ANMELDENAku diam, tidak menjawab iya atau tidak. Begitu sulit untuk menjawab salah satunya.“Bagaimana, Elia? Sebuah pilihan yang sangat menarik, bukan?” tanyanya.Napasku memburu, ingin rasanya aku memberi pelajaran pada wanita ini. “Jawab, Elia!” titahnya. Nada suaranya halus. Namun, terkesan mengejek.Jambakan tangannya pada rambutku semakin kuat, semakin terasa sakit. Aku tidak mampu lagi bergerak. Sedikit saja bergerak, semakin terasa sakit pula kulit kepalaku.“Jawab, atau detik ini juga, akan aku viralkan isi diary itu!” tambahnya.Dengan bibir bergetar, aku mulai membuka mulutku hendak menjawab.“A … ku–”“Woy! Perhatian semuanya! Ada yang meninggal!”Aku terkesiap, tiba-tiba tangan Mawar terlepas dari rambutku. Kami berdua menoleh ke arah lelaki yang berteriak lantang memberikan informasi.“Siapa? Di mana?” tanya Mawar.“Di perpus! Sebaiknya kamu lihat sendiri!” Mawar beranjak, dia berlari menuju perpustakaan. Aku merapikan rambutku yang kacau. Lantas aku pun beranjak dari kursi,
“Kamu … Mawar, kan?” tanya Ayah, tanpa keluar dari dalam mobilnya. Ayah hanya melihat dari celah jendela yang sedikit terbuka.Fix! Mawar telah menghubungi Ayah, sehingga Ayah mengenali wanita ini. Kedua tanganku terkepal kuat.“Iya, Om. Aku temannya Elia, yang waktu kemarin mau menolong Elia, tapi sudah keduluan Om!” jawab Mawar.Wanita sialan! Dia memanipulasi keadaan. Dia telah menipu ayahku. Padahal jelas-jelas dialah otak di balik jebakan itu.“Tapi dia–”“Diam, atau diary kamu aku bongkar di hadapan anak-anak!” “Aw!” pekikku. Mawar mencubitku di bagian pinggang.“Kenapa, Elia? Ada yang sakit?” tanya Ayah. Matanya mengawasiku.Aku menggeleng cepat-cepat. Membantah pertanyaannya. Berusaha menyembunyikan reaksi sakitku.“Ayah sebaiknya cepat pergi kerja. Jangan buang-buang waktu lagi!” seruku. Padahal aku tidak ingin Ayah berlama-lama di sini, apalagi ada Mawar.Ayah tersenyum kecil, lantas mengangguk.“Baiklah, Little Princes!” sahut Ayah.Ayah lantas melanjutkan perjalanan, berl
Aku membeliak, lantas menunduk menatap resleting celanaku.Ya Tuhan … malunya aku. Bisa-bisanya aku lupa menutupnya.“Kamu–”“Eh nggak ada. Ke mana, dia?”Aku mengedarkan pandangan, lelaki itu sudah tidak terlihat lagi. Aku tidak sadar jika dia pergi.Segera aku menutup resleting celanaku. Beruntung aku belum kembali ke kantin. Jika tidak, aku pasti menjadi bahan tertawaan banyak orang.“Ehem! Orang itu hanya selewat, kita nggak mungkin ketemu lagi!” gumamku. Aku menegakkan tubuhku, berjalan membusungkan dada. Demi membuang jauh ingatan tentang kejadian memalukan barusan.Aku melanjutkan niatku, memesan makanan untuk kami bertiga. Cukup lama menunggu, akhirnya tiga bungkus makanan telah terpampang di hadapanku.“Makan dulu, Tan, Neni. Habiskan, ya!” seruku.Mereka berdua menerima makanan ini.“Kamu memang anak baik. Pantas Neni selalu cerita dan memuji kamu, Elia. Tante jadi tenang, Neni memiliki teman seperti kamu. Kamu jangan sungkan kalau misal mau ke rumah kami, rumah kami akan se
“Tante, aku Elia, temannya Neni. Bagaimana keadaan Tante sekarang? Sudah baikan?” tanyaku.Aku menyalaminya, ibunya Neni tersenyum kecil. Kuraih sebelah tangannya, kucium punggung tangannya tersebut.“Saya Tante Ella, keadaan Tante baik-baik saja. Kamu cantik, sesuai yang diceritakan oleh Neni,” jawab Tante Ella.Kulihat wajah Tante Ella begitu pucat. Bahkan tak jarang dia terbatuk. Tubuhnya pun terlihat sangat lemas.“Tante sudah minum obat? Sudah dibawa ke dokter?” tanyaku.Neni menimpali, “Ibu tidak dibawa ke dokter, El. Kami nggak ada uang. Sudah dua hari ini Ibu nggak jualan, jadi kami nggak punya uang untuk ke dokter!”Kuusap bahu Neni. Ternyata kehidupan Neni jauh dari yang aku bayangkan.“Maaf, Tante, Neni, ayah Neni di mana memangnya? Kok Tante yang kerja?” tanyaku.Neni tiba-tiba menunduk, dia terlihat sedih.“Ayahku sudah meninggal, El. Jadi Ibu yang menjadi tulang punggung keluarga. Aku bisa kuliah juga berkat beasiswa!” jelas Neni.Sebagai seorang teman, aku merasa tidak
Tak berselang lama, pesan baru kuterima. Masih dari nomor Mawar.Lekas kubuka pesan tersebut, berupa foto.“Ya Tuhan!” Aku terkesiap, jantungku tiba-tiba berpacu begitu kencang, sulit sekali untuk kukontrol.Kuraih tasku, ceroboh! Benar-benar ceroboh. Buku diary-ku ….(Bagaimana, Elia? Apakah kamu ingin aku viralkan tentang isi diary ini? Aku tidak menyangka, Elia si cupu ini ternyata tidak lain adalah anak dari wanita seorang pembunuh).Aku memejamkan mataku sejenak, setelah menerima pesan tersebut dari Mawar.Dahiku tiba-tiba berkeringat, padahal AC di kamar ini telah kunyalakan.Aku tidak membalas. Namun, aku menghubunginya dengan panggilan telepon.Sayangnya, Mawar mematikan panggilan ini tanpa mau menerima telepon dariku.“Sial! Kenapa wanita itu selalu saja membuatku muak? Tidak bisakah dia membiarkanku tenang walau sedikit?”Aku pun mengirim pesan padanya.(Kembalikan diary itu. Jangan macam-macam).Mawar tidak membalas, hal itu membuatku cukup setres!(Oke, fine! Aku kirim nom
Aku benar-benar tidak menyangka bahwa Ayah akan datang ke sini, datang di waktu yang sangat tepat, sebelum aku benar-benar dipermalukan oleh mereka semua.“Siapa dia? Apakah dia pacarnya Elia?”“Kok dia mau sama Elia, padahal ganteng, loh!”Bisa kudengar, mereka berbicara apa. Bisa-bisanya mereka menganggap ayahku adalah pacarku. Mereka tidak tahu saja, lelaki yang ada di hadapanku saat ini adalah ayah kandungku.“Ayah, aku–”“Diamlah! Kamu aman bersamaku!” ucap Ayah memotong, suaranya lirih.Ayah membantuku mengancingkan bajuku.“Kok bisa, sih! Bikin iri banget!” gerutu Jessy.Ayah lantas membuka lilitan tali yang menjerat tubuhku. Kini aku bisa terbebas, bisa bernapas lega, tak ada lagi rasa takut setelah Ayah datang.Ayah membalikkan tubuhnya, menatap mereka satu persatu. Namun, Ayah tidak menegur mereka sama sekali. Ayah bungkam, aku tidak paham, seharusnya Ayah memberi pelajaran pada mereka. Setidaknya dengan cara menegur mereka semua.“Oke, baiklah, untuk sekarang kamu tidak usa







