بيت / Romansa / Stop, Dok! Ini Sudah Berlebihan / Bab 263 Penasaran Rasa ASI

مشاركة

Bab 263 Penasaran Rasa ASI

مؤلف: Madamme Yellow
last update تاريخ النشر: 2026-08-17 09:53:17

“Rin, dikirim makan siang,” ucap Silvi saat mereka kembali dari melihat apartemen baru untuk mereka huni nanti.

Padahal Karin sudah makan siang dengan Silvi di luar. Karin melihat pesan yang ada di atas bekal.

“Maaf tadi aku sedikit kasar.”

Sepertinya Arlan memang senang sekali skandalnya dengan Karin terbongkar, ia bahkan tidak ragu-ragu membuat inisial namanya di kotak bekal itu.

Kotak bekal dari kayu yang sangat estetik, Arlan memesan makanan Jepang untuk Karin.

“Siapa yang kirim?
استمر في قراءة هذا الكتاب مجانا
امسح الكود لتنزيل التطبيق
الفصل مغلق

أحدث فصل

  • Stop, Dok! Ini Sudah Berlebihan   Bab 265 Hebat Di Ranjang

    “Kita mau ke mana?” tanya Karin sambil melihat jalanan. Arlan dari tadi diam saja, ia cemburu Karin bersama Xavier apalagi setelah tahu niat Papa nya menjodohkan Karin dengan Xavier. “Ke rumah,” jawab Arlan santai. “Oh rumah yang kamu siapkan untuk dr. Renata, rumah untuk kalian bercinta?” Karin begitu sinis mengatakan semua itu. Arlan tidak marah, ia justru senang melihat Karin sekarang terang-terangan cemburu dengannya. Begitu lampu merah, tiba-tiba Arlan menarik tekuk leher Karin dan melumat bibirnya dengan rakus. “Stop, dok! Ini lampu merah. Apa kamu tidak malu dilihat orang kiri dan kanan?” Arlan tersenyum nakal dan diam saja tanpa menjawab apapun. Kalau nanti Karin mengejeknya lagi dengan Renata, Arlan akan menghukum Karin sampai Karin mohon ampun sendiri.“Kamu yang ambil kotak di atas meja kerjaku?” tanya Arlan. “Apa? Kau menuduhku maling?” Karin tidak pernah iri dengan barang orang lain, ia mampu membeli sendiri dengan uangnya. “Aku memberikan hadiah untukmu tadi, Lin

  • Stop, Dok! Ini Sudah Berlebihan   Bab 264 Melayani Hasrat dr. Arlan

    Setelah menemani dr. Renata, Karin kembali lagi ke menulis hasil anamnesisnya ke dalam status rekam medis, hari ini tidak ada diskusi kasus dengan Residen ataupun Konsulen. Jadi, Karin bisa pulang cepat. Ia juga sudah tidak sabar untuk tinggal di tempat barunya dengan Silvi. “Sil, itu kok kayak Xavier?” Dari jauh, Karin sudah melihat sosok tinggi dengan tubuh yang ideal, berdiri di dekat parkiran mobilnya. Tapi Xavier tidak memberitahu kalau ia mau menjemput Karin. “Iya Rin, ya udah kamu sama dia aja, aku yang bawa mobil kamu,” ucap Silvi. Karin mengajak Silvi mendekati Xavier dan pria itu langsung tersenyum. “Sorry, aku gak ngomong. Aku mau beri kamu kejutan dan bantu pindahan ke apartemen barumu, aku juga menyiapkan hadiah untuk kalian,” ucap Xavier sambil menunjukkan barang-barang yang dibelinya untuk kebutuhan sehari-hari Karin dan Silvi, banyak dan lengkap sekali, dari yang kecil seperti sabun sampai sembako. Ya ampun, pria ini sungguh unik pikir Karin. Xavier tidak malu be

  • Stop, Dok! Ini Sudah Berlebihan   Bab 263 Penasaran Rasa ASI

    “Rin, dikirim makan siang,” ucap Silvi saat mereka kembali dari melihat apartemen baru untuk mereka huni nanti. Padahal Karin sudah makan siang dengan Silvi di luar. Karin melihat pesan yang ada di atas bekal. “Maaf tadi aku sedikit kasar.” Sepertinya Arlan memang senang sekali skandalnya dengan Karin terbongkar, ia bahkan tidak ragu-ragu membuat inisial namanya di kotak bekal itu. Kotak bekal dari kayu yang sangat estetik, Arlan memesan makanan Jepang untuk Karin. “Siapa yang kirim? dr. Arlan?” bisik Silvi dan Karin mengangguk. “Ambil kamu aja Sil, aku gak mau.” Karin memberikan kotak itu pada Silvi karena ia muak dengan cinta palsu Arlan padanya. “Kenapa gak mau, ini enak banget loh Rin, satu menu ini mahal banget harganya,” jawab Silvi mengambil kotak itu dengan matanya yang berbinar. Sayang sekali kalau ia tolak. “Ya udah ambil kamu aja, aku gak mau.” Karin sangat yakin sekali, saat ia bersiap untuk membuat laporan kasus dan melanjutkan menulis makalahnya, dr. Re

  • Stop, Dok! Ini Sudah Berlebihan   Bab 262 Apa Dia Pernah Mencintaiku?

    Apa memang di hati Karin tidak pernah ada namanya?Arlan merenung di mejanya setelah Karin keluar dari ruangan, tubuh Karin sempoyongan karena lelah melayani hasrat Arlan yang begitu besar. Untuk Arlan nilai B itu tidak sulit, ia bisa saja merekomendasikan nilai seperti itu untuk Karin bahkan bisa saja nilai A. Karin hanya perlu menggodanya tapi wanita itu lebih memilih tidak peduli, bahkan setelah bercinta, ia keluar tanpa ada rayuan atau kata-kata romantis.Tidak ada pula pujian karena akhirnya ia berhasil menjadi Direktur Rumah Sakit mengalahkan kelicikan Dimas yang tidak pernah Karin ketahui. “Dia tidak percaya,” gumam Arlan sambil melihat layar komputer kosong. Padahal Arlan sudah katakan kalau ia bukan Pamannya Karin tapi Karin seolah tidak peduli. Mungkin Arlan sudah sering mengatakan hal lelucon seperti itu sehingga tidak asing di telinga Karin. “Aku adalah Om nya, di matanya seperti itu.” Arlan tertawa. Karin tidak akan pernah percaya kalau semua itu keluar dari mulutnya

  • Stop, Dok! Ini Sudah Berlebihan   Bab 261 Merekam Jejak Keintiman

    “Ahhhh.”Karin dan Arlan mencapai klimaks bersamaan. Tubuh Arlan ambruk di atas tubuh Karin. Arlan memeluk Karin begitu kuat dan wajahnya bersandar pada ceruk leher Karin cukup lama. Keperkasaan nya bahkan enggan ia keluarkan. Karin tahu ini sangat berbahaya mengingat Arlan tidak menggunakan pengaman dan ia juga sudah lepas KB. Setelah pelukan yang mereda dan napas yang kembali teratur, tubuh mereka basah oleh keringat sisa gairah.Sprei di bawah mereka terasa lembap dan basah, merekam jejak keintiman yang baru saja mereka bagi.Keduanya terbaring dalam keheningan yang penuh kepuasan, menikmati sisa debar jantung dan rasa lega yang mendalam.Dada mereka naik turun secara perlahan. Otot-otot yang tadinya tegang kini lemas dan rileks.Ada rasa puas yang tenang di antara mereka. Tatapan mata mereka menyiratkan kedekatan yang utuh tanpa perlu kata-kata.“Kamu tau Sayang, aku tidak pernah bisa melupakan saat kita bercinta,” bisik Arlan sambil memeluk Karin dari belakang. “Hanya itu? Hany

  • Stop, Dok! Ini Sudah Berlebihan   Bab 260 Stop, Mengeluh!

    “Nilaimu untuk stase ini ada di tanganku, Sayang.” Arlan menunjukkan rekapan nilai semua mahasiswa kedokteran yang koas di rumah sakitnya. Baru saja Karin sampai di ruangan Arlan, Arlan sudah menodongnya seperti ini. Karin pun terpaksa melihat nilainya. Mengulang Stase (D).Sudah Karin duga, ia tidak mungkin mendapatkan nilai yang baik, semua temannya sudah mengerjakan makalah ilmiah sedangkan ia selalu saja gagal.“Gimana caranya supaya bisa dapat nilai B, dok?” Karin langsung to the point. Ia memang tidak ingin mengulang stase itu, apalagi semakin lama-lama bersama dengan Arlan. “Mudah, mudah banget,” jawab Arlan mendekati Karin. Karin menelan salivanya, ia duduk mulai tidak nyaman, rasanya ingin berdiri dari kursi tamu mewah ini. “Puaskan aku! Itu saja, aku hanya ingin itu, aku tidak ingin yang lain.”“Aku gak mau, dok. Kamu sudah punya dr. Renata, kalau memang kamu ingin dipuaskan. Kenapa tidak mencarinya?” tanya Karin dengan tatapannya yang tajam. “Memangnya sekarang kamu

  • Stop, Dok! Ini Sudah Berlebihan   Bab 3 Pelajaran Menyentuh

    Suara dr. Arlan dari dalam ruangan terdengar datar. Tangan Karin terhenti di kenop pintu. Ia menunduk menatap penampilannya. Rok yang ia kenakan menggantung di atas lutut, mengekspos paha dan kaki jenjangnya dengan jelas. Masuk ke ruangan tertutup berdua saja dengan konsulen menggunakan pakaian se

  • Stop, Dok! Ini Sudah Berlebihan   Bab 2 Panggilan Pertama

    Tiba-tiba, dr. Arlan Pradipta datang. Rahangnya mengeras. Sorot matanya menyapu ruangan tanpa ekspresi empati sedikit pun. “Apa ini? Kenapa kau diam saja,” ucap Arlan sambil menatap tajam Karin. Koas ini mematung dengan tangannya yang gemetaran. “Lakukan! Periksa apa yang terjadi pada pasien,”

  • Stop, Dok! Ini Sudah Berlebihan   Bab 7 Godaan Kecil

    “Makasih dokter,” jawab Karin dengan senyum yang dibuat-buat. Karin tidak tertarik sama sekali untuk ikut mandi dengan dr. Arlan meskipun sepertinya tubuh dr. Arlan atletis seperti yang Karin mau. “Aku pikir kita bisa mencobanya,” jawab Arlan dengan tawanya yang mengejek. Tidak lucu! Sungguh! K

  • Stop, Dok! Ini Sudah Berlebihan   Bab 1 Sentuhan Pertama

    “Dok, jangan kenceng-kenceng! Aku udah basah ih!” Pintu berbunyi klik. Kunci berputar dari dalam. Seorang dokter senior melangkah masuk sambil menarik lengan seorang koas. Karin menatap mereka. Mulut Karin terbuka. Ia mengambil ancang-ancang untuk teriak dan lari. Namun tiba-tiba, tanpa ia sadar,

فصول أخرى
استكشاف وقراءة روايات جيدة مجانية
الوصول المجاني إلى عدد كبير من الروايات الجيدة على تطبيق GoodNovel. تنزيل الكتب التي تحبها وقراءتها كلما وأينما أردت
اقرأ الكتب مجانا في التطبيق
امسح الكود للقراءة على التطبيق
DMCA.com Protection Status