Share

Bab 268 Sakit, dok!

last update publish date: 2026-08-17 17:48:15

“Masih sakit?” tanya Arlan saat memijat kaki Karin, Karin terkilir saat naik tangga, rumahnya yang baru memang banyak sekali anak tangga, Karin belum terbiasa.

“Hemm, cukup dok, gak usah dipijat lagi sakit,” ucap Karin meringis kesakitan.

“Besok kita ke dokter ortopedi saja, siapa tahu ada yang patah.” Karin tidak bisa lagi jalan, ia kesakitan luar biasa, bahkan Arlan yang harus menggendong Karin ke sofa.

Karin jatuh tiga anak tangga, saat itu tulangnya juga bunyi. Arlan takut sekali melihat
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Stop, Dok! Ini Sudah Berlebihan   Bab 268 Sakit, dok!

    “Masih sakit?” tanya Arlan saat memijat kaki Karin, Karin terkilir saat naik tangga, rumahnya yang baru memang banyak sekali anak tangga, Karin belum terbiasa. “Hemm, cukup dok, gak usah dipijat lagi sakit,” ucap Karin meringis kesakitan.“Besok kita ke dokter ortopedi saja, siapa tahu ada yang patah.” Karin tidak bisa lagi jalan, ia kesakitan luar biasa, bahkan Arlan yang harus menggendong Karin ke sofa. Karin jatuh tiga anak tangga, saat itu tulangnya juga bunyi. Arlan takut sekali melihat Karin menangis dan menjerit kesakitan, bahkan saat Silvi menghubunginya, Karin masih tidak henti menjerit. Arlan tidak punya keahlian khusus kalau bagian tulang. Lebih baik mereka langsung ke dokter spesialis ortopedi saja. “Hiks, gak bisa jalan dok, sakit banget,” rengek Karin sambil menutup wajahnya. Tugasnya banyak dan sekarang kakinya terluka. Sungguh sial sekali! Semua ini karena Arlan yang memaksanya datang ke rumah mewah dengan anak tangga yang tersembunyi di mana-mana. Bahkan untuk du

  • Stop, Dok! Ini Sudah Berlebihan   Bab 267 Cukup, dok!

    Silvi seperti orang kebingungan setelah bercinta dengan Papi Rion, ranjangnya masih lembab dan berantakan, bibirnya masih terasa basah karena pertukaran saliva yang begitu sengit dengan Papi Rion, tubuhnya masih terasa penuh. Papi Rion memang sangat hebat sekali di ranjang, Silvi mendapatkan klimaks berulang kali, tenaga Papi Rion bahkan tidak kalah dengan pria muda yang pernah bersama dengannya.Tapi, ini Papi Karin. Silvi berdosa sekali, ia tidak ingin mengulanginya lagi. Anggap saja ia sudah impas. “Karin pasti akan membunuhku,” gumam Silvi. Ia kecewa dengan dirinya sendiri tapi ia juga sulit untuk menolaknya. Papi punya rahasia besarnya. “Bagaimana kalau Papi bohong? Ia akan memintanya lagi?” Silvi takut kalau itu sampai terjadi. Silvi melihat akun bank nya yang sekarang terisi penuh. Papi Rion tidak pelit, uang segitu sepertinya sangat kecil untuknya. Pantas Karin selalu menyindir wanita yang dekat dengan Papinya. “Papi tidak akan membuat wanita simpanannya susah, kalau mer

  • Stop, Dok! Ini Sudah Berlebihan   Bab 266 Rasa Pertama Kali

    Silvi mengemudikan mobil Karin sendiri dan membawa banyak barang ke apartemen baru mereka yang tidak jauh dari rumah sakit. Tidak ada yang bisa Silvi andalkan jadi ia minta bantuan security untuk membantu membawakan barangnya sampai ke kamarnya. “Ya ampun capeknya,” ucap Silvi sambil mengusap peluh keringatnya dengan tisu. Silvi mulai menyusun semua barang yang diberikan Xavier tadi, ada yang di pendingin, untuk keperluan toilet dan sehari-hari. Xavier mengerti sekali kalau mereka membutuhkan semua itu. Ponsel Silvi berdering saat ia sedang sibuk-sibuknya. “Papi?” Kenapa Papi Karin menghubunginya, ini sudah jam tujuh malam, Karin tidak bersama dengannya. Apa mungkin mencari Karin?“Halo, Pi?” tanya Silvi ragu-ragu. “Halo Sayang. Papi dengar kamu tinggal dengan Karin di apartemen dekat rumah sakit?” “Hemm iya Pi,” jawab Silvi dengan lembut. “Karin ada di sana?”“Lagi keluar, Silvi di apartemen sendirian.” “Oh kebetulan, Papi lagi ketemu klien di sekitar apartemen itu, nomor

  • Stop, Dok! Ini Sudah Berlebihan   Bab 265 Hebat Di Ranjang

    “Kita mau ke mana?” tanya Karin sambil melihat jalanan. Arlan dari tadi diam saja, ia cemburu Karin bersama Xavier apalagi setelah tahu niat Papa nya menjodohkan Karin dengan Xavier. “Ke rumah,” jawab Arlan santai. “Oh rumah yang kamu siapkan untuk dr. Renata, rumah untuk kalian bercinta?” Karin begitu sinis mengatakan semua itu. Arlan tidak marah, ia justru senang melihat Karin sekarang terang-terangan cemburu dengannya. Begitu lampu merah, tiba-tiba Arlan menarik tekuk leher Karin dan melumat bibirnya dengan rakus. “Stop, dok! Ini lampu merah. Apa kamu tidak malu dilihat orang kiri dan kanan?” Arlan tersenyum nakal dan diam saja tanpa menjawab apapun. Kalau nanti Karin mengejeknya lagi dengan Renata, Arlan akan menghukum Karin sampai Karin mohon ampun sendiri.“Kamu yang ambil kotak di atas meja kerjaku?” tanya Arlan. “Apa? Kau menuduhku maling?” Karin tidak pernah iri dengan barang orang lain, ia mampu membeli sendiri dengan uangnya. “Aku memberikan hadiah untukmu tadi, Lin

  • Stop, Dok! Ini Sudah Berlebihan   Bab 264 Melayani Hasrat dr. Arlan

    Setelah menemani dr. Renata, Karin kembali lagi ke menulis hasil anamnesisnya ke dalam status rekam medis, hari ini tidak ada diskusi kasus dengan Residen ataupun Konsulen. Jadi, Karin bisa pulang cepat. Ia juga sudah tidak sabar untuk tinggal di tempat barunya dengan Silvi. “Sil, itu kok kayak Xavier?” Dari jauh, Karin sudah melihat sosok tinggi dengan tubuh yang ideal, berdiri di dekat parkiran mobilnya. Tapi Xavier tidak memberitahu kalau ia mau menjemput Karin. “Iya Rin, ya udah kamu sama dia aja, aku yang bawa mobil kamu,” ucap Silvi. Karin mengajak Silvi mendekati Xavier dan pria itu langsung tersenyum. “Sorry, aku gak ngomong. Aku mau beri kamu kejutan dan bantu pindahan ke apartemen barumu, aku juga menyiapkan hadiah untuk kalian,” ucap Xavier sambil menunjukkan barang-barang yang dibelinya untuk kebutuhan sehari-hari Karin dan Silvi, banyak dan lengkap sekali, dari yang kecil seperti sabun sampai sembako. Ya ampun, pria ini sungguh unik pikir Karin. Xavier tidak malu be

  • Stop, Dok! Ini Sudah Berlebihan   Bab 263 Penasaran Rasa ASI

    “Rin, dikirim makan siang,” ucap Silvi saat mereka kembali dari melihat apartemen baru untuk mereka huni nanti. Padahal Karin sudah makan siang dengan Silvi di luar. Karin melihat pesan yang ada di atas bekal. “Maaf tadi aku sedikit kasar.” Sepertinya Arlan memang senang sekali skandalnya dengan Karin terbongkar, ia bahkan tidak ragu-ragu membuat inisial namanya di kotak bekal itu. Kotak bekal dari kayu yang sangat estetik, Arlan memesan makanan Jepang untuk Karin. “Siapa yang kirim? dr. Arlan?” bisik Silvi dan Karin mengangguk. “Ambil kamu aja Sil, aku gak mau.” Karin memberikan kotak itu pada Silvi karena ia muak dengan cinta palsu Arlan padanya. “Kenapa gak mau, ini enak banget loh Rin, satu menu ini mahal banget harganya,” jawab Silvi mengambil kotak itu dengan matanya yang berbinar. Sayang sekali kalau ia tolak. “Ya udah ambil kamu aja, aku gak mau.” Karin sangat yakin sekali, saat ia bersiap untuk membuat laporan kasus dan melanjutkan menulis makalahnya, dr. Re

  • Stop, Dok! Ini Sudah Berlebihan   Bab 1 Sentuhan Pertama

    “Dok, jangan kenceng-kenceng! Aku udah basah ih!” Pintu berbunyi klik. Kunci berputar dari dalam. Seorang dokter senior melangkah masuk sambil menarik lengan seorang koas. Karin menatap mereka. Mulut Karin terbuka. Ia mengambil ancang-ancang untuk teriak dan lari. Namun tiba-tiba, tanpa ia sadar,

  • Stop, Dok! Ini Sudah Berlebihan   Bab 7 Godaan Kecil

    “Makasih dokter,” jawab Karin dengan senyum yang dibuat-buat. Karin tidak tertarik sama sekali untuk ikut mandi dengan dr. Arlan meskipun sepertinya tubuh dr. Arlan atletis seperti yang Karin mau. “Aku pikir kita bisa mencobanya,” jawab Arlan dengan tawanya yang mengejek. Tidak lucu! Sungguh! K

  • Stop, Dok! Ini Sudah Berlebihan   Bab 6 Rasanya Enak

    Bodohnya, gumam Karin dalam hati. Ia tidak bisa memasak dan Karin juga tidak bisa menolak permintaan aneh Arlan untuk menjadi pembantu gratisnya hari ini. Di dalam mobil, Karin hanya diam terpaku menatap jalan yang sedikit lenggang. Arlan yang duduk di sampingnya juga tidak menyapanya atau bert

  • Stop, Dok! Ini Sudah Berlebihan   Bab 2 Panggilan Pertama

    Tiba-tiba, dr. Arlan Pradipta datang. Rahangnya mengeras. Sorot matanya menyapu ruangan tanpa ekspresi empati sedikit pun. “Apa ini? Kenapa kau diam saja,” ucap Arlan sambil menatap tajam Karin. Koas ini mematung dengan tangannya yang gemetaran. “Lakukan! Periksa apa yang terjadi pada pasien,”

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status