakal kan selama dijagain Nenek?” “Nggak. Aya anak baik.” “Good.” Saka dan Aya saling berbalas senyuman, sementara itu Renata yang berada di belakang mereka hanya mengamatinya dalam diam. Aya… Renata sudah mengetahui kisah gadis kecil yang Saka adopsi. Usianya masih emopat tahun ketika Saka mengambilnya dari sebuah panti asuhan. Saka bilang, Aya adalah pelipur laranya sejak Renata dan Ghea meninggalkannya. Gadis kecil yang selalu menemani Saka, menjadi penghibur tersendiri bagi Saka, kala dia sedang membutuhkan teman dan seseorang
Renata sudah bangun, bahkan dia sudah mandi sejak satu jam yang lalu. Tapi, yang dia lakukan sejak tadi hanya lah duduk di tepi tempat tidur, berdiri tegak, jalan kesana kemari dengan wajah resah. Sungguh, Renata benar-benar bingung harus melakukan apa saat ini.&nb
Rintik hujan yang membasahi jendela kamarnya membuat Renata tertarik untuk mengamatinya. Dia bahkan sudah berdiri di depan jendela itu sejak sepuluh menit yang lalu, mengamati setiap tetes hujan yang jatuh. Dan seperti biasa, setiap kali menyendiri, pikirannya akan selalu berkelana.
Saka merasa menang saat ini. Kerapuhan Renata membuat pekerjaannya lebih mudah untuk menjalankan rencananya. Renata sedang bersedih sekaligus kebingungan, dia seperti butuh sebuah pegangan dan tentu saja Saka siap memberikannya. Ya, apa pun akan Saka lakukan demi membuat rencananya berjalan denga
Renata resah bukan main. Besok, Mamanya bersikeras untuk datang ke rumah Saka dan menemuinya beserta Ghea. Padahal Renata masih ingin mengulur waktu, tapi Mama dan Papanya seolah tidak peduli dan tidak bisa lagi bersabar. Dan kini, Renata benar-benar kebingungan. Dia takut Saka akan marah jika ta






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
ความคิดเห็น