แชร์

Bab 9 Permintaan Gila dr. Arlan

ผู้เขียน: Madamme Yellow
last update วันที่เผยแพร่: 2026-05-14 18:20:46

Karin menolak permintaan gila Arlan dan mengabaikan pesannya.

“Ngapain juga dia mau video call sekarang, memang aku pacarnya,” gerutu Karin sambil melepaskan semua pakaiannya menuju ke toilet.

Tadinya Karin ingin menumpang mandi di apartemen Arlan tetapi situasi tidak memungkinkan untuk berlama-lama di apartemen Konsulennya itu.

“Kok aku jadi kepikiran, mana dia gak kirim pesan lagi, jangan-jangan dia marah,” lanjut Karin sambil berendam di bathtub.

Tugas Karin menumpuk dan ia stres mem
อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป
บทที่ถูกล็อก

บทล่าสุด

  • Stop, Dok! Ini Sudah Berlebihan   Bab 364 As You Wish

    Renata sudah dipindahkan ke ruang perawatan saat Arlan datang lagi untuk melihat kondisinya. Renata dijaga oleh orang tuanya tapi saat Arlan masuk kamar Renata, wanita itu sudah tidak pucat seperti tadi. Renata masih sempat meminta sahabatnya untuk membantunya menggunakan make up tipis. Ia tidak ingin terlihat lusuh saat Arlan datang. “Arrr, kakiku,” ucap Renata dengan manja dan Arlan mendekati Renata, Renata bersandar di dada bidang Arlan. Ia biarkan saja supaya Renata tidak melakukan hal bodoh lagi karena sedih pernikahan mereka batal. Renata mengalami kerugian mental karena kejadian ini. Arlan tidak paham itu, ia sangat malu karena semua orang sudah berpikir ia akan segera menjadi Ibu Direktur. “Nanti akan sembuh, aku sudah bicara dengan dokter tadi.” Patah tulang memang tidak mudah, tapi tidak akan lama, Renata sudah bisa jalan lagi. “Gak akan sama seperti dulu Arrr, kakiku akan jelek dan gak akan ada yang mau denganku,” jawab Renata dengan tangisnya. Renata melakukan itu su

  • Stop, Dok! Ini Sudah Berlebihan   Bab 363 Godain Lagi Saja

    Sesampainya di rumah, Karin langsung ke kamar Ibunya, tadinya hanya ingin mampir dan mengambil pakaian saja, tapi Karin ingin lama-lama bersama Maminya yang sakit. Ada dua perawat tua, pasti Papi Rion tidak bisa melakukan apapun tapi perawatnya sangat telaten mengurus makan dan obat-obatan Mami, Mami juga tidak terlambat untuk menjalani terapi. “Mami, Karin malam ini tidur dengan Mami, ya.” Karin mengusap kening Mami Kaina dan Mami Kaina hanya mengangguk dengan wajahnya yang sedih. Karin tidak mengerti Mami Kaina sedang bicara apa. Sedangkan Silvi, duduk sedikit jauh, ia malu melihat Mami Kaina apalagi suaminya masih sering bicara nakal dengannya. Bahkan sebelum kesini, di depan supirnya, masih menginginkan Silvi jadi istri kedua. Itu tidak bercanda karena Rion mengatakan semua itu berulang-ulang. “Mami gimana? Udah enakan? Teman Mami ada yang datang?” tanya Karin dengan lembut. Sejak Kaina sakit, teman sosialitanya menjauh, mereka ternyata tidak peduli dengan Kaina, makanya Kar

  • Stop, Dok! Ini Sudah Berlebihan   Bab 362 Sudah Gila

    Untung saja Karin sudah mengganti pakaiannya yang tertutup leher saat Neneknya masuk ke kamar. “Kamu tidur udah lama banget, Sayang. Silvi sudah nunggu dari tadi, dia sampai bosan jadi bantuin Nenek buat sup ayam untuk Kakek.” Karin tersenyum kecut saat mendengarnya, semua bisa ia tutupi tapi ujung bibirnya, masih terlihat. “Xavier kemana, Nek?” tanya Karin sambil mengoles make up tipis di wajahnya. “Sudah pulang, tadi dia ada kerjaan tapi katanya kalau sempat, malam nanti ke rumah, nganter kamu ke rumah Papi,” jawab Neneknya sambil menyisir rambut panjang Karin yang indah.Padahal Karin tidak meminta Xavier untuk mengikutinya. Tapi, pria itu masih terus saja belum menyerah untuk mendapatkan hatinya. Dengan tubuhnya yang kotor, mana berani Karin berharap cinta Xavier yang tulus.“Karin pergi sendirian aja Nek, siang ini dengan Silvi. Karin udah kangen banget sama Mami.” “Ya sudah, pakai saja mobil yang kamu suka, nanti security yang berikan kuncinya atau kamu mau diantar supir,

  • Stop, Dok! Ini Sudah Berlebihan   Bab 361 Bukannya Kamu Yang Mau?

    “Memangnya Silvi bisa masak?” tanya Rion saat menemani Silvi dan Mamanya di dapur, tumben sekali pria pekerja keras itu ada di dapur. “Bisa dikit Om,” jawab Silvi dengan wajahnya yang tidak peduli. Sampai sekarang, Rion masih saja mengejarnya dan berharap menjadi Ibu Tiri untuk Karin, sudah gila! Mana mungkin Silvi mau menjadi Ibu untuk sahabatnya sendiri. Lebih baik ia mati saja. “Wanita yang bisa masak itu biasanya sangat seksi di ranjang,” bisik Rion sambil mendekati Silvi yang sedang memotong wortel. Silvi diam saja dan tetap melanjutkan pekerjaannya, menganggap Rion angin lalu. Pria ini tidak perlu dipedulikan, semakin Silvi takut, justru akan semakin dikejar. “Seperti Silvi yang hot banget kalau di ranjang, Om kangen sama Silvi,” lanjutnya berbisik semakin jadi saat Nenek pergi untuk melihat Karin di kamarnya. Ia tidak tahu kalau tingkah anaknya sangat gila.“Apalagi kalau Om ingat saat pertama kali bercinta dengan Silvi, sempit dan ketat banget, Om gak pernah melupakan it

  • Stop, Dok! Ini Sudah Berlebihan   Bab 360 Desahan Panas

    “dokter kau mau apa?” tanya Karin dengan matanya yang membelalak. Ia terkejut saat Arlan kini sudah ada di atas tubuhnya, Karin takut ada orang yang masuk kamar dan melihat mereka dalam kondisi intim seperti ini. “Kamu! Dari dulu yang aku mau hanya kamu, Karin.” Arlan mendekatkan lagi bibirnya pada bibir Karin, menciumnya dengan rakus dan tidak sabaran, ujung lidahnya mendobrak masuk mulut Karin dan menjelajah didalam sana, menghisap saliva Karin hingga Karin merasa sesak dan sulit bernapas, Karin mendorong tubuh Arlan menjauh. Namun, sia-sia. Tenaga Arlan jauh lebih besar daripada tenaganya yang lemah itu. “Eumph, lepas dok, nanti ada orang masuk,” ucap Karin saat Arlan sibuk menjilat leher Karin. “Gak ada, mereka tau aku sudah pulang, kau pikir aku akan kembali ke rumahku saat tau kau ada disini, hmm?” Arlan turun ke bawah dan menarik pakaian Karin hingga dalamannya terlihat. Wajah Arlan tenggelam dibelahannya, mencium harum bunga yang sangat dirindukannya selama ini. “Dok, pl

  • Stop, Dok! Ini Sudah Berlebihan   Bab 359 Kecupan Liar

    “Arlan jangan mengganggu Karin, pulanglah ke rumahmu, bukannya sekarang kau sudah punya rumah?” Arlan diam saja, ia tidak mau menjawab pertanyaan istri pertama dari Billy. Ia merasa tidak mengganggu, Arlan hanya menyapa saja, sedari tadi Karin tidak peduli dengannya. “Aku menyiapkan hadiah khusus untuk orang yang aku cintai, Ma. Apa itu salah?” jawab Arlan dengan seringainya. Arlan kini lebih berani, ia bahkan sudah tidak peduli dengan apa yang keluarganya pikirkan.“Sudahlah Arlan, pergilah! Karin ingin tidur.” Nenek Karin menutup pintu kamar Karin dan membiarkan Karin istirahat, ia membawa Arlan untuk kembali ke meja makan. Tidak masalah untuk Arlan, setelah ini waktu mereka masih panjang. Kalau Arlan tidak bisa menemui Karin di rumah, ia pastikan akan membuat Karin ke ruangannya. Karin duduk di bibir ranjang, sambil merasakan debaran jantungnya yang terus meningkat. Tok! Tok! Silvi mengetuk pintu kamar Karin, ia juga sudah ada di kediaman rumah Wijaya. “Karin, buka! Ini aku

  • Stop, Dok! Ini Sudah Berlebihan   Bab 7 Godaan Kecil

    “Makasih dokter,” jawab Karin dengan senyum yang dibuat-buat. Karin tidak tertarik sama sekali untuk ikut mandi dengan dr. Arlan meskipun sepertinya tubuh dr. Arlan atletis seperti yang Karin mau. “Aku pikir kita bisa mencobanya,” jawab Arlan dengan tawanya yang mengejek. Tidak lucu! Sungguh! K

  • Stop, Dok! Ini Sudah Berlebihan   Bab 6 Rasanya Enak

    Bodohnya, gumam Karin dalam hati. Ia tidak bisa memasak dan Karin juga tidak bisa menolak permintaan aneh Arlan untuk menjadi pembantu gratisnya hari ini. Di dalam mobil, Karin hanya diam terpaku menatap jalan yang sedikit lenggang. Arlan yang duduk di sampingnya juga tidak menyapanya atau bert

  • Stop, Dok! Ini Sudah Berlebihan   Bab 5 Pelajaran Di Apartemen

    “Sentuh denyut nadimu sendiri. Rasakan dan catat ritme jantungmu setiap kali pikiranmu mengingat wajahku.”Efek psikologis dari "PR" Arlan mulai meracuni pikiran Karin. Saat morning report, Karin kehilangan fokus.Seperti biasa, Karin mengumpulkan laporan visit-nya sebelum pulang. Ada dr. Dimas di

  • Stop, Dok! Ini Sudah Berlebihan   Bab 1 Sentuhan Pertama

    “Dok, jangan kenceng-kenceng! Aku udah basah ih!” Pintu berbunyi klik. Kunci berputar dari dalam. Seorang dokter senior melangkah masuk sambil menarik lengan seorang koas. Karin menatap mereka. Mulut Karin terbuka. Ia mengambil ancang-ancang untuk teriak dan lari. Namun tiba-tiba, tanpa ia sadar,

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status