LOGIN“Tetap tenang, Diego!” gumam Diego dalam hati.Diego menarik napas dalam sebelum sidang komite etik dimulai.Suasana di dalam ruang rapat utama lantai lima terasa begitu menekan.Pendingin ruangan yang berhembus konstan sama sekali tidak mampu mengusir ketegangan yang menyelimuti ruangan persegi tersebut.Di ujung meja oval, Dokter Arlan, selaku Direktur Rumah Sakit, duduk dengan raut wajah masai yang sulit diartikan.Di sekeliling meja, para senior dari Komite Etik dan Medik menatap tumpukan berkas rekam medis dengan ekspresi formal yang dingin.Dokter Diego duduk di kursi tengah, tepat di hadapan panel penguji.Seragam jas putihnya terasa lebih berat dari biasanya.Bayangan garis lurus pada monitor hemodinamik Ibu Rahayu beberapa jam lalu masih tercetak jelas di pelupuk matanya.“Dokter Diego!”Dokter Arlan membuka suara, memecah keheningan yang mencekam. Suaranya berat, menggema di ruangan yang sunyi.“Komite hari ini berkumpul untuk melakukan audit medis dan evaluasi etik terkait
Diego, seorang dokter spesialis bedah onkologi yang biasanya begitu berjarak dan profesional, kini menangis tersedu-sedu di koridor rumah sakit, memeluk anak-anak dari pasien yang gagal ia selamatkan.Di atas pundak anak-anak itu, Diego menatap koridor yang kosong. Ia tahu, secara medis ia bisa membela diri di depan komite etik.Namun melihat tiga pasang mata piatu ini, Diego tahu ia harus membawa luka ini seumur hidupnya.Rasa gagal ini telah terpatri permanen di dalam jiwanya.Pagi perlahan merayap naik, menggantikan malam kelam yang dipenuhi duka.Ponsel Diego yang tergeletak di atas meja kerjanya bergetar berulang kali. Layarnya berkedip menampilkan nama Silvi.Namun, Diego hanya menatapnya dengan tatapan kosong. Ia tidak memiliki energi, bahkan hanya untuk sekedar menggeser layar dan mengucap kata halo.Silvi, yang hafal betul tabiat Diego, langsung tahu ada sesuatu yang sangat tidak beres.Diego tidak pernah mengabaikan panggilannya tanpa alasan yang sangat krusial.Tanpa buang
“Dok ... kita sudah melakukan semuanya sesuai prosedur. Ligasi sudah maksimal, transfusi sudah masuk belasan kantong. Jaringan parametriumnya memang sudah terlalu rapuh akibat infiltrasi tumor,” ucap Rian, mencoba memberikan rasionalisasi yang biasa mereka gunakan untuk menghibur diri.Diego tidak menyentuh botol itu. Ia menatap pantulan dirinya di cermin dengan mata merah yang berkaca-kaca.“Sesuai prosedur, Rian? Tapi ibu itu meninggal,” sahut Diego, suaranya parau, nyaris berbisik namun penuh penekanan.“Tiga anak, Rian. Yang paling kecil bahkan mungkin belum paham apa itu kanker. Kemarin suaminya meremas tangan saya, menitipkan seluruh hidup keluarganya di pisau bedah saya. Saya bilang saya akan melakukan yang terbaik.”Dadanya bergemuruh hebat.“Dokter Diego sudah melakukan yang terbaik. Ini komplikasi fasa lanjut, Dok. Di atas meja operasi, semua keputusan Dokter sudah tepat,” potong dr. Sarah, spesialis anestesi, yang baru saja masuk setelah merapikan dokumen kematian pasien.D
Klem terakhir dilepaskan. “Akhirnya, selesai juga.” Diego mengembuskan napas panjang yang terasa begitu lega di balik masker bedahnya. Bidang operasi di dalam rongga panggul Ibu Rahayu tampak bersih dan kering, tidak ada rembesan darah aktif. Operasi Wertheim yang melelahkan selama hampir lima jam itu akhirnya selesai. “Kasa dan instrumen lengkap, Dok,” lapor perawat Maya setelah menghitung ulang alat untuk memastikan tidak ada yang tertinggal di dalam tubuh pasien. Ujung pisau bedah itu akhirnya menyelesaikan tugasnya setelah lima jam yang menegangkan. Diego berhasil memisahkan jaringan parametrium yang terinvasi, mengangkat rahim, dan membersihkan kelenjar getah bening panggul dengan akurasi yang luar biasa. Ketika operasi dinyatakan selesai, helaan napas lega terdengar di ruang operasi. “Kamu sudah di rumah sakit, Beb?” Diego menghubungi Silvi setelah selesai. “Hemm, udah. Gimana operasinya? Lancar?” tanya Silvi. “Ya, begitulah. Masih harus dilihat lagi, tapi
“Sialan! Aku sudah terlambat.” Lampu lorong rumah sakit berpendar pucat, memantulkan bayangan dua pria yang berdiri di depan ruang sterilisasi sebelum operasi besar dimulai. Jam dinding digital di atas pintu menunjukkan pukul 14.10 WIB. Diego terlambat tepat sepuluh menit. Napasnya masih agak memburu. Bukan karena ia berlari menyusuri koridor, melainkan karena sisa keletihan yang menyenangkan setelah percintaan intens siang ini bersama Silvi di sebuah hotel dekat rumah sakit. Diego berusaha mengumpulkan kembali energinya yang sempat terkuras habis. Namun, penampilannya tidak bisa berbohong. Jas dokternya tersampir miring, kancing kemejanya berselisih lubang dan rambut yang biasanya klimis kini tampak acak-acakan. Arlan, bersandar di dinding sambil melipat tangan. Tatapannya tajam, menelisik penampilan Diego dari ujung kepala hingga ujung kaki. Meski begitu, ada kilat geli yang tertahan di sudut matanya. “Sepuluh menit, Diego,” Arlan mengetuk jam tangannya sendiri. S
“Dia udah sampai duluan,” gumam Silvi sambil melihat jam di tangannya.Sepertinya Diego sudah tidak tahan bercinta dengan Silvi.Silvi melangkah terburu-buru menyusuri koridor hotel berkarpet tebal, mengabaikan detak jantungnya yang berkejaran liar.Tit!Begitu pintu kamar mewah di depan ujung koridor terbuka, sosok Diego langsung menyambutnya.“Aku udah nunggu lama, Beb.”Tidak menunggu waktu lama, Diego langsung meraup bibir Silvi sambil membuka pakaian Silvi hingga tandas, Silvi juga membuka kemeja hitam yang digunakan Diego.“Eumph, ahhhh sabar Sayang,” bisik Silvi dengan senyum nakalnya.Pertemuan yang penuh ketegangan itu memperlihatkan betapa kuatnya ikatan emosional di antara mereka, yang selama ini terhalang oleh kenyataan pahit.“Aku dari semalam memikirkanmu.” Suara Diego serak parau menahan gairah.Diego menatap Silvi dengan tatapan dalam, menggenggam tangannya erat seolah takut kehilangan wanita itu.“Aku juga masih kangen sama kamu, Sayang.” Diego menarik Silvi ke ranja
Tiba-tiba, dr. Arlan Pradipta datang. Rahangnya mengeras. Sorot matanya menyapu ruangan tanpa ekspresi empati sedikit pun. “Apa ini? Kenapa kau diam saja,” ucap Arlan sambil menatap tajam Karin. Koas ini mematung dengan tangannya yang gemetaran. “Lakukan! Periksa apa yang terjadi pada pasien,”
“Sentuh denyut nadimu sendiri. Rasakan dan catat ritme jantungmu setiap kali pikiranmu mengingat wajahku.”Efek psikologis dari "PR" Arlan mulai meracuni pikiran Karin. Saat morning report, Karin kehilangan fokus.Seperti biasa, Karin mengumpulkan laporan visit-nya sebelum pulang. Ada dr. Dimas di
“Ta-tapi, Dok?”Karin enggan melepaskan snelli yang digunakannya. Di balik jas itu ia memakai long tube, pakaian jenis kemben yang menggantung sedikit panjang. Karin suka pakaian seperti itu. Namun ia sadar, tidak mungkin melepaskan snelli miliknya saat berjaga.“Kenapa?” Arlan merasa tidak perlu a
Suara dr. Arlan dari dalam ruangan terdengar datar. Tangan Karin terhenti di kenop pintu. Ia menunduk menatap penampilannya. Rok yang ia kenakan menggantung di atas lutut, mengekspos paha dan kaki jenjangnya dengan jelas. Masuk ke ruangan tertutup berdua saja dengan konsulen menggunakan pakaian se







