LOGINLaura Varista Safa atau lebih di akrab di sapa Laura, telah menjalani hubungan dengan Alex Xander Desmon selama 8 bulan, hubungan mereka pada awalnya baik-baik saja seperti sepasang kekasih pada umumnya, tapi suatu hari Laura memutuskan hubungannya tanpa alasan yang jelas. Sehingga membuat Alex kebingungan dan terus mengejar Laura, apa Alex akan mendapatkan Laura kembali atau malah semakin membuat Laura menjauh? Dan apa alasan Laura memutuskan hubungannya dengan Alex?
View More“Buka pakaianmu!”
Perintah tegas dari seorang pria di hadapannya sontak membuat Ariana mengadahkan kepalanya.
“Ta-tapi, Tuan—”
“Jangan pura-pura lupa dengan apa yang sudah kuberikan padamu, Ariana.” Jason memotong ucapan gugup Ariana dan mengingatkan apa yang sudah dia berikan saat memohon agar membantunya membayar utang ke rentenir.
"Buka bajumu, semuanya. Tanpa ada yang tersisa satu pun!” perintahnya lagi dengan suara yang lebih tegas.
Dengan tangan gemetar, Ariana akhirnya melucuti pakaian pembantu yang dia kenakan, rok panjang hitam dan kaus sedikit longgar dengan hati-hati.
**
Pintu utama dibukakan oleh seorang pelayan senior, wanita paruh baya bernama Berta. “Ariana?”
Ariana menoleh dengan cepat ke arah wanita paruh baya yang memanggilnya.
"Masuklah. Tuan Jason ada di dalam. Kau akan memulai dengan membantu di ruang makan, lalu nanti aku jelaskan pekerjaanmu apa saja di sini," katanya dengan singkat.
Ariana mengangguk dengan patuh. Aroma kayu mengisi ruangan bercampur dengan wangi samar parfum maskulin yang seolah menandai setiap sudut rumah itu saat dia masuk ke dalam.
Belum sempat Ariana melangkah lebih jauh, suara pecahan kaca memecah keheningan.
Prangg!
Tubuh Ariana refleks menegang. Suara itu datang dari arah dapur. Dia melirik Berta yang langsung bergegas dan Ariana pun mengikutinya.
Sesampainya di dapur, pemandangan yang dia lihat membuatnya terpaku.
Seorang pelayan pria berusia sekitar empat puluh tahun berdiri dengan wajah pucat, tangannya gemetar memegang sisa piring yang tinggal setengah utuh.
Di hadapannya berdiri Jason, mengenakan kemeja putih dengan lengan digulung sampai siku. Tatapannya menusuk, dingin seperti bilah pisau yang baru diasah.
“Aku sudah bilang padamu, hati-hati! Berapa kali aku harus mengulanginya?” suaranya rendah, tapi sarat amarah yang terkontrol.
"T-tuan, saya mohon maaf. Saya tidak sengaja. Tolong jangan pecat saya. Sa-saya … saya sebatang kara di kota ini. Tidak punya siapa-siapa. Pekerjaan ini satu-satunya yang saya punya," pelayan itu memohon dengan suara bergetar.
Ariana berdiri di ambang pintu menahan napasnya. Matanya berpindah dari wajah panik si pelayan ke tatapan dingin Jason yang tak sedikit pun menunjukkan belas kasihan.
“Kecelakaan bisa dimaklumi sekali. Dua kali masih bisa kutoleransi. Tapi tiga kali? Itu bukan kecelakaan. Itu kelalaian,” kata Jason dengan tegas bahkan matanya tidak berkedip sekali pun.
Pelayan itu menunduk menahan diri untuk tidak menangis di hadapan Jason. “Saya … saya akan ganti rugi, Tuan. Tolong maafkan saya.”
Jason menatapnya lama kemudian menghela napas. “Bersihkan ini. Kita akan bicarakan nanti di ruang kerja.”
Suaranya memang tidak tinggi, tapi cukup membuat bulu kuduk Ariana meremang. Ada kekuasaan yang begitu kental dalam nada itu, seperti tidak ada ruang untuk perlawanan.
Jason berbalik dan sejenak pandangannya bertemu mata Ariana. Tatapan itu singkat, tapi cukup untuk membuat tubuhnya kaku.
Wanita berusia 24 tahun itu hanya bisa menunduk dengan cepat, berharap tatapan itu tidak mengandung penilaian buruk terhadap dirinya.
**
Sisa pagi itu Ariana habiskan untuk membiasakan diri dengan ruang makan yang luas.
Di meja makan panjang yang mengilap, Ethan—anak Jason yang baru berusia tiga tahun—sudah duduk di kursi khususnya. Bocah itu berwajah manis dengan mata besar yang memandang penuh rasa ingin tahu.
Ariana tersenyum tipis dan duduk di kursi kecil di sampingnya. "Tuan Ethan, mau makan apa dulu?" tanyanya lembut.
“Sup,” jawab Ethan dengan suara pelan.
Ariana meraih sendok kecil dan mulai menyuapkan sup hangat itu ke mulut mungilnya. Ethan tampak lahap, meski sesekali menoleh ke arah mainan di ujung meja.
Sesekali Ariana mencuri pandang ke sekeliling. Tidak ada tanda-tanda Jason di ruangan itu, tapi bayangan tatapannya di dapur tadi terus menghantui pikirannya.
Begitu tegas, begitu dingin. Bagaimana bisa orang hidup di bawah tatapan seperti itu? batinnya.
Namun ia mencoba untuk tetap fokus. Tangannya terampil memotong roti menjadi potongan kecil, lalu menyuapkan ke Ethan.
Bocah itu mengunyah sambil tersenyum tipis, dan entah kenapa senyum itu sedikit menghangatkan hati Ariana di tengah ketegangan pagi ini.
**
Siang menjelang, dan Ariana mendapat giliran membantu menyiapkan makan siang di dapur. Ia membawa nampan berisi buah potong untuk dibawa ke ruang makan.
Namun saat melangkah keluar dari pintu dapur, tanpa sengaja dia menabrak sesuatu—atau seseorang.
“Aahh!”
Tubuhnya terhuyung ke depan dan sebelum sempat jatuh, sebuah tangan kuat menahan lengannya.
Ariana mendongak dan jantungnya serasa berhenti. Jason berdiri di hadapannya, tubuh tinggi tegapnya begitu dekat hingga Ariana bisa merasakan aroma parfumnya yang hangat namun tajam.
Tubuhnya masih setengah bersandar di dada Jason, merasakan detak jantung pria itu yang stabil, kontras dengan detaknya sendiri yang tak beraturan.
“Mau ke mana?” tanya Jason dengan nada rendahnya.
“S-saya … saya hendak membawakan buah potong, Tuan,” jawab Ariana terbata dan buru-buru dia menegakkan tubuh dan mundur selangkah menjauh dari sang tuan.
Jason menatapnya lama dengan tatapan datarnya dia berkata, “Berhati-hatilah saat berjalan. Di rumah ini, aku tidak suka orang ceroboh.”
Esok paginya, Laura melangkah ke ruang makan dengan langkah santai, meski wajahnya masih menunjukkan sisa kelelahan. Di meja makan, Rio sudah duduk sambil memangku Kenzo, yang terlihat segar setelah dimandikan. Bayi itu tertawa kecil, tangannya menggapai-gapai wajah Rio, membuat suasana terasa lebih hidup.Di dapur, Sinta sedang membuatkan kopi sambil tersenyum melihat pemandangan itu. Ketika Laura mendekat, Sinta menyapanya. "Pagi, Laura. Mau sarapan apa?" tanyanya ramah.Laura hanya mengangguk kecil dan duduk di kursinya, menghindari kontak mata dengan Kenzo. Ia mengambil roti yang sudah tersedia di meja dan mulai memakannya dalam diam.Rio, yang melihat sikap Laura, tersenyum kecil. "Ra, kamu nggak mau gendong Kenzo? Dia lagi ceria banget pagi ini," ucapnya sambil menggerakkan Kenzo sedikit ke arah Laura.Laura menghentikan kunyahannya sejenak, lalu menjawab tanpa menatap ayahnya. "Ayah tahu jawabannya," ujarnya datar.Rio menghela napas pelan, menatap putrinya dengan penuh kesabar
Laura melangkah masuk ke dalam kamarnya di rumah dengan langkah lelah. Setelah percakapannya dengan Alex di pantai, tubuh dan pikirannya terasa begitu berat. Ia menjatuhkan dirinya di atas ranjang, menatap langit-langit kamar yang dihiasi oleh balok kayu khas Bali.Ia menarik napas panjang, mencoba menenangkan pikirannya yang terus berputar. Kata-kata Alex masih terngiang jelas di benaknya. "Mau seribu kali pun lo nolak gue, gue gak akan pernah menyerah, Ra."Laura menutup matanya, mencoba meredakan kekacauan di dalam dirinya. "Kenapa semua ini harus sekompleks ini?" gumamnya pelan. Di satu sisi, ia merasa bersalah telah membuat Alex terus berharap, tapi di sisi lain, ia tahu bahwa perasaannya sendiri belum benar-benar sembuh dari luka di masa lalu.Ia bangkit perlahan, berjalan menuju balkon kamarnya. Udara malam Bali yang sejuk menyapa wajahnya. Suara debur ombak dari kejauhan terdengar menenangkan, meski hatinya tetap terasa berat."Pernah nggak sih gue benar-benar tahu apa yang g
Pov GrettaGretta dan Rafa berjalan santai di tepi pantai, pasir lembut menyentuh kaki mereka. Mereka baru saja membeli beberapa makanan ringan dari penjual yang ada di sepanjang pantai—kacang rebus, jagung bakar, dan es kelapa muda. Gretta memegang gelas es kelapa dengan satu tangan, sementara tangan satunya sibuk menepis Rafa yang terus menggoda."Lo tahu nggak, Gretta, gue beli jagung bakar ini khusus buat lo. Supaya lo bisa ngunyah sambil diem, nggak terus-terusan ngetawain gue," ucap Rafa sambil menyeringai.Gretta tertawa keras, hampir menjatuhkan gelasnya. "Hah! Emang lucu banget lo, ya. Humor lo tuh receh banget, Raf. Tapi gue akui, kadang itu yang bikin gue betah sama lo.""Kadang? Jadi gue cuma lucu 'kadang-kadang'?" Rafa pura-pura cemberut, membuat Gretta tertawa lebih keras.Mereka berhenti sejenak, duduk di atas pasir sambil menikmati angin malam. Gretta menyandarkan kepalanya ke bahu Rafa, sementara Rafa dengan santai melingkarkan lengannya di bahunya."Raf, lo sadar ngg
...Setelah suasana menjadi lebih cair, mereka semua mulai berbincang lebih santai bersama orang tua Laura. Sinta dan suaminya, Rio, ikut duduk di meja mereka, membuat obrolan semakin hidup.Namun, meski suasana terlihat akrab, Alex sesekali mencuri pandang ke arah Laura. Perasaan yang ia pendam selama bertahun-tahun sejak kepergian Laura tampak jelas di matanya. Gretta, yang duduk di samping Laura, menyadari hal itu tapi memilih untuk tidak berkomentar.Tasya, di sisi lain, merasa tidak nyaman dengan cara Alex memandang Laura. Ia mencoba mengalihkan perhatian Alex dengan memulai obrolan. "Alex, gue denger katanya li mau kuliah di luar negeri?" tanyanya dengan nada ceria.Alex tersenyum kecil, meski jelas terganggu oleh interupsi Tasya. "Iya, tha tapi gue juga gak.tahu, mungkin oindah rencana kuliah di tempat lain," ucapnya sambil melirik ke arah Laura.Tasya tersenyum kaku, menyadari bahwa Alex tidak sepenuhnya memperhatikannya. Ia menggenggam gelasnya lebih erat, mencoba menahan ras






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviews