تسجيل الدخول“Jangan pernah berpikir untuk menjauh dariku lagi, Karin. Sejengkal pun,” bisik Arlan dengan suara serak, sesaat setelah ia mengunci pintu kamar utama mereka rapat-rapat.Matanya menatap Karin lekat-lekat, memancarkan kombinasi antara rasa lega yang luar biasa dan ketakutan yang masih tersisa.Karin tersenyum tipis, menggenggam balik tangan suaminya.“Aku di sini, Sayang. Aku gak akan ke mana-mana lagi.”Malam itu, Arlan benar-benar memperlakukan Karin layaknya seorang ratu yang baru kembali ke istananya. Tanpa memperdulikan rasa lelahnya sendiri, Arlan menyiapkan air hangat di bathtub, membantu Karin melepaskan pakaian modisnya dengan penuh penghormatan dan memandikan istrinya dengan kelembutan yang luar biasa.Setelah selesai, ia dengan sabar mengeringkan rambut panjang Karin menggunakan handuk dan hairdryer.Bahkan untuk urusan makan malam, Arlan menolak bantuan koki pribadi di rumah mereka. Ia turun ke dapur sendirian, meracik makanan kesukaan Karin dengan tangannya sendiri.Semua
Setelah menempuh penerbangan panjang yang melelahkan selama kurang lebih 14 jam perjalanan menggunakan jet pribadi milik perusahaannya, roda pesawat Moreno akhirnya menyentuh landasan pacu Bandara Internasional Soekarno-Hatta. Waktu di Jakarta telah menunjukkan pukul 16.30 WIB.Arlan yang sudah mendapatkan bocoran informasi valid mengenai manifes penerbangan darurat tersebut tidak tinggal diam.Ia bergerak cepat, datang ke bandara dengan membawa tim dari kepolisian untuk menyergap Moreno sekaligus menyelamatkan Karin.Begitu pintu ganda terminal kedatangan luar negeri terbuka, Moreno dan Karin melangkah keluar.Namun, langkah mereka langsung terhenti.Arlan sudah berdiri tegak di depan pintu, dikawal oleh beberapa petugas polisi berseragam lengkap.Alih-alih panik, Moreno justru menghentikan langkahnya dan menyeringai licik.Dengan gestur meremehkan, ia melepaskan lengannya dari Karin, membiarkan wanita itu berlari kencang menerobos barisan untuk memeluk suaminya.“Sayang ... aku kang
“Siapkan pesawat sekarang juga! Kita pulang ke Jakarta malam ini!” teriak Moreno melalui telepon kepada pilot pribadinya.Suaranya bergetar hebat, dipenuhi rasa panik yang tidak bisa lagi ia sembunyikan.Setelah memutus panggilan, Moreno terus berjalan mondar-mandir di dalam ruangan.Langkah kakinya terasa berat dan tidak karuan. Pria itu benar-benar tidak bisa melupakan Laura.Pikirannya dipenuhi oleh bayangan wajah Laura yang pucat di atas ranjang rumah Sakit.“Brengsek kau, Dimas!” umpat Moreno dengan geram, memukul meja kayu di dekatnya.“Baru beberapa hari menikah, Laura sudah sering masuk rumah sakit! Kau sama sekali tidak bisa menjaga istri dengan benar!”Moreno mencengkram rambutnya sendiri dengan frustasi. Di dalam kepalanya, ia sudah menyusun skenario terburuk. Jika kondisi Laura memang separah itu, Moreno bersumpah akan merebut Laura kembali dan membawa wanita itu berobat ke luar negeri, menggunakan seluruh kekayaan dan kekuasaan yang ia miliki.Pria lain tidak boleh menyak
“Kirimkan kabar buruk ini pada tuanmu, bajingan. Biarkan dia tau kalau wanita yang dia obsesikan sedang sekarat karena ulahnya.”Arlan menarik napas dalam-dalam, bersiap untuk konfrontasi terakhir. Umpan telah ditelan oleh mata-mata di lapangan, dan gelombang kejutnya sedang merambat menuju villa bersalju tempat Karin disembunyikan.Lelaki bertopi itu bergegas keluar dari area lobi rumah sakit dengan langkah seribu.Informasi yang ia kumpulkan malam ini sudah lebih dari cukup. Sejak mengintai kediaman rahasia Dimas yang terisolasi, ia telah menyaksikan segalanya, kesibukan yang janggal di tengah malam, mobil yang melesat membelah jalanan bagai kesurupan, hingga momen krusial saat tubuh Laura yang lemas didorong tergesa-gesa memasuki ruang ICU khusus.Dari balik celah kaca koridor, ia berhasil membidik satu foto.Gambar buram yang menampilkan Laura di bawah kepungan alat medis itu langsung dikirimkan melalui pesan terenkripsi ke belahan bumi utara.Di balkon villa bersalju Aurora, pons
Mendengar ketegasan Arlan yang begitu kuat, Dimas tidak punya argumen lagi. Taruhan terakhir telah dilemparkan ke atas meja judi takdir mereka.Skenario berbahaya itu akhirnya mulai bergulir dari dalam rumah.“Apa perlu ada darah seperti ini, Sayang?” Dimas menyiram darah palsu ke gaun tidur Laura yang putih. “Ya, Sayang. Dengan begini Karin bisa pulang.” Laura bersalah jadi dia akan ikuti apapun supaya Karin kembali. Tidak boleh ada kesalahan sekecil apa pun. Agar informan Moreno yang tersebar di Jakarta tidak mencium adanya konspirasi, semuanya harus direkayasa sealami mungkin, meniru kepanikan nyata dari sebuah keadaan darurat medis.“LAURA! Kamu kenapa, Sayang?” Dimas mulai berteriak histeris Malam itu, ketenangan perumahan pecah oleh suara deru mobil yang mendadak.Dimas sengaja membuka lebar pintu utama rumahnya, membiarkan lampu teras menyala terang benderang.“Siapkan mobil, CEPAT! Aku ingin ke rumah sakit sekarang, Laura tenanglah, Sayang!”Dari dalam rumah, terdengar sua
Dimas mendengarkan dengan seksama, tangannya mengepal erat.“Lalu bagaimana dengan Laura? Dia harus ada di kamar itu saat Moreno datang. Aku tidak akan membiarkan bajingan itu menyentuhnya, Dok.”“Aku yang akan menjaga perimeter di dalam kamar, Dimas,” tegas Arlan, menatap Dimas lurus.“Begitu Moreno menginjakkan kaki di ruangan itu untuk melihat Laura, dia tidak akan bisa keluar lagi. Aku akan memastikan Karin pulang dan Moreno membayar semua kegilaan ini.”Umpan telah dipasang di Jakarta, tinggal menunggu waktu sampai sang predator mencium baunya dari kejauhan salju Monako.“Apa ini akan berhasil?” Di dalam kamar tidur yang temaram, Dimas duduk di tepi ranjang dengan berat. Ia menggenggam jemari Laura yang terasa sedingin es.“Sayang, aku mau ngomong,” bisik Dimas. Dengan nada suara yang diatur sehati-hati mungkin agar tidak memicu trauma istrinya.“Apa, Sayang?” Laura sudah menduga apa yang akan Dimas katakan, pasti ini karena Karin.Dimas mulai menjabarkan rencana nekat yang dis
“Makasih dokter,” jawab Karin dengan senyum yang dibuat-buat. Karin tidak tertarik sama sekali untuk ikut mandi dengan dr. Arlan meskipun sepertinya tubuh dr. Arlan atletis seperti yang Karin mau. “Aku pikir kita bisa mencobanya,” jawab Arlan dengan tawanya yang mengejek. Tidak lucu! Sungguh! K
Bodohnya, gumam Karin dalam hati. Ia tidak bisa memasak dan Karin juga tidak bisa menolak permintaan aneh Arlan untuk menjadi pembantu gratisnya hari ini. Di dalam mobil, Karin hanya diam terpaku menatap jalan yang sedikit lenggang. Arlan yang duduk di sampingnya juga tidak menyapanya atau bert
Tiba-tiba, dr. Arlan Pradipta datang. Rahangnya mengeras. Sorot matanya menyapu ruangan tanpa ekspresi empati sedikit pun. “Apa ini? Kenapa kau diam saja,” ucap Arlan sambil menatap tajam Karin. Koas ini mematung dengan tangannya yang gemetaran. “Lakukan! Periksa apa yang terjadi pada pasien,”
“Dok, jangan kenceng-kenceng! Aku udah basah ih!” Pintu berbunyi klik. Kunci berputar dari dalam. Seorang dokter senior melangkah masuk sambil menarik lengan seorang koas. Karin menatap mereka. Mulut Karin terbuka. Ia mengambil ancang-ancang untuk teriak dan lari. Namun tiba-tiba, tanpa ia sadar,







