Teilen

Bab 8 Video Call Romantis

last update Veröffentlichungsdatum: 13.05.2026 16:06:14

Karin tahu kalau Arlan pasti tidak setuju, tadi dia hanya bercanda, makanya Karin minta hal tidak masuk akal seperti itu.

Tiba-tiba Arlan melihat ke bawah dan tersenyum sambil terkekeh.

“Okey!”

Arlan setuju, mana mungkin Arlan menolak saat tangan indah Karin memanjakan miliknya.

Ponsel Karin berdering di waktu yang tidak tepat untuk Arlan tetapi membuat Karin selamat dari kondisi tidak nyaman itu.

“Ya, Mi. Karin lagi di rumah dosen, lagi bimbingan. Kenapa Mi?” tanya Karin secepat itu mengge
Lies dieses Buch weiterhin kostenlos
Code scannen, um die App herunterzuladen
Gesperrtes Kapitel
Kommentare (2)
goodnovel comment avatar
Salamah
penasaran loh
goodnovel comment avatar
Salamah
lanjut thor
ALLE KOMMENTARE ANZEIGEN

Aktuellstes Kapitel

  • Stop, Dok! Ini Sudah Berlebihan   Bab 217 Menyusup Kamar Karin

    Setelah Arlan mengantar Renata, Karin tidur dikamarnya sendiri. Ia takut Kakek Billy masuk lagi ke kamar Arlan dan melihat ia ada di sana. “Sudah sampai rumah?” tanya Karin saat Dimas menghubunginya. Sepertinya Dimas ingin mencari tahu, ada Arlan atau tidak di rumah Kakek Billy. “Baru sampai dan langsung kangen kamu lagi,” jawab Dimas. Karin hanya tersenyum lembut. Seharusnya dulu, Karin tidak perlu menerima Dimas menjadi kekasihnya, sekarang ia benar-benar sulit lepas dari Dimas. “Hemm, dokter mau mengajukan diri jadi Direktur Rumah Sakit?” tanya Karin ragu-ragu. Mereka belum membicarakan ini berdua saja, Karin hanya samar-samar mendapatkan berita tentang masalah ini. “Ya.” Dimas menunggu pertanyaan Karin selanjutnya. Ia tidak akan mundur sedikitpun, ia ingin menghancurkan Arlan.“Kenapa dr. Arlan tidak bisa ikut bersaing?”Dimas tahu kalau Karin pasti akan menanyakan ini. “Tanyakan saja dengannya. Kenapa dia mengundurkan diri,” jawab Dimas dengan seringainya. Dimas ingin meli

  • Stop, Dok! Ini Sudah Berlebihan   Bab 226 Tubuhku Milikmu

    “Jangan pernah memberitahu Dimas kalau ada aku malam ini, mengerti?” Karin mengangguk, ia juga tidak seaneh itu. Hubungan ini cukup mereka berdua saja yang tahu. “Kenapa kembali Sayang? Kamu masih kangen aku?” tanya Karin sambil memeluk tubuh kekar Arlan.Kenapa gengsi? Biasanya juga blak-blakan dengannya. Arlan memandang wajah Karin dan menjawab dengan melumat bibir Karin. Sepertinya Karin mengerti jawabannya. Ia tidak akan memaksa kalau memang Arlan mencintai Renata, Karin akan mengalah. Tapi, ia tidak akan pernah mau meninggalkan Arlan. Karin akan terus menjadi bayang-bayang dalam keluarga itu. Salah Arlan sendiri. Ia yang membawa Karin dalam hidupnya dan sekarang, mereka sudah tidak bisa berhenti. “Sudah malam. Apa harus mengantar dokter genit itu?” tanya Karin dengan bibirnya yang mengerucut. Kenapa Renata harus kembali ke Jakarta? Seharusnya wanita tidak pernah pulang sehingga Arlan tetap menjadi miliknya.“Ya, aku yang membawanya, kau ingin menungguku di sini?” bisik Arla

  • Stop, Dok! Ini Sudah Berlebihan   Bab 225 Semua Pria Dewasa Melakukannya

    “Mau kemana Arrr?” tanya Renata mengejar Arlan sampai ke kamarnya. “Aku ingin tidur sebentar, supir yang akan mengantarmu Renata, aku sungguh mengantuk sekali, aku tidak bisa membawa mobil dalam keadaan ngantuk seperti ini,” jawab Arlan bohong. Ia ingin masuk ke kamarnya karena Karin masih di dalam, dengan perilaku Arlan yang hyper, mana mungkin ia cukup hanya satu atau dua kali mencapai klimaks. Tubuhnya begitu cocok dengan Karin. “Arrrr, Kakek masih ingin bertanya tentang keseriusan kamu menikahi aku, Arrrr. Apa itu bohong?” tanya Renata dengan wajahnya memelas. Tangannya mulai sibuk menyentuh dada bidang Arlan. “Kita bahas besok saja Renata.” “Aku temani kamu tidur,” jawab Renata yang memaksa ingin masuk tapi Arlan menahannya. “Please! Kamu tau begitu sulit untuk kita istirahat Renata, kamu tau itu karena kamu juga seorang dokter, malam ini tidak ada panggilan dari rumah sakit.” “Oke, aku gak akan ganggu kamu lagi tapi cium aku dulu!” Arlan memutar bola matanya malas tapi te

  • Stop, Dok! Ini Sudah Berlebihan   Bab 224 Kau Yang Menginginkannya

    “Ini kau yang menginginkannya Karin,” bisik Arlan membalik keadaan, Karin di bawah tubuhnya, Arlan menghentakkan keras miliknya sampai Karin mendesah hebat, Arlan menutup mulut Karin agar tidak ada yang mendengar kegiatan mereka di dalam kamar. “Eumphhh ahhhh ya Sayang, lebih dalam lagi Om,” bisik Karin meracau tidak jelas, Karin menyukai saat Arlan seperti ini, ia tidak ingin percintaan ini cepat selesai meskipun semua orang mencari keberadaan mereka. “Akhhh, sempit sekali Sayang.” Karin memang tidak pernah gagal membuatnya puas. “Ohhh yess baby, eumph!” Arlan menggendongnya sambil melumat bibirnya dengan rakus, Karin menyeringai dalam posisi ini, Dimas begitu sombong mengatakan kalau ia bisa memuaskan Karin, ia tidak tahu kalau Arlan dan dirinya sudah melakukan semua gaya bercinta. Arlan meletakkan kembali tubuh Karin, melebarkan kakinya dan menghisapnya dengan rakus sebelum akhirnya menekannya lagi. Tubuhnya berkeringat, rambutnya basah tapi mereka belum ingin berhenti sampai a

  • Stop, Dok! Ini Sudah Berlebihan   Bab 223 Ingin Sekali Bercinta Denganmu

    Menyesal! Sepertinya Karin menyesal mengatakan ia tidak perawan lagi pada Dimas. Kenapa ia bisa spontan sekali mengatakan semua itu, di antara mereka sudah tidak ada lagi rahasia. Bagaimana kalau Dimas menuntut ingin bercinta? “Sudah sampai Honey,” ucap Dimas. Tidak terasa mereka akhirnya sampai di rumah utama keluarganya dan ramai sekali. “Mau ikut masuk?” Karin hanya basa-basi saja, berharap Dimas pengertian dan pulang. Memangnya Dimas mau berkumpul dengan seluruh keluarga besarnya. “Nanti saja, aku mau ke rumah sakit tadi ada pasien IGD yang harus dioperasi malam ini juga.” Ya ampun, doa Karin akhirnya terjawab. Karin memang tidak ingin Dimas ada di rumah Kakeknya. Karin tidak ingin menjelaskan siapa Dimas dengan keluarga besarnya. “Hati-hati ya, Honey. Nanti telepon kalau sudah sampai rumah sakit.” “Oke, Honey.” Dimas mengecup kening Karin dan setelah itu bibir Karin. “Bye!” Karin melambaikan tangannya. Ia bergegas lari ke dalam rumah karena melihat ada mobil dr. Arlan.

  • Stop, Dok! Ini Sudah Berlebihan   Bab 222 Aku Bisa Sambil Menggendongmu

    Mereka berpisah, Silvi ikut Haikal sedangkan Karin masih dengan Dimas. “Kita mampir apartemenku sebentar ya, Honey. Kebetulan aku ada hadiah untuk Kakek, temani aku ambil hadiahnya.”Karin mengangguk saja, lagipula apartemen tidak jauh dari Restoran ini. “Turun dulu, Honey!” Padahal Karin ingin menunggu di mobil tapi Dimas malah memaksa ikut masuk. Untuk apa? Jangan-jangan Dimas ingin melepas rindu karena sudah lama mereka tidak bertemu. “Oke.”Karin ikut masuk ke apartemennya Dimas dan sampai apartemen yang Karin duga ternyata benar, Dimas mengajaknya duduk di sofa.“Aku kangen banget sama kamu Honey,” ucap Dimas memandangi wajah Karin dengan lekat dan mendaratkan kecupan panas di bibir Karin. Cukup lama Dimas melumat bibir Karin sampai Karin kepanasan dan bergairah. Karin sadar kalau ia merasakan sensasi yang berbeda saat berciuman dengan Dimas tapi pikirannya saat mencium Dimas, itu adalah bibir Arlan, makanya Karin sangat semangat. “Kamu ingin aku mengisimu?” tanya Dimas deng

  • Stop, Dok! Ini Sudah Berlebihan   Bab 5 Pelajaran Di Apartemen

    “Sentuh denyut nadimu sendiri. Rasakan dan catat ritme jantungmu setiap kali pikiranmu mengingat wajahku.”Efek psikologis dari "PR" Arlan mulai meracuni pikiran Karin. Saat morning report, Karin kehilangan fokus.Seperti biasa, Karin mengumpulkan laporan visit-nya sebelum pulang. Ada dr. Dimas di

  • Stop, Dok! Ini Sudah Berlebihan   Bab 4 Lepaskan Pakaianmu

    “Ta-tapi, Dok?”Karin enggan melepaskan snelli yang digunakannya. Di balik jas itu ia memakai long tube, pakaian jenis kemben yang menggantung sedikit panjang. Karin suka pakaian seperti itu. Namun ia sadar, tidak mungkin melepaskan snelli miliknya saat berjaga.“Kenapa?” Arlan merasa tidak perlu a

  • Stop, Dok! Ini Sudah Berlebihan   Bab 3 Pelajaran Menyentuh

    Suara dr. Arlan dari dalam ruangan terdengar datar. Tangan Karin terhenti di kenop pintu. Ia menunduk menatap penampilannya. Rok yang ia kenakan menggantung di atas lutut, mengekspos paha dan kaki jenjangnya dengan jelas. Masuk ke ruangan tertutup berdua saja dengan konsulen menggunakan pakaian se

  • Stop, Dok! Ini Sudah Berlebihan   Bab 2 Panggilan Pertama

    Tiba-tiba, dr. Arlan Pradipta datang. Rahangnya mengeras. Sorot matanya menyapu ruangan tanpa ekspresi empati sedikit pun. “Apa ini? Kenapa kau diam saja,” ucap Arlan sambil menatap tajam Karin. Koas ini mematung dengan tangannya yang gemetaran. “Lakukan! Periksa apa yang terjadi pada pasien,”

Weitere Kapitel
Entdecke und lies gute Romane kostenlos
Kostenloser Zugriff auf zahlreiche Romane in der GoodNovel-App. Lade deine Lieblingsbücher herunter und lies jederzeit und überall.
Bücher in der App kostenlos lesen
CODE SCANNEN, UM IN DER APP ZU LESEN
DMCA.com Protection Status