เข้าสู่ระบบUntuk pertama kalinya dalam hidup, Karin belajar memasak demi suaminya.Jujur saja, Karin sama sekali tidak bisa memasak.Namun, belakangan ini ada percikan rasa cemburu sekaligus terinspirasi yang menggelitik hatinya. Ia sering melihat para perawat di Puskesmas begitu telaten menyiapkan bekal untuk suami mereka, dan para suami itu tidak henti-hentinya memuji masakan sang istri.Karin juga ingin merasakan dipuji seperti itu!“Perasaan Arlan gak pernah lagi deh ngomong aku cinta kamu,” rutuk Karin pelan sambil membolak-balikkan roti di atas wajan anti lengket dengan cemberut.Rencananya pagi ini Karin akan membuat roti panggang selai coklat dan sandwich telur sederhana.Ya, hanya itu menu yang paling mudah dan aman untuk kapasitas kemampuannya.Namun, menu sesederhana itu saja sudah sukses membuat seisi dapur heboh.Koki dan asisten rumah tangga lainnya dibuat repot dan jantungan melihat ibu hamil tua beranak kembar itu sibuk mondar-mandir sendiri sejak subuh-subuh.“Sayang, kamu ngapa
Laura pergi ke toilet sebelum ia pulang, sementara Dimas sudah menunggunya di area parkiran galeri.Namun, saat melintasi lorong yang agak temaram, tiba-tiba ada sepasang tangan kekar yang menarik pergelangan tangannya dengan paksa, menyeretnya masuk ke dalam ruang tangga darurat.Tempat ini begitu sepi dan terisolasi. Jantung Laura berdegup kencang dengan irama horor saat netranya menatap lurus ke dalam manik mata Moreno yang berkilat penuh obsesi.“Kamu ngapain, Moreno?” bentak Laura, suaranya tertahan. Ia langsung mencoba berbalik untuk keluar dari tempat itu, namun kedua lengan Moreno dengan cepat mengurung pergerakannya di dinding.Begitu Laura membuka mulutnya dan ingin berteriak meminta pertolongan, Moreno malah bergerak nekat.Pria itu mencondongkan wajahnya dan membungkam mulut Laura dengan kecupannya yang rakus dan menuntut.Laura memberontak sekuat tenaga, memukul dada bidang Moreno sampai akhirnya pria itu melepaskan tautan bibir mereka dengan napas yang memburu.“Kapan ke
“Kau benar-benar tidak ada malu,” ucap Dimas dingin sambil melangkah maju mendekati Moreno yang tengah tersenyum puas sambil memandangi salah satu lukisan utama Laura.Moreno tidak mengalihkan pandangannya dari kanvas indah di depannya.Ingatannya langsung melesat ke masa lalu. Ia ingat betul momen saat ia membawa Laura ke Jardin du Luxembourg di Paris, sebuah taman megah yang saat itu tengah dipenuhi hamparan bunga dahlia dan kastuba (poinsettia) yang mekar dengan anggunnya di tengah udara musim dingin yang menggigit.Kini, kenangan manis di taman Paris itu telah diabadikan dengan sempurna lewat goresan kuas Laura.Mungkin Dimas tidak tahu sebuah rahasia kecil yang tersembunyi di sudut kanvas itu.Di sana, terdapat detail halus berupa siluet seorang pria yang berdiri di bawah pohon rindang dengan mantel tebal.Moreno tahu persis, pria itu adalah dirinya!Kenyataan itu membuat ego Moreno melambung tinggi. Ia sangat yakin, jauh di lubuk hatinya, Laura sebenarnya masih mencintainya.Mor
Moreno menyiapkan hadiah yang tidak main-main untuk pembukaan galeri Laura. Ia menyumbang banyak lukisan yang dipajang di sudut-sudut ruangan, yang awalnya membuat Laura takjub.Tadinya Laura tahu seluruh donasi dan karya itu masuk atas nama anonim, makanya Laura menerima semua itu dengan tangan terbuka tanpa rasa curiga sedikitpun.“Aku gak nyangka kalau kamu ternyata pandai melukis,” ucap Karin dengan mata berbinar kagum saat memandangi deretan kanvas indah di dinding.Padahal baru kemarin acara tujuh bulanannya yang melelahkan digelar, namun sekarang Karin sudah tampil segar dan menyempatkan diri datang ke acara pembukaan galeri milik Laura, saudara kembarannya itu.“Cuma hobby, dulu di luar negeri. Aku ikut kelas melukis tapi Daddy maksa aku masuk bisnis,” sahut Laura dengan senyum tipis yang menyimpan sedikit penyesalan.Mengingat masa lalunya, rasanya memang kasihan sekali nasib Laura. Ia terpaksa menghabiskan waktu bertahun-tahun kuliah di jurusan bisnis yang sangat ia benci, d
Sudah beberapa bulan menikah dengan Dokter Dimas, Laura masih belum juga menunjukkan tanda-tanda kehamilan. Tentu saja Moreno merasa sangat senang mendengar kabar tersebut. Kesuburan pernikahan mantannya yang mandek menjadi secercah harapan baginya untuk kembali masuk ke dalam hidup Laura. Apalagi, laporan Dimas ke polisi tentang kejahatannya juga berakhir sia-sia karena kekurangan bukti. “Memangnya dia pikir mudah untuk menyingkirkanku?” gumam Moreno dengan seringai sinis. Besok adalah hari pembukaan galeri lukisan baru milik Laura. Wanita itu memang sangat menyukai seni lukis, meskipun dulu ia terpaksa mengambil kuliah bisnis demi tuntutan keluarga. Demi melihat senyuman di wajah Laura, Moreno diam-diam mendanai seluruh pembangunan galeri tersebut menggunakan nama anonim. Ia sengaja menyembunyikan identitasnya agar Laura bisa bahagia tanpa merasa terbebani atau menolaknya. “Sampai kapan kau akan terus mengejar Laura, Moreno?” tanya Bella, sekretaris pribadi Moreno y
Waktu terus bergulir, dan sudah enam bulan sejak kematian orang tua Silvi berlalu.Selama setengah tahun itu pula, Silvi benar-benar memutus rantai hubungannya dengan dunia lama. Ia tidak mau lagi bertemu, menyapa, apalagi peduli dengan keberadaan Aldi.Silvi mencoba menata kembali hidupnya yang sempat hancur lebur.Hari ini, suasana di kediaman Arlan dan Karin tampak begitu hangat dan ramai. Rumah itu di dekorasi cantik untuk merayakan acara syukuran tujuh bulanan kehamilan Karin.Kebahagiaan Karin berlipat ganda karena hasil pemeriksaan menyatakan bahwa ia tengah mengandung bayi kembar berjenis kelamin laki-laki.Di tengah hiruk-pikuk acara, Karin menghampiri Silvi yang sedang duduk termenung di sudut ruangan.Wajah sahabatnya itu tampak menyiratkan beban pikiran yang berat.“Kenapa, Sil?” tanya Karin lembut, ikut duduk di samping sahabatnya.“Gak ada,” jawab Silvi singkat, mencoba tersenyum tipis.Namun, tepat saat itu, layar ponsel Silvi yang tergeletak di atas meja menyala.Sebua
“Dok, jangan kenceng-kenceng! Aku udah basah ih!” Pintu berbunyi klik. Kunci berputar dari dalam. Seorang dokter senior melangkah masuk sambil menarik lengan seorang koas. Karin menatap mereka. Mulut Karin terbuka. Ia mengambil ancang-ancang untuk teriak dan lari. Namun tiba-tiba, tanpa ia sadar,
Bodohnya, gumam Karin dalam hati. Ia tidak bisa memasak dan Karin juga tidak bisa menolak permintaan aneh Arlan untuk menjadi pembantu gratisnya hari ini. Di dalam mobil, Karin hanya diam terpaku menatap jalan yang sedikit lenggang. Arlan yang duduk di sampingnya juga tidak menyapanya atau bert
“Sentuh denyut nadimu sendiri. Rasakan dan catat ritme jantungmu setiap kali pikiranmu mengingat wajahku.”Efek psikologis dari "PR" Arlan mulai meracuni pikiran Karin. Saat morning report, Karin kehilangan fokus.Seperti biasa, Karin mengumpulkan laporan visit-nya sebelum pulang. Ada dr. Dimas di
“Makasih dokter,” jawab Karin dengan senyum yang dibuat-buat. Karin tidak tertarik sama sekali untuk ikut mandi dengan dr. Arlan meskipun sepertinya tubuh dr. Arlan atletis seperti yang Karin mau. “Aku pikir kita bisa mencobanya,” jawab Arlan dengan tawanya yang mengejek. Tidak lucu! Sungguh! K







