LOGIN“Gimana jawabnya, Rin? Aku jadi bingung sendiri,” keluh Silvi panik.Wajahnya yang tadi kebingungan kini berubah cemas melihat deretan kata-kata serius dari Pak Guru Revan.Karin mendengus pelan sambil berkacak pinggang.“Makanya, jangan suka main api! Sini ponselnya!”Tanpa menunggu persetujuan, Karin langsung merebut ponsel rahasia dari tangan Silvi.Jemarinya dengan lincah mengetikkan baris kalimat di kolom balasan, berniat memberikan jawaban yang diplomatis sekaligus sedikit puitis untuk meredam keseriusan pria polos itu.“Pak Revan, kita bina dulu hubungan kita. Kita pupuk lalu sirami sampai tumbuh.”Silvi yang ikut mengintip dari balik bahu Karin langsung membelalakkan mata dan menggelengkan kepalanya kuat-kuat. Bukannya menenangkan, jawaban yang diketik Karin justru malah membuat Silvi tambah stres.“Apaan sih, Rin! Alay banget jawabannya!” protes Silvi histeris, berusaha merebut kembali ponselnya.Namun, bunyi ting pelan sudah terdengar. Karin tersenyum tanpa dosa sambil menye
“Gimana?” tanya Karin.Setelah menyelesaikan seluruh rangkaian pemeriksaan di rumah sakit, Silvi dan Karin akhirnya melangkah pulang.Sesuai kewajiban, mereka berdua harus segera kembali ke Puskesmas untuk melanjutkan sisa jam dinas internship.Di dalam mobil, suasana terasa sangat kontras. Karin memilih untuk tidak terlalu banyak mencecar, memberikan ruang bagi sahabatnya untuk menenangkan diri.Apalagi pertanyaannya dari rumah sakit belum dijawab.Silvi lebih banyak terdiam, menatap kosong ke arah jalanan dari balik jendela kaca.Wajahnya yang biasa ceria dan penuh gairah kini tampak kuyu dan lelah.Setelah keheningan yang cukup lama, Silvi akhirnya membuka suara.“Kayaknya aku udah dapat karma deh, Rin,” bisik Silvi lirih.Kali ini Silvi benar-benar terlihat sedih dan rapuh. Jauh di dalam lubuk hatinya, ia sangat menyadari masa lalunya yang kelam.Dulu ia adalah seorang playgirl yang kerap bergonta-ganti pasangan dan suka melakukan hubungan intim secara bebas dengan sembarang pria.
“Mami gak sabar ketemu kamu, Sayang.”Karin belum menentukan panggilannya nanti untuk anaknya, bisa saja Mami, Mama, Ibu atau bisa saja Bunda.Hari pemeriksaan kandungan yang dinantikan pun tiba.Karena Silvi harus melakukan konsultasi awal terkait program bayi tabung yang dipaksakan oleh Aldi, Karin memanfaatkan momen ini untuk ikut ke rumah sakit.Karin ingin memeriksakan kondisi kandungannya secara mendalam dan pemeriksaan itu ditangani langsung oleh suaminya sendiri, Arlan!Sementara itu, sesuai dengan siasat mengulur waktu yang direncanakan kemarin, Silvi diarahkan menuju ruangan dokter spesialis kandungan wanita yang telah direkomendasikan oleh Arlan.“Sayang, lihat deh. Bayi kita tumbuh dengan baik,” ucap Arlan dengan binar mata yang memancarkan kebahagiaan luar biasa.Arlan menatap layar monitor di samping ranjang periksa. Hatinya membuncah, ia tidak pernah menyangka akhirnya bisa melihat benih cintanya tumbuh di dalam rahim wanita yang sangat ia cintai.Karin tersenyum manis,
“Kamu masak sendiri, Sayang?” Laura mengangguk pelan. Dimas tersenyum lebar saat membuka kotak bekal berwarna pastel yang dibawakan oleh istrinya. Aroma nasi hangat dan lauk buatan Laura langsung memenuhi ruangan.“Wah, ini wangi banget, Sayang. Masakan kamu selalu yang terbaik,” puji Dimas tulus, mencoba mencairkan kecanggungan di antara mereka.Namun, Laura hanya duduk bergeming di kursi seberang meja kerja Dimas.Pandangannya kosong, menatap lurus ke arah wadah makanan tanpa benar-benar melihatnya.Pikirannya melayang jauh.Melihat istrinya yang terus melamun, Dimas meletakkan sendoknya. Ia meraih jemari Laura, menggenggamnya erat untuk memberikan keyakinan.Padahal, sejak koas muda itu keluar, Dimas sudah berulang kali menjelaskan dari sudut pandang medis bahwa ia tidak melakukan tindakan yang menyimpang sedikit pun. Ia adalah seorang dokter profesional.Mana mungkin ia berani melakukan hal senonoh di jam kerja, apalagi ada perawat senior yang mendampingi di dalam ruangan.“Sayan
“Lepasin, Moreno! Please, aku sudah punya kehidupan baru!” bentak Laura. Ia berusaha sekuat tenaga merenggut pergelangan tangannya yang dicengkram erat.Namun, alih-alih melepaskannya, tatapan Moreno justru semakin menggelap karena penolakan.Obsesi gila yang membakar otaknya membuat pria itu kehilangan kendali diri. Tanpa memperdulikan penolakan Laura, Moreno merangsek maju, mencengkram dagu wanita itu dengan kasar, lalu membungkam bibir Laura dengan sebuah ciuman yang rakus dan penuh pemaksaan. Ujung lidahnya memaksa masuk dan memburu di dalam sana. Plak!!!Suara tamparan yang teramat keras bergema di dalam kabin mobil yang sempit.Laura mengerahkan seluruh tenaga yang ia miliki untuk mendaratkan telapak tangannya di pipi kanan Moreno.Napasnya memburu, matanya berkaca-kaca karena kombinasi rasa takut dan amarah yang luar biasa.“Aku ini istri orang! Dan aku gak pernah ada niat sedikitpun untuk selingkuh dari suamiku! Jadi, tolong! Jangan pernah dekati aku lagi!” jerit Laura dengan
“Sempurna!”Pagi yang cerah di rumah sakit tidak membuat suasana hati semua orang ikut terang.Di salah satu sudut koridor eksekutif, Moreno berdiri di ambang pintu sebuah ruangan baru.Di daun pintu itu, papan nama berkilap sudah terpasang rapi, menandakan posisinya sebagai salah satu pemilik saham utama.Moreno tersenyum puas, melipat kedua tangan di dada. Berada di dalam gedung ini memberikan keuntungan besar baginya.Dari sini, ia bisa mengawasi gerak-gerik Dokter Dimas dengan leluasa. Dan yang paling penting, ia memiliki peluang besar untuk sering bertemu dengan Laura.Berdasarkan informasi yang ia kumpulkan, Laura memiliki kebiasaan rutin datang setiap siang hari hanya untuk mengantarkan bekal makan siang untuk suaminya.Namun, kesenangan Moreno terusik oleh satu hal. Ia segera meraba saku jasnya, mengambil ponsel, dan menghubungi sebuah nomor dengan panggilan suara yang tersambung cepat.“Luna, apa koas yang kau kirim itu amatiran?” tanya Moreno.Suaranya ditekan rendah namun p
“Makasih dokter,” jawab Karin dengan senyum yang dibuat-buat. Karin tidak tertarik sama sekali untuk ikut mandi dengan dr. Arlan meskipun sepertinya tubuh dr. Arlan atletis seperti yang Karin mau. “Aku pikir kita bisa mencobanya,” jawab Arlan dengan tawanya yang mengejek. Tidak lucu! Sungguh! K
Bodohnya, gumam Karin dalam hati. Ia tidak bisa memasak dan Karin juga tidak bisa menolak permintaan aneh Arlan untuk menjadi pembantu gratisnya hari ini. Di dalam mobil, Karin hanya diam terpaku menatap jalan yang sedikit lenggang. Arlan yang duduk di sampingnya juga tidak menyapanya atau bert
Tiba-tiba, dr. Arlan Pradipta datang. Rahangnya mengeras. Sorot matanya menyapu ruangan tanpa ekspresi empati sedikit pun. “Apa ini? Kenapa kau diam saja,” ucap Arlan sambil menatap tajam Karin. Koas ini mematung dengan tangannya yang gemetaran. “Lakukan! Periksa apa yang terjadi pada pasien,”
“Dok, jangan kenceng-kenceng! Aku udah basah ih!” Pintu berbunyi klik. Kunci berputar dari dalam. Seorang dokter senior melangkah masuk sambil menarik lengan seorang koas. Karin menatap mereka. Mulut Karin terbuka. Ia mengambil ancang-ancang untuk teriak dan lari. Namun tiba-tiba, tanpa ia sadar,







