LOGINJarum jam sudah menunjukkan pukul 14.30 WIB. Jam pelayanan puskesmas telah resmi tutup.Sesuai pesan dari Dokter Agnes, Karin langsung bersiap untuk pulang. Dengan langkah cepat, ia berjalan melintasi area parkir menuju mobilnya.Namun, langkah kakinya seketika terhenti. Jantungnya berdegup kencang saat melihat sebuah mobil mewah yang sangat familiar terparkir di sana mobil milik Moreno.“Apa dia akan menculikku lagi?” Pikir Karin dengan cemas.Namun, kali ini Moreno bertindak lebih gila.Pria itu turun dari mobil sambil membawa sebuah paper bag bermerek terkenal yang tampak sangat mewah. Di dalamnya mungkin berisi tas mahal, parfum, sepatu atau pakaian keluaran desainer ternama.“Siang, Dokter Karin,” sapa Moreno dengan senyuman tipisnya yang dingin. Ia melangkah mendekat, lalu menatap Karin dengan tatapan provokatif. “Bukankah sekarang waktunya jadwal pengobatan untukku?”Gilaaaa!!!Karin menjerit histeris dalam hatinya. Pria bajingan ini benar-benar tidak mau melepaskannya begitu
Meskipun Karin sudah kembali ke sisinya, Arlan tidak akan pernah membiarkan dirinya kecolongan untuk kedua kali.Kejadian di Monako memberinya pelajaran berharga. Namun, karena ia tahu Karin sangat menolak ditemani pengawal karena dianggap terlalu mencolok dan berlebihan untuk seorang dokter internship di puskesmas, Arlan mengambil langkah senyap.Tanpa sepengetahuan istrinya, Arlan membayar beberapa agen keamanan profesional untuk mengintai dan menjaga Karin dari jarak jauh.“Awasi saja dari jarak seperti itu,” ucap Arlan di telepon pada penjaga Karin.“Baik, Dokter!”Begitu melangkah masuk ke koridor puskesmas dengan napas yang masih sedikit memburu akibat terlambat, Karin langsung dikejutkan oleh sergapan sebuah pelukan erat.“Ya ampun, Karin! Kamu akhirnya masuk juga!”Silvi, rekan internship-nya, memeluknya dengan sangat kencang sebelum akhirnya melepaskannya dan menatap wajah Karin dengan mata membelalak.“Rin, kamu tau gak? Heboh banget loh berita kamu hilang kemarin! Satu pusk
“Ugh, encok!”Pagi hari di kediaman Dokter Arlan terasa jauh berbeda dengan ketegangan yang terjadi di rumah sakit.Cahaya matahari pagi masuk menembus jendela kamar mandi yang luas, menerangi suasana yang penuh tawa.“Capek, ya?” tanya Arlan sambil menggoda Karin.Arlan duduk di tepi wastafel dengan wajah yang dipenuhi krim cukur putih. Di hadapannya, Karin berdiri dengan hati-hati, memegang pisau cukur untuk merapikan jenggot dan kumis suaminya yang mulai tumbuh lebat.Selama berhari-hari mencari Karin yang hilang, Arlan sama sekali tidak memperdulikan penampilannya. Wajahnya sempat terlihat sangat tidak terawat dan kusam karena frustasi.Namun pagi ini, ia tampak begitu segar dan bersemangat. Istri cantiknya telah kembali ke pelukannya. Arlan memeluk Karin dengan begitu erat dan Karin terkekeh.“Aduh, pelan-pelan, Sayang,” ringis Karin sambil memegang pinggang belakangnya yang terasa kaku.Semalam, luapan rindu dan emosi yang tertahan berhari-hari meledak begitu saja. Mereka mengha
Pintu kamar rawat tertutup rapat setelah Moreno melangkah keluar dengan sisa-sisa kehancuran hatinya. Di dalam ruangan, ketegangan mendadak mencair.Dimas langsung merengkuh tubuh Laura ke dalam pelukan yang begitu kuat. Ia mengecup puncak kepala istrinya dengan sangat lama, menyalurkan rasa lega dan haru yang membuncah di dadanya.Dimas teramat bersyukur. Mendengar pembelaan dan pengakuan jujur dari bibir Laura di depan Moreno tadi membuat hatinya penuh. Ia merasa menjadi pria paling beruntung karena memiliki istri yang sangat mencintainya.Dimas berpikir, setelah semua badai dan teror dari Moreno berlalu, inilah saatnya bagi mereka untuk hidup bahagia berdua.Namun, kebahagiaan itu hanya bertahan beberapa detik.Ceklek.Pintu kamar mendadak terbuka kembali tanpa ketukan. Seorang wanita melangkah masuk dengan gaya yang anggun namun memancarkan aura dingin. Sosok itu seketika membuat napas Dimas tercekat.“Luna?” bisik Dimas dengan tatapan tidak percaya.Wanita di ambang pintu itu ada
“Semoga Laura suka bunga ini.”Langkah kaki Moreno bergema pelan di koridor rumah sakit. Di tangannya, ia membawa sebuah buket bunga mawar merah yang besar dan indah untuk Laura.Wajah tampan pria itu terlihat sangat sedih. Melalui mata-matanya, ia sudah tahu persis di kamar mana Laura dirawat. Ia juga tahu bahwa di dalam ruangan itu pasti ada Dokter Dimas yang sedang menemani istrinya.Hati Moreno terasa sakit.Rasa benci, amarah, dan cemburu bercampur menjadi satu di dalam dadanya.Namun, rasa cintanya pada Laura ternyata masih jauh lebih kuat dari semua emosi negatif itu.Begitu pintu kamar rawat dibuka, pemandangan di dalam ruangan langsung menusuk hati Moreno.Dimas sedang duduk di tepi ranjang, menyuapi sebutir jeruk ke mulut Laura dengan penuh kasih sayang.Laura seketika tersentak kaget saat melihat sosok Moreno melangkah masuk ke dalam kamar.Secara refleks, Dimas langsung berdiri dan menggeser tubuhnya, menghalangi jalan agar Moreno tidak bisa langsung menyentuh atau mendeka
“Jangan pernah berpikir untuk menjauh dariku lagi, Karin. Sejengkal pun,” bisik Arlan dengan suara serak, sesaat setelah ia mengunci pintu kamar utama mereka rapat-rapat.Matanya menatap Karin lekat-lekat, memancarkan kombinasi antara rasa lega yang luar biasa dan ketakutan yang masih tersisa.Karin tersenyum tipis, menggenggam balik tangan suaminya.“Aku di sini, Sayang. Aku gak akan ke mana-mana lagi.”Malam itu, Arlan benar-benar memperlakukan Karin layaknya seorang ratu yang baru kembali ke istananya. Tanpa memperdulikan rasa lelahnya sendiri, Arlan menyiapkan air hangat di bathtub, membantu Karin melepaskan pakaian modisnya dengan penuh penghormatan dan memandikan istrinya dengan kelembutan yang luar biasa.Setelah selesai, ia dengan sabar mengeringkan rambut panjang Karin menggunakan handuk dan hairdryer.Bahkan untuk urusan makan malam, Arlan menolak bantuan koki pribadi di rumah mereka. Ia turun ke dapur sendirian, meracik makanan kesukaan Karin dengan tangannya sendiri.Semua
Bodohnya, gumam Karin dalam hati. Ia tidak bisa memasak dan Karin juga tidak bisa menolak permintaan aneh Arlan untuk menjadi pembantu gratisnya hari ini. Di dalam mobil, Karin hanya diam terpaku menatap jalan yang sedikit lenggang. Arlan yang duduk di sampingnya juga tidak menyapanya atau bert
“Sentuh denyut nadimu sendiri. Rasakan dan catat ritme jantungmu setiap kali pikiranmu mengingat wajahku.”Efek psikologis dari "PR" Arlan mulai meracuni pikiran Karin. Saat morning report, Karin kehilangan fokus.Seperti biasa, Karin mengumpulkan laporan visit-nya sebelum pulang. Ada dr. Dimas di
“Ta-tapi, Dok?”Karin enggan melepaskan snelli yang digunakannya. Di balik jas itu ia memakai long tube, pakaian jenis kemben yang menggantung sedikit panjang. Karin suka pakaian seperti itu. Namun ia sadar, tidak mungkin melepaskan snelli miliknya saat berjaga.“Kenapa?” Arlan merasa tidak perlu a
Suara dr. Arlan dari dalam ruangan terdengar datar. Tangan Karin terhenti di kenop pintu. Ia menunduk menatap penampilannya. Rok yang ia kenakan menggantung di atas lutut, mengekspos paha dan kaki jenjangnya dengan jelas. Masuk ke ruangan tertutup berdua saja dengan konsulen menggunakan pakaian se







