LOGIN“Sialan!”Air mata itu menetes begitu deras. Karin tidak bisa menahannya, ia berlari menuju parkiran mobil Arlan.Dengan tangan yang sedikit bergetar, Karin menarik pintu hingga tertutup dengan bunyi dentam yang terburu-buru.Pintu Mercedes-Benz itu ditutup dengan bunyi 'thunk' yang berat dan solid, mengisolasi kemewahan kabin dari hiruk-pikuk jalanan.Suara logam yang bergesekan dan bunyi debam pintu yang berat memantul di dinding lorong parkir yang sepi.Masih hening, Arlan pun hanya melihat Karin merapat ke sudut kursi penumpang tepat di sebelahnya, melipat diri sekecil mungkin. Air mata mengalir deras membasahi pipi Karin, kadang disertai tarikan napas pendek dan berat akibat dada yang terasa sesak.“Kau mau aku membawamu kemana?” tanya Arlan. Arlan melajukan mobilnya dan tidak berharap Karin membalas pertanyaannya dan benar, Karin memilih diam seribu bahasa. Menangis dalam hening dengan wajahnya yang begitu sedih. Arlan pun tidak tega melihatnya.“Kau tidak mau cerita padaku?”
“Wow.”Karin terperangah dengan kejutan yang diberikan Arlan untuknya. Baru masuk saja Karin disajikan lobi yang berkilau marmer Italia, lampu gantung kristal yang megah, aroma diffuser beraroma kayu cendana dan teh putih, sistem keamanan berlapis (private lift).Dari aromanya saja sudah menegaskan betapa elite apartemen yang dihadiahkan Arlan untuk Karin. Hadiah? Karin masih terkejut dengan semua ini apalagi saat Arlan membawanya masuk ke lantai empat puluh. Dari balik jendela floor-to-ceiling berlapis kaca kedap suara di lantai 40, gemerlap lampu ibu kota terlihat seperti hamparan permata yang membeku.Di jantung kawasan segitiga emas Sudirman-Thamrin ini, udara terasa dingin oleh penyejuk ruangan sentral, menyaring sempurna deru knalpot dan debu jalanan Jakarta. Ini bukan sekadar tempat tinggal, melainkan sebuah benteng eksklusivitas bagi mereka yang memegang kendali.Seberapa banyak yang dimiliki Arlan? Oh, ya Karin lupa kalau Arlan adalah Pamannya dan pewaris keluarga Wijaya.
“Kita sudah pernah kena sidang, dok. Kau mau kita melakukan itu lagi? Bagaimana kalau mereka memintaku untuk test ulang?” tanya Karin. Karin kesulitan menghadapi gairah Arlan. Pria ini tidak bisa menghentikan hasratnya bahkan tidak tahu tempat. “Aku tidak akan melepaskanmu kecuali kalau kau tidak akan pernah lagi makan siang dengan Dimas,” jawab Arlan dengan tegas.Karin menggeleng pelan dan wajahnya sinis. Mudah sekali Arlan bicara seperti itu sedangkan Karin harus mengikuti aturan supaya ia bisa lulus dengan cepat. “Bukan aku yang mau, dia pembimbingku saat ini. Bagaimana caranya aku menolak? Apa kau dan Dimas punya masalah sebelumnya?” Karin penasaran. Arlan sepertinya pun tidak menyukai Dimas tapi mereka seperti berteman baik kalau sedang kerja. “Aku tidak peduli, kalau kau melanggar aturanku. Aku akan meminta jatahku dimanapun kita berada.” “Oke lakukan saja, kalau kau tidak punya malu,” jawab Karin dengan cepat. Karin tahu kelemahan Arlan, mana mungkin Arlan merelakan ka
Setelah visit pasien, Karin membuat laporan sebentar karena ia dan teman koas lainnya akan membicarakan kasus pasien dengan dr. Dimas. Ya, Karin tidak sendirian dan itupun tidak malam. “Jadi, seperti yang saya jelaskan tadi dok, pasien pernah mengalami satu kali keguguran dan tidak pernah operasi sebelumnya. Pasien juga tidak pernah menggunakan KB apapun tapi dia memiliki kista,” ucap Karin menunjukkan hasil visitnya hari ini. Entah kenapa Karin tidak nyaman dengan senyuman Dimas, apalagi gosip yang berkembang sebelumnya membuat Karin sedikit terkejut. Jadi, selama ini Dimas punya hubungan dengan dr. Luna dan sekarang Karin dihujat karena itu. “Sudah diberikan cairan IV RL XX tpm dan suntikan asam traneksamat satu ampul?” tanya Dimas masih dengan senyumnya mengarah ke Karin. Koas lain yang ikut laporan di ruang Dimas saling senggol karena merasa dr. Dimas terlihat sekali pilih kasih pada Karin. “Sudah dok,” jawab Karin. Karin tidak nyaman pembimbingnya saat ini dr. Dimas tapi Ka
Mulai Minggu ini, Karin masuk pagi lagi. Setelah malam panas itu, sejujurnya Karin menghindari Arlan. Bodoh memang! Keperawanan sudah dia berikan, ia juga tidak bisa menghindari Arlan karena Arlan Konsulennya. Kenapa ia malah bersembunyi seperti tikus? “Aku malu atau aku malas?” tanya Karin sambil mengusap make up tipis ke wajah cantiknya. Kedua orang tuanya belum pulang, mereka sibuk liburan masing-masing. Tidak pernah memikirkan perasaan Karin dan Kakaknya. Pesan dari Arlan juga tidak Karin balas, Arlan belum sempat ke rumahnya lagi karena benar-benar sibuk dan itu bagus untuk hubungan mereka. “Sudahlah, kami cuma sama-sama penasaran aja, lagian dia juga gak rugi kok,” lanjut Karin mengejek dirinya sendiri. Setelah ini, siapa yang akan menyukai Karin lagi dan bagaimana kalau pria yang mendekatinya tahu kalau Karin sudah tidak perawan. Akh! “Ngapain aku mikir kejauhan, aku aja gak tau bisa disentuh pria lain selain Arlan atau gak?” Karin bingung dengan dirinya, kadang ia suk
Kalau bukan karena ada telepon dari rumah sakit, mereka pasti bercinta lagi. “Nanti aku pulang lagi, kau tidak mau ke apartemenku?” tanya Arlan sambil mengecup pundak Karin yang polos, permainan panas mereka seharusnya masih berlanjut. Arlan tidak ingin meninggalkan Karin sendirian di ranjang. “Gak,” jawab Karin dengan matanya yang terpejam, seluruh tubuhnya sakit dan area sensitifnya terasa kebas juga perih. Perawannya baru saja hilang, ada tetesan darah juga di spreinya. Tapi, Karin tidak peduli. Pembantunya pasti berpikir itu darah periodenya. “Kau tidak merindukanku?”Begitu manjanya Arlan, Karin membalik tubuhnya dan melilitkan tangan ke leher Arlan. “Baru aja main, kamu gak puas?” Arlan menggeleng pelan. Mana mungkin pria dewasa puas dengan sekali permainan apalagi ini pertama untuk mereka. “Aku ketagihan, apa yang kau berikan padaku?” tanya Arlan dengan senyum nakalnya. Arlan mengecup lembut bibir Karin dan menatap matanya dengan penuh hasrat. “Masih ada besok dokter, a
“Ahhh, dokter jangan, please!” Karin memohon sambil menarik lingerie nya ke bawah dan menggeleng pelan.Matanya benar-benar memohon agar Arlan tidak melakukan itu di rumahnya. “Apa yang kamu takutkan Sayang?” tanya Arlan sambil mengecup telapak tangan Karin. “Ini di rumahku, aku gak mau sampai Bi
Keluar dari ruangan, Karin tersenyum tapi air matanya menetes. “Ngapain aku nangisin dia?” gerutu Karin sambil mengusap air matanya yang menetes tanpa tahu malu. Mereka memang tidak pacaran, hubungan mereka memang tidak jelas, tidak cinta hanya sekedar saling memanfaatkan, lagipula Arlan itu Pama
Arlan menghela napasnya panjang karena pulang dari Jepang, ia menghadapi masalah serius. Ternyata ada musuh dalam selimut yang melaporkan perilaku buruknya dan dinilai tidak pantas menjadi Direktur rumah sakit. Malam ini ada pertemuan dadakan pemegang saham dan direksi rumah sakit. “Siapa sebena
“Tugas yang diberikan dr. Arlan sebelumnya dan saya buat untuk diskusi kasus hari ini, dok.” Arlan mengangguk setuju dengan wajah yang dingin padahal di dalam hati tersenyum. Dimas pasti tidak lagi mencurigai mereka setelah ini. Arlan tahu kalau tugas yang dibuatnya diketahui oleh dokter lain dan







